CHAPTER 14

1641 Kata
       Almira melihat dibatalkan yang tak kunjung berakhir. Dia memutuskan untuk lompat menolong Agatha, dari pada agatha kelamaan di udara gadis itu mungkin bisa kehabisan napas. CLUP          Almira terjun untuk menolong Agatha yang mungkin sudah hampir kehabisan napasnya. Mereka semua terdiam dan berhasil mengalahkannya.          Agatha yang sudah pingsan karena banyak meminum udara. "Agatha bangun." Ucap Almira khawatir dengan tubuh yang basah. Agatha berada di pangkuan Almira.         “Agatha bangun kau.” Ucap yessy memukul perlahan pipi Agatha.         "Kenapa kau diam saja ?? Kalau terjadi hal buruk dengan Agatha, aku tidak akan memaafkanmu Abby." Cercah yessy yang sangat marah.         Abby hanya mematung melihat gadis cantik itu berbujur lemah. Arah yang tidak diinginkan Datang ke arah agatha.        "Dasar pria tak punya perasaan." Celah yessy kembali yang tak henti menyalahkan Abby.         Agatha terbangun dan mengeluarkan air dari mulutnya. Napasnya masih terengah engah. Dirinya berpikir baru saja sebelumnya dia beranggap akan terjatuh di bawah dia akan segera mati.         "Agatha akhirnya kau sadar juga." Ucap Almira lalu memeluk tubuh Agatha. Merasakan tubuh Almira basah seperti dirinya. Agatha menyeringai pandangannya ke Arah lelaki yang mungkin akan jadi pembahasan. Mungkin !!          Tidak ada yang tahu akan seperti apa kisah mereka, Agatha seperti tahu siapa yang menyelamatkannya.          Hatinya sangat kecewa, mengapa mesti Almira bukan Abby. Agatha menatap tajam pada Abby yang membelakangi Agatha. Kenyataan ini menghantam Agatha.           Wajahnya sangat datar, bisa di tebak Agatha sangat marah dan kecewa. Dengan tubuh yang menggigil dia malah tak mau bicara dan malah meminta dilanjutkan perjalanan.         "Ayo kita lanjutkan perjalanan." Lirih agatha dengan wajah datarnya melewati Abby yang berdiri diam disamping pohon rindang.          Agatha Berjalan Diambil oleh Almira dan Yessy. Abby melihat Agatha yang tak perduli bertemu. Abby sangat menentang dia harus bisa melawan rasa takutnya. Tapi tetap saja dia tak berdaya. Seakan mimpi buruk jika jatuh dari ketinggian.          Melihat tubuh Agatha yang menggigil Abby melepaskan jaketnya memakaikan pada Agatha. Agatha Tetap sama seperti dingin es batu.          Wandi menghampiri Abby. "Kau lihat, ini salah kau Abby. Agatha wajar sangat marah." Kata wandy.          Namun tidak di gubris oleh Abby sedikit pun. Abby sangat keras kepala dan egonya sangat tinggi. Abby terus berjalan di belakang Agatha. Baru saja hubungan mereka membaik sekarang akan memburuk.         Cercah keraguan merenggoti hati Agatha apa benar Abby mencintainya itu terpikir dalam otaknya saat ini.         Tampilan kosong kedepan tak perduli apa yang Ada di hadapannya. Hatinya merasa bimbang.         "Mengundurkan itu jalan raya." Almira menunjuk pada jalan raya yang tampak belum jelas.        "Iya itu jalan raya." Ucap wandy yakin.        "Ayo Kita kesana." Lanjut ucap wandy.        Mereka berjalan sampai keluar hutan, butuh harus di hutan hampir tiga hari akhirnya berakhir.         Namun kini mereka harus mencari tumpang agar sampai ke Kota bandung.  * * *       Tak berselisih beberapa lama akhir ada truk sayur yang menumpangi mereka. Agatha lelah dengan semua ini. Matanya berkaca kaca. Baru saja tiga hari berlalu, apapun yang percaya diri        Astaga !! Ini tak bisa di bendung rasanya sakit sekali hancur. "Ayah Agatha rindu." Ucap Agatha dalam hati.          Sementara Abby menatap Agatha dengan rasa bingungnya. Di truk tersebut bukan hanya Ada orang tapi juga dua orang yang terlihat dari penampilannya tidak baik.           Abby menghampiri Agatha yang sedang di bendung kerinduan dengan persetujuan. "Agatha .." ucap Abby yang duduk disamping.         "Kau marah menerima." Tanya lagi Abby.         "Tidak." Ucap Agatha singkat namun begitu sinis kini Agatha menelekuk kan kedua lututnya lalu menenggelamkan gerakan.          Abby tidak berbicara lagi setelah melihat agatha yang ia pikir lelah dan ingin tidur.         Hari berganti sakit perjalan yang jauh membuat mereka tertidur dari lelahnya. Pemandangan matahari terbenam yang indah dari sore hari itu.          Tanpa terasa sampai di terminal bandung. Mereka harus mencari angkutan umum ke cimahi.          "Akhirnya Agatha kita juga sampai bandung." Ucap yessy antusias.          "Setelah ini kita Naik angkut cimahi." Ujar wandy.         Abby memegang erat tangan agatha saat ini. Agatha tetap dengan bantuan abby yang berusaha dengan baik menantang.         "Lebih baik Kita makan dulu." Ucap Abby seraya mempererat genggamannya.         "Kali ini Aku setuju dengan cowok enggak berguna ini." Celah yessy tertuju pada Abby. Abby tak perduli dengan bacot yessy saat ini.         Pikirannya Hanya pada Agatha. Mereka mencari makanan di terminal yang harganya juga tidak mahal.         Abby mencari tempat duduk untuk mereka semua. Dirinya ingin bertanggung jawab dan dilindungi Agatha.         Dari mana saja, percaya diri, ingin tahu, hanya ingin uang, Agatha. Hidup Abby memang terkesan sederhana. Abby bukan ingin uang selalu di bayarkan seperti itu. Abby harus mengambil kompetensi fotografer dan perlu uang dan hanya sebatas itu untuknya.         Selebihnya untuk makan agatha masih dapat dan simpanan cukup Hanya untuk makan mungkin juga sewa rumah setelah menikah.         Abby pria sangat bertanggung jawab, memang sedikit memanfaatkam Agatha tapi bisa diaman lelaki tampan itu tidak akan membiarkan Agatha terlantar.        "Agatha kau mau makan apa biar aku pesankan." Ucap Abby dengan tulus di gembira.        "Terserah." Hanya kata itu yang terlontar dari bibir Agatha.         Abby pindah dari tempat duduk untuk memesan makanan. Bukan mereka yang ada di sana. Tapi Ada dua pasangan suami istri dan juga dua pria yang tadi bersama menumpangi truk yang sama.         Salah satu pria tersebut tampak Agatha, membuat Agatha sangat risih. Sedang satu lagi memandang yessy penuh menyeringai, gimana tidak saat ini yessy cocok sangat minim suka        Agatha saat itu menggunakan tank top namun tertutup oleh jaket di diberikan Abby. Entah Mengapa pria ini memandang agatha sangat terusik di tatap seperti itu.        "Aku Susul Abby ya." Ucap Agatha tiba tiba pergi begitu saja.        Abby yang sedang memesan makanan dan yang lainnya. "Bu ayamnya Lima yah, makan di sini yah bu."        Tiba Ada seseorang menggandeng lengan dengan sangat kuat. "Agatha kau kenapa? Tunggu di sana saja biar aku yang pesan." Ucap Abby belum menyadari kesulitan Agatha.        Agatha menggelengkan cepat. "Tidak. Aku di sini saja."        Agatha memperkuat gandengannya dengan Abby. Abby mulai curiga, Agatha sebelumnya tidak pernah seperti ini. Sebenarnya Agatha baru saja tadi masih terlihat tidak perduli.         Abby menangkup wajah Agatha dengan kedua telapak tangan. "Katakan Ada apa." Ucap Abby dengan tegas.          "Tidak apa apa."          "Kau sudah belum."          Abby menatap kedua manik mata Agatha, Abby tahu Agatha sedang menatap.          "Jangan bohong Agatha. Aku tahu kau sedang berjuang." Sarkas Abby melihat wajah raut agatha yang terlihat pucat.           "Kedua pria itu terus memandangku dan yessy." Ucap Agatha Jujur. Abby melihat ke arah tempat kedua pria itu duduk.             Untuk melihat orang asing itu sangat intens. Suka melihat makanan yang harus dinikmati.            Rahang Abby menggeras, kedua berusaha menggepal memandang pria itu dari kejauhan. Dadanya meluap luap menahan logik.           "Kau tunggu di sini." Pinta Agatha.            Abby menghampiri pria yang berani menatap Agatha dan yessy.  BUGH..BUGH ..           "Abby."teriak wandy bersama yessy dan Almira. Agatha hanya terbelalakan matanya melihat kejadian itu.           "Abby apa kau Gila. Sudah hentikan." Ucap yessy menarik lengan Abby yang menghantam kedua pria tersebut bergiliran.            "Abby sudah cukup." Ucap wandy suara kerasnya. Abby seakan tuli saat ini dirinya terus menghantam pria tersebut.             Agatha melihat kedua pria itu sudah babak belur akibat Abby yang tiada henti menghantamnya. Wajah     Agatha sangat ketakutan tubuhnya bergemetaran. Ia memberanikan diri dengan tubuh gemetar menghentikan Abby.           "Abby sudah hentikan" ucap agatha dengan suara paraunya. BUGH..BUGH..                     "ABBY CUKUP."TERIAK AGATHA.          Abby menghentikan aksinya, semua tertuju padanya. Mereka semuanya malu dan pergi meninggal kan tempat itu.         "Agatha kau lihat pria ini sangat emosian." Celah yessy tiada henti.         "DIAM KAU."BENTAK ABBY         "BERANINYA KAU MEMBENTAK AKU." Ucap yessy dengan nada suara kerasnya,          "INI SEMUA GARA-GARA KAU. KAU TAK LIHAT MEREKA MENATAP KAU PENUH KENAFSUAN." TERIAK ABBY PADA YESSY.         Emosi Abby tidak bisa di kontrol lagi. Dirinya sangat marah dan kesal. "KAN AKU YANG DI PANDANG. APA MASALAH DENGANMU."TERIAK YESSY TAK KALAH KERAS.          Yessy dan Abby tak henti beradu mulut. "KAU TIDAK PUNYA PAKAIAN YANG LEBIH PANTAS KAU PAKAI." BENTAK ABBY MARAH.        "Abby Sudahlah cukup malu di lihat banyak orang." Ujar wandy memegang pundak Abby.        "Kau tak perlu seperti itu, main mukul orang. Kau bisa dilaporkan polisi bagaimana." Ucap kembali wandy. Semua orang menyalahkannya. Tidak Ada yang mengerti kegundahannya. Semuanya menatap tajam padanya.          Abby berbalik dan mendapat tatapan dari Agatha. "KENAPA KAU INGIN MENYALAHKAN AKU JUGA." UCAP ABBY PENUH PENEKANAN.           Agatha terkesiap heran, jantungnya mendadak sakit di marahin oleh Abby seperti itu. "Sudah agatha, dia sedang tidak waras." Sarkas yessy merangkul pundak Agatha.            Agatha menatap sedih, mengapa semenjak mereka merencanakan menikah Abby malah merencanakan emosional. Sebegitu egoisnya lelaki yang di cintainya itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN