Agatha kini telah berada di dalam mobilnya. Terjadi antara antara. Agatha sangat bingung dengan tingkah Abby yang mendadak ingin bertemu dirinya.
"Abby udah hampir setengah jam kita di Mobil tapi kau tak kunjung bicara." Ucap Agatha terlihat cemas.
Abby menatap Agatha dengan tajam. "Kau tak merasa bersalah sama sekali." Ucap Abby dengan wajah datarnya.
Agatha mengeryit dahinya bingung. Hati Abby suka di landa gundah. "Tidak." Ucap Agatha dengan singkat sembari.
"Kau tak sadar." Ucap Abby dengan nada mulai tinggi.
Agatha berusaha merebut Abby dengan menggerakkan tangan Abby dan menyandarkan diminta di pundak Abby. "Abby kau kenapa?!? Apa kau sedang kalut." Ucap Agatha dengan tenang.
Abby menghela napas kasarnya. "Siapa yang tadi bersamamu," tutur Abby dengan wajah marahnya.
"Hah. Tadi maksudnya. ??" Ujar Agatha menggigit bibirnya sambil berpikir.
"Tadi di mall aku melihat kau bersama pria." ucap abby.
Agatha menggulum senyum. "Kau cemburu." Balas Agatha.
"Jangan geer aku pacarmu jadi aku berhak bertanya ini." Elak abby.
Agatha mencium pipi kiri Abby. "Itu sahabatku dan aku tak pernah berusaha untuk mengkhianatimu Abby." Bisik Agatha membuat Abby tersenyum.
"Gitu dong senyum. Kan tambah tampan." Goda Agatha menyeringai.
"Pacarnya siapa?!?" goda Abby mengangkat kedua alisnya.
"Pacar Agatha dong." Wajah kedua tersenyum lebar.
"Abby ini sudah malam. Pulang lah ayahku terbangun." Lirih agatha.
“Kau mengusirku.” Ucap Abby mengerjipkan matanya.
“Ih kau ini.” Menepuk pundak Abby pelan.
“Iya..iya..Aku pulang.” Ucap Abby sembari mencubit pipi Agatha.
"Tapi cium dulu dong," goda Abby sembari memajukan bibirnya kedepan.
"
"Enggak." Ucap Agatha dengan jutek sembari melipat tangan di dadanya.
"Gatha Aku minta maaf. Baik lah aku mau pulang dulu." Abby mengalihkan dagu Agatha ke pertemuan Abby.
Abby mencium kening Agatha dengan lama.
BLUSH
Agatha tersipu malu merundukkannya.
"Aku pulang ya. Masuk lah sana." Ucap Abby dengan lembut.
***
Di kampus Abby telah lebih dulu seperti biasa sudah banyak junior dan kaum hawa berdercak kagum pada pria ganteng itu.
"Wah .. Abby semakin tampan saja."
"Abby kalau sudah putus aku mau jadi pacarmu."
"Abby Aku rela jadi yang ke dua."
Itu lah lontaran kata kaum hawa terhadap Abby.
Lena sudah menyukai Abby sejak dulu. Sering kali membuat Agatha cemburu. "Abby" panggil Lena.
"Penggemar no satu kau manggil" ucap wandy.
Abby berdercak kesal harus berhadapan dengan Lena. "Apa." Ucap Abby dingin.
"Kau jutek sekali" ucap Lena seraya memegang erat lengan Abby.
Abby merasa risih dan ingin melepaskannya "Lena tolong lepaskan. Nanti Ada Agatha datang."
"Biar saja gadis kacamata itu melihat." Ucap Lena tak perduli.
Abby sangat lelah menghadapi satu ini. Berharap sang penolong datang. Di tempat yang sama Agatha menuju ke kantin bersama yessy dan Almira.
Agatha melihat Lena menggoda Abby. "Abby" ucap Agatha dengan nada tinggi.
Abby menoleh ke arah Agatha. "Agatha." Lirih abby.
"Akhirnya penyelamat datang juga."lanjut ucap Abby pelan tak dapat di dengar siapa pun.
Agatha menatap tajam Abby. "Dia yang menggodaku, bukan Aku." Ucap Abby dengan cepat sebelum Lena membuat dirinya dan agatha Salah paham.
"Kau ini tak punya kaca. Cantik juga Aku." Ucap Lena dengan sangat pede.
"Jauh jauh dari Abby." Bentak Agatha menarik tangan Abby hingga Abby sekarang berdiri di belakang Agatha.
"Aku tidak mau."bantah Lena tak kalah tajam tatapannya.
"Dasar kau, apa tak cowok lain yang bisa kau ganggu." Teriak Agatha.
"AKU PASTIKAN ABBY AKAN JADI PACARKU." Bentak Lena dengan suara lantang sembari mendorong tubuh agatha hingga terjatuh.
Abby hanya diam menyaksikan pertengkaran kedua wanita tersebut.
Agatha tak tinggal diam. Ia pun berdiri dan membalas mendorong Lena. "AKU TIDAK AKAN BIARKAN ITU TERJADI." BENTAK AGATHA.
Lena semakin emosi hingga menarik rambut panjang Agatha. Agatha pun membalas lena menarik rambutnya.
"Ayo Agatha."
"Lena hajar Len."
"Tarik rambutnya hingga rontok"
Itu suara sorakan mahasiswa yang menyaksikan pentengkaran mereka.
Abby memeluk Agatha dari belakang untuk menghentikan mereka. Penampilan Agatha kini sudah sangat berantakan.
Agatha menahan emosinya yang mengebu ngebu. "Cukup gatha." Ucap Abby memeluk Agatha yang masih memberontak.
Abby menarik Agatha ke kelas mereka."ayo sini ikut Aku."
"Abby kenapa kau hentikan aku." Dercak Agatha kesal.
"Gatha kau apa apaan. Lihat saja penampilan kau itu." Abby menunjuk Agatha dari atas hingga ke bawah.
Agatha menghela napas panjang lalu duduk. "Sudah jangan emosi lagi. Kau tahu lah Lena memang begitu orangnya." Lirih Abby menenangkan Agatha.
"Oii.."tiba-tiba saja mereka berdua dikejutkan kedatangan Almira dan yessy.
"udahh gatha jangan seperti peninju."ucap Almira polos.
"Nenek lampir itu yang mulai."
"Sejak kapan kau julukin dia nenek lampir" Tanya yessy yang sibuk dengan rambutnya.
"Sejak Hari ini." Sarkas Agatha kesal.
"Ya sudah ini minum dulu." Ucap Abby yang memberi minum pada agatha.
"Sini aku cium biar tak marah." Goda Abby yang hendak mendekati Agatha.
Agatha melotot geram dan menutup wajahnya. "Jangan coba-coba" ucap Agatha menutupi wajahnya.
"Kau pelit sekali. Tunggu saja kau sudah menikah."ucap Abby kekeh lalu mencuri ciuman di pipi Agatha.
"Hahaha." Tawa Abby lalu pergi meninggalkan agatha.
"Abby awas kau yaa" teriak agatha.
***
Sepulang kuliah Abby membawa Agatha tempat di mana mereka bisa bicara.
"Kau lapar tidak." Tanya Abby yang hanya mendapat jawaban mengangguk dari Agatha.
"Mau makan sate."
"Boleh."
"Ayo"ajak Abby.
-
-
-
Setelah makan sate mereka duduk berdua santai. Agatha mengeluar sebuah brosur untuk Abby.
"Ini baca."perintah agatha.
"Apa ini." Ucap Abby sembari memperhatikan selembar kertas yang Agatha berikan.
"Baca saja jangan banyak Tanya."
Abby membaca sebuah brosur yang di beri oleh Agatha berisi lomba photografer dengan uang pendaftaran tujuh ratus Lima puluh ribu.
Ia bingung mencari uang dari mana sedangkan lombanya juga di Jakarta.
"Aku sepertinya tidak bisa ikut ini." Ucap Abby dengan suara pelan.
"Kenapa?!? Ini impian kau bukan."ujar Abby.
"Pendaftaran ini Mahal. Lagian biaya hidup Jakarta Mahal."
"Aku Ada uangnya. Pakai punya ku saja dulu."
"Tidak usah" tolak Abby gengsi.
"Tidak apa. Ambil ini." Seraya memberikan uang kepada Abby.
"Agatha aku punya ide. Bagaimana kalau Kita menikah di sana." Abby.
"Kau bercanda." Sarkas Agatha. Abby menggeleng pelan.
"Lalu" ucap Agatha kembali.
"Aku ingin buktikan cintaku." Lirih Abby.
"Besok malam Kita membicarakan Hal ini dengan ibu."
Agatha merasakan Abby tak main-main dengan ucapannya. Agatha sebenarnya sangat bahagia. Namun tak di tunjukan kepada Abby. Ia malu, selama mimpi ini Agatha hanya angan angan namun akan menjadi mimpi Sebentar saja.
***