Damian berhenti di sebuah cafe yang menyediakan makanan Indonesia. "Siapa suruh berhentin?!" tuntut Auris. "Kamu pasti belum sarapan?" "Nggak penting." "Sarapan dulu." "Aku bilang nggak penting." Masih menatap jendela, tak ingin melihat ke depan. "Nggak usah sok perhatian." Damian memutar tubuhnya ke belakang. "Sarapan, atau kita akan tetap di mobil." "Terserah." "Oke baiklah tuan putri," Damian mengerang karena menyandarkan punggungnya. Kemudian bersiul seperti dulu. Siulan itu lagi. Sialan! Damian menyiulkan lagu I Will Be Your Man seperti dulu. Auris terpaksa keluar sebelum dia semakin menjadi. Damian tersenyum puas akhirnya gadis itu mau untuk makan dahulu sebelum mereka mengurus paspor yang cukup memakan waktu. "Auris!" Damian m

