BAB VI

1677 Kata
"Secercah harapan yang ku temui di ujung sana tak bisa meyakinkan bahwa kamu akan tetap bersamaku..." - Uknown - *****      MATAHARI sudah memunculkan sinarnya, begitu juga dengan Devan yang sudah siap dengan seragamnya. Laki-laki itu akan berangkat pagi untuk sekolah, mengingat hari ini akan ada kegiatan di sekolahnya mengharuskannya berangkat pagi. Sebagai Ketua Osis, dia harus mengecek lapangan dulu sebelum kegiatan dilaksanakan. Melihat apakah sudah siap atau masih ada yang kurang, Devan ingin kegiatannya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala. Devan tidak sendiri, dia sudah meminta Azel semalam untuk ikut berangkat pagi. "Bi, Kenzo udah bangun?" Tanya Devan yang sudah menghabiskan sarapannya bersiap berangkat. "Belum den, dia masih tidur." ucap pembantu Devan dengan sopan dan hanya dibalas anggukan datar Devan. Devan mengeluarkan kunci mobilnya dan bersiap untuk membelah jalanan Jakarta pagi ini. Devan bukan tipe anak rajin yang selalu berangkat pagi tapi jika dikenakan dengan kewajiban atau tugasnya maka Devan akan melakukannya. Devan mempunyai tanggung jawab, dia laki-laki yang tidak melalaikan tanggung jawabnya. Menurut Devan, murid bertanggung jawab itu lebih tinggi kastanya daripada murid yang hanya diam menilai sebuah keadaan. Tak terlalu apik memang, tapi itulah Devan. Laki-laki yang mempunyai pemikiran sendiri tentang suatu hal. Dalam perjalanan, Devan mulai menelpon Azel. Menanyakan gadis bodoh itu, apakah sudah di sekolah atau belum. 'Halo dengan cecan disini, ada yang bisa dibantu?' Devan berdecak kesal saat mendengar suara heboh itu pagi buta seperti ini. "Udah di sekolah?" 'Siapa ya? Kok nanyain disekolah apa kaga, apa kita kenal wahai penelpon tidak dikenal?' "Devan." 'Napa lo nyebut nama ketos sialan itu pagi-pagi, ah ngerusak ae. To the point ae, lo siapa?' "Devan." Devan mendengus kesal, gadis diseberang telpon ini memang gila membuatnya emosi saat pagi buta seperti ini. Bisakah Devan membunuhnya lalu menghidupkannya kembali, gadis ini menyebalkan. 'Eh lo Devan, serius lo? Dapet darimana nomor gue elah. Dasar fans gue lo.' "Bacot, sekolah sekarang!" Devan menekan kata yang diucapkannya, perlu kesabaran yang cukup untuk menghadapi seorang Azel sepertinya. 'Yaelah baru aja minum s**u, oke bos. Cecan otw sekolah, bye.' Suara sambungan terputus, menandakan panggilan itu berakhir dengan Azel yang mengakhirinya. Devan hanya menatap datar, lalu segera mempercepat laju mobilnya ke sekolah. Dia harus memberi pelajaran pada gadis itu. *****      Dengan bersenandung kecil, Azel berjalan di koridor sekolahnya. Seragam barunya ini membuat mood nya baik, bayangkan saja Azel sampai memandang seragam barunya ini hampir 5 jam sebelum tidur. Azel tipe perempuan penyuka barang baru, jika ada barang baru yang dimiliki Azel maka gadis itu akan sangat senang seperti mendapatkan hadiah milyaran. Azel akan terus memandang, menyentuh, dan merasakan barang itu. Azel memang gila. "Masuk ke Osis." suara berat itu menghentikan langkah Azel. Tanpa berbalik badan, Azel sudah tau siapa yang berbicara tadi. Itu adalah Ketua Osis paling menyebalkan sepanjang sejarah hidup Azel. Dimana-mana Ketua Osis itu mempunyai sikap ramah agar bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekolah bukan dingin seperti spesies yang dia temukan di sekolah barunya. "Masih pagi Dev, mau ngadem di kelas dulu napa sekalian naruh nih tas." bantah Azel mencebikan bibirnya menatap Devan yang sekarang tepat berada di depannya. Parfum Devan tercium dengan jelas walaupun jarak Azel dan Devan sedikit jauh tapi aromanya bisa masuk ke hidung Azel membuat Azel merasa sedikit tenang. Wagelaseh, wangi banget. Nih gue yakin, kayaknya dia mandi parfum dah. Mana aromanya bikin tenang gitu. Azel terus meneliti Devan dan Devan hanya mengerutkan dahinya. Gadis aneh didepannya mulai bertindak gila, tatapannya seperti ingin menelanjangi Devan. "Apa?" Tanya Devan menatap bola mata Azel. "Kaga papa, emang kenapa?" Tanya balik Azel dengan polos membuat Devan menjitak kepala gadis di depannya dengan refleks. "Anjir sakit." ringis Azel mengusap kepalanya. "Lo ga berkeprimanusiaan terhadap seorang cecan seperti gue, entar kena azab." cerocos Azel. "Lo berisik." tatap Devan dengan tajam membuat nyali Azel ciut sedikit. "Sakit nih, entar merah kepala gue gimana. Lo mah bikin rusak suasana pagi gue aja." ucap Azel kesal, tangannya masih mengusap kepalanya. Dengan tanpa kata, Devan menarik pinggang Azel mendekat kepadanya. Memeluk pinggang gadis itu dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya mengusap kepala Azel dengan lembut, sesekali meniupnya. Azel membeku ditempat, jantungnya bekerja sangat cepat. Rasanya baru kali ini dia berdekatan dengan laki-laki yang tidak ada hubungan darah dengannya, aroma Devan semakin menyeruak masuk ke hidungnya. Gue mau pingsan anjay Sekitar 1 menit moment itu terjadi, Devan segera melepas tangannya dan menatap Azel. Senyuman tipis itu terlihat namun Azel tak melihatnya, gadis itu hanya menunduk malu ditambah semburat merah di kedua pipinya membuat Azel terlihat k*****t. "Gue tunggu." Devan melangkah pergi dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya, meninggalkan Azel seorang diri dengan jantung masih berdetak tak normal. "Fiks, tuh cowok jelmaan bunglon dan membahayakan jantung gue." gumam Azel menatap punggung Devan yang menjauh darinya. "Woy!" "Anjir." Sherren yang mengejutkan Azel hanya tertawa melihat sahabat barunya itu kaget karenanya. "Ngelamun ae lo, kesambet baru tau rasa. Mana ngelamunnya natep punggung Ketos lagi." ejek Sherren membuat Azel melotot kepadanya. "Ngapa? Emang bener kan, btw lo melotot gitu kaga bikin takut nyet." ucap Sherren santai. "Nyebelin lo, tumben lo dateng pagi. Sama siapa lo?" tanya Azel bingung. "Sama mobil lo, thanks mobilnya ya. Nih kuncinya, entar gue balik sama Argha ae." Sherren menyerahkan kunci mobil dengan pom pom yang menggantung di kunci itu. "Yoi dah, lo belum jawab pertanyaan gue kenapa lo dateng pagi?" "Mau nyalin tugas, sekalian ngantin pagi biar tambah cecan." kekeh Sherren mendapat pukulan pelan dari Azel. "Pinter lo, udah ah gue mau ke kelas terus ke ruang Osis " ucap Azel melangkah menjauh dari Sherren. "Monyet tunggu gue!!!" Sherren melangkah cepat mengejar Azel yang jauh beberapa langkah di depannya. ***** "Saga, hari ini kamu harus mulai mencari adikmu."      Suara dentingan sendok dan garpu yang mulanya terdengar kini tergabung dalam suara berat seseorang. Saga yang sedang menikmati sarapannya harus terhenti sejenak mendengar perkataan papahnya. "Saga hari ini full pah, besok aja." tolak Saga halus. "Adikmu lebih penting Saga, jangan biarkan dia semakin jauh dari genggaman kita." ucap Martin menatap anaknya. "Dari dulu dia udah jauh dari genggaman kita pah, tanpa kita sadari." lirih Saga membuat Martin terdiam sesaat. "Maka dari itu kita harus membawanya lagi, untuk pulang." ucap Martin. Saga hanya diam tak ingin menanggapinya kembali, selera makannya hilang dan makanan itu pun terasa hambar. Saga tidak menyukai hal seperti ini, sejak dulu papahnya selalu ingin dituruti tanpa mau mengerti. Saga tidak menyalahkan papahnya sepenuhnya atas semua ini tapi mau bagaimana lagi. Jika saja waktu itu Martin tidak seenaknya mengambil keputusan, maka semuanya akan berjalan sesuai jalurnya. Keputusan gila Martin berdampak buruk bagi sekitarnya terutama keluarganya yang perlahan hancur. Saga menyingkirkan pemikirannya bahwa Martin tidak menyayangi adik kecilnya tapi sekuat apapun, Saga tidak bisa menampik bahwa pernyataan itu benar adanya. Tapi tak seharusnya, Martin seperti ini. Menghancurkan keluarganya sendiri. Semenjak kejadian itu, tak ada keharmonisan di keluarga Martin. Nyonya besar atau istri Martin memilih tinggal di luar negeri karena terlalu kalut dengan keadaan, Saga pun hanya bisa pasrah akan keadaan membiarkan papahnya menerima karma yang akan datang sebentar lagi. Hanya tinggal menunggu waktunya saja maka Saga akan melihatnya. ***** "Mitchell, lo mau kemana?" Tanya Gaga yang melihat kekasihnya sudah sampai lebih dulu darinya      Tadi Gaga tidak menjemput dikarenakan dirinya yang bangun kesiangan dan memutuskan menyuruh kekasihnya itu pergi lebih dulu daripada mendapat masalah. "Mau ke aula, lo baru dateng? Tumben amat kesiangan." celetuk Mitchell menatap Gaga. "Tadi malem nonton bola, yaelah udah sibuk ae pagi-pagi." ucap Gaga mengerucutkan bibirnya. "Kayak ga tau anak Osis ae, itu baju kenapa berantakan sih. Bikin kaga enak dilihat." omel Mitchell lalu merapikan dasi dan kerah baju Gaga. Gaga hanya tersenyum dan memeluk pinggang kekasihnya, Gaga meneliti wajah Mitchell dengan perlahan. Terlalu cantik dan Gaga sangat beruntung memilikinya. "Ngapain peluk-peluk, lagi di sekolah juga." ucap Mitchell menatap Gaga yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. "Pacarnya lagi kangen juga, ga ngerti amat sih yang." Gaga menenggelamkan wajahnya di leher Mitchell, mencium aroma tubuh Mitchell yang membuatnya kecanduan. Mitchell hanya mengusap punggung kekasihnya itu pelan, terkadang Mitchell heran dengan Gaga. Gaga bisa berubah-ubah dengan sikapnya, seperti sekarang dia yang tiba-tiba manja membuat Mitchell gemes setengah mampus. "Mesra ae terus, mesra dah mesra. Gue pura-pura ga liat ae." celetuk Stella yang datang tiba-tiba. "Perusak suasana dateng dah." Gaga melepaskan pelukannya dan menatap Stella kesal. "Lagian salah sendiri mesra-mesraan di koridor, kayak kaga ada tempat lain aja." ucap Stella. "Sirik ae lo, kelamaan jomblo ya gitu." ejek Gaga membuat Stella melotot. "Udah elah, malah berantem. Ga, sono ke kelas bentar lagi bel. Stel, buru kita harus ke aula." ucap Mitchell. "Yah yang, padahal masih mau manja-manja." ucap Gaga mengerucutkan bibirnya seperti perempuan. "Najis lo ga, napa jadi kek tai." cibir Stella melihat kelakuan Gaga. "Bulu babi diem aje." ucap Gaga. "Sono ke kelas ga." perintah Mitchell mulai kesal dengan tingkah kekasihnya itu. "Oke dah, jangan capek-capek nanti istirahat gue jemput. Semangat sayang." ucap Gaga tersenyum, mencium kening Mitchell sejenak lalu berlanjut pergi membuat Mitchell tersenyum sendiri. "Dasar bucin." *****    Argha melirik kearah kelas Sherren, mencari kekasihnya yang hilang ditelan bumi. Batang hidungnya tidak terlihat pagi ini, entah kemana, dimana, dengan siapa, lagi apa Argha tidak tau jawabannya. Dibelakang tubuhnya terlihat Sherren memperhatikannya sejenak dan terkekeh pelan. Mengikuti gerakan Argha yang mencari-cari keberadaannya. Argha yang kesal pun segera membalikan badannya. "Hai." sapa Sherren tersenyum manis membuat Argha terkejut. "Kamu bikin kaget tau ga." ucap Argha mengelus dadanya membuat Sherren tertawa. "Abisnya lucu, cari aku ya?" Tanya Sherren. "Ga, lagi nyari seliran di kelas kamu." jawab Argha membuat Sherren menatap tajam dirinya. "Apa tadi, selir? Oh udah berani sekarang, yaudah sono nyari." ucap Sherren melangkah pergi meninggalkan Argha. Argha yang melihatnya langsung segera mengejar Sherren yang belum terlalu jauh. "Kok ngambek sih, kan bercanda doang." Argha memegang lembut tangan kekasihnya itu. "Abisnya bikin kesel sih." ucap Sherren mengerucutkan bibirnya. "Aku bawa ini buat kamu." Argha memberikan coklat putih yang sudah dibelinya kemarin malam dan memang akan diberikannya kepada Sherren. "Wah makasih." pekik Sherren senang dan memeluk Argha erat. "Ga marah lagi kan?" Tanya Argha "Ga kok." ucap Sherren tertawa pelan. Argha mengeratkan pelukannya, membuat Sherren bahagia itu sederhana. Hanya dibelikan benda-benda kecil sudah mampu membuat Sherren bahagia, itulah alasan Argha. Sherren itu gadis sederhana pemilik hatinya. Selesai
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN