bc

Melisa

book_age12+
3
IKUTI
1K
BACA
dark
reincarnation/transmigration
HE
shifter
scary
war
like
intro-logo
Uraian

Melisa yang kehilangan hatinya sejak sekolah dasar terlempar ke negri fantasi yang membuat nya kehilangan warna warna, tapi itu mampu membuat hatinya kembali dengan sihir dari sang penyihir hebat. "siapa anak lelaki yang yang terlihat seperti bayang itu?"

chap-preview
Pratinjau gratis
Melisa dan dunia sketsa rusak
Melisa pulang dari sekolah yang membosankan sendirian tanpa teman pulang, pikirannya sedikit aneh, ia merasa telah melewati jalan ini sejak ribuan tahun yang lalu dan hanya berharap ini cepat berakhir, entah kenapa ia kesal melihat rumah rumah yang tampilannya sama semua, tentu ia senang rumahnya tak sama dengan rumah orang orang kaya itu, tapi setiap orang pasti akan bosan dengan rumah yang sama sejak ia tepati masih bayi apalagi rumah itu kadang membawa mimpi buruk untuk dirinya semenjak ayahnya menjadi pemabuk dan sering memukul ibunya sampai ibunya pergi meninggalkan rumah menyisakan ia dengan ayah yang seorang pemabuk yang mati kecelakaan setelah berkendara saat mabuk. sekarang Melisa yang memasuki kelas 2 smp di rawat oleh bibinya yang seorang penulis novel di rumah kakaknya yang mabuk karena kecelakaan mobil, bibinya yang merasa bertanggung jawab atas prilaku kakaknya yang telah membuat Melisa mendapat pengalaman buruk di masa kecilnya. bibinya tau trauma yang di alami Melisa tidak akan pernah hilang, sekarang ia hanya memastikan Melisa hidup cukup baik. bibinya melihat Melisa terlalu dewasa untuk uimurnya dan kadang ia hanya termenung saat hujan atau pun malam tiba, tapi bibinya tak terlalu memasalahkan itu terkadang bibinya juga seperti melihat dirinya sendiri saat melihat Melisa. “bagaimana sekolah hari ini?” tanya bibi saat makan malam, di meja hanya ada mereka berdua dengan makanan yang sederhana, bibinya tak terlalu pandai memasak. Melisa makan dengan perlahan dan tenang tanpa ekspresi yang membuat bibinya sedikit bingung dengan rasa makanan “tak banyak” ucap Melisa setelah mengunyah makanan di mulutnya, Melisa sebenarnya tak tau bagaimana sekolah hari ini menurutnya sama seperti hari kemarin dan tak ada kejadian spesial yang harus diceritakan. “malam ini akan jadi malam yang panjang” ucap bibinya, bibinya berkata untuk dirinya sendiri yang menghabiskan waktunya di malam hari menulis novelnya, dan untuk melisa itu seperti diperbolehkan nonton film sampai larut malam walaupun esok ia harus berangkat sekolah, tapi bibinya tak ketat untuk aturan dan terkadang bibinya juga tak masalah jika Melisa tak mau berangkat sekolah Melisa menghabiskan malam menonton di depan tv, acara komedi malam yang sedikit menghibur dirinya dan terkadang membuatnya tertawa di tengah malam, acara komedi itu hanya ulangan kemarin siang yang tak bisa ditonton di waktu sekolah. di sela sela komedi Melisa mendengar suara aneh dari atas kamar bibinya yang terkadang seperti ketukan irama yang dari pelan menjadi sangat cepat, dan itu mulai sangat mengganggu dirinya ia memutuskan untuk naik keatas tangga dan menuju kamar bibinya, ia mulai mengetuk ngetuk pintu dan memanggil bibinya, tapi tak ada jawaban yang jelas, mungkin bibi sedang menggunakan handphone atau sejenisnya yang tak akan mengganggu fokus nya, dan juga Melisa baru sadar, suara tv juga terdengar sangat kencang dari atas tangga, dan Melisa memutuskan untuk kembali turun ke bawah dan mengecilkan volume tv. komedi di tv menjadi tak asik lagi, Melisa terpikir tentang suara aneh tadi yang datang dari kamar bibinya, Melisa kembali memikirkan bibinya dan bertanya tanya novel jenis apa yang di tulis oleh bibinya. di tengah pikiran itu suara aneh itu terdengar lagi, dari ketukan pelan menjadi sangat cepat secara bertahap, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Karena rasa penasaran dan keinginan untuk memastikan bibinya baik baik saja Melisa kembali ke atas menuju tangga, saat kakinya di tangan keempat suara itu berhenti tapi itu tak membuat Melisa turun, ia terus naik untuk memastikan bibinya baik baik saja. Melisa tepat berada di kamar bibinya dan memutuskan untuk tidak mengetuk pintu dan langsung mencoba membuka pintu, lagian ketukannya mungkin tak akan didengar oleh bibinya. Ia membuka gagang pintu yang ternyata tak terkunci "Bibi?" Panggilnya, yang ternyata tak ada balasan dari bibinya, dan dan kelihatan hanya layar monitor yang menyalakan isi ruangan itu, tak ada bibi di kamarnya. Melisa saat itu baru pertamakali masuk ke ruangan bibinya yang ternyata penuh dengan barang barang antik tua, mulai dari boneka hingga jam dinding antik, ada juga kayu yang entah apa fungsinya tapi kayu itu terlihat sangat tua dan tak ada kerapuhan sedikit pun, di antara dinding ada foto seorang wanita muda yang cantik dengan pakaian gaya asia tenggara, seakan wanita di foto itu sudah berbicara panjang lebar saat Melisa menatapnya. Melisa beralih ke layar monitor yang masih menyalah dan menampilkan tulisan novel bibinya, ia tak tak begitu membaca teksnya melainkan dirinya masih terganggu dengan foto wanita itu. Si wanita itu berpose dengan gaya berdiri dengan tangannya yang saling menyentuh di depan perut, jari kiri menghadap ke atas dengan jari telunjuk menyentuh jari jempol dan tangan kanan menghadap ke bawah dengan jari kelingking yang sedikit tertekuk. Di belakang wanita itu terlihat barisan tentara yang berseragam lengkap dengan wajah yang hitam semua, mereka seakan menatap sang pelukis tapi tak berani mendekat sampai menjadi objek yang jelas. Banyak hal yang aneh tentang lukisan itu, beberapa warna seperti di campur begitu saja, mulai dari awan yang merah darah, dan pohon kelapa yang kuning emas dan perak. Melisa menatap setiap sudut dari lukisan itu setiap detailnya, hingga ia benar benar tenggelam sampai ia sadar ada huruf yang kepotong di lukisan itu. Huruf itu berada di bawah lukisan yang membuat Melisa terganggu karena ia tak dapat membaca Kalimat itu, apakah kalimat itu akan menjelaskan siapa sosok wanita anggun itu? Melisa mencoba mengira ngira tapi tetap tak dapat membaca tulisan itu dengan jelas. Melisa memegang bingkai lukisan itu, dan membaliknya lalu menggoyangkannya berharap lukisan itu naik ke sudut atas bingkai sehingga taks di lukisan itu terlihat dan dapat dibaca, memang benar ternyata bingkai itu terlalu besar untuk lukisan dan akhirnya teks itu terbaca. "Nona ini tak pernah berbicara, tertawa ataupun menangis. Tapi ia adalah pahlawan buat ku" Itu teks yang tertulis di lukisan itu. Rasa aneh membuat Melisa merinding, tubuh nya seakan di tiup angin yang tak tahu dari arahnya, ia menatap mata dari wanita di lukisan itu dirinya lama lama tenggelam seakan ia hanyut di arus air yang tenang dan tak membawanya ke mana mana dalam waktu lama. Melisa mengedipkan matanya beberapa kali sampai sampai akhirnya ia tersadar dari lamunannya yang ia tak sadar itu sangat lama. Saat tersadar Melisa sangat terkejut saat menatap jendela kamar, yang seakan ada yang bergerak gerak dari jauh "bibi?" Tak mungkin itu bibi lagian itu di luar rumah, Melisa juga tak mengerti kenapa ia beranggapan itu bibi, tapi saat ia melihat ke sekitar ruangan itu ternyata sudah terbelah, sisi dari juangan itu hilang dan yang terlihat di luar adalah hutan abu abu seperti hanya sketsa. Melisa sangat terkejut, ia memperhatikan sekitar , ia seperti berada di dunia hitam putih sedangkan hanya ia dan seisi ruangan itu yang berwarna "Di mana aku?" Tanyanya pada diri sendiri, dia juga berpikir ia bermimpi dan terjadi lucid dream. Tapi lucid dream itu terlalu nyata, ia bahkan mencubit pipinya sekencang kencangnya. "Ini bukan mimpi" ia rasanya belum percaya dengan apa yang ia lihat, dan terdiam beberapa saat.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.0K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.3K
bc

After We Met

read
188.5K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
14.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook