12 : Berusaha Kabur?

1400 Kata
Erlin memenuhi keinginan Saskia untuk menemui gadis itu di tempat yang tak jauh letaknya dari mansion, tempat itu ada di belakang mansion yang terdapat pepohonan rindang. Dulu keduanya sering menghabiskan waktu di sana semasa kanak-kanak, berlari-larian hingga bermain ayunan. Saskia tidak main-main menginterogasi sahabatnya itu, ia benar-benar penasaran darimana Erlin seharian ini. Tidak mungkin gadis itu pingsan di hutan, bualan yang sangat tidak masuk akal. Sedangkan Erlin sendiri sudah menyiapkan jawaban jika Saskia bertanya tentang hal itu, Erlin akan jujur, tidak ada gunanya ia membohongi Saskia, yang ada hanya menambah runyam keadaan saja. “Lin, duduk sini!” Ditunjuknya salah batu bata yang sudah tertata rapi membentuk sebuah bangku. Erlin hanya mengikuti saja kemauan gadis itu. Saskia bersedekap tangan, matanya memincing menatap Erlin dengan pandangan menyelidik. “Apa yang ingin kau tanyakan?” Erlin lebih dulu membuka suara. “Kau darimana saja seharian ini?” Tanya Saskia dengan blak-blakan. “Kan aku sudah bilang, setelah melawan rogue itu aku pingsan.” Jawab Erlin. Saskia menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri, ia sama sekali tidak mempercayainya. Erlin tersenyum tipis, Saskia memang tidak mudah dibodohi. “Jujur padaku Lin, kau darimana sebenarnya? Kau bisa saja membohongi Kak Leo dan lainnya, tapi jangan lupa bahwa kita sudah menempel sejak usia tiga tahun, kau tidak bisa berbohong padaku.” Mendengar pernyataan Saskia membuat Erlin menghela napas berat, ini saatnya ia berkata jujur. Meskipun takdir baik tak menghampirinya, tapi Erlin yakin jika Saskia tidak akan menghakiminya. Saskia menunggu jawaban dari bibir sahabatnya, ia menantinya dengan sabar, ia tahu bahwa Erlin tidak bisa bohong padanya seberat apapun faktanya. “Aku bertemu dengan mate.” Erlin mengatakan itu dalam sekali tarikan napas dan terdengar sangat cepat. “Hah?” Saskia sampai melongo mendengarnya. Erlin mengendikkan bahunya, malas mengulang pernyataan yang sama dua kali. “K-kau bertemu mate-mu?” Saskia menutup mulutnya terkejut, sejurus kemudian gadis itu berteriak dengan heboh. Sontak saja Erlin langsung menutup mulut Saskia agar tidak terdengar oleh orang lain, Erlin belum siap mengumumkan siapa mate-nya. “Pelan-pelan saja, jangan sampai hal ini terdengar orang lain.” “Siapa mate-mu, apakah dia werewolf murni atau campuran?” Tanya Saskia beruntun. Erlin tampak lesuh, hal itu tertangkap dimata Saskia. “Kenapa, Lin?” “Kau pasti terkejut jika mengetahuinya.” Erlin menatap ke bawah dengan sendu. “Siapa mate-mu?” Tanya Saskia lagi, ia merasa jika Erlin tidak bahagia dengan pertemuannya dengan sang pasangan jiwa. Saskia tidak heran, Erlin memang belum mau bertemu dengan mate-nya karena masih ingin tinggal lama di Crismoon pack ini. “Pemimpin rogue yang telah menyerang pack kita semalam.” Jawab Erlin dengan cepat, ia tak mau melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Saskia, gadis itu memejamkan mata erat-erat. Mata Saskia membulat sempurna, mulutnya terbuka lebar saking kagetnya. “Kau serius?” Saskia menatap lekat-lekat sahabatnya. Ia juga mengarahkan dagu Erlin agar menatapnya lekat-lekat. Dengan berat hati Erlin menganggukkan kepalanya. Bahu Saskia meluruh seketika, ia tidak percaya jika Erlin memiliki mate seorang rogue, apalagi pemimpinnya. “Jangan mengasihani diriku.” Erlin berujar, ia tidak mau mendapat tatapan kasihan dari Saskia. “Jadi semalam kau dibawa olehnya?” Tanya Saskia lagi. “Ya, aku berada dimansionnya.” Erlin berkata dengan jujur, ia tak mau menutupi segalanya dari Saskia, meskipun terkadang Saskia menyebalkan tapi gadis itu adalah tempat Erlin untuk berbagi keluh kesah. Pantas saja Erlin langsung menghilang saat bertarung melawan rogue, ternyata ini alasannya. Kenapa Saskia tidak berpikir sampai ke sana, ia juga ingat bagaimana pemimpin rogue itu menatap Erlin saat di ruang pengobatan, antara keduanya saling berpandang-pandangan beberapa waktu. “Apa dia menyakitimu?” Saskia langsung menanyakan keadaan Erlin, ia khawatir dengan sahabatnya. Erlin menggelengkan kepala. “Tidak, dia memperlakukanku dengan baik.” “Syukurlah, yang terpenting kau selamat Lin. Dia membiarkanmu pulang ke Crismoon?” “Hanya tiga hari, setelah itu aku akan menetap di sana sebagai Luna mereka, Luna para rogue.” Tatapan Erlin lurus ke depan, sorot matanya tampak tak memiliki semangat. Saskia semakin miris saja mendengarnya. Sahabatnya adalah gadis baik-baik yang juga sangat menyayangi pack ini, bagaimana mungkin dia memiliki mate seorang perusuh? “Kia, apakah aku pengkhianat?” Erlin menoleh menatap Saskia dengan sorot sedih. Saskia menggelengkan kepalanya dengan keras-keras. “Tidak, kau adalah anggota setia Crismoon. Perihal mate bukanlah kesalahanmu, ini adalah takdir yang sudah digariskan Moongoddes.” Jawab Saskia dengan cepat, ia tak mau melihat Erlin menyalahkan dirinya sendiri. “Aku tidak tahu bagaimana mengatakan hal ini pada semua orang, mereka pasti menganggapku pengkhianat. Terlebih lagi pada Luna Irish, karena Black, Luna hampir kehilangan calon bayinya.” Erlin masih terbayang-bayang rasa bersalah. Saskia tidak menyangkal hal ini, memang benar apa yang dikatakan oleh Erlin. Rogue itu hampir merenggut calon keponakannya yang bahkan belum dilahirkan, Saskia menyayangkan kenapa Moongoddes harus menjodohkan gadis sebaik Erlin dengan rogue jahat? Belum lagi bagaimana mereka membunuh para warrior-warrior yang tak bersalah, banyak anak yang kehilangan sosok Ayah. Saskia mengepalkan kedua tangannya, ia membenci rogue. Mata Erlin mulai berkaca-kaca, ia meratapi jalan hidupnya. Saskia memegang pundak Erlin dengan penuh keyakinan, ia sebisa mungkin akan membantu sahabat baiknya. Saskia tidak mau melihat Erlin menderita dengan hidup bersama klan rogue tersebut. “Lin, apakah kau mencintainya?” Saskia menatap netra Erlin dengan lurus. Erlin mendongakkan kepala membalas tatapan Saskia, ia terdiam untuk beberapa saat. Jujur saja Erlin tidak tahu apakah ia mencintai Black dan Jamien? Rasanya ia belum terbiasa dengan kehadiran pasangan jiwanya. Melihat gelagat gundah Erlin membuat Saskia bisa menyimpulan satu fakta; Erlin belum mencintai mate-nya. “Kau belum mencintainya?” Erlin mengangguk, bibirnya kelu untuk menjawab. Jika dulu Saskia terus memaksa Erlin untuk mencari mate-nya, sekarang ia menyesal! Seharusnya Erlin tidak perlu bertemu mate-nya jika pada akhirnya membuat sahabatnya tersakiti secara psikis. “Aku akan membantumu berpisah darinya.” Saskia berujar dengan penuh kepercayaan diri. Mata Erlin membulat terkejut, ini terlalu berbahaya. “Jangan, bisa saja Black menyerang pack kita lagi. Kalian dalam masalah besar jika sampai melakukannya, Black akan mengamuk dan memburumu.” Erlin tidak ingin Saskia mendapat marabahaya karenanya. Ia kabur sendirian saja sudah mendapat hukuman amat dahsyat, bagaimana bila Saskia membantunya? Bisa-bisa Black membunuh Saskia tanpa ampun. Rogue hitam itu sangat menggilainya, Erlin adalah candu bagi Black. “Jangan mempedulikanku, kita adalah sahabat yang sudah seharusnya saling membantu.” Sanggah Saskia. Cara berpikir Saskia terlalu nekat, sebenarnya sepasang mate tidak boleh dipisahkan. “Kia, kau tidak tahu bagaimana mengerikannya Black bila marah. Dia benar-benar berbahaya, aku tidak mau mengorbankanmu hanya demi menyelamatkanku.” “Dia tidak pantas untukmu Lin, kau adalah gadis baik-baik, aku tidak rela jika sahabatku harus menjadi bagian dari para rogue perusuh. Ada darah manusia yang mengalir dalam tubuhmu, jadi kau tidak terlalu membutuhkan mate yang sudah digariskan, kau masih punya kesempatan untuk mencari laki-laki lain diluaran sana.” Saskia tak patah semangat untuk membujuk Erlin. Sungguh Erlin tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Black jika sampai ia mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan. Hati Erlin mulai goyah, sedikit demi sedikit ia mulai terhasut oleh bisikan Saskia. Hukum dunia werewolf melarang sepasang mate dipisahkan secara paksa oleh orang lain, dan Saskia ingin melanggarnya. Tangan Erlin gemetar, ia memikirkan apa saja hal yang akan terjadi bila sampai membuat Black marah akibat mengecewakannya. Akan tetapi, di sisi lain Erlin membenarkan apa kata Saskia, ia dalah sosok werewolf loyal terhadap pack, bagaimana mungkin dirinya menjadi pendamping pemimpin rogue untuk merusuh dan menjajah pack lain? Bagai benang kusut, pikiran Erlin terbelah menjadi dua cabang. Apakah ia harus menerima tawaran Saskia untuk meninggalkan Black?  "Lin?" Saskia memanggil nama sahabatnya, ia bisa melihat gelanyar bimbang pada sorot mata Erlin. Saskia hanya terlalu menyayangi sahabatnya hingga berani mengambil resiko sebesar ini. Ia lupa bahwa rogue dari klan Black merupakan bangsa yang paling mengerikan, ia melupakan fakta itu. "Aku tidak tahu, Kia. Aku takut, dia pasti akan menemukan keberadaanku." Suara Erlin terdengar melemah. "Yakinlah, optimis kalau rencana kita akan berhasil. Kau pantas mendapatkan lelaki baik, Lin. Bukan rogue, ingat bahwa dia telah memporak porandakan Crismoon kita, tempat tinggal yang kau sayangi ini." Saskia terus berusaha untuk membujuk sahabatnya. Erlin harus bagaimana? Sungguh, ia bingung! Apa Erlin harus menerima tawaran Saskia? "Memangnya kau memiliki rencana?" Tanya Erlin pada Saskia. Saskia mengangguk mantap, ada sebuah cara yang terlintas dalam pikirannya untuk membawa Erlin menjauh dari rogue itu. Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi ada yang mendengar percakapan keduanya, sosok itu sembunyi dibalik semak belukar dan menyamarkan aromanya agar tidak ketahuan. Ingin rasanya mendatangi dua gadis itu, tapi sebisa mungkin ia menahannya demi untuk mendengar hal-hal lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN