Tujuh tahun telah berlalu, semenjak di tinggal Agatha. Abby telah menata hidupnya dengan kenangan masalalu yang sulit di lupakannya. Tampan dan berkharisma tentu belum cukup menggambar pesona takjub seorang Abby.
Abby telah menjadi photografer seperti keinginannya di Jakarta. Mirna ibu Abby mengalah untuk cita cita Abby. Walau pun belum memiliki galery sendiri. Abby tetap bahagia dengan pekerjaannya.
"Abby, lihat hasil fotomu sudah ada di majalah." Ucap Riko salah satu kepercayaan Abby yang bekerja membantu dirinya setiap melakukan prosesi pemotretan.
Abby tersenyum senang. "Thanks, ko. Sudah banyak membantu." Abby sedang membersihkan camera kesayangannya, kamera yang telah pernah di berikan Agatha untuknya.
Hanya ini semangat yang tersisa untuknya. "Kita mendapatkan kontrak di Australia dari perusahaan besar. Mereka juga meminta Kita membawa tiga model dari sini. Bagaimana menurutmu." Tanya Riko meminta pendapat Abby seraya memegang berkas berisi kontrak.
"Aku percaya pekerjaan kau. Lakukan yang menurutmu yang terbaik. Dan bawa tiga model terbaik kita." Ucap Abby.
"Gabby, Luna, intan bagaimana."
"Apa Gabby harus ikut."
"Kau tahu jika Gabby akan marah padamu jika bepergian jauh tanpanya."
Abby menghela napasnya. "Ya sudah lakukan saja."
Gabby adalah kekasihnya Abby, dia merasa sifat Gabby hampir mirip dengan Agatha hanya penampilan mereka berbeda. Itulah membuat Abby menyukai gabby, kali ini dia tidak ingin memanfaatkan siapapun. Abby tidak mau melakukan kesalahan saat bersama Agatha. Walau pun Gabby sedikit lebay tapi itu tidak membuat Abby risih.
***
Di Australia Agatha telah menjadi seorang direktur salah satu di perusahaan ayahnya Reno. Tujuh tahun Reno selalu menunjukkan kasih Sayang padanya.
Menurutnya, ini semua berkat Abby. Dirinya bisa mendapatkan cinta dari ayahnya. Agatha telah melupakan segalanya bahkan dia telah bertunangan dengan Erik.
Tok..Tok..Tok..
"Pagi mba Agatha." Ucap Shelly sekretaris Agatha.
"Pagi, sell." Sapa Agatha yang sedang memegang berkas di tangannya.
"Ini mba, berkas yang harus di tanda tangani." Ucap Shelly memberi berkas tersebut.
CEKLEK.
"Pagi, Sayang." Ucap pria tampan yang berbalut jasnya.
"Erik, kau disini." Ucap Agatha meletakkan berkasnya.
"Apa Aku tidak boleh bertemu dengan tunanganku." Ucap Erik mendekati Agatha yang berpenampilan cantik dengan dress di atas lututnya.
"Erik, kau mulai." Ucap Agatha menyipitkan matanya.
"Aku harus pergi ke london hari ini, hanya dua hari. Aku Akan pergi apa kau bisa menghandel perusahaanku sementara." Tanya Erik dengan bunga Lili kesukaan Agatha di tangannya. Erik memberi bunga tersebut.
Agatha selalu merasa beruntung, Erik sangat mencintainya. Walaupun Agatha belum yakin perasaannya tapi dia tetap selalu di samping Erik.
"Baiklah, dengan senang hati."
"Ok, kemungkinan besok akan ada photografer yang datang untuk tanda tangan kontrak dan mereka dari Jakarta. Aku percaya kau bisa melakukannya." Erik mencium bibir Agatha sekilas.
"Ok, kau tenang saja. Aku akan mengurus semua dengan baik." Ucap Agatha seraya kedua tangannya melingkar di leher erik.
"Bagaimana keluar menikmati secangkir kopi."
"Sepertinya ide anda tidak buruk, tuan Erik." Goda Agatha mengerdik bahunya seakan kedua tangannya melayang di udara.
"Ayo." Ucap Erik meraih tangan Agatha. Mereka pergi berdua saja. Erik memang terkesan sangat mencintai Agatha.
Dengan senang Agatha selalu menerima perhatian yang selalu Erik berikan. Memiliki seorang tunangan seperti Erik adalah keberuntungan untuk Agatha, Erik sangat romantis.
***
Esok harinya di bandara, Abby telah bersiap dengan kopernya untuk berangkat ke Australia.
"Sayang...." Teriak Gabby sedikit manja lari mendekati abby yang sibuk bersama riko.
"Gabby, jangan berlebihan." Abby pergi mengurus ticket ketiga model cantik ini.
Setelah waktu cukup lama berada di pesawat Abby sampai di Australia. "Akhirnya Kita sampai, bos." Ucap Riko.
"Riko, sudah berapa kali Aku katakan jangan panggil Aku boss." Cerca Abby menuju Kamar hotelnya bersama riko.
Abby meletakkan tubuhnya di ranjang, dirinya lelah. Baru saja dia sampai ponselnya berdering.
Drrttt..Drrrttt
"Halo." Abby menjawab telpon tersebut.
"Abby, apa kau sudah sampai." Terdengar suara wanita yang mencemaskannya.
"Iya, bu. Aku baru saja sampai di hotel. Bagaimana keadaan ibu. Apa ibu masih sakit." Tanya Abby kepada mirna di seberang sana. Mirna akhir ini memang sering sakit di bagian lambungnya.
"Sudah tidak, nak. Kau jaga dirimu. Ibu tutup ya."
"Ya sudah, ibu jangan lupa minum obatnya. Dah." Ucap Abby menutup telponnya.
Abby kembali membaringkan tubuhnya. Ia merasa sangat lelah meronggoti badan gagahnya. "Abby, kau mau ikut." Tanya Riko yang telah berpakaian rapih.
"Kemana." Jawabnya singkat.
"Belanja, besok kita akan tanda tangan kontrak. Aku ingin berpenampilan rapih."
"Boleh juga, Ayo tapi jangan sampai Gabby tau." Ucap Abby yang telah berdiri di belakang Riko.
Chadstone Shopping Center salah satu pusat mall terbesar di negeri kangguru tersebut. Ditempat yang sama agatha juga berbelanja sendiri karena bosan dengan kegiatan kantornya yang menumpuk.
Mall lebih besar dari Jakarta. Kini kedua orang tersebut telah memilih pakaian untuk di belinya.
"By, coba kau lihat ini keren jika kau pakai ini." Riko menunjukan salah satu pakain berkulit yang harganya sangat terbilang mahal untuk Abby. "Ini sangat mahal." Seru Abby menjitak kepala riko.
"Ahh.. kau ini boss, sangat memilih." Cercah riko.
"Sekali lagi kau memanggilku boss. Aku bunuh kau." Ancam Abby membuat Riko terdiam.
Daripada harus Riko yang memilihkan. Abby berpikir mencari sendiri sesuai selera dan harganya.
Agatha juga sedang memilih baju dan berniat membelikan satu untuk Erik dan ayahnya. Tanpa di sadari ke duanya, kini mereka berada ditempat yang sama bahkan sangat dekat.
Dari kejauhan Agatha melihat jaket kulit yang pasti sangat cocok untuk Erik. Agatha segera mendekati patung itu.
Dan Abby juga melihat patung yang sama mulai mendekatinya.
BRAAKK
Abby dan agatha tertabrak tanpa di sengaja saat ingin meraih jaket kulit tersebut.
Deg
Sekian lama mereka tak bertemu, Abby sangat terkejut dengan sosok wanita cantik di hadapannya. Dia bahkan tak menyangka bisa bertemu dengan wanita yang pernah membuatnya patah hati.
Agatha menatap tak kalah terkejutnya. Namun Agatha lebih tenang dari abby yang menatap grogi pada agatha. Wanita cantik dengan dress pendeknya, rambut panjang terurai.
Agatha tersenyum pada Abby sosok pria yang pernah di cintainya. "Abby." Seru agatha tersenyum menyeringai dirinya.
"Aa..gaaatha." ucap Abby terbatah batah. Abby sangat gugup melihat Agatha di hadapannya. Abby tak sanggup berkata kata melihat senyum terurai di wajah cantik Agatha.
Begitu mudah Agatha mengurai senyumnya pada pria tersebut. Setelah apa yang di lakukan Abby, yang menurut Abby sendiri dirinya sangat menyakiti hati Agatha.
Agatha memang bukan tipe wanita yang dendam. Dia sangat gampang untuk memaafkan seseorang apalagi orang itu pernah di cintainya.
Tatapan mereka saling bertemu, Agatha kali ini menganggap Abby sebagai temannya tanpa ingin mengingat kekonyolan di masalalunya.
"Abby, kau apa kabar." Ucap Agatha menggulurkan tangannya dengan ramah.
Abby dengan susah payah menelan salivanya. "Aku baik, kau berada di sini." Abby masih menatap kedua manik milik Agatha.
"Bos, kau lihat ini juga bagus." Ucap Riko baru saja datang membawa sebuah baju.
"Temanmu Abby." Tanya Agatha dengan lembut.
"Ehm.. iya. Agatha, aku harus pergi Ada urusan. Ayo Riko." Abby menarik tangan Riko menghindar dari Agatha.
Tujuh tahun berlalu membuat Agatha banyak berubah. Dia semakin cantik dan dewasa. Hari ini bahkan Abby tak menyangka bisa bertemu kembali wanita yang merebut hatinya yang masih ada kenangan di dalam hatinya. Agatha tak pernah berubah sedikitpun, dia masih menjadi Agatha yang polos dengan kebaikan di hatinya. Pikiran Abby melayang tentang Agatha mantan kekasihnya.
Semua berlalu begitu cepat hingga pertemuan mereka terjadi. Dirinya yang telah menutup luka setelah kepergian Agatha.
***