8 : Luna Baik

2100 Kata
Menghembuskan napas panjang, Erlin berjalan menuju pintu kamarnya, ia membuka pintu itu secara perlahan. Erlin akan membuat Black dan Jamien luluh padanya, lalu setelah itu Erlin akan mengelabui dan kabur dari mereka. Rileks, Lin! Kau bisa, jalankan rencana ini dengan sehalus mungkin. Dihati yang paling dalam, Shine juga sakit. Ia tidak ingin berpisah dari mate-nya, namun keadaan membuat dia harus melakukannya secara terpaksa. Erlin menapaki anak tangga satu per satu, ia akan berkeliling menebar aromanya. Sudah bisa di pastikan bahwa Black akan menggila dan mencari Erlin saat ia mencium aroma favoritnya. Seorang Omega datang menghampiri Erlin, mereka sudah antisipasi jika Erlin akan kabur kembali. "Hormat saya, Luna. Ada yang bisa saya bantu?" Omega tersebut berlutut hormat, Erlin meringis melihatnya. Selama hidupnya ia tak pernah diperlakukan sehormat ini, bahkan Alpha Leo dan Luna Irish pun tak pernah menyuruh para Omeganya untuk berlutut seperti ini. "Berdirilah! Aku hanya ingin berkeliling, apa kau mau menemaniku?" "Tentu saja, Luna. Namun, sebelum itu Anda harus makan terlebih dulu." Omega tersebut berdiri dari berlututnya, tetapi arah pandangnya masih menunduk menatap lantai marmer yang dingin. Erlin baru ingat jika dirinya belum makan apapun dari semenjak sore kemarin hingga pagi menjelang siang ini. “Baiklah.” Tukas gadis itu. “Mari saya antar ke ruang makan.” Omega itu berjalan menunjukkan arah ruang makan, Erlin hanya mengekorinya saja. Jika dilihat-lihat, mansion ini cukup mewah dengan perabotan serta pernak-pernik yang lengkap. Tangga yang Erlin lalui tadi pun berlengkok-lengkok dengan arsitektur yang menawan, jadi seperti ini tempat tinggal para petinggi-petinggi Klan Black Rogue. Werewolf ber-pack selalu bermusuhan dengan rogue, dan klan dari Jamien serta Black adalah salah satunya. “Silahkan duduk terlebih dulu, Luna. Saya akan menyiapkan makanan hangat.” Tanpa disadari Erlin, gadis itu sudah berada di ruang makan, terlihat meja makan yang amat mewah berada ditengah-tengah ruangan itu. Hampir sama seperti ruang makan milik Crismoon pack, meja ini sangat besar dan mampu menampung sekitar dua puluhan orang, tak heran jika Black menggunakannya untuk makan bersama para anggotanya. “Oh ya, silahkan.” Jawab gadis itu. Erlin mendudukkan dirinya di kursi, waktu sarapan sudah lewat beberapa jam lalu, sedangkan makan siang pun masih dua jam lagi, alhasil beberapa Omega harus memasak ulang demi Luna mereka. Gadis itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru untuk mempelajari tiap-tiap ruangan, bisa saja di antara itu ada celah untuknya kabur nantinya. Selama sepuluh menit Erlin menunggu, akhirnya makanan telah disajikan. Ada tiga Omega meletakkan piring beraneka macam lauk pada meja makan, tak lupa ada buah-buahan dan juga minuman untuknya. Erlin mengernyitkan dahi bingung, perutnya mana muat diisi makanan sebanyak ini. “Tidak usah banyak-banyak, aku hanya butuh sepiring nasi serta lauk dan air mineral saja,” ujarnya. “Ini perintah dari Alpha, Anda harus makan banyak-banyak.” Salah satu Omega menjawab Erlin. Erlin diam, ia tidak ingin berdebat lagi, toh yang penting ia bisa mengambil makan seperlunya saja, biarkan sisanya disimpan lagi. “Selamat makan, Luna.” Ujar ketiga Omega bersamaan. Erlin tersenyum canggung, telinganya terasa tergelitik mendengar sebutan ‘Luna’. “Eh, kalian kenapa berdisi di sana?” tanya Erlin. “Sudah kewajiban kami untuk menunggu Anda selesai makan, Luna.” Erlin menghela napas berat, diawasi saat makan bukanlah hal yang nyaman bagi dirinya. “Kalian sudah makan?” Erlin bertanya. Ketiganya menggelengkan kepala pelan. “Di jam segini belum makan? Ck, lalu kenapa kau menyuruhku makan jika kalian sendiri belum, kalau begitu duduk di sini dan makan bersamaku.” Ujarnya dengan sangat enteng. Sontak saja ketiga Omega yang berdiri tak jauh dari posisi duduk Erlin membulatkan mata terkejut, mana pantas pelayan rendahan seperti mereka duduk bersanding dengan Lunanya di meja makan mewah itu. “K-kami tidak berani, silahkan Anda saja yang memakannya, Luna.” “Ya, kami bisa makan setelah jam makan siang nanti.” Jawab Omega bersurai gelombang. “Kalian melewatkan sarapan, lalu menunggu sampai orang-orang selesai makan siang? Jangan menyusahkan diri sendiri, cepatlah temani aku makan dan habiskan semuanya.” Suara Erlin terdengar menuntut, ia tak paham dengan sistem kerja yang dibuat Alpha bernama Black itu. Malang sekali Omega-Omega itu, mereka belum sarapan sedari tadi pagi tapi sudah melakukan banyak pekerjaan. “Tapi Luna, kami tidak berani.” “Ini perintahku, Luna kalian!” Tegasnya, Erlin hampir tersedak ludahnya sendiri saat mengumumkan posisinya sebagai Luna. Ketiga Omega di sana tampak berdiskusi satu sama lain, Erlin menungguinya dengan bosan. Tinggal makan kenapa harus berunding dulu sih? “B-baiklah kalau begitu, maaf jika kami lancang.” “Tidak lancang sama sekali, duduklah dan ambil makanan yang telah kalian masak.” Erlin menunjuk berbagai makanan yang tersaji. Tiga Omega muda itu mulai mendekat ke arah kursi dengan ragu-ragu, selama ini mereka belum pernah mendudukkan dirinya di kursi mahal itu. Baru setelah ada Luna, mereka akan merasakan bagaimana rasanya duduk di sana. Bukan berniat sok berkuasa, hanya saja Erlin tidak suka melihat pekerja telah melakukan pekerjaan berat tapi belum mendapat haknya. Seharusnya Omega-omega ini diberi makan terlebih dulu, bukan malah memasak banyak makanan bagi para petingginya sedangkan diri mereka sendiri belum mengkonsumsi apapun. Itu namanya kerja paksa yang tak berperikemanuasiaan. “Ayo ambil.” Erlin meraih piring berisi ayam goreng dan daging panggang, ia menyodorkannya pada tiga Omega itu. “Tidak usah, kami makan nasinya saja. Ayam dan daging untuk Anda.” Jawab salah satunya. Erlin memutar bola mata jengah, ia meraih sendok dan menyendokkan ayam dan daging ke piring mereka satu persatu, hal ini membuat mereka semakin tidak enak hati. “Luna, kami tidak pantas.” “Diamlah, sekarang makan makanan kalian. Aku ingin segera melihat-lihat area tempat tinggal rogue ini.” “Baik, Luna.” Akhirnya ketiganya makan bersama-sama dengan Erlin, mereka merasa takjub dengan kemurahan hati gadis itu yang tidak membeda-bedakan kasta dan posisi. Meski awalnya tidak senang karena mendapat Luna seorang werewolf ber-pack yang berbeda golongan dengan mereka, tapi pada akhirnya mereka merasa suka karena Lunanya sangat baik hati. Mereka pikir werewolf ber-pack akan sombong dan menginjak-injak harga diri Omega atau pelayan rendahan, tapi sikap yang ditunjukkan Erlin sungguh berbeda sekali. Erlin memakan makanannya dengan tenang, sesekali ia melirik ke sampingnya dimana ada tiga Omega yang juga sedang menyantap makanannya dengan lahap. Erlin tersenyum kecil, meskipun ia tidak suka dengan pemimpin mereka—Black, akan tetapi Erlin tetap harus mengamalkan moral sebagai anggota Crismoon; yakni tak boleh merendahkan profesi seseorang. Dari arah lain Jamien—sisi manusia dari Black berjalan menuju ke dapur guna mengambil minum, tapi langkahnya terhenti saat melihat mate-nya sedang berkumpul bersama Omeganya. Dahi Jamien mengernyit bingung, untuk apa Erlin makan bersama mereka di meja makan seperti itu? Apa gadis itu sudah kehilangan akal? Mau-maunya duduk berdampingan dengan pelayan rendahan. “Biarkan saja mate kita melakukan apapun yang dia inginkan, yang penting dirinya tidak kabur dari kita.” Suara Black menyahut dari pikiran terdalam Jamien. Jamien mendengus kasar. “Terserah kau saja, Black.” Jawabnya. Seolah dapat merasakan aroma yang memabukkan, Erlin langsung saja menghentikan makannnya dan menoleh ke segala penjuru, hingga netranya menangkap seorang pria berdiri di ambang pintu. Mata Erlin memincing untuk fokus, bola mata keemasan, itu berarti bukan Black, melainkan sisi manusianya. Erlin belum mengetahui siapa nama dari sisi manusia itu. Ugh, mate macam apa dirinya ini? Tatapan keduanya saling bertaut, Jamien hanya diam melihat Erlin, begitupun sebaliknya. Tak ingin memusingkan banyak hal, Erlin segera memutus kontak mata mereka dan melanjutkan santapannya. Setidaknya pria itu masih memiliki hati dengan tidak mengusir atau memarahi para Omega yang telah berani duduk di meja makan mewah itu. “Aku sudah selesai! Masakan kalian enak, terimakasih.” Erlin tersenyum senang, ia tak berbohong soal memuji kelezatan makanan itu. Mereka buru-buru menghentikan makannya. “Sama-sama, Luna. Pujian dari Anda sangat berarti bagi kami, baru Anda orang pertama yang memujinya.” “Ah begitu?” “Ya, Luna. Anda orang baik, kami merasa tersanjung oleh kebaikan Anda.” Erlin terkekeh dalam hati, ia bukan orang sebaik itu, sejujurnya masih ada hal-hal buruk dalam hatinya. “Kalian terlalu memujiku, aku tak sebaik itu.” Gumam Erlin sangat pelan. Jika Erlin orang baik, maka ia takkan menyimpan sebuah dendam besar yang akan diledakkan suatu hari nanti. “Bagaimana, Luna?” tanya Omega, mereka tidak mendengar gumaman Erlin. Meskipun ada gen werewolf dari diri mereka, akan tetapi kemampuannya sangat lemah dan tak sebanding dengan posisi werewolf lainnya. “Tidak ada, ah ya lanjutkan dulu makan kalian, setelah itu salah satu di antara kalian temani aku melihat-lihat.” Erlin mencoba melirik ke arah tadi, sudah tak ada Jamien di sana. “Kami sudah selesai, mari saya antarkan Anda.” Dua Omega merapikan piring, sedangkan satunya lagi masih setia berdampingan dengan Lunanya. “Selamat pagi menjelang siang, Luna Erlin.” Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar. Erlin mendongak menatap seorang wanita yang usianya setara dengan dirinya, ia tidak segera membalas ucapan itu karena nada didalamnya terdengar mengejek dan merendahkan. Belum lagi ekspresi yang ditampilkan orang itu tidak ramah padanya. Erlin ingat, saat Black membawanya ke mansion sehabis kabur, ada beberapa rogue yang menatapnya tidak suka, termasuk wanita itu. Dua Omega yang tadinya membersihkan piring buru-buru undur diri, mereka juga terlihat cukup segan dan takut. “Setahuku tidak ada aturan yang mengizinkan pelayan rendahan duduk di meja makan ini, lalu kenapa kau justru melakukannya? Kau duduk bersama Omega rendahan, makan bersama dan tersenyum pada mereka. Ugh, apakah werewolf sepertimu pantas menjadi Luna? Sedangkan perihal derajat dan posisi pun tak mengerti.” Lagi, wanita itu bersuara seolah mengejek Erlin. Erlin menjilat bibirnya dengan cepat, ia mulai tertantang dengan wanita bermulut tajam ini. “Memangnya kenapa kalau aku duduk bersama mereka? Toh aku tidak dirugikan.” Jawab Erlin, suaranya terdengar stabil. “Kau memang tidak dirugikan, tapi nama Alpha Jamien dan Alpha Black akan direndahkan.” Jawab wanita itu dengan nada sengit. Alpha Jamien? Ohh, itukah nama dari sisi manusia Black. Omega yang berada di sisi Erlin mulai cemas, ia tak ingin Lunanya mendapat masalah dari orang yang berposisi sebagai kepala warrior khusus wanita. Viclean, atau sering dipanggil dengan sebutan Vic, wanita yang memiliki tempramen buruk dan suka sekali memarahi bawahannya. Ia sangat loyal terhadap Alpha dan Klan Black Rogue ini, tapi sikap arogannya tidak disukai oleh para bawahan. Erlin tertawa kecil, ia seolah berbalik mengejek Viclean. “Direndahkan, katamu? Hahaha bahkan Jamien sendiri berdiri di ambang pintu dan menyaksikan kegiatanku tadi, dia sama sekali tidak marah.” Balasnya. Viclean menajamkan tatapannya, ia tidak suka dengan Erlin. Musuh rogue adalah werewolf ber-pack, dan sialnya ia memiliki Luna dari pack Crismoon. “Alpha tidak mungkin diam saja, ia adalah sosok yang Agung dan disiplin.” Sanggah Viclean. “Jika kau lupa, aku adalah Lunanya, pasangan jiwanya. Apa yang tidak akan Jamien dan Black lakukan untukku?” Tantang Erlin, dalam hati ia merutuki ucapannya seolah-olah sedang berbangga diri menjadi mate dari Jamien dan Black. Viclean menggertakkan giginya. Selama menjadi kaki tangan Jamien, Viclean tahu betul bagaimana perangai Alpha-nya yang amat sangat disiplin, Viclean adalah salah satu orang kepercayaan Jamien yang paling loyal dan juga disiplin. “Kau—“ Viclean sungguh tidak menyangka jika Luna-nya memiliki mulut tak kalah pedas. Tadinya ia ingin memberikan pelajaran bagi Erlin karena rasa tidak sukanya pada werewolf pack. Tapi justru Luna-nya ini tipe orang yang tak mudah diprovokasi. Erlin tersenyum miring, ia bersedekap tangan sambil menunggu aksi Viclean selanjutnya. Viclean sudah menguasai dirinya, ia tidak boleh berapi-api. “Jika kau memang pasangan jiwa Alpha, maka kau tidak akan berusaha kabur darinya.” Perkataan Viclean telak membuat Erlin mengulum bibirnya dalam-dalam, itu memang benar adanya, akan tetapi Erlin tidak akan mudah kalah dari wanita itu. “Tahu apa kau tentang hubunganku dengan Black? Jika Black tidak menyukaiku, maka dia tidak akan membawaku datang ke tempat ini lagi.” tukas Erlin. “Siapa nama wanita ini?” tanya Erlin pada Omega. “D-dia Nona Viclean, kepala warrior wanita.” Erlin menganggukkan kepala pelan, ia mengerti sekarang. Posisi yang cukup tinggi membuat wanita itu berani memprovokasi dirinya. “Viclean, aku tidak tahu apa masalahmu denganku karena sebelumnya aku tak pernah melihatmu.” “Kita memang tidak pernah saling kenal, tapi aku sangat membencimu, aku membenci werewolf ber-pack. Orang-orang sepertimu seharusnya menjadi musuh kami, bukan menjadi Luna dari klan ini.” Jawab Viclean dengan intonasi tinggi. Ohh jadi karena itu, Erlin akan mengingatnya. "Aku juga tidak berharap menjadi bagian dari kalian, aku lebih bahagia hidup sebagai werewolf ber-pack yang memiliki masa depan cerah dan tidak menjadi perusuh." Viclean mengeratkan kepalan tangannya, rasa bencinya semakin menjadi-jadi. "Aku tidak pernah mengharapkan kau menyukaiku, silahkan benci aku sepuasmu, aku tidak akan terpengaruh." Jawab Erlin final. Selanjutnya ia pergi dari ruang makan diikuti dengan Omega yang selalu setia berada disampingnya. Baru satu hari di mansion ini ia sudah mendapat musuh, Erlin yakin jika hidup kedepannya akan lebih banyak batu kerikil mengacau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN