Sean, Sasya, Jeny, dan Auris sudah packing sejak semalam mereka harus segera ke bandara kembali ke Indonesia dengan penerbangan pertama. Mereka akan sarapan di pesawat saja nanti. "Paspor? Paspor aku nggak ada!" suara Auris panik ketika memeriksa tas miliknya. Jeny dan yang lain saling tatap. "Coba dicek sekali lagi," pinta Jeny. "Iya, jangan panik entar malah nggak ketemu," kata Sean menambahi. Sasya lalu ikut mencari. "Beneran nggak ada?" "Ya beneranlah Sya...! Terus gimana dong?" Auris memasang wajah frustrasi. "Gimana ya, aku udah disuruh pulang banget," jawab Jeny. "Iya. Lagian kita udah akan terbang." Sean tetap tenang mendukung ranselnya. "Sorry, aku juga udah ditungguin harus segera pulang, Ris." Sasya seolah menyesal mengucapkannya. "Ya udah deh, kalian pulang duluan. A

