"Sejak hari itu, semuanya tidak sama lagi. Mengapa? karena sesuatu yang sudah di rusak tak akan pernah kembali sama...."
- Uknown -
*****
DEVAN membawa Azel entah kemana, tatapan tajam laki-laki itu siap menghunus siapa saja yang melihatnya. Azel hanya pasrah saja saat tangannya ditarik, entah kenapa Azel tidak punya daya untuk melawan.
"Ini kita kemana sih, kaga nyampe-nyampe. Van, gue ditunggu sama yang lain juga." keluh Azel sudah tidak kuat melihat kelakuan Devan terhadapnya.
Laki-laki dingin, pemaksa, ketus, tatapan tajamnya yang siap membunuh siapa saja dan tingkahnya yang harus selalu dituruti membuat Azel hanya bisa beristigfar dalam hati.
Langkah kaki Devan terhenti saat berada disuatu tempat begitu juga Azel. Mata Azel melirik ke segala arah, sebuah Danau yang tak pernah Azel ketahui keberadaannya.
"Ini danau? Lah kok gue baru tau?"
Devan hanya melirik sekilas kearah Azel lalu kaki panjang laki-laki itu berjalan lebih mendekat kearah Danau itu. Devan berdiri disana, dengan kedua tangan berada di saku celana.
Tatapan mata laki-laki itu kosong, entah apa yang dipikirkannya. Berbanding terbalik dengan Azel yang asyik dengan bunga-bunga disana.
"Gue harus bawa pulang ni bunga."
"Lah ini kenapa kok layu?"
"Wah parah, warnanya langka."
"Harum banget bunganya kek gue."
"Ini kalo dilakuin penelitian, kayaknya nilai gue tinggi dah."
"Njirr masa ada t*i disini, ah ga like gue."
"Tapi gue suka tempatnya, Devan lo ma----"
Azel menghentikan celotehannya saat menatap Devan yang berdiri tegap menatap kosong kearah depan. Dengan langkah ragu, Azel mendekat dengan tangan memegang bunga.
Tangan gadis itu memegang bahu Devan pelan "Lo ga papa?"
Devan menghembuskan nafasnya pelan, lalu kembali membuka matanya dan menatap tajam Azel
"Lepas tangan lo!"
"Yaelah t*i, gue kan baik niatnya masih ae ketus." cecar Azel tak suka lalu berdiri disamping Devan.
"Btw, gue suka tempatnya. Lo nemuin ini kapan? Gue kira sekolah ga punya tempat sebagus ini."
"Lo kan buta ama b**o, jadi ga akan pernah tau tempat kek gini." mulut pedas Devan mampu membuat Azel mencebikan bibirnya kasar.
"Kalo gue buta ama b**o, terus lo apa?" Tanya Azel.
"Gue ganteng."
Dengan sekali sentakan, Azel menabok kepala laki-laki itu dengan spontan. Devan hanya mampu meringis mengusap kepalanya dan menatap tak suka kearah Azel.
"Apa lo!"
"Sok galak."
"Bodo amat, like like gue lah."
"Bacot."
Devan segera pergi dari tempatnya meninggalkan Azel yang masih diam ditempat.
"Balik lo, kerja!" Teriak Devan menyadarkan lamunan Azel.
"Yaelah, iguana merusak moment aja." gumam Azel pelan lalu segera menyusul kearah Devan dengan langkah terkesan terpaksa.
*****
"Saya bilang, saya tidak ingin anda mengusik kehidupan anak saya lagi!" Bentak pria dewasa menatap nyalang kearah lawannya.
"Tapi dia juga bagian dari keluarga kami, kami berhak atas hak asuhnya. Asal anda tau, saya mengangkatnya atas kecerobohan anda sendiri. Jadi, saya berhak untuk hal itu." suara berat itu mampu membuat suasana di ruangan itu terasa mencekam.
"Kesalahan itu perbuatan anda sendiri, bukan atas kesalahan kami. Kami hanya menerima permintaan anda, bukankah anda menganggap anak itu pembawa sial?" Pertanyaan menohok itu mampu menusuk hati pria dewasa yang sekarang hanya mampu terdiam.
"Tapi itu dulu, saya sekarang menginginkannya."
"Tak semudah itu Tuan Martin, harusnya anda tidak egois terhadap suatu hal." jawaban tegas itu mampu membuat pria bernama Martin itu mati kutu.
Ini kesalahannya memang, seharusnya dia tidak egois terhadap suatu. Hanya karena dia menganggap anak bungsunya itu pembawa sial, membuatnya memberikan anak bungsunya kepada orang lain tanpa mendengar jeritan pilu anak bungsunya yang tak menerimanya.
Kini anak bungsunya sudah beranjak dewasa, menjadi gadis yang memiliki aura sendiri. Namun, dia harus menerima kenyataan pahit bahwa anak kandungnya itu membenci dirinya. Bukan hanya dirinya, tapi semua keluarga kandungnya.
Martin tau seberapa besar kesalahannya sendiri, keluarga Alva yang berada di hadapannya sekarang membuat pernyataan benar tentangnya. Kilasan masa lalu membuat ruang kosong itu kini penuh dengan luka.
"Biarkan aku merawatnya Alva." lirih Martin.
"Dia tidak akan mau Martin, kalian terlalu menyakitinya. Siapa yang ingin kembali ke dalam luka yang sama walaupun kamu ingin menyembuhkannya, dia tidak akan mau." balas Alva menatap Martin.
"Bukankah Saga yang selalu kamu banggakan itu telah mampu memberikan semuanya yang kamu inginkan, lalu untuk apa kamu membutuhkan gadis itu lagi?" Tanya Alva menatap tajam Martin.
Martin kembali diam, tak bisa menjawab. Anak pertamanya memang membawa pengaruh baik tapi Martin tetap merindukan anak bungsunya. Semua itu tidak akan lengkap, keluarganya kehilangan seseorang .
"Jangan terlalu egois terhadap sesuatu Martin, semua orang akan tersakiti jika kamu seperti ini. Aku pergi." pamit Alva berlalu dari ruangan Martin dengan aura dinginnya.
Martin hanya bisa menunduk, keadaan semuanya menambah beban berat dalam dirinya.
"Berkasnya ma--papah kenapa?!" Suara laki-laki tampan berjas hitam dengan kemeja putihnya itu mendekat kearah Martin yang menunduk diam.
"Papah tidak apa-apa, ah kamu ingin mengatakan apa tadi?" Tanya Martin menatap hangat kearah anak pertamanya itu, Saga.
"Cerita sama Saga pah, ada yang buat papah sedih?" Tanya Saga menatap pria dewasa dihadapannya.
"Tidak ada, sudahlah."
Saga menatap wajah pria dewasa yang ikut andil dalam merawatnya dari kecil dengan dalam, ada guratan luka disana membuat Saga hanya menghela napas pelan.
"Berkas keuangan ini mau disimpan dimana pah? Datanya udah diperbaiki sama Sekretaris aku, tinggal papah tanda tangani." ucap Saga .
"Taruh dimeja, biar papah yang menyimpannya. Kamu kembali ke ruang kerja kamu." perintah Martin kembali mengeluarkan aura ketegasannya.
Saga hanya mengangguk, setelah menaruh berkas nya diatas meja papahnya. Dia segera berlalu pergi, membawa semua pertanyaan di otaknya yang belum menemukan jawabannya
Papah kenapa?
*****
"Chell, lo beli minum kaga sama makanan? Laper nih gue."
Sedaritadi Azel terus membuka semua plastik dan paperbag yang dibawa Mitchell. Disampingnya ada Clara dan Stella yang menemaninya.
"Gue ga beli Azel, udah jangan di keluarin semua barangnya. Entar pada rusak." Mitchell dengan segera menjitak kepala Azel membuat gadis itu meringis sempurna.
"Nih gue beliin zel, udah jangan kek orang miskin gitu." Clara memberikan plastik berisi makanan yang dia beli saat keluar bersama Mitchell tadi.
"Aww makasih, gue kelaperan gara-gara si iguana t*i tuh ga beri waktu gue istirahat. Minta dimakan aja." dumel Azel membuka kotak makannya lalu mulai memakannya dengan tenang.
"Gila sih, kasian gue ama lo." kekeh Mitchell lalu menghitung tiket yang dibuat Stella dan Justin tadi.
"Ini jumlahnya ada 1400 tiket, buset banyak banget. Lo mau bikin konser hah?!" Cecar Mitchell saat mengetahui jumlah tiket ditangannya.
"Gue mah mana tau, itu si Justin yang nyetak. Gue cuman tukang gunting menggunting wae, jadi salahin si Justin " bela Stella pada dirinya sendiri.
"Itu emang udah direncanain si Devan sama Pak Darel, katanya sih kan masa jabatan Devan udah mau abis. Jadi mau bikin yang besar-besaran gitu dah." jelas Clara santai sambil meminum soft drinknya.
"Siapa nyuruh minum soft drink?" Tanya seseorang dibelakang Clara.
"Mati gue." desis Clara.
Dibelakang mereka sudah ada Devan dan yang lainnya, Mitchell yang melihat itu hanya menatap datar. Semuanya sudah berganti baju biasa, tidak memakai seragam lagi.
Pakaian Azel pun dibawa Mitchell atas permohonan Azel karena dirinya yang tidak bisa pulang ke rumah begitu juga dengan Devan.
"Yaelah maaf kali, gue khilaf doang." cetus Clara hanya menampakkan wajah tablonya.
"Gila emang." gumam Daffa menggelengkan kepalanya.
"Eh zel, lo udah ganti baju aja? Bukannya lo ga ada balik ya." tanya Gaga menatap Azel aneh.
"Emang kenapa? Kaga suka gue ganti baju, gitu." semprot Azel menatap kesal Gaga.
"Santuy neng, gue kan nanya baik-baik." ucap Gaga .
"Kelaperan amat lo, disiksa ama Devan ye kan." cengir Daffa membuat Devan melototkan matanya.
"Bahasa lo ya." desis Devan.
"Ketos lo tuh, bikin gue mau mati aja. Gue balik aja dimarahin." dumel Azel sambil meminum air mineralnya.
"Yaelah, lagian lo juga ga bisa balik. Kan mobil lo dibawa Sherren, entar sore dia baru ke sekolah." ucap Mitchell mengingatkan.
"Ya juga sih." ucap Azel membenarkan.
"Yo gaes, cogan dateng!" Teriak seseorang membuat semuanya menoleh.
Argha dengan santainya berjalan mendekati komplotannya setelah sedikit menebar pesona kepada siswi yang menatapnya. Argha sempat pulang seusai latihan, dan sekarang dia kembali lagi untuk latihan di area panggung. Menyesuaikan dulu katanya.
"Si upil, bikin gue kaget ae." ucap Daffa.
"Dateng dah si tai." sambung Gaga.
"Itu si Argha salah makan obat kali ya." ucap Stella bingung.
"Aniaya gue mulu lo semua, eh si Sherren belum dateng?" Tanya Argha.
"Pacar lo bertapa di kamarnya." jawab Clara.
"Sejak kapan cewek gue bertapa di kamar, biasanya juga di goa." ucap Argha.
"Najis ngakak nih gue." Azel tertawa pelan mendengar Argha, maklum selera humornya rendah.
"Ga usah ketawa." ucap Devan tajam.
"Yaelah kenapa?" Tanya Azel.
Devan hanya diam dan menatap tak peduli kearah Azel.
"Kenapa tuh setan?" Bisik Daffa ke Gaga.
"Kesurupan sayur kol dia." jawab Gaga membuat Daffa tertawa.
Selesai