CHAPTER 12

1880 Kata
     Pagi hari mencari jalan mencari Agatha. Sejujurnya hati Erik sangat mengerti Agatha ingin menikah dengan pria lain. Entah sehebat apa pria itu bisa merebut hati Agatha, gadis polos namun cerdas.       Tidak Ada tanda tanda persetujuan Agatha. Erik menggerang kesal. "AaaaaaaaaAaggghhggghhhh. AGATHA. !!" Teriak Erik.       Hidupnya hampa, Dirinya bertanya kenapa harus meminta Agatha. Ini semua terjadi begitu saja. Erik berharap Agatha segera di temukan apakah sudah menikah atau belum. ***      Agatha dan yang lain singgah untuk istirahat mengisi perutnya yang sudah kosong sedari malam tadi. Abby dan Agatha berpikir tentang Reno dan mirna yang mencemaskan nasib mereka. Keegoisan mereka membutakan mata mereka.      Agatha bersandar di bahu Abby karena lelah sekarang mereka jauh dari Kota jogjakarta. Agatha tertidur di gagah gagah pria tampan itu.       "Agatha kau tidur." Tanya Abby yang berhasil tidak Ada pergerakkan dari Agatha. Abby pindah kepala Agatha ke pangkuannya. Ia menatap wajah Agatha yang polos tanpa make up, yang ada kacamata.       Abby Buka kacamata Agatha, kini wanita itu benar-benar terlihat sangat cantik. Tiba saja jantung Abby berdegup bukan karuan dengan aliran darah yang terpacu cepat. 'apa ini Agatha, Aku tidak mengerti dengan perasaanku.' Gumam Abby dalam hati. Abby terus menatap kekasihnya hingga membuat Agatha terbangun.      "Emmmmmmm" Agatha menggeliat kan tubuh mungilnya. Perlahan ia dibuka balik. Untuk pertama kali dia membuka mata bukan kamar yang di lihatnya namun pria yang sangat miliknya cintainya.      "Ini makan, kamu malah tidur yang lain sudah makan." Pinta Abby memberi bungkus nasi untuk Agatha.       "Makasih Abby."      "Kenapa memikirkan terima kasih."      "Kau telah mengisi hariku dengan bahagia, mulai seterusnya aku akan menjadi istrimu." Lirih agatha.       "Sekarang, makan Berhenti Berhenti dramatisir." Oceh Abby membuat Agatha tersenyum getir.      Agatha bertambah nasinya hingga tanda. Kali ini berisiko tidak selelah sebelumnya. "Abby .."      Abby menoleh ke arah wanita itu. "Ada apa." "Sini."       Abby dengan sigap menghampiri Agatha. "Jangan sibuk ini dulu." Ucap agatha mengambil kamera milik Abby.      "Apa kau tak mikirkan seseorang." Tanya Agatha.      "Di Jakarta kita tinggal dimana." Tanya Agatha lagi.      "Aku tidak tahu, tapi nanti. Kita akan      mobil ..." Oceh Agatha yang sedang memeluk lengan Abby dengan erat.      Abby tertawa mendengarkan ocehan Agatha. Agatha sangat terlihat menggemaskan.      "Hahaha .. !!! Astaga sayang kau ini lucu sekali." Seru Abby sambil mencubit hidung Agatha yang memainkannya kekanan dan ke kiri.      Setelah cukup lama, mereka melanjutkan perjalanan ke Arah bandung. Mereka melakukan perjalanan dengan suka cita.      Agatha membawa mobil milik Abby dengan kecepatan tinggi. Dirinya bercanda di mobil. Abby tiada henti menggodanya.      Abby mencium pipi Agatha terus menerus, tak perduli dengan tiga orang di belakangnya.      Agatha menjadi tidak fokus menyentir atas kejahilan Abby. Awalnya jalan yang begitu sepi dengan tepi tepian hutan mendadak dari lawanan Arah Ada sebuah Mobil tak kalah lajunya membuat agatha lengah.     "Agatha awassssssa" teriak Almira.      "AGATHA ..." Teriak mereka bersama.     "Aaaaaaaaaaaaa ..."       BLUGH...      Mobil mereka menabrak sebuah pohon dihutan. Mereka semua pingsan belum sadarkan diri. Sekarang            Mobil mereka terjebak di hutan entah dimana.       Almira dan yessy terlebih dulu sadar. Sedangkan Abby dan Agatha belum tersadar. Wandy juga sadar karena mereka tak terlalu parah.      "Agatha bangun.."ucap panik Almira menggoyang tubuh Agatha yang kepalanya terbentur hingga mengeluarkan darah namun tidak terlalu parah.      "Abby.. Agatha."teriak wandy menggoyang tubuh mereka. Abby membuka matanya terbangun.      "Aaawwwhhhhh" ringis Abby merasakan sakit pada tubuhnya.      "Agatha.." ucap Abby melihat Agatha masih pingsan di sampingnya.      Abby dengan sigap mengeluarkan Agatha dari Mobil miliknya. "Agatha bangun."      "Gatha ayolah bangun."      Tiba tiba saat mereka di sibukkan dengan kepanikan Agatha belum sadar. Mobil Abby meledak secara bersama Agatha sadar. BUM         Suara ledakan terdengar jelas. Mereka semua tak bisa berkata kata tubuh mereka bergemetar.        "Tidaaaaakkkkk.. mobiiiillll" teriak abby.        Agatha melihat kesedihan Abby yang telah bangkit dari duduknya.        "Abby maafkan aku."       "Maaf saja tak cukup agatha, ini Mobil peninggalan satu satunya dari ayahku." Bentak Abby dengan keadaan sangat marah.        "Maaf Abby" ucap Agatha pelan dengan mata berkaca kaca. Selama ini Agatha memang tidak pernah di bentak Abby. Ini pernah kalinya Agatha merasakan Abby sangat marah padanya.        "EH KENAPA KAU JADI BENTAK AGATHA, DIA PACARMU." Teriak yessy marah.        "AKU TIDAK PERDULI."Teriak Abby tak kalah keras suaranya.        "Hiks..Hiks.."        "Abby kau tak perlu marah dengan Agatha seperti itu."ucap wandy memberitahu sahabatnya.        Hiks..Hiks..         Abby melihat Agatha menangis tersendu karena dirinya. Abby menarik napas dan menghembus napas dengan kasar.          Abby mengacak wajahnya dengan kasar. Dirinya frustasi dengan semua ini. Abby menghampiri Agatha yang tengah kalut karenanya.         Hiks..Hiks..         "Maafkan Aku." Abby tak menjawab dirinya hanya memeluk untuk menenangkan Agatha. Dirinya masih marah tapi apa daya dia tak bisa melihat gadis itu menangis.          "Sekarang Kita berada dimana."tanya Almira.          "Seperti Kita terjebak di hutan." Jawab wandy melihat kanan kiri.          "Lebih baik kita cari jalan raya sebelum hari gelap." Lanjut kata wandy melihat kanan kiri yang tidak ada tanda jalan raya dekat mereka terjebak.          Mereka semua berjalan kaki di tengah hutan yang hanya terlihat daunan dan pohon di sekitarnya.          Ternyata perjalanan mereka tak semudah di bayangkan. Abby sudah terlebih dulu jalan sedangkan agatha tertinggal jauh di belakang.           Agatha hanya merenung kemarahan Abby. Kali ini Abby sangat marah padanya, bahkan dirinya tertinggal jauh pria itu tak peduli. ***          Di tempat lain mirna sangat khawatir pada putra semata wayangnya. Dia terus menerus menghubungi Abby namun ponsel Abby sudah tidak aktif.          Ia tak tahu kemana harus mencari Abby. Wandy sendiri sebagai sahabat Abby juga sama tak bisa di hubungi.         "Ya Allah kemana anak itu pergi. Semoga tidak terjadi Hal buruk." Ucap mirna bicara sendiri yang saat ini berada di kamar milik anaknya. * * *         Sudah lebih dari tiga jam mereka berjalan namun tidak mendapat pentunjuk sama sekali. Sesekali Abby yang berada di belakang melihat Agatha dari kejauhan tanpa di sadari Agatha.         Matahari sudah mulai terbenam. Gemuruh hujan sepertinya akan turun. Cuaca langit yang mendung semakin membuat kekhawatiran di antara mereka berlima. Suara guntur yang terdengar jelas.          Sungguh kali ini mereka semua terjebak di hutan tanpa tau harus bagaimana. Tidak Ada tempat untuk mereka berlindung dari hujan yang akan mungkin membasahi mereka.         "Ya tuhan bagaimana ini. Dimana jalan keluar hutan terkutuk ini."gerutu yessy seraya menghadapkan wajahnya ke langit.          Mereka terus saja berjalan tanpa henti. "Kau ini berisik. Apa mulutnya cerewet itu tidak bisa diam." Seru Abby dengan kekesalan di hati.          "Masih mending Aku, daripada kau tidak berguna." Celah yessy terhadap Abby.          Agatha hanya diam sambil berjalan mendengar hal itu. Dirinya rasa bersalah. Ia berpikir ini semua salahnya. Sudah jelas dirinya sangat tau tidak mahir dalam mengemudi tapi tetap saja memaksa mengemudi.             Padahal setiap mengemudi sudah di pastikan merusak Mobil orang tersebut.            Dan beruntungnya dia anak dari seorang jutawan Reno dengan mudah dia mengganti semua itu. Tapi lain hal dengan kasus Abby, dia tidak mungkin bisa mengganti kenangan satu satunya milik Abby dari almarhum Ayah. Flashback on        Agatha meminta seorang pria tampan yang tak lain sahabatnya sendiri Erik untuk mengajarinyaa mengemudi dengan benar.       "Erik ayolah ajarkan Aku menyentir." Pinta Agatha.       "Tidak Agatha, bisa bisa Kali ini mobilku jadi korban lagi." Tolak Erik dengan halus.       "Ahh Erik kau pelit sekali." Celah Agatha dengan bibirnya yang maju ke depan. Wajahnya menjadi terlihat sangat imut.        "Agatha kau lupa baru saja minggu lalu kau mengganti mobilku gara gara rusak jatuh ke danau. Untung saja tidak Ada korban." Cercah Erik namun Agatha tidak menyerah.        "Erik please ini terakhir aku janji."rengek Agatha membuat Erik tak tega apalagi gadis ini sudah memohon padanya.        Erik pun menyerah dengan pasrah ia menuruti mau Agatha tersebut. Erik menemani Agatha menyetir, Agatha memang pandai menyetir tapi dirinya tidak mahir bahkan hobby menabrak tiang listrik lah, nabrak parkiran.        "Agatha kau pelan jangan ngebut." Ucap Erik memegang self beat. Agatha pun melajukan mobilnya.        "Awas-awas agatha itu Ada anak kecil menyeberang." Ucap Erik panik.        Agatha menyeringainya "kau tenang saja kali ini aku tidak akan menabrak."        Agatha begitu sangat percaya diri. Dirinya lengah Dan apa daya Agatha kembali menabrak pohon. Mobil Erik rusak di buat gadis itu.        "Jangan pernah sekali kau menyentir lagi. Kau Hanya bisa merusak."ucap Erik turun dari mobil miliknya. Dirinya hanya bisa menghela napas. Flashback off.       Rintik hujan mulai turun tidak tempat untuk mereka berteduh di hutan yang mulai gelap. Tubuh mereka sudah basah karena hujan.       " Hujannya makin lebat, jadi kita lanjut atau berhenti." Ucap Almira dengan tubuh yang sudah dibasahi hujan.       "Berhenti atau enggak kita akan tetap basah Almira."sahut wandy.        "Eh tunggu..tunggu itu ada rumah disana coba liat." Ucap yessy menunjuk rumah kecil di tengah hutan dengan telunjuknya.        Mereka semua menoleh ke arah rumah kecil yang di tunjuk oleh yessy. Tidak mau basah mereka pergi ke rumah kecil itu. Agatha hanya mengikuti kemana mereka akan pergi.        Sekarang mereka berada di depan rumah tersebut yang sepertinya tidak Ada penghuni bahkan rumah itu tidak terkunci.        "Assalamualaikum. Permisi." Ucap wandy memasuki rumah di ikuti oleh yang lain.        "Permisi." Ucap Almira.        "Seperti rumah ini tidak Ada orang." Ujar yessy yang kedinginan.         "Kayaknya lebih baik Kita nginap sampai besok pagi, cuaca juga hujan dan gelap. Besok Kita lanjutkan lagi." Saran wandy.          "Kau benar. Aku setuju." Ucap yessy antusias.          Sedari tadi agatha diam sambil melipat kedua tangan di d**a. Tubuh Agatha sudah sangat menggigil. Dirinya hanya memperhatikan hujan yang terus saja turun di tepian jendela rumah kecil ini.         Lampu rumah ini sangat remang. Agatha yang biasa terlihat takut malah kali terlihat santai dan tak peduli. Dia terus menahan air mata agar tidak turun lagi. "Rasanya aku wanita terbodoh. Memikir rasa kecewa bahkan harusnya bertanggung jawab atas penderitaan semua sahabat dan kekasihku.        "Gatha." Panggil almira. Agatha menoleh dengan wajah datarnya.        "Kau kenapa?!?." Lanjut Tanya almira dengan lembut. Agatha hanya menggeleng tanpa Ada satu kata yang keluar dari mulutnya.         Dirinya seakan berubah menjadi dingin. Abby memperhatikan sikap Agatha yang berubah total.         "Hoi."tegur wandy menepuk pundak Abby.          "Makanya jangan di marahin terus." Ucap wandy kembali.         "Apa maksud kau.?!?" Balas Abby dengan nada pelan agar Agatha tak dapat mendengar.         "Kau tak lihat Agatha menggigil. Dan di tambah kau marah padanya tadi. Dan bonus kau tak perdulikan dia." Lirih wandy.          Agatha mulai membuka tasnya yang penuh barang dan baju serta cemilan yang di bawanya dari rumah.          Agatha ganti bajunya agar tidak sakit. Ia tau diri tidak ingin menyusahkan saat ini dia masih merasa bersalah. *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN