Agatha terbaring di lantai atas tanpa alas apapun. Wandy, Yessy dan Almira sudah terlelap tidur dengan dinginnya udara malam.
Abby yang juga belum tidur saat saai itu. Malah menikmati sebatang rokok miliknya. Dengan lampu remang Abby tidak bisa memastikan apa yang Agatha miliki tertidur atau belum.
Agatha di balut kesedihannya, ia berhasil menahan diri untuk terus meningkatkan tapi apa daya diri tak mampu lagi. Sendu air terjun jatuh begitu saja hingga tersendu sendu.
HIKS..HIKS ..
Abby mendengar suara tangis gadis bernama Agatha itu. Abby mematikan rokoknya dan menghampiri Agatha.
Ia menuju tempat Agatha sambil menghadap almira saat ini. Abby membalikkan tubuh Agatha dan melihat pipi Agatha sudah di basahi air mata. Dia tak menyangka akan membuat Agatha terluka seperti ini.
"Agatha." Seru Abby dengan wajah sedikit penyesalan.
Agatha tak menjawab apa pun. Dirinya tak mampu mengeluarkan kata kata yang dari tadi ia ucapkan.
Hiks..Hiks ..
Abby simpan air mata Agatha dan memeluk tubuh mungil agatha. Agatha bahkan tak balas Sementara itu takut menjadi salah.
Abby letakkan Agatha di lengannya sambil merangkul pundak Agatha buat Agatha Agatha amankan kehangatan.
"Jangan nangis lagi. Kamu terlihat jelek kalau terus menangis." Kekeh Abby sambil mengusap lembut Agatha.
Hanya mereka berdua yang belum pulih dari tidurnya. "Tidurlah besok kita harus melanjutkan perjalanan." Ucap abby menatap binar mata Agatha. Abby Membuka kaca mata milik Agatha. "Kau sangat cantik Agatha." Lirih Abby masih ada di dalam diriutan Agatha yang indah.
"Abby ak ---" belum sempat Agatha selesai berbicara Abby mendekatkan bibir ke bibir Agatha. Abby mengecup lembut bibir Agatha yang terasa sangat kenyal. Abby menikmati kelembutan bibir agatha.
Agatha yang dimulai tak menyangkal tanpa protes punanya ikut menikmati permainan Abby. Abby menggigit bibir bawah milik Agatha hingga Agatha. Abby Masuk lidahnya Ke mulut Agatha. Lidahnya bermain di dalam Sana.
Agatha mulai membalas permainan Abby, suara semakin dingin. Abby terus tiada henti mencium bibir merona Agatha.
Abby mulai melepaskan napasnya, dia berhenti melakukan aksinya. Mereka saling bertatapan satu sama lain.
Agatha langsung memeluk Abby dengan erat. Jantung Agatha berdegup kencang dalam pelukan abby bahkan Abby bisa merasakan denyut jantung milik Agatha.
Mereka yang dibutuhkan darah terjadi saat melakukan ciuman itu. Abby tidak mau menolak dia ingin disetujui Agatha.
Tapi apa daya tetap tetap menyangka perasaannya. "Tidurlah ini sudah malam." Abby mengecup puncak kepala Agatha.
"Aku meminta maaf, Aku memutuskan padamu." Ucap Agatha dengan wajah sangat sedih.
"Sudah jangan bahas itu lagi, sekarang kau tidur" jawab Abby.
Akhirnya tidur bersama tertidur saling berpelukan. Tidak perduli apa pun saat ini layak kehangatan.
***
Dirumah milik Reno, Erik serta orang suruhan dari Reno telah menelusuri semua penjuruan kota jogja tapi tidak Ada petunjuk keberadaan Agatha. Agatha seakan menghilang di telan bumi.
Frustasi itu lah yang terjadi pada Reno Ayah Agatha. Bahkan semua meeting dengan kolega penting di batalkan Hanya untuk mencari putrinya.
"Erik apa tidak Ada perkembangan."Tanya Reno pada Erik dengan nada sangat pelan.
"Belum om, tidak ada yang tahu keberadaan Agatha bahkan kedua sahabat Agatha Almira dan yessy ikut menghilang." Ucap Erik dengan tegas.
Erik melihat keadaan Reno sangat lemah, bahkan dirinya tak makan dari menghilangnya agatha.
"Om lebih baik om Reno makan, jaga kesehatan om Reno." Ucap Erik cemas tapi Reno sangat mirip dengan Agatha yang sedikit keras kepala.
"Saya tidak bisa makan sebelum tahu keadaan anak saya."
Erik tak bisa berbuat apa pun. Dirinya hanya terus mencari keberadaan Agatha yang tanpa jejak. Bahkan Erik sudah menyuruh orang untuk mencari tahu tentang pria yang di cintai Agatha.
*
*
*
Di pagi harinya agatha sudah terbangun lebih dahulu. Agatha sangat lapar untungnya dirinya membawa roti beserta dengan selainya yang mungkin bisa memilih tenaganya.
"Agatha dapat dari mana roti ini" Tanya wandy
Agatha mengeryit dengar pertanyaan wandy itu. Agatha menelan slavinanya. "Tentu saja aku bawa dari rumah."
"Memangnya kau tak berguna."sambung yessy terbilang cerewet.
"Bukannyaa kau sama saja." Celetuk Abby yang baru bangun dari tidurnya.
Agatha tersenyum pada Abby, sebaliknya Abby juga begitu. Abby mendekati agatha yang sibuk mengoles roti untuk mereka semua.
Abby memeluk Agatha dari belakang dengan erat. Agatha tersenyum malu melihat tingkah romantis Abby sepagi ini. Blush terlihat di kedua pipi Agatha. "Kau mau roti."ucap Agatha dengan senyumnya.
"Nanti saja Aku masih ingin memelukmu sayang." Seru Abby yang mendekap Agatha.
"Eh Abby kau ini tak lihat tempat apa." Sahut yessy melihat tingkah Abby.
"Iri ajah kau." Celah Abby pada yessy. Agatha hanya tertawa kecil melihat mereka terdebat.
"Aku iri. Tidak akan pernah." Ucap yessy dengan sombong.
"Abby lebih baik kau makan cepat, kita harus cari jalan keluar dari sini." Ucap wandy yang sedang membereskan barangnya.
Mendengar ucapan wandy, Abby melepaskan tubuh Agatha lalu mengambil roti lalu mencium pipi kiri Agatha.
CUP
"Ya tuhan lihat kelakuannya, dia malah mencuri kesempatan mencium Agatha." Yessy sangat kesal dengan kelakuan pacar Agatha yang bisa di bilang menurutnya selalu membuat orang jengkel.
"Sudah lah yes, jangan ikut campur hal mereka berdua." Tutur Almira.
Setelah selesai mengisi perut mereka melanjutkan perjalanan di tengah hutan, tidak Ada yang bisa mereka lakukan kecuali hanya berjalan.
Abby berjalan menggandeng agatha terus menerus. Wandy memperhatikan sikap Abby yang menurutnya sudah mulai mencintai Agatha.
Wandy tersenyum senang jika semua itu terjadi Agatha dan Abby pasti akan hidup bahagia.
"Ini kita belum menemukan titik jalan raya." Ucap Almira yang mulai kelelahan berjalan selama dua jam lamanya.
Mereka terus berjalan hingga semuanya kelelahan, mereka beristirahat sejenak. Mereka duduk di tepian pohon yang besar untuk beristirahat.
"Agatha kau lelah." Tanya Abby menyandar sebuah pohon. Sedangkan Agatha menyandar di tubuh gagah Abby.
"Iya aku lelah sekali. Apa masih jauh ya." Ucap Agatha.
"Mau aku gendong tidak." Bisik abby. Agatha meronjak terkejut.
"Ih kau modus ya."
Abby menyeringai "Aku modus dengan calon istriku. Kau ingat ciuman tadi malam itu yang kedua kalinya." Ucap Abby pelan agar tidak Ada yang mendengar topik pembicaraan mereka.
Agatha mengeryitkan dahi sedang bingung. "Maksudnya. Itu kan yang pertama kalinya."
Abby tersenyum "kau Salah itu kedua kalinya." Ucap Abby menatap Agatha.
"Ah kau bohong."balas Agatha.
Abby tak menjawab namun Agatha sangat penasaran. "Jadi yang pertama kapan.??" Tanya Agatha penasaran. Abby mendekatkan bibirnya kedaun telinga Agatha membuat Agatha Mengelitik tubuhnya. "Yang pertama kau memulainya. Saat kau mabuk, kau ingat Sayang." Bisik Abby dengan senyum kemenangan lalu pergi meninggalkan rasa tidak percaya Agatha.
Agatha membelalakan matanya. Rasanya ia tak percaya. Dia mabuk memulai Hal seperti itu. Dia merasa sangat malu saat ini.
BLUSH
Wajah agatha memerah, Abby dari jarak tidak cukup jauh bisa melihat wajah Agatha yang memerah karena ulahnya.
Agatha mulai berdiri menghampiri Abby Dan yang lain untuk bersiap melanjutkan perjalanan.
Abby sengaja jalan di belakang dengan Agatha agar dia bisa terus melihat wajah merah merona milik Agatha. "Kau kenapa ?? " Ucap Abby yang tangan mengenggam tangan halus agatha.
"Aku malu apa yang aku lakukan."
"Kenapa mesti malu, Aku menerimanya dengan senang hati."
Agatha mencubit lengan Abby karena kesal. "Ih kau ini bisa bisanya bicara seperti itu."
"Aaawwwhhh" ringis Abby.
*
*
*
Setelah cukup lama mereka berjalan, mereka menemui jembatan kecil yang di bawahnya terdapat sungai yang tinggi dari jembatan tersebut.
Jembatan yang hanya bisa di seberangi satu persatu satu. Abby dari kecil memang sangat takut ketinggian.
Dengan alasan apapun rasanya dia tak ingin menyeberangi jembatan ini.
"Ayo sini." Ucap wandy yang sudah terlebih dulu menyeberang.
Abby keringat dingin, Agatha bisa melihat hal itu. "Jangan takut ini tidak Akan sulit yang kau bayangkan." Bisik Agatha sambil tersenyum.
Abby menghela napas panjangnya dan menelan salivanya. Tubuh Abby bergemetar ketakutan dirinya menyeberangi perlahan, bahkan lelaki gagah itu terpejam saat harus melihat ke bawahnya yang sangat tinggi.
"Ayo sayang kau pasti bisa." Ucap Agatha menyemangati Abby.
"Ini sangat tinggi, Aku takut sekali." Ucap Abby gemetaran.
Dengan perjuangan yang keras akhirnya dia berhasil menyeberangi jembatan kecil. Abby berpikir dirinya akan terjatuh di bawah sana. Untungnya dia tak sesial itu. Dia bahagia sekali saat ini.
Mungkin mereka semua akan keluar dari hutan yang sangat lebat ini. Entah lah itu mungkin saja terjadi.
Sekarang giliran Agatha yang terakhir. Agatha terlihat lebih santai, hanya saja dirinya tidak bisa berenang. Agatha berpikir jika terjatuh sudah di pastikan dia akan mati di sungai ini.
"Agatha ayolah cepat." Kata yessy yang menunggu dari seberang sana.
"Sayang kau bisa, kau tenang saja." Ucap Abby terlihat cemas di wajahnya.
"Gatha jangan panik, pelan pelan saja." Ucap Almira.
"Kalian jangan berisik nanti aku tidak bisa tenang." Teriak Agatha, dirinya sangat takut jatuh ke sungai itu.
Sepatu Agatha tergelincir. "AaaGhhhhhh" teriak Agatha yang bergelantuk di jembatan.
"Tolong Aku.. Hiks.."teriak Agatha dengan tangis histerisnya.
"AGATHA...!!!" Teriak mereke bersamaan panik.
"Abby Ayo kau bantu Agatha." Pinta yessy.
"Aku sudah tidak kuat berpegangan, tolong aku."
CLUP..
Agatha terjatuh ke sungai yang cukup dalam. Agatha berusaha untuk berenang namun dirinya tak bisa.
"Tolo--"
"Tolong ak---"
Agatha masih berusaha dengan napas yang terengah engah.
"Abby kau turun tolong Agatha. "Ucap yessy yang hendak mendorong Abby.
Abby menggeleng "aku takut ketinggian." Ucapnya dengan cepat.
"Kau mau Agatha mati, kau tahu dia tak bisa berenang."ucap yessy marah.
"Abby kau harus tolong Agatha." Punta wandy.
"Kau ini menikah dengannya mau, menolongnya tidak mau." Bentak yessy sangat kesal.
CLUP
Almira melihat dibatalkan yang tak kunjung berakhir. Dia memutuskan untuk lompat menolong Agatha, dari pada agatha kelamaan di udara gadis itu mungkin bisa kehabisan napas.