Pada malam hari Agatha bersiap-siap untuk pergi bersama
Agatha dengan balutan baju bercorak biru yang senada dengan kulit putihnya.
"Agatha kau mau kemana ??" Tanya ayah yang melihat Agatha yang ingin pergi.
"A..aku ada urusan de..dengan temanku." Jawab agatha sedikit gugup.
"Aku pergi dulu. Assalamualaikum." Pamit Agatha lalu pergi.
Agatha pergi keluar rumah dengan tergesa gesa. Abby yang telah menunggu Agatha dengan mobilnya.
"Maaf lama ya." Gunakan agatha dengan lembut.
Abby sangat terkesima dengan kecantikan Agatha tanpa kacamata, hanya menggunakan soflen bewarna biru di mata bulatnya.
"Apa yang terlihat aneh malam ini." Ucap Agatha. Tak Ada respon abby, Agatha menggoyang tubuh Abby.
"Abby." Panggil Agatha menggoyang tubuh Abby membuat Abby tersadar dari lamunannya.
Abby tersenyum menatap Agatha. "Kau terlihat cantik." Bisik Abby sembari membantu agatha memasang selt beat.
Agatha hanya tersenyum. Abby jalankan mobilnya. Rumah Abby dan Agatha cukup lah jauh. Agatha tak bicara apapun mau pun Abby yang fokus dengan jalannya.
Setelah melewati jalan sekitar satu jam mereka akhirnya sampai juga. Sekarang mereka sudah makan malam di rumah Abby.
Mencekram udara dingin.
"Agatha bagaimana kuliahmu." Tanya ibu yang mulai membuka sembari menyantap makanan.
"Alhamdulillah baik bu. Bulan depan sudah mulai buat harus buat skripsi." Jawab Agatha yang sedang menikmati makanan.
"Agatha sesekali kau ajarkan Abby. Dia ini hanya kamera yang selalu hadir. Entah mau jadi apa dia kelak."
Agatha hanya tersenyum tipis mendengar ucapan mirna tersebut. Seusai makan malam mereka di ruang tamu mulai serius untuk bicara.
"Bu abby dan Agatha ingin bicara serius." Ucap dengan tegas. Mirna Hanya menyeringai dengan senyuman.
"Mulai kapan saja kau bisa serius." Goda mirna tersenyum pada putranya.
"Ibu ayolah jangan bercanda. Abby serius." Ucap Abby dengan tegas.
"Baik lah, kau sangat serius." Ucap ibu
Abby mengenggam erat tangan Agatha. "Aa..aa..Aku ing--"
"Aku aku, aku apa abby. Kenapa kau begitu gugup." Potong mirna sedari tadi memperhatikan Abby yang gugup.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan." Lanjut ucap ibu menatap wajah Abby.
"Aku ingin menikah dengan Agatha." Ucap Abby cepat dengan mata terpejam sedikit mengerdik takut.
Mirna sedang minum mendengarkan Abby terkejut sampai reflek menyembur minumannya ke wajah abby.
"APA." Teriak ibu syok.
"Ibu apaan nih. Kenapa menyembur wajahku." Hardik abby membersihkan penanganan di Agatha.
"Kau tak kenapa-napa." Ucap Agatha sembari membersihkan wajah Abby. Abby hanya menggeleng menatap Agatha.
"Apa kau sudah Gila Abby." Gunakan mirna dengan suara sedikit keras sembari berdiri dari duduknya.
"Ibu Aku waras. Kenapa ibu bilang aku gila." Sahut Abby yang suka kesal dengan mirnaussalam.
Agatha masih terdiam melihat kedua ibu dan putrinya. Entah kenapa mulutnya kali ini tak bisa mengeluarkan satu kata apapun.
Perdebatan semakin menjadi, Agatha juga bingung harus bagaimana. Tak ada yang bisa dilakukan saat ini selain DIAM.
"LALU KENAPA KAU MEMUTUSKAN UNTUK MENIKAH." Ujar ibu yang penuh resolusi.
"IBU AKU AKAN MENATA MASA DEPAN BERSAMA AGATHA." Ucap Abby masih terlihat tenang.
"TIDAK !! IBU TIDAK SETUJU, KALIAN MASIH TERLALU MUDA." Bentak ibu.
"AKU AKAN TETAP MENIKAHI AGATHA." bantah Abby yang tak kalah keras suaranya.
Agatha mengelus d**a Abby agar bisa lebih tenang. Ini kali pertama melihat Abby semarah itu. Tatapan Abby begitu tajam.
"KAU BERANI BENTAK IBU" teriak mirna dengan mata yang melotot.
"KENAPA TIDAK?!? SELAMA IBU BELUM SETUJU AKU AKAN SEPERTI INI." Kata Abby dengan suara kerasnya.
"ABBY." TERIAK IBU.
“KAU SELAMA INI TAK TAU PERASAANKU, AKU INGIN JADI PHOTOGRAFER TAPI KAU MALAH MENULIS KULIAH BULAN KEMAUANKU. lanjut teriak Abby yang tergesa-gesa dengan dadanya yang Naik turun pegangan emosi.
PLAK
Tamparan dari mirna untuk pertama kali. Mirna merasa gagal mendidik anaknya yang berani bicara keras pada dirinya.
Abby meneteskan air matanya mendapat tamparan dari ibunya sendiri. Dirinya frustasi lalu pergi keluar rumahnya.
Mirna terduduk di kursi dan menangis tersendu sendu. Isakan tangisnya Tak terhenti. Agatha mendekati mirna untuk menjelaskan semua.
"Boleh aku duduk di samping ibu."tanya Agatha yang tengah berdiri. Mirna Hanya mengangguk.
Agatha duduk di samping mirna. Mengelus pelan pundak mirna. "Abby ingin ikut kompetisi photografer dan kami memutuskan untuk menikah setelah itu kami tinggal di Jakarta.,"
Mirna menghela napas kasarnya. "Apa kau sadar selama ini Abby tidak benar-benar mencintaimu." Lirih mirna.
Agatha memutar bola matanya untuk berpikir. "Maksudnya Aku tak mengerti." Ucap Agatha masih terduduk di samping mirna.
"Agatha sadarlah Abby hanya memanfaatkanmu. Kau anak yang baik Dan cerdas. Jangan sampai kau menyesali kemudian hari." Nasehat mirna menyandarkan tubuhnya.
"Abby mungkin menyayangimu tapi dia belum bisa mencintaimu. Dia membutuhkan menikahimu mungkin karena hidup Jakarta akan sulit karena itu dia membutuhkanmu." Jelas mirna namun cinta Agatha membutakan segalanya.
"Aku tak percaya. Abby mencintaiku dan sebaliknya." Ucap Agatha dengan tegas.
"Terserah kau agatha. Aku hanya ingin kau tak terluka." Ucap mirna mengelus kepala Agatha lalu pergi.
*
*
*
Agatha tak perduli perkataan mirna. Dirinya menghampiri Abby di teras rumah pria itu. Abby sedang menghisap sebatang rokoknya dan ditemani sebotol wine. Wajah sangat frustasi. Tidak bisa di baca apa yang dia pikirkan.
Agatha memeluk Abby dari belakang lalu mencium pipi pria itu. "Apa yang kau lakukan." Ucap agatha dengan lembut.
Menghilangkann stress." Ucap Abby dengan wajah datarnya tanpa menatap wajah Agatha.
"Hentikan minuman ini." Ucap Agatha yang mengambil gelas di tangan Abby.
"Agatha tolong hari ini saja." Ujar abby.
"Kita pergi dari sini.Ayo" Agatha menarik tangan abby memasuki Mobil.
Agatha membawa mobilnya Abby ke sebuah pasar malam. Agatha memang gadis yang unik. Kadang kadang kelakuannya sedikit konyol.
Abby termenung pikirannya seperti kosong. Agatha tak pernah melihat pria di cintainya seperti itu.
"Abby ayolah jangan diucapkan lagi."
"Aku tak tau. Sekarang aku tak bisa menikahimu." Ucap Abby putus asa.
Agatha tersenyum mengenggam tangan Abby. "Kau masih bisa tersenyum setelah apa yang terjadi." Lirik Abby menatap agatha dengan ekspresi yang tak dapat dibaca.
"Aku akan meminta ijin dengan Ayah." Kata Agatha.
"Hah kau gila agatha. Ibuku saja jelas setuju ayahmu yang jutawan, Mana mungkin dia rela putrinya menikahi pria biasa sepertiku." Ucap Abby sangat ragu.
Agatha tak menjawab pertanyaan Abby malah membawa pria tampan itu bermain bianglala.