CHAPTER 4

1448 Kata
     "Lama sekali," gerutu Agatha yang ditekuk wajahnya dengan kesal.      "Maaf Agatha, Aku tadi banyak urusan." Jawab Erik merasa bersalah.      "Kenapa kau mau saja mengurus semua ini," tanya agatha merasakan kebodohan sahabatnya itu.      "Aku ingin belajar, jika nanti aku sudah siap Aku akan mengelola perusahaan milik ayahku sendiri." jawab Erik dengan tegas.      "Erik..Erik kau kan tidak perlu jadi pelayan Ayah. Mau saja di suruh Ayah," ucap Agatha melipat kedua tangannya di d**a.       Erik Hanya tersenyum melihat Agatha,"itu bukan alasan utama. Alasan terpenting adalah bisa lebih dekat dengannya."batin Erik tersenyum melihat wajah cantik agatha.       "Mau es cream"tanya erik memasang self beat.       "Mau..mau. " jawab Agatha antusias mengangguk.        Sesuai janji Erik membelikan Agatha sebuah es cream coklat kesukaan Agatha.       "Hmmmm yummy lezat banget" ucap Agatha menikmati sebuat es cream tersebut.        "Gatha dari kecil kau sedikit pun tak berubah." ucap Erik memperhatikan gadis di cintainya itu memakan es cream dengan lahap.      "Maksud kau,"sahut Agatha mengerjip matanya dengan sinis.      "Kau lihat saja es cream kau sampai menempel hingga ke hidung seperti ini." ucap Erik sambil mengambil tisu basah di dalam tas milik Agatha lalu membersihkan hidung Agatha. 'Aku mencintaimu Agatha' ucap Erik dalam hati dengan senyum menatap mata yang di tutupi kaca mata Agatha. ***      Sedangkan Abby pulang ke rumahnya, ibunya yang sibuk memasak.      "Ibu Sayang,",kecup Abby ke pipi kanan ibunya. Mirna ibunya Abby hanya tersenyum melihat tingkah putra tampannya itu.      "Abby kau sudah pulang,"Tanya mirna menatap anaknya tersebut.      "Kemana kau tidur tadi malam,"lanjut tanya ibu seraya menyiapkan makanan untuk Abby.      "Aku tidur dirumah teman,"jawab sambil memakan sebuah apel.      "Sepertinya kau hari ini senang sekali."ucap mirna yang sedang duduk disamping Abby.      "Ibu kau tahu Agatha, menurutmu apakah dia cantik,"ujar Abby.      "Abby kau tahu dia anak orang kaya, kau tak kan bisa bahagia bersama gadis itu."Ucap mirna takut anaknya tersebut kecewa.       "Bu dia berbeda dengan ayahnya, dia sederhana dan sangat baik. Sekali saja kau temui dia,"pinta Abby merengek melipat kedua tangannya memohon kepada mirna.       Karena sangat tak tega melihat Abby merengek, "baiklah bawa dia besok kemari" ucapnya tegas.      "Benar, besok aku akan membawanya setelah pulang kuliah,"mencium ibunya lalu pergi.          Abby pergi ke kamarnya dengan bahagia."Aku akan mewujudkan mimpi Agatha untuk menikahinya,"ucap Abby tersenyum senang pada akhirnya dia jatuh hati pada seorang Agatha yang awalnya hanya di manfaatkan untuk kepentingannya sendiri.      Abby berpikir setelah menikah ia akan ke Jakarta bersama Agatha, disana dia bisa meraih cita-citanya sebagai photografer. "Ibu pasti setuju pernikahan kami,"batin Abby sambil tersenyum. ***      Di siang hari yang terik panasnya. Setelah pulangnya dari kampus Agatha dan Abby pergi. Tanpa di ketahui agatha, ia membawa kekasihnya itu ke rumah miliknya.      Selama pacaran Abby tidak pernah sama sekali membawa Agatha ke rumahnya. Di dalam mobil Agatha merasa sangat aneh dengan sikap Abby sedikit berbeda.       Keheningan terjadi di dalam mobil.       "Ehemm..ehemm" deheman seorang menyetir terdengar. Agatha hanya melirik dan tersenyum ke arah seorang menyetir tersebut siapa lagi kalau bukan Abby kekasihnya. Abby yang sesekali mencuri pandangannya.       "Abby fokus dengan jalan jangan terus memandangku," ucap Agatha sadar Abby yang terus memperhatikan dirinya tanpa henti.      "Memangnya tidak boleh aku memandang gadisku berkacamata ini."ujar Abby tersenyum pada kekasih. Agatha tersipu malu mendengar ucapan Abby.        "Abby kau jangan memulai gombalnya..!!! Sebenarnya Kita mau kemana,"Tanya Agatha yang memperhatikan jalan sekitar.      "Nanti juga kau tahu Sayang,"jawab Abby mengacak rambut Agatha yang terurai rapih.      "Abby.."ucap Agatha kesal lalu membereskan rambutnya agar rapih. Abby hanya terkekeh melihat kekasih cantiknya di balik kacamatanya itu.  * * *      Setelah 1 jam perjalanan di tempuh Abby menghentikan mobilnya di sebuah rumah minimalis nuansa putih. Agatha masih terlihat bingung.      "Abby ini rumah siapa?!?"tanya agatha penasaran.      Tanpa menjawab sepatah kata apapun. Tiba saja perlakuan Abby membuat Agatha terkejut. CUP      Tiba saja bibir Abby mendarat di kening mulusnya. DEG..DEG..DEG..      Itu lah yang dirasakan Agatha secara tiba-tiba. Pipinya memerah membuat Abby semakin gemas tersirat blushing di pipinya.       "I Love you Agatha," bisik Abby di daun telinga gadisnya. Entah apa yang terjadi abby merasa tak mau kehilangan untuk saat ini.      Agatha tersenyum,"Abby kau kenapa?!? Apa yang kau makan hari ini.?"      Mengeryit dahi Abby bingung. "Hah?! Aku makan roti. "      Agatha menepuk jidatnya serasa entah apa terjadi kepada lelaki hadapannya saat ini. 'abby kenapa semanis ini.'ucap Agatha dalam hatinya.      "Ayo turun"ucapnya. Sedangkan Agatha masih tidak tahu dimana dia berada.      Abby menggandeng kekasihnya memasuki rumahnya. Namun Agatha masih celingak celinguk.      "Assalamualaikum,"ucap abby memasuki rumah.      "Wa'alaikum Salam,"ucap wanita separuh baya.      "Ini pasti agatha."lanjut ucap mirna ibu Abby, sesuai janjinya ingin membawa Agatha.        Agatha tersenyum,"iya tante saya Agatha, tem--"      "Pacar Abby bu." Potong Abby menaiki alisnya lalu menatap Agatha.      Agatha tersenyum malu 'apa ini jadi ini ibu abby.'      "Panggil ibu saja Agatha, kan pacarnya Abby."ucap mirna mengelus lembut puncak kepala Agatha.       Agatha sekarang duduk di ruang tamu menunggu Abby yang sedang mengganti bajunya.        "Agatha kau sekelas bukan dengan Abby." tanya mirna dengan lembut.       "Iya bu kebetulan kami sekelas." Jawab Abby yang mendengar percakapan mereka.       "Kau ini, ibu sedang bicara dengan Agatha bukan kau," ucap ibu menjitak kepala anaknya sematang wayangnya itu.      "Ibu ini apa-apaan sih," protes Abby sembari mengusap kening yang dijitak oleh ibunya.      "Makanya ibu tak bicara denganmu jangan menjawab." Ucap ibu tegas.         Agatha hanya tersenyum memperhatikan kedua ibu dan anak itu. Ada rasa iri di hatinya 'kenapa Ayah tidak pernah bersikap seperti ini' ucap Agatha dalam hati dengan mata berkaca-kaca.        Abby menyadari perubahan Agatha yang terdiam. Langsung saja Abby menghampiri gadisnya itu.        "Ehemm," dehem seorang tiba-tiba duduk di samping Agatha.      Agatha membelakangi wajahnya agar tidak di ketahui Abby kesedihannya. "Sayang kau kenapa?!?", Tanya Abby yang masih dibelakangi agatha.      "Tidak Ada apa-apa Abby," ucap agatha dengan nada sedikit pelan penuh dengan kesedihannya.      "Tatap Aku sayang." Ucap Abby sembari memegang dagu Agatha membalikkan wajah Agatha untuk menghadap Abby. Akhirnya tatapan mereka bertemu.      "Apa ini.. kenapa menangis?!? Aku ada salah sayang,"tanya Abby menunjukkan setetes air mata membasahi pipi Agatha.      Agatha hanya menggeleng tanpa bicara satu kata apapun.       "Agatha jangan buat aku bingung,"lanjut ucap Abby khawatir. Agatha langsung memeluk Abby dengan erat.       "Hiks..hiks..!! Abby Aku ingat ayahku. Kenapa Ayah tak bisa bersikap seperti ibumu. Bahkan aku sering berselisih dengan Ayah. Ayah memberikan semua tapi tidak untuk cintanya."ucap Agatha dengan kesedihan yang masih dalam pelukan abby.      Abby membalas pelukan agatha dan menenggelamkan wajah Agatha di d**a bidangnya. "Jangan sedih gatha, aku tak suka melihat kau menangis. Suatu hari pasti ayahmu akan memberikan semua cintanya padamu." Nasihat Abby menenangkan Agatha. Abby memang tak benar mencintai Agatha dengan tulus ia hanya ingin kehidupan yang akan membantunya sebagai photografer terkenal. Tapi melihat Agatha menangis dirinya merasakan hancur. 'Entah sekali lagi Agatha berhasil membuat aku jatuh hati'.      Mirna yang sedang menyiapkan untuk makan bersama melihat kemesraan anaknya tersebut.      "Uhuk..uhuk.!!"kode mirna melihat kedua anak tersebut. Dengan refleks mereka melepaskan pelukan mereka.      "Hm.. ibu enggak bisa lihat anaknya senang nih."ujar Abby pada ibu. Dibalas dengan mirna tatapan muram penuh intens.       Meski di tatap ibunya mirna dengan menakut namun Abby sangat pandai mencairkan suasana hati mirna tersebut. CUP       Kecupan Abby berikan pada ibunya tersayang. "Abby kau ini pandai merayu."ucap ibu dengan tersenyum.      "Ya sudah Ayo sekarang makan. Itu sudah ibu siapkan makanan yang enak buat kalian."ajak mirna kepada Agatha dan Abby.       Abby menarik Agatha ke meja makan. Dan mempersilakan Agatha untuk duduk. "Silakan duduk tuan putri." Ucap Abby dengan lembut. Mirna Hanya menggeleng melihat tingkah laku anaknya.      "Abby kau tak malu Ada ibumu." Bisik Agatha pada Abby yang duduk di samping dirinya.      "Kenapa mesti malu?? Dia ibuku." Ucap Abby tegas.       "Kau ini tidak tau tempat." Celetuk agatha.      "Kau mau Aku cium."ancam Abby membuat Agatha membelalakan matanya tak percaya.      "Coba saja kalau kau berani." Sarkas Agatha. Mencetak senyum djahil di wajah Abby.      "Kau berani. Sepertinya kau ingin aku melakukan itu." Goda Abby mulai mendekati Agatha memajukan bibirnya yang hendak ingin mencium bibir Agatha.      Sedangkan Agatha menatap ngeri. Belum saja Abby mencium sudah mendapat hantaman dari seorang.  PLAK..!!!      Agatha hanya terdiam melihat kejadian tersebut. "Beraninya kau ingin mencium anak gadis orang." Ucap ibu menatap tajam Abby.      "Huft.. bukannya dapat ciuman malah dapat tamparan." Ucap Abby kesal sembari mengelus pipinya yang di tampar oleh ibunya.      Agatha tersenyum geli melihat tingkah konyol Abby. "Kau hutang cium denganku," ucap Abby dengan pelan.      "ABBY.."Ucap ibu penuh tekanan.      "Oh my God ibuku tersayang. Lebih kita mulai makan bagaimana," ucap Abby mengalihkan amarah ibunya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN