Saat Erlin mengatakan bahwa ia membenci Black, saat itu juga Black merasa hancur-sehancurnya. Ia bisa melihat tatapan Erlin yang begitu amat tidak menyukai dirinya, Black masih memikirkan perasaan pasangan jiwanya, ia tidak ingin memaksa Erlin menyerahkan mahkotanya, terlebih lagi nekat menandainya.
Ketika netranya bertemu dengan netra Erlin untuk pertama kali saat peperangan itu terjadi, saat itulah Black langsung jatuh cinta. Ia sangat bersyukur pada Moongoddes karena telah diberikan kesempatan memiliki mate untuk menjadi pasangan hidupnya, akan tetapi Black merasa sedih saat tahu bahwa Erlin membenci dirinya.
Ya, Black adalah rogue yang identik sebagai perusuh, pengkhianat dan dibenci oleh kaum werewolf ber-pack. Namun, cinta yang Black curahkan untuk mate-nya tak pernah main-main, hanya Erlin satu-satunya gadis yang akan menjadi pendampingnya.
Black akan mencurahkan segala rasa cinta, kasih sayang bahkan nyawa sekalipun untuk seorang Erlin Tipnare.
Erlin mengatupkan bibir rapat-rapat, pikirannya tengah berputar pada kejadian tadi. Entah apa yang sedang merasuki pikiran Black tadi, serigala bertubuh manusia itu tidak jadi menyentuh dirinya, Black memilih untuk menghentikan aktivitasnya dan keluar dari kamar itu.
Setidaknya hanya satu hal yang masih ia syukuri, Erlin masih dapat mempertahankan kesuciannya. Tangannya berusaha menggosok-gosok tubuhnya yang telah diberikan kiss mark oleh pria laknat itu, ini semua bukanlah mimpi.
“Kenapa harus aku yang mendapat takdir begitu kejam ini? Bagaimana keadaan Crismoon, apakah Ayah dan yang lainnya selamat?” Erlin bergumam dengan dirinya sendiri.
Ia juga mengkhawatirkan Rohan, pria baya itu pasti tidak akan tinggal diam saat mendengar kabar bahwa pack telah diserang semalam.
“Aku ingin pulang.” Ujarnya lagi.
Menjadi Luna dari rogue sama saja pemberontakan, kehilangan keanggotaan pack dan hidup dalam pelarian serta selalu merusuh dimana-mana. Erlin membayangkan hidup kedepannya dengan miris, masihkah Crismoon menerima dirinya.
Bagaimana reaksi Ayahnya yang sangat setia pada Crismoon menyadari bahwa mate dari anaknya adalah seorang pemberontak. Erlin terisak pelan, Ayahnya pasti akan kecewa. Prinsip Erlin tidak pernah salah, memang seharusnya ia tidak perlu bertemu mate-nya.
Bahkan Shine pun hilang entah kemana, wolf itu tidak bisa terhubung dengan pikiran Erlin.
Pintu kamar terbuka, sedangkan Erlin masih setia dalam dukanya. Ia tak berminat menoleh barang sedikitpun, ia membenci rogue.
Seorang Omega datang membawa nampan berisi makanan dan minuman, ia meletakkannya di atas nakas samping ranjang Erlin.
"Luna, saya membawa makanan untuk anda." Wanita berpakaian khas seperti pelayan mendekat ke arah Erlin, ditangannya membawa baki yang berisi aneka macam makanan.
Erlin masih membisu, pikirannya bercabang hingga kemana-mana. Sedangkan Omega tersebut mulai was-was, ia takut mendapatkan hukuman dari Alpha karena tidak dapat membuat Erlin memakan makanannya.
"Luna.. tolong anda makan makanan anda." Pinta Omega itu sekali lagi, tangannya mulai gemetar takut.
Tetap saja Erlin terdiam.
Dengan peluh menetes di dahi, Omega itu perlahan menyentuh pundak Lunanya. Erlin terkejut, ia menolehkan kepalanya menatap Omega yang kini dalam ketakutannya karena telah lancang mengagetkan sang Luna.
"Maaf, maafkan saya Luna. Saya tidak bermaksud mengganggu waktu anda, saya hanya mengantar makanan untuk anda." Omega bahkan sampai bersujud di bawah kaki Erlin.
"Keluar!" Ujar Erlin dengan nada sangat dingin.
Satu kata yang dapat membuat Omega itu senang sekaligus sedih. Senang karena Erlin tidak membentak dan memakinya, sedih karena Erlin tidak berminat sedikitpun dengan makanan yang ia bawa.
"S-saya permisi, Luna."
Setelah kepergian Omega, lagi-lagi Erlin meneteskan air mata. Entah sampai kapan air matanya habis mengering tak bersisa, Erlin hanya ingin menuangkan rasa sedihnya dengan menangis.
Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalanya. Kenapa harus dirinya yang bernasib seperti ini, apa dosanya di masa lalu?
Ia rindu packnya, rindu sahabatnya, rindu ayahnya. Erlin ingin kembali ke pack asalnya, ia tidak mau ditempat ini.
***
Pyar....
Sudah tak terhitung lagi banyaknya benda-benda yang dihancurkan oleh Black. Serigala bertubuh manusia itu menggeram marah akibat keteledoran dirinya yang hendak menyentuh Erlin dengan paksa, ia yang saat itu terpancing emosi karena penolakan Erlin pun langsung memperlakukan mate-nya dengan kasar.
Black merutuki kebodohannya.
Jika Black sangat berambisius dengan mate-nya, maka agak sedikit berbeda dengan Jamien. Jamien yang terlatih hidup sendiri tidak terlalu membutuhkan pasangan jiwa, walaupun dalam hati kecilnya pria itu juga tak mampu mengelak dari pesona Erlin.
Jika Moongooddes tidak memberinya mate, itu tidak menjadi masalah yang besar bagi Jamien. Namun, bagi Black berbeda.
Sisi k**********n Black membuat serigala itu membutuhkan sosok pendamping. Hingga pada puncaknya ketika ia menemukan Erlin, Black langsung menggila akan Erlin. Matanya benar-benar dibutakan oleh mate-nya seorang, bahkan Black bisa menjadi lemah seketika berhadapan dengan Lunanya.
Black memejamkan matanya erat-erat, lalu menghembuskan napasnya. Lain kali ia tidak boleh mudah terpancing emosi saat menghadapi Lunanya, Erlin tipe gadis yang tak mudah ditaklukkan, menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Black maupun Jamien untuk meluluhkannya.
Setelahnya Black membuka matanya, terlihat kilatan berwarna merah pada netra itu.
Black memutar posisi tubuhnya, ia menghampiri Omega yang ditugaskan membawa sarapan untuk Erlin.
"Ma-maafkan saya, Alpha. Luna belum mau menyentuh makanannya, Luna hanya berdiam diri ketika saya masuk ke kamarnya." Ujar Omega dengan terbata-bata, ia takut jika mendapat hukuman dari Black karena telah lalai menjalankan pekerjaannya.
"Berani-beraninya kau menyalahkan Lunamu. Sebenarnya kau yang memang tidak becus melayani dia, kesalahanmu adalah gagal dalam membujuk Luna untuk makan. Omega rendahan sepertimu patut dihukum!"
Black menggeram marah, dengan mudahnya ia menggapai tubuh Omega itu lalu menghempaskannya dengan kasar. Beberapa kali hantaman keras terdengar, Black terkekeh bahagia.
Omega tersebut menggelepar di lantai, tubuhnya terasa remuk redam akibat dilempar oleh Black dengan begitu kejamnya. Tubuhnya memberingsut mundur, ia sangat ketakutan, sepertinya Black akan membunuhnya saat ini juga.
Ia berjongkok untuk meraih kepala Omega itu, mencekik lehernya hingga terdengar kesakitan.
"A-ampun Alpha. Maafkan saya..." Suara rintihan itu tidak mengganggu keasikan Black.
Sementara itu, Erlin yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut dengan suara permohonan ampun yang sangat menyayat hati. Ia mengikuti instingnya untuk berjalan mendekati tangga, darisana ia dapat melihat Black yang sedang mencengkram leher seseorang.
Erlin mengenali wajah itu, ia adalah Omega yang tadi mengantar sarapan untuknya.
Tanpa belas kasih, Black semakin menambah kekuatan cekikannya hingga terdengar deru napas putus-putus dari Omega itu.
“S-sakit Alpha.”
“Hukuman ini pantas untukmu.” Geram Black.
"Apa, apa yang kau lihat?" Tanya Black yang mendapati Omega sedang mendongak ke atas.
Omega itu menatap mata Erlin berkaca-kaca, seolah ada tatapan permintaan tolong didalamnya.
Black memutar tubuh serta tatapannya mendongak ke atas, manik merahnya bertemu dengan netra terang milik Erlin.
Gadis itu menitikkan air mata, Erlin menatapnya dengan sorot ketakutan.
Seketika itu cekikan leher Omega terlepas, buru-buru Black mengambil langkah lebar untuk mendekati Erlin, ia tak mau terjadi kesalahpahaman dari gadis itu yang semakin berimbas pada hubungan mereka.
Mengetahui Black yang akan mendatanginya, langsung saja Erlin masuk kembali ke kamarnya. Napasnya berpacu kencang, ia menutup kamarnya serta tak lupa untuk menguncinya.
Jantung Erlin berpacu dengan keras. Lagi-lagi ia melihat kekejaman mate-nya, dimana-mana rogue memang menjijikkan. Erlin menangis tersedu, ia ingin kabur dari sini.
Pintu kamarnya diketuk dengan tidak sabaran, Erlin terkesiap. Ia duduk gelisah pada pinggiran ranjang, memeluk tubuhnya yang bergetar ketakutan.
“Mate, buka pintunya. Kita harus bicara, banyak hal yang perlu kita diskusikan.” Black terdengar memohon, ia masih setia berada di ambang pintu.
Tapi tak ada tanda-tanda pergerakan pintu, Erlin masih tidak ingin bertemu dengannya.
"Black, sudahlah! Beri Erlin waktu untuk menenangkan diri, biarkan dia sendiri terlebih dulu."
Perkataan Jamien membuat Black menggantungkan tangannya di langit-langit pintu kamar, pada akhirnya dengan sorot kesedihan ia berjalan menjauhi kamar Erlin.
Di dalam kamar sana, Erlin menghembuskan napas lega. Tidak ada lagi ketukan kasar pada pintu itu, artinya Black sudah pergi dari sana.
"Lin, kau baik-baik saja?”
Erlin terkejut bukan main, itu adalah suara Shine yang menghilang sejak tadi malam.
"Ya, Shine. Kau kembali, astaga kemana saja kau sedari tadi.”
"Maafkan aku, Lin. Kekuatan besar milik Black mampu membungkamku, aku juga tidak tahan dengan perlakuan kasarnya padamu. Setitik rasa di hatiku menginginkan Black dan Jamien bersama kita, tapi aku juga merasa kecewa bahwa mate kita adalah rogue, apalagi mereka juga menyerang Crismoon."
Erlin terdiam. Seharusnya ia bahagia karena bertemu dengan mate-nya, tapi ternyata diluar dugaan, Mate Erlin seorang rogue.
"Shine, apa kau sependapat denganku? Kita berdua berusaha kabur dari sini, setelah itu kita pergi entah kemana yang terpenting menjauh dari Black dan Jamien." Gumam Erlin pada Shine, jiwa serigalanya yang mungil nan menggemaskan itu.
Shine hanya diam dipikiran Erlin. Shine ingin mencintai Black, tapi Black sangat keras hati berbanding dengan dirinya yang lembut.
"Aku tidak tahu, sejujurnya aku ingin mencintai mereka dan hidup bersama layaknya pasangan werewolf pada umumnya, akan tetapi ini pasti tidak akan mudah."
Erlin tahu bahwasannya sebagai sisi binatang, Shine pasti membutuhkan pasangan. Ia tidak bisa memikirkan dirinya sendiri yang telah terlanjur membenci Black, bagaimanapun juga ada Shine yang membutuhkan pasangan jiwanya.
"Tapi Lin, hatiku sakit melihat Black dan Jamien memporak-porandakan tempat tinggal kita. Bahkan kita tidak tahu bagaimana kabar Ayah, Alpha, Luna serta rekan-rekan yang lain. Apakah mereka baik-baik saja? atau sudah tewas terbunuh."
Pikiran Erlin dan Shine sama, mereka mencemaskan keadaan anggota pack.
"Belum lagi saat kau hampir diperkossa olehnya. Aku miris membayangkannya, dia memperlakukanmu dengan kasar."
Erlin mendengar semua perkataan Shine, semuanya benar.
"Apakah kau memiliki pemikiran yang sama sepertiku, Shine?" Tanya Erlin.
"Apa?"
"Kita kabur dari sini." jawab Erlin.
"Kabur, lagi? Bahkan hari ini kita gagal melakukannya dan imbasnya sangat dahsyat."
"Aku akan memikirkan cara yang lain, setidaknya kali ini kita harus bermain rapi dan cantik." Erlin sudah bertekat untuk pergi lagi, sudah ada rencana cerdik tersusun dalam otaknya.Jika secara terang-terangan ia gagal, maka ada cara yang lebih halus untuk mensukseskan keinginannya.
Erlin adalah tipe gadis yang berani mengambil resiko, apapun akan dilakukannya!