CHAPTER 16

1656 Kata
      Rumah kediaman milik Reno sudah dilanda rasa cemas merasuki Ayah Agatha. Satu satu putrinya belum juga kembali lagi.       "Erik, belum Ada kabar." Tanya Reno yang terlihat kurus.       Erik menggeleng pasrah. "Tapi Aku di kabari, mereka berhasil mencari tahu tentang pria itu.       "Aku akan menelpon anak buahku yang telah ku tugaskan mencari tahu pacar agatha." Ucap Erik kembali meraih ponselnya.       Erik menelpon seseorang bernama Diko kepercayaannya mencari tahu tentang pacar Agatha. Erik Halo, bagaimana perkembangannya?? Diko Mereka satu kampus tuan bahkan satu kelas. Mereka susah menjalani hubungan dari awal kuliah otomatis hubungan mereka sudah hampir tiga tahun bersama.      Mendengar ucapan Diko sontak membuat Erik terdiam sejenak. Dirinya berpikir Agatha cukup pandai menyimpan kekasihnya selama ini. Diko Tuan, apa masih disana. Erik Maaf, lanjutkan Diko Baik, tuan. Pria ini anak tunggal. Dia tinggal bersama ibunya. Hidupnya sederhana semenjak meninggalnya ayahnya. Diko Apa tuan menginginkan namanya? Erik Beritahu siapa namanya. Diko Nama pria itu ab-- CEKLEK      "Agatha. " Ucap Ayah menghampiri putrinya yang masuk dalam rumahnya. Erik menoleh dan mematikan telpon melihat keadaan Agatha yang baik baik saja. ***       Agatha sudah berada di Mobil miliknya. Bahkan sekarang dirinya Ada di Kota Jogja.       "Pak, Kita ke rumah teman Saya dulu." Pinta Agatha pada supirnya. Agatha hendak ke rumah Abby menemui ibunya mirna.      "Baik,non."       Agatha hanya ingin berterima kasih dan memberitahu mirna bahwa Abby berada di bandung. Setelah menemui abby, dirinya langsung pulang kembali kerumahnya.       Agatha sampai dari perjalanan jauhnya. Entah apakah Reno masih mau menerimanya atau tidak. Hati gadis itu sangat merasa bersalah pada ayahnya.       Tempat di berada di rumah megahnya yang besar. Agatha sudah siap mendapat hukuman yang menyakiti hatinya. CEKLEK       "Agatha." Ucap pria paruh baya yang lain adalah ayahnya.        Agatha tak bisa menahan air matanya. Dirinya jatuh di pelukan ayahnya dan menangis sejadi-jadinya. "Ayah, maafkan Agatha. Hiks..Hiks.." ucapan Agatha seraya mengisakan tangisan pecah.       Reno membalas pelukan agatha. Dirinya begitu merindukan putrinya.       Tak lama kemudian, Erik menghampiri kedua Ayah dan anak tersebut. Kecemasan nampak di wajah pria tersebut.       Dirinya bahkan tak bisa menahan gejolak kerinduan di hatinya. Hatinya bertanya tanya, apakah Agatha telah menjadi milik orang lain. Ketakutannya begitu membara.       "Gatha, kau kembali." Tanya Erik dengan suara gemetarnya. Agatha baru menyadari disana juga Ada Erik. "Maaf, membuat kalian cemas. Tidak ada perlu kalian khawatirkan. Aku belum menikah." Jelas Agatha sebelum kedua pria tersebut ini melontarkan banyak pertanyaan.        Agatha menelan salivanya dengan susah payah. Tidak bagaimana dirinya bisa begitu berani menjelaskan hal yang mungkin tidak untuknya.       "Ayah, kenapa sepertinya kurus. Apa ayah tidak sehat."       "Tid---"       "Iya, ayahmu sakit memikirkanmu. Bahkan dia tak mau menyentuh makanannya gara gara kau belum kembali. Kau bisa tidak Agatha tidak bersikap egois." Potong Erik yang mulai memarahinya. Agatha duduk menghempaskan badannya saat mendengar pernyataan Erik. "Maaf, aku menyesal. Seharusnya aku tidak melakukan kebodohan ini. Aku tidak sudah tidak berhubungan dengan pria itu." ucap Agatha penuh dengan rasa sesak di rasanya.         Reno memindahkan badannya di samping Agatha. Dirinya merangkul pundak anaknya, meletakkan kepala putrinya di bahunya tersebut. "Gatha, jangan menangis lagi. Kau tenang ayah tidak marah. Ayah takut kehilanganmu. Ayah pernah kehilangan ibumu, Ayah tidak mau lagi kehilanganmu. Hiks..Hiks..        Tangisannya semakin pecah. "Maafkan aku, Ayah. Aku menyusahkanmu." Seru agatha yang tak henti menangis.       "Berhentilah menangis dan jangan salahkan dirimu lagi. Yang penting kau sudah kembali bersama Ayah." Ujar ayah mengelus puncak kepala putrinya.        Agatha mencekal air matanya yang telah membasahi pipinya. Dirinya masih menikmati bersandar di bahu Ayah. Rasanya Agatha baru kali ini di cintai Ayah.       Agatha tidak pernah tahu sebesar apa ayahnya mencintainya. Dirinya Hanya terpojok dengan kekerasan sifat ayahnya. Reno selalu menutupi kesedihannya dengan kekerasannya. Dia tidak pernah memberi celah untuk Agatha mengetahui rasa sakitnya semenjak di tinggal istrinya.       Melihat kebersamaan Agatha dan ayahnya yang jarang sekali akur. Erik memutuskan untuk meninggalkan mereka.       "Ayah, Aku mau belajar mengurus bisnismu. Aku akan mengelola perusahaanmu yang di Australia. Ajarkan Aku bagaimana cara berbisnis yang baik." Lirih Agatha membuat Reno menegakkan badannya pada Agatha.     Reno menghadap Agatha sambil memegang ke dua lengan Agatha.        Reno menatap agatha secara penuh tanya. "Apa kau yakin?"        Agatha mengangguk "iya, ayah." Balasnya singkat dengan menguraikan senyumnya.       "Ayah sungguh senang dengarnya. Ayah Alan urus perpindahanmu di Australia. Nanti biar Erik menemanimu." Kata Ayah begitu antusias.       Keputusan Agatha buat juga karena ingin melupakan Abby. Dia tak mungkin harus berada satu kampus apa lagi satu kelas dengan pria yang dia pikir tak pernah mencintainya.       "Ayah, makanlah. Aku sudah kembali untuk memperbaikkan hubungan kita." Pinta Agatha. ***       Berbeda dengan Abby yang masih berada di bandung bersama wandy yang setia menemani kesedihan. Hampir seminggu dirinya enggan untuk pulang setelah kejadian yang membuat dirinya kehilangan sosok Agatha.        "Apa kau rasakan." Ucap wandy begitu saja.        "Sakit, terasa sesak di dada." Jawabnya dengan jelas.        "Aku tak habis pikir denganmu. Kau membiarkan Agatha pergi tapi kau sakit kehilangannya. Pantas di sebut apa perasaan kau ini." Cerca wandy menatap sinis pada pria yang penampilan seperti tak terurus.         Dirinya benar benar acak acakan. Tidak setampan saat dirinya keluar dari rumahnya.         Abby mengerdik bahunya. "Entahlah." Hanya kata singkat itu yang keluar dari mulutnya.         "Abby, kau masih tak menyadari." Ucap wandi dengan suara lebih lantang.         Abby hanya diam. "Kau memang pria bodoh. Benar kata yessy kau tak berguna." Celah wandy yang marah pada Abby.        "KAU MENCINTAI AGATHA." TERIAK WANDY.         Abby mengerjapkan matanya singkat. Dirinya seakan melihat keluguan Agatha di bayangannya. Entah bagaimana, air matanya menetes. Pertama kali dalam hidupnya menangiskan seorang wanita. Astaga ini lah kebodohan abby. Seharusnya dirinya mengatakan pertanyaan Agatha. Kenapa dia malah terpaku diam. Bodo..Bodo.        Abby seakan menggerutu dirinya sendiri. Wandy melihat kejadian yang bodo ini. "Abby, kenapa kau begitu bodoh. Sekarang kita tak punya waktu banyak. Lebih baik kau temui Agatha." Sarkas wandi yang ingin membuat mengerti. Semua begitu saja, Abby beranjak dari kesedihan yang telah menghantamnya. Esok harinya Abby telah sampai dirumah. Mirna sedang berberes rumah. CEKLEK       "Kau sudah pulang." Tanya mirna melihat kehadirannya.       "Iya, kelihatannya kau tidak khawatir."       "Agatha kemari memberitahuku, kau baik baik saja. Dia bilang kau di bandung." Jelas mirna duduk di samping Abby.       "Nak, kenapa dengan wajahmu begitu kusut. Apa kau tak bahagia di tinggal pergi oleh Agatha." Cerca mirna membuat Abby memeluknya. Mirna bahkan dapat merasakan sakit putranya. Mirna membalas pelukan putranya agar lebih tenang. "Apa kau sudah merasakan cinta pada Agatha." Ucap mirna begitu saja.       Abby terkejut lalu melepaskan pelukannya. "Ibu, kau tahu Hal ini." Abby terbelalakan matanya, dia sangat terkesiap mendengar pernyataan yang ia dengar. Selama ini dia berpikir buruk. Ternyata mirna ingin Agatha mendapat kan kebahagiaan. Dia sekarang benar benar merasa sangat bodo. Bagaimana mungkin dia menyiakan Agatha yang bahkan ibunya sangat mencintai gadis itu.       Sedangkan dirinya malah berusaha ingin memanfaatkannya. Entah rasa letihnya itu hilang begitu saja. Dengan keyakinan dia melangkah pergi ini bertemu Agatha. Satu satunya tempat pertama Abby adalah kampus. Agatha pasti sedang kuliah itu yang ada otaknya. Dia tertuju ke arah kantin, dimana sana terdapat dua sahabat Agatha. Abby menghampiri tanpa perduli akan dicelah dua orang tersebut, mungkin.       "Yessy, Almira." Panggil Abby dengan napas terengap engap. Kedua wanita ini menoleh dengan kompak. "Kau." Ucap yessy dengan wajah kesalnya melihat sosok Abby. "BERANINYA KAU KEMARI, KAU MAU APA LAGI. APA KAU TAK PUAS MENYAKITI HATI AGATHA. APA KAU TAK PUNYA URAT MALU." Bentak yessy namun tak ada perlawanan dari Abby. Kali ini dia harus mengalah demi mengetahui keberadaan Agatha.       Almira hanya menatap wajah Abby yang terlihat lesu. " Dimana Agatha, Aku ingin bertemu dengannya." Tanya Abby, dia tahu pasti akan di caci oleh yessy.       "HA..HA.APA KAU TAK WARAS, KAU MENCARI AGATHA. AKU TAK KAN MEMBIARKAN MENEMUI AGATHA. JANGAN PERNAH KAU MENGANGGU AGATHA LAGI." Sarkas yessy yang tak henti meneriakkan pria itu.       "Sekali saja, Aku ingin bicara dengannya. Beritahu saja dimana aku bisa menemuinya." Ucap Abby dengan nada pelan.       Yessy tak perduli dan meninggalkan Abby. Semua orang disana melihat kejadian itu. Abby masih berdiri dengan apa yang harus dilakukan.        Apa dirinya punya banyak keberanian untuk mendatangi rumah Agatha yang pasti akan Ada ayahnya.   Abby hendak ingin melangkah namun tangan Almira menghalanginya. "Abby, tunggu." Ucap Almira.       "Ada apa." Ucap Abby sejenak berhenti.       "Almira, aku harus kerumah Agatha. Aku ingin bicara padanya."       Almira tidak memperlakukan Abby seperti yessy. Dia dapat melihat ketulusan hati Abby. "Seandainya kau lebih cepat menyadari semua ini. Kau dan Agatha pasti sudah menikah." Ucap Almira.       Abby hanya terdiam tanpa perduli, di otaknya hanya Agatha. "Abby, kau tak menemukan Agatha di sana." Ucap Almira seolah tahu otak Abby hanya Ada Agatha.       "Mir, tolong jangan bertele tele. Aku harus pergi."       "Tunggu, biarkan aku selesai bicara."       "Baiklah, cepat."       "Agatha sudah pergi jauh, dia sudah pindah kuliah bahkan menjauhi Kota ini. Dia sangat terluka dan memutuskan melupakanmu. Tiga hari yang lalu dia telah pergi." Jelas almira membuat Abby menjatuhkan dirinya.         Sekarang rasa sakit d**a sangat sesak. "Maaf Abby Aku tidak bisa memberitahuku kemana agatha pergi. Aku telah berjanji pada Agatha." Lirih Almira.        "Kau sangat sudah terlambat, Abby. Seharusnya dari dulu kau menyadari betapa penting Agatha dalam hidupmu. Aku pergi dulu." Ucap Almira lalu pergi.        Abby sangat terpukul, dirinya merasakan sakit. Sungguh ini pertama dalam hidupnya mencintai dan kehilangan. Aku orang terbodoh. Aku tidak bisa menjaga apa yang seharusnya. Aku membiarkan dia pergi. Aku memberi bekas luka di hatinya. Aku mencintai setelah kehilangan.       Pikirannya benar benar melayang. Semua sudah terlambat. Abby tak bisa berbuat apa apa. Dia mencintai pertama kali lalu harus melupakannya lagi. Hancur itu yang di rasa Abby.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN