6 : Pilu

1545 Kata
Black menggendong tubuh Erlin hingga sampai ke dalam mansion, di ruang tengah terdapat rogue yang sedang berkumpul. Tak lupa beberapa mereka menatap Erlin dengan tajam, karena werewolf berpack seperti dirinya dicap sebagai musuh oleh para rogue. Beberapa anggota Black Rogue belum mengetahui apa hubungan Erlin dengan Alpha mereka. Maka dari itu dari mereka ada yang secara terang-terangan menatap Erlin dengan aura permusuhan, mereka berpikir bahwa Erlin disandera oleh Black sebagai jaminan untuk menukar dengan tahta Crismoon. Perlahan-lahan Erlin akhirnya diturunkan dari gendongan Black, matanya sayu, tubuhnya masih lemas. Black memperhatikan Erlin dengan sorot detail, memastikan bahwa gadisnya kuat untuk berdiri. Gadis itu mengedarkan tatapannya ke penjuru ruangan, lagi-lagi ia berada di sini. Rencana Erlin untuk kabur hanya sia-sia saja, hingga fokusnya jatuh pada satu titik dimana ada seorang Omega sedang berlutut memohon ampun.  Itu Rahel, Omega yang sempat Erlin temui sebelum kabur. Kenapa wanita itu bersimpuh di lantai dan menjadi tontonan banyak orang? Erlin mengernyitkan dahi bingung. Black melangkah mendekati Omega itu, sedangkan Rahel semakin terisak ketakutan. "A-ampun Alpha, saya tidak tahu jika Luna akan kabur tadinya. Maafkan hamba Alpha, tolong ampuni hamba." Rahel terisak-isak sambil memohon. Black berjongkok, lalu dengan segera ia mencekik leher Omega tersebut. Erlin membulatkan mata terkejut, sedangkan para anak buah Black menikmati adegan itu dengan santainya. Bagi para rogue, melihat k***********n disiksa adalah sebuah tontonan yang mengasyikan. Berbeda dengan Erlin yang justru merasa kasihan dengan Rahel. Jadi, Erlin adalah Mate dari Alpha rogue. Itu berarti dirinya adalah Luna? Luna para rogue, sial! "Ini sangat gila Lin, aku tidak tahan melihat ini, kenapa Mate kita sangat kejam. Lakukan sesuatu Lin, ayo lakukan." Teriak Shine di dalam pikiran Erlin, serigala mungil itu melonglong sedih. Melihat Rahel diperlakukan kasar membuat hatinya teriris, selama di Crismoon semua orang saling dihargai walaupun posisinya sebagai Omega sekalipun. Erlin jadi merasa bersalah karena Rahel mendapat siksaan akibat dirinya yang kabur. Rahel dianggap tidak bisa menahan kepergian Erlin, akhirnya wanita itu mendapat hukuman dari Alphanya. "Tolong hentikan, Alpha." Suara Erlin terdengar tegas dan berani, sontak saja semua penghuni ruangan itu menatap dirinya dengan pandangan sinis. Hening! Erlin memberanikan diri untuk melirik ke arah segerombol rogue, mereka menatapnya dengan penuh ancaman. Apakah Erlin salah bicara? Sepertinya tidak. Selama ini tidak ada yang berani menghentikan kegiatan Alpha, baru Erlin lah satu-satunya orang. Suara lirih Erlin terdengar memohon hingga mampu membuat Black menghentikan aktivitas kesukaannya itu. Tangannya mengendur melepaskan cekikan leher Rahel, kini tubuhnya berbalik tepat dihadapan Erlin sepenuhnya. Seketika itu bibir Erlin terkatup rapat, ia merasa sekujur tubuhnya merinding. Ia bak sedang di dekati oleh sosok hantu. Kini Black sudah berada tepat didepannya, Erlin menunduk melihat lantai marmer yang dingin. Tiba-tiba saja tangan besar yang Black gunakan untuk mencekik Rahel kini beralih menyentuh rambutnya, Erlin mulai antisipasi—takutnya ia menjadi sasaran cekikan Black selanjutnya. "Dulu aku dan Jamien berpikir bahwa kita tidak akan memiliki Mate, namun takdir berkata lain. Kau berdiri di sini sebagai Mate-ku, kau yang akan menjadi Luna dan memimpin para rogue." Black berujar dengan nada datar, tapi mampu membuat Erlin semakin menegang ditempat. Erlin ingin menangis sekarang, menangisi nasibnya yang harus hidup bersama rogue selamanya. Dosa apa Erlin hingga ditakdirkan bersama makhluk keji itu, apa kata anggota Crismoon nantinya. Erlin seorang Luna para rogue, Erlin pengkhianat! Black menatap anggota klannya. "Detik ini juga aku akan memperkenalkan Luna kalian, ia bernama Erlin Tipnare yang berasal dari Crismoon. Masalalunya sebagai anggota pack akan terhapus dan menjadi bagian dari klan Black Rogue, hormati Luna sebagaimana kalian menghormatiku." Alpha tone milik Black semakin mampu mengheningkan suasana. Erlin menitikkan air mata, ia tidak rela gelar keanggotaan Pack digantikan dengan gelar Rogue. Ingin rasanya Erlin menusuk Black dengan cakar-cakarnya, ia membenci semua rogue. “Tapi aku tidak ingin menjadi Lunamu! Aku adalah serigala yang memiliki pack, bukan sepertimu serigala liar perusuh.” Dengan tegas Erlin berkata demikian, ia tak mempedulikan lagi keselamatan hidupnya. Bila Erlin mati maka itu lebih baik, daripada harus menjadi pasangan Rogue yang telah menghancurkan tempat tinggalnya. GRRRRH…. Suara geraman dari para anggota klan terdengar, mereka merasa tersinggung karena Erlin merendahkan pemimpin mereka. Tangan Black yang semula menyentuh rambut Erlin pun terkepal dengan erat, Erlin bersiap-siap untuk menerima serangan entah itu pukulan, cakaran ataupun tamparan. Namun, sebisa mungkin Black menahan emosi agar tidak menyakiti kekasih hatinya, ia berpikir bahwa apa yang dikatakan Erlin memang wajar, karena semalam Black benar-benar menyerang Crismoon tanpa ampun. Erlin mendongakkan kepala seolah menatang sosok serigala Black, dagunya terangkat tinggi-tinggi. “Mate, jangan bicara seperti itu, kau adalah Lunaku. Di sini, kita akan memimpin anggota Black Rogue bersama-sama. Terlebih lagi, aku mencintaimu.” Sorot mata Black begitu dalam saat menatap Erlin. Ia mengesampingkan segala emosinya, apapun akan ia lakukan untuk meluluhkan hati Erlin. “Aku tidak sudi, lebih baik aku mati daripada harus menjadi Lunamu, Luna kalian.” Erlin menunjuk wajah Black dengan jari telunjuknya, lalu mengarahkannya pada para anggota rogue satu per satu. “ERLIN! Jaga batasanmu.” Suara Black agak meninggi, kali ini ia cukup tersinggung dengan penolakan mate-nya. Erlin lebih memilih mati daripada menjadi miliknya, ego Black sebagai laki-laki tersentil. Hal itu tidak mampu membuat Erlin goyah, justru gadis itu semakin tertantang untuk membuat Black marah. “Apa ‘hah? Setelah kau merusak tempat tinggalku, membunuh rekan-rekan serta mencelakai saudaraku, apa kau masih berpikir kalau aku akan berdamai denganmu? Tentu saja tidak.” Erlin berujar dengan berapi-api, matanya berkilat-kilat akan amarah. Ia masih ingat betapa mengenaskannya warrior-warrior yang telah dibunuh oleh Black dan anggotanya. Selama ini Erlin sering berlatih dengan mereka, tapi kali ini rekan-rekannya banyak yang menjadi korban atas ambisius pria gila itu. “Maafkan aku, jika aku tahu bahwa kau berada di sana maka aku takkan melakukan hal itu.” Suara Black melunak, ia mengerti bagaimana perasaan kesal Erlin yang harus kehilangan orang-orangnya. Seorang Black minta maaf? Sebuah kejadian langka sekali. Para anggota rogue menatap Black dengan pandangan tidak percaya, bagaimana mungkin pemimpin mereka yang Agung mau-maunya menyerah dengan wanita, terlebih lagi wanita itu merupakan golongan musuh. “Alpha, tidak seharusnya Anda meminta maaf padanya.” Sanggah salah satu anggota klan, ia tidak rela melihat Alpha-nya direndahkan. Black menatapnya dengan sengit. “Aku harus melakukannya! Ingat, bahwa dia adalah Lunamu, Mack.” Seketika itu Mack terdiam, posisi menjelaskan semuanya! “Mate, kita akan membicarakan ini empat mata. Ayo!” Black berusaha untuk meraih tangan Erlin, ia akan mendiskusikan masalah ini berdua dengan kekasihnya. Sungguh Black tidak ingin Erlin terus-terusan mendapat tatapan kebencian dari pasangan jiwanya. Tangan Erlin terkepal dengan erat, begitu mudahnya Black berkata. Jika pun bukan Crismoon yang diserang, maka Klan Black Rogue juga akan menyerang pack-pack lain. Pembunuh tetaplah pembunuh, perusuh juga tetap menjadi perusuh. Erlin sudah bertekad dalam hati, ia menghembuskan napasnya dengan perlahan sebelum mengucapkan kalimat berbahaya. "I am Erlin Tipnare reject—“ Belum sempat menuntaskan kalimatnya, perkataan Erlin lebih dulu terputus. Dengan kemampuan yang cepat dan sigap Black langsung menghentikan aksi gadis itu dengan mencengkram erat rahangnya, Erlin merasa rahangnya akan diremukkan sebentar lagi. "Kau.." Black menggeram marah, ia tidak percaya jika Erlin mau mengatakan kalimat terlarang itu. Reject? Penolakan, Erlin menolak dirinya. Sebuah penghinaan dan juga rasa sakit yang amat besar. Erlin merasakan nyeri pada dagunya, ia meronta-ronta tapi tidak berhasil karena tubuh Black lebih kuat dibandingkan dirinya. “L-lepash, sialan kau.” Disela-sela rontaannya, Erlin mengumpati Black. Sungguh ia sangat membenci makhluk itu. “Kau membuatku marah. Erlin.” Suara Black menggelegar, cakar-cakarnya mulai terlihat dan mampu menembus kulit dagu Erlin. Para anggota klan mengundurkan diri, mereka tidak ingin terkena amarah dari pemimpin mereka. Erlin merasa melayang, tubuhnya ditarik paksa untuk menaiki tangga hingga tiba di kamar itu lagi. Black melempar tubuh Erlin ke ranjang, wolf bertubuh manusia itu menindih tubuh ringkih Erlin. Segera Black menyambar bibir mungil Erlin, menciumnya dengan kasar. Erlin meronta-ronta, oksigennya terasa direbut paksa. Tak berhenti disitu, Black bahkan menyusupkan tangan besarnya dibalik kemeja Erlin. Mata indah Erlin membulat kaget, ini adalah pelecehan. Harga dirinya telah dijatuhkan oleh sosok yang paling ia benci, deru napas Erlin semakin tak beraturan, sekuat apapun ia mencoba mendorong d**a Black, tapi tetap saja gagal. “Jangan menyentuhku.” Lirih Erlin, matanya mulai berlinang cairan. Black mendongakkan kepalanya sejenak untuk menatap mata sayu Erlin, ia tersenyum sinis. “Aku akan mendapatkanmu sehingga kau tidak bisa lari dariku lagi, Erlin.” Setelah mengatakan hal itu, Black semakin memperdalam ciumannya, jari-jarinya sudah berhasil menemukan benda kenyal dan bulat. Erlin menggelengkan kepalanya keras-keras, ia tidak mau. Black meremas daada Erlin, ia juga mendesah menikmati momen itu. Erlin merasa kotor, ia telah ternoda! Selama ia hidup, Erlin tak pernah melakukan hal-hal seperti itu, ini adalah pertama baginya. Erlin merasa dilecehkan, meskipun yang melakukannya adalah mate-nya sendiri. “Berhenti, Black.” Erlin berusaha untuk berujar meski bibirnya masih dibungkam oleh bibir Black yang sudah amat basah. Black mengabaikan semua ucapan Erlin, jiwa ibliisnya sudah mulai menguasai tubuh itu. Erlin bisa menangkap kilat-kilat berwarna merah pada mata Black, hal itu menjadi pertanda buruk baginya. Tangan besar Black sudah keluar dari kemeja Erlin, tapi secepat kilat pria itu berganti meraih celana Erlin dan hendak merobeknya dengan paksa. Black ingin melakukan lebih, memiliki seluruh tubuh Erlin dengan cara paksa. Jantung Erlin seperti ingin melompat dari tempatnya. ia tidak menyangka jika memiliki akhir yang memilukan seperti ini. Mempunyai mate seorang rogue, direndahkan dan juga dilecehkan. "Aku membencimu." Lirih Erlin, ia memejamkan mata erat-erat berharap ini adalah mimpi buruk semata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN