9 : Percaya

2400 Kata
Erlin menghentakkan kaki dengan kesal, baru sehari di sini sudah mendapat musuh yang menyebalkan. Ia menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, seketika itu pula Omega yang mengikuti dirinya pun juga menghentikan jalannya. “Luna, ada apa?” Omega itu bertanya. Erlin membalikkan badan. “Siapa namamu?” “Saya Nancy, Luna.” Jawabnya. “Nancy, sebenarnya siapa wanita tadi, kenapa ia begitu menyebalkan.” Lanjutnya. “Dia adalah Nona Viclean yang bertugas sebagai kepala warrior wanita, sudah menjadi rahasia umum jika dirinya selalu bertindak sewenang-wenang pada bawahan. Alpha sangat mempercayai dia sebagai pemegang pertahanan dan keamanan Klan Black Rogue.” Jawab Nancy. Erlin mengernyitkan dahinya. “Di antara mereka berdua apakah ada hubungan spesial?” Nancy agak bingung dengan pertanyaan yang diajukan Erlin, ia mengulum bibirnya untuk menahan senyuman, apakah Lunanya sedang cemburu? “Tidak ada, Luna. Hubungan keduanya sebatas atasan dan bawahan saja, Alpha sangat mempercayai Nona Vic karena dia dapat diandalkan, kemampuan bertarungnya juga hebat dan juga sangat setia terhadap klan ini. Hidup dan mati Nona Viclean selalu dipersembahkan hanya untuk kepentingan klan kita, lagipun dia sudah mendapatkan pasangannya.” Nancy menjawab dengan panjang lebar. “Siapa pasangan Viclean?” tanya Erlin, ia hanya merasa penasaran dengan sosok wanita yang bermulut tajam itu. “Tian, berpangkat Gama dan juga kaki tangan kepercayaan Alpha Jamien.” “Bukankah rogue tidak memiliki mate? – Ah maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu.” Erlin buru-buru meminta maaf pada Nancy, ia tidak bermaksud menyinggung Omega tersebut. Nancy mengulas senyumnya. “Tidak apa-apa Luna, Anda tidak perlu meminta maaf. Apa yang Anda katakan memang benar, sebagai seorang rogue kita tidak ditakdirkan memiliki mate, Moongoddes tidak memberikan kita takdir pasangan jiwa. Namun, sebagai gantinya kita bisa memilih werewolf mana yang mau dijadikan pasangan. Contohnya adalah Nona Viclean, dia dan Tian sudah menjalin hubungan meski tidak saling terikat dengan takdir.” Erlin mulai tertarik dengan pembahasan ini. “Lalu Jamien dan Black?” “Saya tidak menahu soal itu, sebuah mukjizat jika Alpha memiliki mate yang sudah ditakdirkan oleh Moongoddes. Apalagi Anda adalah pasangan jiwanya, Anda baik dan cocok dengan Alpha.” Puji Nancy. Erlin rasanya ingin tersedak ludahnya sendiri. Cocok? Uhuk-uhuk. Masih menjadi misteri, kenapa Jamien memiliki mate yang sudah ditakdirkan, bukankah semua rogue tidak terikat oleh takdir sang dewi bulan? Lalu kenapa takdir Jamien dan Black berbeda. Tian? Erlin ingat, nama pria yang sempat menghalangi dirinya di perbatasan dan juga menyerangnya, pantas saja jika Tian dan Viclean sepasang kekasih, sifat mereka sama. “Baiklah Nancy, terimakasih atas informasimu.” Erlin tersenyum lembut pada Omega itu. Nancy merasa terharu, meskipun berposisi sebagai Luna dan merupakan werewolf ber-pack, tapi Lunanya tetap rendah hati dan selalu memanusiakan seorang bawahan sepertinya. “Sama-sama Luna.” Jawabnya. “Ah ya, aku ingin melihat-lihat sekitaran mansion ini, kau mau menemaniku?” "Tentu saja dengan senang hati. Silahkan Luna berada di depan, saya akan mengikuti kemana anda pergi." Erlin mengernyitkan dahi, bagaimana caranya ia tahu seluk-beluk mansion ini jika Omega itu malah dibelakangnya. "Tidak, kau berjalan terlebih dulu." "M-maaf, Luna. Itu akan tidak sopan, seorang Omega seperti saya tidak pantas membelakangi Luna." Erlin memutar bola mata dengan jengah. "Baiklah-baiklah, kau berada disampingku. Aku tidak menerima penolakan." Omega tersebut segera mengangguk walaupun ia segan, kedua wanita itu berjalan menyusuri mansion megah tempat tinggal para rogue. Hampir sama seperti pack, klan rogue juga memiliki warrior dan persenjataan yang lengkap. Penduduk rogue mempunyai desa mereka sendiri, jumlah rogue juga sama banyaknya seperti jumlah werewolf ber-pack. Hanya satu yang menjadi pembeda antara werewolf rogue dan pack, yaitu tentang kedamaian. Pack selalu damai karena werewolf di sana tak saling mengganggu, jika bukan karena terpepet. Berbeda dengan rogue, mereka selalu merusuh dimana-mana, menginginkan sebuah kedudukan dan pengakuan. Rogue memang makhluk mengerikan, mereka menghalalkan segala cara untuk menguasai dunia werewolf. Sialnya, Erlin menjadi bagian dari mereka. Luna, wanita yang menjadi pasangan untuk Alphanya. Alpha dari rogue, catat! "Ruangan disebelah sana digunakan Alpha untuk pertemuan, sedangkan pada sebelahnya terdapat ruang bersantai." Nancy terus menjelaskan satu per satu tempat itu. Kedua wanita itu berbelok ke arah bagian luar. Di sana ada beberapa warrior rogue yang sedang berlatih sungguh-sungguh. "Ini adalah tempat penyimpanan senjata, sengaja dibuat berdekatan dengan lapangan latihan untuk memudahkan mereka dalam berlatih." Nancy menunjuk ruang penyimpanan senjata, yang letaknya tak jauh dari lapangan berlatih. Erlin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, matanya kini berfokus pada warrior-warrior yang sedang berlatih. Cara mereka berlatih memang cukup kejam dan berani, tentu saja mereka harus dilatih tahan banting untuk menyerbu pack-pack lain. Kelebihan mereka digunakan untuk hal buruk, Erlin berdecih. Sepanjang mata memandang, lapangan luas ini dipenuhi oleh pria-pria bertelanjang dadda dengan keringat yang mengucur. Tiba-tiba aroma memabukkan menginterupsi kegiatan Erlin, tubuhnya menegang seketika. Ia tak sadar jika Jamien berada disekitar sini, ia hanya diam dan pura-pura tidak merasakan kehadirannya. Ingat bahwa ia masih dendam dengan perlakuan Black tadi, ia telah dilecehkan. "Hormat saya, Alpha." Omega disamping Erlin memberi salam dengan gemetar. Aura yang Jamien keluarkan cukup mengerikan. Sedangkan Erlin sama sekali tak menolehkan kepalanya barang sedikitpun, ia bersedekap melihat para warrior. "Pergilah." Ujar Jamien mengusir Omeganya. “Jangan! Aku memintamu menemaniku di sini.” Erlin menyela dengan cepat. Omega itu mengernyitkan dahi bingung, antara Erlin dan Jamien berbeda perintah. Jamien menoleh ke arah Erlin dengan cepat, ia mendengus kecil. “Aku adalah Alpha di sini, ikuti perintahku!” Tegasnya dengan nada tak bersahabat. Omega tersebut mengangguk, lalu pergi setelah mengucapkan salam pada Jamien serta Erlin. Sedang Erlin sendiri hanya bisa menghembuskan napas kasar, kini ia hanya berdua saja dengan Jamien sambil menatap ke arah lapangan. "Jangan menatap warriorku seperti itu, Black yang cemburu bisa mematahkan leher mereka satu per satu." Erlin masih diam, tak mempedulikan ucapan Jamien. Dengan geram Jamien membalikkan tubuh Erlin secara paksa hingga gadis itu terhuyung, ia menatap Jamien dengan sebal. "Aku berbicara padamu, jangan pernah mengabaikanku." Ujar Jamien yang berusaha mengontrol emosinya. "Oh ya? Aku tak peduli." Erlin benar-benar menantang seorang monster. Jamien menubrukkan tubuh Erlin pada tembok, Erlin mendesis kesakitan. Jamien mendekatkan dirinya, menatap manik cokelat terang milik Lunanya. "Jangan kau kira aku bisa sesabar Black dalam menghadapimu, aku tidak tergila-gila oleh wanita. Saat ini juga bahkan aku bisa mematahkan lehermu, jangan menantang amarahku, Erlin." Black dikenal kejam dalam menghadapi musuh, tapi serigala hitam itu lemah akan mate-nya. Hanya Erlin seorang yang dapat membuat Black melemah, hanya Erlin. Sebenarnya Jamien tidak terlalu membutuhkan pasangan jiwa untuk hidup, karena baginya sama saja antara hidup sendiri atau memiliki mate. Akan tetapi berbeda dengan Black, sosok binatang itu perlu pasangan untuk menemani hidupnya. "Mengancamku 'huh? Lakukan saja, Jamie. Ayo bunuh aku sekarang juga, aku lebih suka mati daripada hidup bersama kalian di sini.” "Kau—“ Jamien menggerakkan tangannya menuju leher mulus Erlin, giginya sudah saling bergemelatuk. Erlin menghirup napas panjang-panjang, ia sudah bersiap untuk menemui ajalnya. Dalam hati ia mengucapkan selamat tinggal pada keluarganya di Crismoon, semoga dikehidupan selanjutnya ia bisa menemui mereka. Sedangkan Black yang berada di dalam pikiran Damien berusaha memberontak, serigala itu tak mau mate-nya disakiti. "Jamien bodoh! Apa yang kau lakukan, sialan." Black meracau dengan emosi. Erlin bisa melihat mata Jamien yang berubah-ubah. Kuning keemasan ke hitam, hitam adalah bola mata milik Black. Tapi tunggu, Erlin juga melihat sekelebat bola mata berwarna merah, ia tercengang tuk beberapa saat. Ada yang aneh di sini! Erlin ingin membahas hal ini pada Shine—sisi serigalanya, tapi nampaknya Shine sedang tidur di dalam pikiran terdalamnya. Dasar, serigala pemalas! Hingga pada puncaknya, tubuh itu sudah dikuasai oleh Black sepenuhnya. Erlin menelan ludahnya susah payah, dalam jarak sedekat ini ia bisa melihat netra berwarna hitam pekat milik Black. Tiba-tiba saja tubuhnya gemetar, ia ingat dengan perlakuan serigala hitam itu padanya. Black memperlakukan dirinya dengan kasar, bibir Erlin terkatup dengan rapat-rapat. Ada pula rasa benci yang mendalam dari sorot mata abu-abu milik gadis itu, Erlin dendam pada Black. Black menyadari arti tatapan Lunanya, takut, kecewa, amarah, kebencian, semuanya menyatu di dalam mata indah itu. “Maaf!” Kata pertama yang terucap dari bibir Black saat sudah mengambil alih tubuh itu. Ia menatap Erlin dengan sorot penuh penyesalan, ia menyesal telah berbuat kasar pada Erlin dan berimbas pada semakin merenggangnya hubungan mereka. Erlin diam, ia mencerna keadaan. “Maafkan aku, Mate. Aku terlalu kalut dan terpancing oleh amarah sehingga menyakitimu, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu, berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu.” Black berujar dengan sungguh-sungguh, hanya Erlin lah wanita yang ia cinta. Bahkan saat sebelum menemukan mate-nya, Black sudah berjanji akan membahagiakan serta mencintai mate-nya seumur hidup. Tepat saat doanya terkabul, Black menemukan mate-nya yang amat cantik, Erlin begitu manis dan mengagumkan. Dalam sekali lihat pun, Black langsung tergila-gila oleh gadis itu. Nyawa akan Black pertaruhkan demi mate-nya, cintanya begitu tulus pada Erlin. Erlin berdehem pelan, ia menetralkan jantungnya yang berdetak kencang. Saat ini Black menatap Erlin dengan pandangan memuja, membuat gadis itu gugup setengah mati. Tangan Black mengusap rambut Erlin dengan lembut, ia menghirup aroma yang menguar. Ia ingin merengkuh tubuh mungil itu dan membawanya pada dekapan hangat, tapi sebisa mungkin ia menahannya karena situasi Erlin masih bersitegang dengannya. “Erlin Istyn Honorius, Lunaku.” Tangan Black beralih mengelus pipi gadis itu, sangat lembut seperti sutera. Tubuh Erlin semakin merinding saja, ia bisa melihat tatapan Black yang begitu tulus menyayangi dirinya. Rileks, rileks. Mula-mula Erlin membalas tatapan mata Black. Kedua werewolf itu saling berpandangan cukup lama, hingga dengan perlahan Erlin menyentuh wajah Black dengan elusan lembut. Black menggeram tertahan, sisi kebinatangannya ingin segera memiliki Erlin seutuhnya. Sedangkan di dalam pikiran sana, Jamien menghembuskan napas kasar-kasar. Sisi serigalanya ini sangat mendambakan pasangan jiwa, tidak bisa Jamien pungkiri—Erlin memang cantik dan manis. “Kau mencintaiku?” Tanya Erlin, ia mulai membuka mulutnya. Tanpa menunggu lama, Black langsung mengiyakan. “Aku sangat mencintaimu, apapun akan ku lakukan demi dirimu, Luna.” Black tersenyum penuh kelembutan, hanya Erlin yang bisa melihat sisi lemah pria kejam itu. “Tapi tidak dengan Jamien.” Jawab Erlin dengan sengit, ia terkekeh pelan. Black kalang kabut. “Jamien juga mencintaimu, hanya saja dia terlalu kaku untuk mengatakannya. Kami berdua mencintaimu, Mate.” Erlin menggelengkan kepalanya kecil. “Kau mau melakukan apapun untukku?” tanyanya. “Tentu saja, apa yang kau mau?” Black langsung menyahut. “Aku ingin pulang, melihat keadaan keluargaku di Crismoon.” Erlin berujar dengan nada tenang tapi juga meyakinkan. Mata Black membulat sempurna, ia menegapkan badan dan juga menggeram rendah. Erlin antisipasi, ia bisa melihat amarah di dalam mata Black. “Tidak! Ini adalah tempatmu, lupakan keluargamu di Crismoon, kau sudah menjadi Luna dari Klan kami.” Black menjawab dengan nada tegas miliknya, bahkan menggunakan Alpha tone. Namun, bukan Erlin namanya jika ia tidak membantah. “Kau egois Black! Jika kau mencintaiku, maka kau akan mengabulkan permintaanku. Lagipula permintaanku tidak berat, aku hanya mencemaskan keluargaku di sana.” Erlin membantah dengan cepat. “Jangan memaksaku Erlin! Lalu setelah kau di sana, apa kau bisa menjamin bahwa dirimu akan kembali lagi ke sini? Aku tidak mau mengambil resiko, kau akan kabur lagi dariku.” Black menatap Erlin dengan tajam, ia tidak mau kehilangan Erlin untuk kesekian kalinya. “Kau tidak percaya padaku?” “Maaf, aku belum mempercayaimu.” Jawab Black, ia membuang muka saat mengatakannya. “Black, kau—“ Suara Erlin tercekat. Ia mengkhawatirkan keadaan Ayahnya, Lunanya, serta rekan-rekannya yang lain. Hati Erlin tidak akan tenang jika belum melihat mereka secara langsung. Erlin mulai terisak pelan, tidak ada salahnya menggunakan trik ini untuk meluluhkan hati pria sekeras batu itu. “Aku merindukan Ayahku, rekan-rekan dan saudaraku. Aku hanya ingin menemui mereka, memastikan bahwa mereka baik-baik saja.” Bulir air mata Erlin mulai menetes, ia sesenggukan. Mendengar suara tangis Erlin membuat Black menoleh menatap Erlin, hatinya tercubit melihat gadis itu menangis karena dirinya. Black tidak suka melihat Erlin menangis, air mata Lunanya begitu berharga. “Kau sangat menginginkan bertemu dengan keluargamu?” Tanya Black. Erlin mendongak, terlihat bulir-bulir air mata yang berjatuhan. “Iya, aku merindukan mereka.” “Baiklah kalau begitu, kau bisa menemui mereka. Aku akan mengantarmu ke sana, setelah itu kau harus kembali lagi ke klan ini.” Black mengalah, ia sudah berjanji akan melakukan apapun demi Lunanya. Mata Erlin membulat senang saat Black mengizinkan dirinya kembali ke pack, tapi ia tidak senang saat Black ingin mengantarkannya ke sana. Ia belum siap memberitahu keluarganya mengenai Black, Erlin pasti akan dicap sebagai pengkhianat. Melihat sorot gundah Erlin membuat Black bingung. “Kenapa, Mate?” “Aku belum bisa menjelaskan pada mereka tentang hubungan kita, apa yang akan mereka pikirkan jika tahu bahwa aku memiliki mate seorang—“ Erlin tidak melanjutkan kalimatnya, ia tidak enak hati menyinggung asal muasal Black. “Aku mengerti, tapi bagaimanapun juga keluargamu harus tahu. Aku akan memintamu pada mereka.” “Jangan!” “Kau malu memiliki mate seorang rogue sepertiku?” Erlin diam, bibirnya terkatup rapat-rapat. “Mau tak mau, mereka juga harus tahu.” “T-tapi Black, biarkan aku sendiri yang mengatakannya, kau tidak perlu muncul di depan mereka dulu.” Sanggah Erlin. Black terlihat kecewa, ia merasa jika Erlin malu memiliki mate dirinya. Keadaan Crismoon pasti sedang kacau akibat pertempuran semalam, Alpha, Luna, serta petinggi-petinggi pack pasti akan membenci Black karena ulah pria itu tempat tinggal mereka jadi porak poranda, belum lagi nasib janin yang dikandung oleh Irish, apakah selamat atau tidak. Kemunculan Black dihadapan mereka justru membuat masalah menjadi runyam, belum saatnya Erlin menyiarkan Black sebagai mate-nya. “Baiklah kalau begitu, aku sangat mencintaimu, maka dari itu aku akan melakukan apapun saranmu. Namun, perlu kau ingat, Mate. Aku menaruh kepercayaan yang begitu dalam padamu, ku harap kau tidak mengkhianati kepercayaan yang telah ku berikan.” Black lagi-lagi mengalah, ia lebih mempercayai mate-nya. Erlin menelan ludahnya dengan sulit. “B-baik. Aku akan pergi saat ini juga, beri aku waktu bersama keluargaku.” Dengan berat hati Black menganggukkan kepala, keinginan Lunanya adalah mutlak baginya untuk menurutinya. “Tiga hari, setelah itu kau harus kembali ke klan ini lagi, atau aku akan menjemputmu secara paksa di sana.” Ujar Black, ia akan bersabar menunggu mate-nya kembali. Kepala Erlin begitu pusing, apa yang harus ia katakan pada Ayah dan yang lainnya nanti? Bagaimana cara dia memberitahukan semua orang bahwa sudah menemukan mate-nya, tapi mate-nya merupakan seorang rogue yang parahnya telah menyerang pack. Erlin yakin jika Rohan pasti amat terkejut, belum lagi kalau pria baya itu tidak rela melepaskan anak gadisnya untuk hidup selamanya bersama rogue. Ahh, itu bisa dipikirkan nanti, yang terpenting Erlin sudah diperbolehkan untuk pulang. Erlin adalah gadis dengan seribu ide, ia pasti bisa memikirkannya. “Ya.” Jawabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN