CHAPTER 5

1037 Kata
     Setelah kejadian Agatha di bawa kerumah Abby. Mereka kerap sering bersama setiap waktu. Entah apa yang di rasakan Abby yang awalnya hanya tertarik karena hidup Agatha yang ia pikir akan bisa wujudkan mimpinya jadi photografer terkenal. Namun ada perasaan ketertarikan kepada agatha. Dirumah Agatha yang tengah ingin berangkat ke kampus dengan supirnya di hentikan Erik sebelum mereka berangkat.      "Gatha." Panggil Erik mendekati Mobil Agatha.      "Erik kog disini?!?" Tanya Agatha dengan ramah.      "Iya aku tadi Ada urusan dengan om Reno. Mau ke kampus??" Ucap Erik dengan senyuman.      "Iya nih baru mau berangkat."jawab Agatha.      "Aku antar ya."      "Enggak usah ntar ngerepotin."      "Yaelah kayak siapa ajah."umpat Erik kekeh.      "Yaudah deh kalau gitu." Ucap Agatha pasrah.       Di perjalanan kampus dalam Mobil tidak Ada satu keluar dari keduanya. Sesekali Abby melirik gadisnya yang cantik berbalut kaca mata itu.      "Udah sampai nih." Ucap Erik menghentikan mobilnya. Agatha dengan sigap segera ingin turun.     "Thank's ya Rik. Sumpah kau baik banget." Ujar Agatha sambil menghirup aroma maskulin milik tubuh Erik.      Erik hanya tersenyum kekeh. Agatha melambai Mobil Erik yang hampir saja sudah melesat hilang.       "Ehemm." Dehem seorang di belakang Agatha.      Agatha berbalikkan wajahnya ke belakang. "Abby. " Membelalakan matanya melihat sosok Abby secara tiba-tiba.      "Kenapa kaget gitu..?? Diantar siapa tadi..??" Tanya Abby pura-pura.      "Hmmpppttt tadi itu sahabat aku kog."      "Masa."ujar Abby meremeh.      "Iya." Jawab agatha santai.      Abby langsung memasuki area kampus menarik dan mengenggam tangan kekasihnya.  "Abby jangan gini malu kita banyak yang lihat." Ucap Agatha merunduk malu. Namun tetap saja tak di gubris oleh Abby.      Abby membawa Agatha ke taman kampus untuk bicara berdua. Abby menduduki Agatha di kursi panjang yang telah tersedia disana. "Jadi siapa cowok tadi." Ucap Abby menyeringai. Agatha mengeryit tak percaya seorang Abby bisa bertanya seperti ini.      Agatha menutup mulutnya menahan tawanya."Ada yang lucu."Tanya Abby dengan dingin. Agatha menggeleng. "Kog enggak di jawab." ucap Abby menatap Agatha penuh intens. "Dia temanku sejak kecil Abby kebetulan bekerja dengan Ayah. Dan kebetulan dia menawarkan diri untuk mengantarku ke kampus." Jelas Agatha membuat Abby menghela napas lega. "Kau cemburu ya," goda Agatha tersenyum djahil.     "Apaan kau. Jangan geer tidak sama sekali." Elak abby menatap arah lain.      "Yakin." Ucap Agatha kekeh menyipitkan kedua matanya.      "Ayo" Abby menarik tangan Agatha dan langsung mengenggamnya menuju kampus. Semua mata tertuju kepada keduanya. Padahal selama Abby jarang sekali melakukan hal seperti itu. Wajah agatha memerah seketika, jantungnya berdegup kencang. Agatha senang perlakuan Abby yang telah membuat wajahnya seperti tomat. Agatha duduk manis di kelas bersama kedua sahabat.      "Agatha." Panggil Amira menepuk pundak Agatha.      Agatha tersenyum dan mengangkat perlahan dagunya. "Apa" ucap Agatha.      "Kenapa kayaknya wajah kau senang sekali." Sambung ucap yessy dengan centil.       "Hmmmm abby, kalian harus tau dia akhir-akhir ini romantis banget."      "Cie..cie senang tuh." Ucap Amira Dan yessy bersamaan membuat Agatha terkekeh malu.  * * *      Agatha terbangun pada pukul 05.00. setelah pulang kuliah agatha langsung tidur. Dan berakhir bangun waktu matahari akan terbenam. Agatha memutuskan untuk turun ke bawah mencari ayahnya. Walaupun sering berdebat tetap saja itu ayahnya.      "Bi, Ayah kemana?" Tanya agatha.      "Keluar kota non. Katanya sih Ada urusan mendadak." Jawab Bibi Minah salah satu pelayan rumah Agatha bekerja.      "Keluar Kota?? Kog Aku enggak di beritahu."      "Enggak tau non mungkin tuan buru-buru." Ujar Bibi.      Agatha kembali ke kamarnya merebahkan tubuhnya kembali di ranjang besarnya. Drrtt Drrtt CALL IS MY BOY Abby "Halo" "Sayang dimana." Agatha "Dirumah" "Tumben telpon" Abby "Kangen bego." Agatha "Ish gombal banget." "a***y geli tau." Abby "Hahaha" "Jalan yok malam ini" "Aku jemput jam 7" Agatha " Kemana Kita" Abby "Ikut ajah" "Ya udah aku lagi masih studio ntar Aku jemput." "Bye" Agatha  "Bye" Tut..tut.. sambungan terputus. ***      Waktu menunjukkan tepat pukul tujuh, Abby menjemput Agatha dan menunggu tempat biasa dirinya menunggu maklum Agatha belum berani memperkenalkan Abby kepada ayahnya walau pun saat ini ayahnya pergi tetap saja Agatha menjaga-jaga.      Agatha keluar dengan dress di bawah lututnya berwarna cocok dengan kulit putihnya. Abby tak berkedip sama sekali melihat kecantikan Agatha yang begitu memukau.       "Hai" kikuk Agatha tersenyum. Abby masih meratapi wajah Agatha dengan kagum.      "Cantik." Bisik Abby mendekati bibirnya tepat ditelinga Agatha. Jantung Agatha berdegup kencang. Ia hanya tersenyum menatap maya Abby yang binar.      Sesampainya Agatha di sebuah taman kota di jogjakarta dengan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang rusuk.      "Aku sudah cantik seperti ini, taunya hanya di bawa ke taman." Celetuk agatha dengan bibirnya maju ke depan.      Abby tertawa mendengarkan ucapan Agatha tersebut. Ha-Ha-Ha      "Ish malah ketawa lagi. Kesel."oceh agatha membuat Abby terkekeh.      "Gemes deh sama pacar." Ucap Abby sambil mencubit pipi Agatha yang kenyal.      "Kau lihat mereka memperhatikanku." Ucap Agatha kesal.       Abby yang duduk berada di samping Agatha kini diri berubah posisi menjadi berlutut.      "Maafkan aku Agatha belum bisa bawa kau tempat yang kau inginkan." Lirih abby sembari memegang kedua tangan Agatha.      Agatha menghela napas kasar. " Kau ini bisa saja buat hatiku luluh." Ungkap Agatha tersenyum.      "Sini" pinta Agatha menyuruhnya duduk di samping dirinya kembali.      Kini posisi Agatha telah menyandar di pundak Abby. "Abby kau tahu kadang aku berpikir kau tak pernah mencintaiku tapi sikapmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan." Ungkapnya mulai ragu.      "Kau ragu padaku." Ucap dengan nada yang melas.      "Mungkin" Ucapku yakin.      "Jadi bagaimana agar kau percaya padaku."      Tanpa ragu aku menjawab penuh keyakinan penuh." Nikahi aku"       "Apaaa" teriak Abby terkejut.      "Nikah apa kau sadar dengan bicaramu gatha."       "Kau tak bisa melakukan itu." Tanya agatha menatap Abby.      "Tentu saja Aku bisa melakukan itu." Ucapnya pede.      "Jadi kau mau menikahiku." Tanya Agatha sedikit ragu. Walau pun belum yakin tapi dirinya berusaha menyakinkan Agatha.      Abby mencium lama kening Agatha. "Aku pasti akan menikahimu." Ucap Abby dengan lembut.      Malam yang begitu dingin. Ntah apa yang menyelimuti keduanya. Di kamar Agatha memandang langit-langit di kamarnya yang terdapat lampu-lampu berbentuk bintang tertempel.  Abby mencium lama kening Agatha. "Aku pasti akan menikahimu." Ucap Abby dengan lembut.      Kata-kata itu masih jelas tergiang di telinga Agatha. Pikiran bodoh apa yang telah membawanya hingga ia harus meminta Abby menikahi. Iya...!! Memang ini impiannya.  Drrttt Drrttt      Message my boy      Abby: selamat malam Sayang semoga mimpi indah dalam tidurmu. Muuuuaaaahhhhh      Agatha membaca pesan singkat Abby tulis untuknya. Tanpa membalas dirinya hanya mencium layar di ponselnya. 'I Love You Abby'. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN