Abby dan Agatha akan menikah. Sekarang mereka sudah ada di rumah pamannya wandy.
Begitu banyak pertanyaan yang timbul di hati Agatha. Dirinya terbaring di ranjang rumah paman wandy.
Rasanya di lema telah menghantamnya. Semuanya begitu saja.
"Gatha, jika lo belum yakin jangan lakuin." Ucap sahabatnya Almira yang terbangun. Dirinya sangat tahu apa yang Agatha rasakan.
"Besok gue nikah sama Abby."
"Lo yakin biasa jalani semua."
Agatha tak menjawab sendiri hanya terdiam dan terpaku.
***
Abby juga gelisah di kamar lain. Ini adalah kebodohan. Dirinya masih belum bisa membandingan cinta dan sayang.
Semua yang Ada di persetujuan hanya disetujui. Entah sejak kapan dia mulai berpikir.
Bagaimana jika Agatha kelak tak senang membiarkannya.
Bagaimana jika agatha menyesal.
Bagaimana jika Agatha disetujui.
Bagaimana..bagaimana..bagaimana .. itu yang terlintas di otaknya. Kenapa sulit sekali untuk yakinkan cintanya sendiri. Semua itu tak semudah dipikirnya.
Abby bukan tipe pria yang gampang memberi cintanya dengan mudah, dia mungkin bisa memacari tetapi untuk cinta itu berbeda dalam pikirannya.
Wandy melihat kegundahan Abby. "Kau tak perlu memarahi Agatha tadi seperti itu." Seru wandy yang ada di balkon bersama Abby.
Abby bisa merasakan begitu sejuknya Kota bandung ini. Dirinya berpikir tidak ada jawaban atas perasaannya sendiri. Jika dirinya gagal membuat Agatha bahagia, dia harus hadapkan Ayah Agatha yang belum pernah sama sekali di temuinya.
*
*
*
Pagi yang cerah menyinari kota bandung. Tapi tidak secerah hati Agatha dan Abby. Hari ini pernikahan mereka, entah apa ini benar atau salah mereka sendiri tidak tahu.
Agatha sudah ingin siap dengan kebaya milik pengantin. Entah kenapa ini tidak bahagia saat mereka menikah. Almira dan yessy menatapnya tajam. Yessy memang lebih ke titik dari pada Almira.
"Agatha." Panggil yessy yang menatapnya penuh keangkuhan. Yessy Duduk Agatha yang sedang duduk di depan cermin.
Dirinya sedang rias, yessy menarik diangkat dan mendekat tidur.
"Yessy, jangan tarik. Ada apa ??"
"Apa kau yakin tetap melakukan pernikahan ini." Seru yessy.
Agatha terdiam memantung, dia sendiri tidak tahu keyakinannya.
"Kau bisa membuka mata lebar, SADAR. Gatha, kau lihat Abby selama perjalanan, dia kasar, emosian. Apa kau mau belajar bagaimana kau dan dia," cerocos yessy panjang lebar.
Agatha masih terdiam dalam keraguan. "Kali ini aku setuju dengan yessy." Ucap Almira pada Agatha.
Almira memeluk Agatha dalam posisi berdiri dan Agatha duduk. "Agatha, dengarkan aku. Kamu harus tau kami Sayang denganmu, jangan sia siakan hidupmu dengan orang yang belum tentu mencintaimu. Tanyakan hati kecilmu apa ABBY MENCINTAIMU."
"Jika kau masih melanjutkan pernikahan ini, Aku dan Almira akan kembali ke Jogja. Maaf aku tidak bisa mendukung ide gila kau kali ini." sambung yessy.
"Aku dan yessy pergi kau baik-baik saja di sini. Pikirkan lagi perkataanku." Seru Almira lalu pergi meninggalkan Agatha untuk pulang ke Jogja.
Yessy dan almira kembali ke Jogja kembali Agatha merenung dalam pikirannya. Dirinya banyak di landa keraguan.
"Apa kau sadar selama ini Abby tidak benar-benar mencintaimu."
"Agatha sadarlah Abby hanya memanfaatkanmu. Kau anak yang baik dan cerdas. Jangan sampai kau menyesali kemudian hari."
"Abby mungkin menyayangimu tapi dia belum bisa mencintaimu. Dia butuh menikahimu mungkin karena Jakarta akan sulit karena dia membutuhkanmu."
Tiba tiba saja kata itu menggema di otaknya. Kata ibu Abby mirna yang lebih dulu menasehati ya dari kedua sahabatnya.
Air mata menetes, dia Mondar mandir dalam kerisau menghantamnya.
Tes
Air mata agatha berderai menatap keraguan menghampiri dirinya.
Tok..Tok..Tok ..
Agatha dengan cepat mengusap air mata. "Masuk."
Wandy pindah kamar Agatha. "Kau belum siap, Abby sudah menunggu di bawah. Cepatlah menyiapkan acara akan segera dimulai.
***
Agatha telah bersiap dengan pakaian putih membalut tubuhnya. Diri sangat cantik, bahkan semua mata tertuju pada kecantikannya.
Abby telah lebih dulu siap di temani wandy, Mereka akan melakukan pernikahan massal. Agatha datang menghampiri mereka.
"Agatha, kau cantik sekali." Puji wandy.
"Kau duduk sini, biar aku yang berdiri."lanjut lagi ucap wandy yang berdiri.
Agatha duduk di samping Abby yang masih terdiam tanpa satu kata pun. Mereka menunggu antri untuk di panggil melakukan prosesi pernikahan.
Banyak pasangan lain juga yang terdapat disana. Bukan mereka saja melakukan pernikahan tersebut.
Entah dasar keberanian apa Agatha akhirnya bertanya hal itu. Tanpa persetujuan Abby iya atau tidak, Agatha langsung bertanya.
"Abby, APA KAU MENCINTAIKU." Tanya Agatha pelan namun penuh tekanan.
"Abby, jawab pertanyaanku." Pinta Agatha dengan wajah kecemasan di hati yang telah meronggotinya.
"ABBY, APA KAU MENCINTAIKU." Tanya Agatha kembali. Namun Abby terdiam malah menenggelamkan wajahnya. Seakan ini pertanyaan sulit untuk dirinya.
Abby tak menjawab apa pun. Tapi hati Agatha penuh dengan keraguan yang mendalam. Dirinya hanya ingin tahu bagaimana perasaan Abby.
"ABBY DAN AGATHA." Nama mereka sudah di panggil oleh petugas namun belum ada pergerakkan dari mereka.
"Nama kalian berdua sudah di panggil Ayo maju" ucap wandy menghampiri keduanya. Abby menegakkan wajahnya kembali dan melihat tatapan Agatha yang tajam.
"Abby, Agatha, nama kal---" Agatha memberi kode pada wandy untuk pergi dengan menghibas di udara tangannya.
Wandy mengerti dan Ada suatu tidak beres, dirinya hanya bisa menuruti keduanya.
"ABBY, AKU BERTANYA SEKALI LAGI APA KAU MENCINTAIKU." Abby tetap mengatup bibirnya tanpa satu kata apapun.
Agatha mulai kecewa dengan diamnya Abby. "Sepertinya Aku tahu jawabanmu." Ucap agatha dengan suara paraunya menghadapi Abby yang membisu.
"AGATHA DAN ABBY" Teriak petugas kembali memanggil nama mereka.
Agatha hendak berdiri, ia menelan salivanya dengan susah payah. "Maaf Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini." Ucap Agatha menatap Abby masih terduduk.
Agatha pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tes
Airmata jatuh begitu saja, dirinya kini terbalut Luka yang dalam. Agatha berjalan entah kemana, otak seperti tidak bisa berfungsi dengan benar.
Berbeda dengan Abby yang masih memantung di tinggal oleh agatha seperti ada suatu yang mengiris hatinya saat ini.
Wandy menatap kebingungan. "Abby, apa yang lakukan. Kenapa Agatha pergi gitu saja." Tanya wandy dengan wajah paniknya.
Pertanyaan wandy membuyarkan lamunan Abby. "Aku tidak melakukan apa apa. Dia bertanya suatu yang tak bisa ku jawab." Jelas Abby.
Wandy tak percaya dengan kelakuan dua orang itu, barusan beberapa hari yang lalu mereka semangat tapi hari ini mereka membatalkan pernikahannya begitu saja.
Abby benar benar dalam keadaan gundah. Dia berada di balkon bersama wandy yang setia menemaninya. Rokok, sebatang rokok menemaninya saat ini.
*
*
*
Agatha duduk termenung sendiri di halte bus. Dirinya bingung harus bagaimana setelah ini. Dia merasa sangat bodoh. Kenapa selama ini tak menyadari perasaan Abby. Dasar bodoh..!!!
Itu lah yang pantas mungkin untuk dirinya sekarang. Semua begitu cepat dan terlambat dirinya menyadari.
Dirinya masih berada di kota kembang bandung, rindangnya pepohonan, bunga yang tumbuh di penjuru kota, serta taman yang hijau.
Dirinya masih duduk termenung di tengah Kota, Agatha menghela napas panjang. Akhirnya setelah berapa jam duduk disana hari pun semakin sore. Tidak mungkin juga terus duduk disana.
Dia meraih ponselnya yang sudah beberapa hari di matikannya.
"Aku akan menelpon seseorang."
Agatha mencari nama seorang di ponselnya. Budi, akhirnya dia mendapatkan nama itu. Budi adalah salah satu supir kepercayaan Agatha.
Agatha
Halo, Pak budi ini Agatha.?
Budi
Non Agatha, kemana saja. Semua orang cemas mencari non.
Agatha
Jemput saya sekarang jangan beritahu siapa pun Saya menelpon termasuk Ayah dan Erik.
Budi
Baik non, sekarang non Agatha mana?
Agatha
Saya di bandung, nanti setelah sampai di bandung hubungi Saya. Saya akan kirim lintas.
Budi
Baik non menunggu, jangan kemana mana. Saya segera antar jemput.
Tut..Tut .. agatha mematikan ponselnya. Begitu banyak pesan dari Erik tapi dia enggan untuk membacanya.
Agatha menatap langit yang mungkin Sebentar lagi gelap. Jogjakarta dan bandung sangat jauh membutuh 7-8 jam dalam perjalanan.
Agatha memutuskan untuk menginap disebuah penginapan yang jauh dari kota.
***