"Alasannya simple, sederhana itu membawa kenyamanan bukan kegelisahan..."
- Uknown -
*****
AULA sekolah sudah dipenuhi oleh banyak siswa, membuat aula itu sedikit sesak dan penuh. Acara debat tahun ini cukup ramai.
"Eh semuanya udah siap kan, ga ada yang kurang?" Tanya Mitchell sekali lagi kepada para panitia.
"Ga ada chell, ini udah ke 30 kalinya lo nanya kayak gitu." dengus Stella sebal melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Gue ga mau ada kekurangan tau, entar Devan nyemprot gue. Dia galak kalo lagi jadi Ketos." sungut Mitchell duduk di salah satu kursi plastik di sudut aula.
"Yaelah kaga mungkin lah, udah ah gue mau dokumentasi dulu." Stella pergi meninggalkan Mitchell sendirian.
Sebenarnya Mitchell bisa saja pergi menemui Gaga yang sekarang sedang latihan di lapangan tapi Mitchell punya tanggung jawab penuh di aula untuk kegiatannya, dia harus menyelesaikannya terlebih dahulu.
"Selamat datang di acara Debat Tahunan Sekolah, beri tepuk tangan yang meriah." ucap MC yang memulai acaranya.
"Untung debat tahun ini, agak berbeda ya. Kita hanya memiliki dua kubu yang akan saling memberikan argumennya, disamping kanan saya ada Devan dengan argumennya yang selalu membuat kita terpesona dan disamping kiri saya ada anggota baru dan juga Waketos baru kita Azel."
Suara riuh terdengar di aula. Mitchell memang menyediakan acara debat spesial untuk tahun ini, karena ini acara terakhir bagi Osis Tahun ini dan harus menampilkan kesan memukau.
"Tema kita adalah Jilatan Api Pertanda Mati." ucap MC dengan suaranya membuat semua penasaran.
"Gila temannya bikin merinding ae."
"Apa maksudnya, tumbenan amat."
"Nih keknya seru."
"Itu maksudnya apa kaga paham gue."
"Politik yak? Ah ga seru."
"Gue mau liat Devan ama Azel bersaing ah."
"Azel si Waketos baru itu ya."
"Gila tuh Ketos sama Waketos bersaing."
Suara demi suara makin ramai, Mitchell hanya menatap malas. Acara ini memang membosankan tapi Mitchell ingin melihat persaingan kedua sahabatnya di depan sana.
Pasti seru
"Wah pasti pada penasaran kan kenapa temanya beda, ini atas usulan dari seorang siswa yang katanya pengen banget denger argumen dari dua orang di depan kita sekarang. Tema ini mengandung makna tentang Kenakalan Remaja zaman sekarang yang sudah melampaui batas. Jilatan Api bermakna tentang hal-hal negatif yang dibawa oleh arus globalisasi yang berdampak pada remaja Indonesian sekarang sedangkan pertanda mati adalah tanda-tanda guncangan yang akan membahayakan generasi kita. Nah sekarang sesi debat akan kita mulai, silahkan untuk Devan.."
Debat sudah dimulai, Mitchell yang lemas seketika mulai menegakkan badannya. Merasakan hawa panas yang mulai timbul, ini akan sangat seru. Melihat keduanya memang selalu berselisih paham.
*****
Latihan demi latihan mulai dilaksanakan di area panggung yang ada di tengah lapangan, stand-stand sudah mulai dibangun juga untuk meramaikan acara besok.
"Gue capek." keluh Sherren duduk di salah satu meja yang disediakan di samping stand makanan, akan digunakan untuk besok para pengunjung yang ingin menikmati makanan.
"Terkuras rasanya latihan hari ini." tambah Gaga.
"Bener juga sih, tapi gue masih rada belum srek pas gue tampil tadi. Kayak ada yang kurang." ucap Argha meminum jusnya.
"Maklum aja lah, bagian operator juga lagi sibuk menstabilkan suara biar pas buat lo pada besok tampil." ucap Clara.
"Bagian gue sih udah srek, soalnya gitarnya udah kedengeran. Jadi udah klop lah." ucap Daffa.
"Si Mitchell mana?" Tanya Sherren.
"Dia ngawas debat, makanya abis ini mau kesana. Kasian belum makan dia." ucap Gaga.
"Yang panitia keknya banyak kerjaan ya, kasian si Mitchell. Tuh anak pasti takut kalo kegiatannya gagal." kekeh Argha.
"Ya lo tau lah gimana si Mitchell, sesuatu yang kurang atau salah pasti bakal bikin tensi dia naik." ucap Clara.
"Btw si Devan ama Azel kaga keliatan, tuh dua sejoli kemana?" Tanya Daffa heran
"Mereka debat anjir, nih difoto ama Mitchell. Kuy kesana!" Ajak Sherren.
"Ebuset, kok kaga ada yang ngasih tau. Yaudah cus!" ucap Daffa.
Semua segera meninggalkan lapangan dan menuju aula yang terletak di lantai 3. Hanya beberapa menit yang ditempuh, akhirnya kelima sekawan itu sampai di pintu aula. Semuanya dapat merasakan aura memanas hanya dari pintu aula.
"Anjir ada aja kendala." gerutu Mitchell berjalan dari arah belakang aula menuju kearea dalam aula dari samping.
"Woi chel!!" Teriak Clara membuat Mitchell menoleh.
"Njirr lo pada udah selesai latihan?" Semprot Mitchell yang langsung mendekati kearah para sahabat.
"Belum sih, masih breaktime dong. Di dalem keknya panas banget." komentar Sherren melirik kedalam.
"Ya lo tau lah, si Azel ama Devan kukuh ama pendapat masing-masing." ucap Mitchell.
"Nih, jangan lupa dimakan. Awas lo kaga makan." ancam Gaga memberikan plastik berisi kotak makan dan air mineral.
"Buset galak si Gaga." celetuk Sherren.
"Galak-galak juga kan kesayangan si Mitchell." ucap Daffa membuat semua tertawa.
"Ya iyalah, dia kan sayang gue selalu." ucap Gaga mengedipkan matanya kearah Mitchell.
"Apa sih lo najis." cibir Mitchell.
"Yaelah lo berdua, udah kuy masuk ke dalam. Mau nonton." rengek Sherren.
"Mending kita berdua masuk duluan, yuk beb." Argha menarik lembut tangan Sherren ke dalam aula meninggalkan semua sahabatnya yang melongo.
"Njirr ditinggalin, yaudah capcus." ucap Daffa.
Semua mulai masuk ke dalam, di depan sana terlihat Azel dan Devan masih beradu kebacotan.
"Dalam istilahnya, anda tidak bisa menyalahkan semua sistem kenakalan remaja faktornya dari sebuah globalisasi saja. Bahkan menurut saya, kenakalan remaja bisa difaktorkan dari dia sendiri. Anda tidak bisa menyalahkan hanya dalam satu faktor, jika faktor itu bisa di dukung dari diri mereka sendiri, anda bisa apa?" sengit Azel menatap Devan membuat Devan menatap datar.
"Saya hanya menjelaskan secara spesifik saja, saya tidak memusatkam faktor nya hanya dari globalisasi. Seharusnya anda bisa mencerna kata demi kata yang saya ucapkan." tuding Devan.
"Tapi disini anda hanya mengatakan bahwa globalisasi berperan penting terhadap kenakalan remaja, bisa digaris bawahi anda memusatkan faktor hanya kepada globalisasi." bantah Azel.
"Saya tegaskan kembali, saya mengatakan bahwa globalisasi berperan penting terhadap kenakalan remaja karena yang kita ketahui itu dimulai dari dunia luar masuk ke dalam. Saya tidak mengatakan bahwa faktor lain tidak menjadi sebab kenakalan remaja marak terjadi." ucap Devan.
Suasana semakin panas, argumen Devan dan Azel saling menguat. Tidak ada kata kalah dikeduanya membuat semua tegang.
"Gila tuh berdua adu bacot bikin panas aja." komentar Argha.
"Si Azel hebat juga pertahanin argumennya yak, pantes sih kalo ditandingin sama Devan." ucap Stella.
"Tuh berdua aja emang ga pernah akur, kemungkinan besar nih kegiatan dijadiin ajang meluapkan emosi mereka yang tertahan." kekeh Gaga.
"Tau ae lo kampang, tapi emang bener sih. Keduanya sama-sama kuat." ucap Clara.
"Kapan selesainya sih?" Tanya Sherren menatap Mitchell yang sibuk menonton acara di depannya tanpa banyak bicara.
"5 menit lagi abis nih, tapi seru njirr. Keduanya sama-sama bener pendapatnya, kaga ada yang kicep satu sama lain." ucap Mitchell.
"Gue kalo ikut begituan, nguras tenggorokan ae." ucap Daffa.
"Bilang ae lo emang ga bisa debat." ucap Sherren menatap datar Daffa.
"Maklumin Sher, dia suka gengsi." ucap Clara membuat Daffa mengerucutkan bibirnya kearah Clara.
"Ih ayang gitu amat ama gue." ucap Daffa.
"Najis geli gue daf." ucap Gaga bergidik ngeri.
"Acara debat selesai, beri tepuk tangan."
Suara MC membuat semuanya menghentikan obrolan dan menatap ke depan. Dua orang yang berdebat di depan sana terlihat tersenyum terkecuali Devan yang hanya datar dengan tatapan tajamnya.
Devan dan Azel segera menghampiri para sahabatnya yang duduk di sudut aula. Kedua remaja itu sama-sama menggunakan almamater OSIS saat debat berlangsung.
"Gila capek gue." keluh Azel duduk di samping Mitchell sambil mengipas dirinya dengan tangan.
"Keringet lo zel, kek abis marathon." ejek Argha membuat semuanya tertawa.
"Apaan disana panas banget." bela Azel.
"Nih minum." ucap Sherren memberikan minuman dingin kepada Azel.
Azel dengan semangat mengambil minuman ditangan Sherren .
"Makasih Sher, tau ae gue aus." dengan cepat Azel meneguk minumannya hingga sisa setengah.
Baru setengah botol terminum, Devan segera menyambar minuman Azel dan meneguknya hingga habis. Semua hanya terkejut.
"Devan, gue belum selesai minum." ucap Azel kesal sambil menatap Devan yang berdiri di sampingnya.
"Jangan minum itu lagi." ucap Devan dingin menatap Azelm
"Lah kenapa?" Tanya Azel.
"Bacot." Devan segera keluar dari aula meninggalkan semuanya yang masih terpaku di tempat.
"Itu Devan kesambet apa?" Tanya Clara masih syok.
"Tau nih, bisa romantis gitu." tambah Stella.
"Gila si Devan ngegas." ucap Daffa.
"Itu bekas bibir Azel masih ae diminum." ucap Gaga santai.
"Eh iya, ANJIR DEVAN?!?!!" sungut Azel ketika tersadar bahwa Devan meminum botol bekas bibirnya
berarti secara tidak langsung itu bisa dinamakan ehm ya begitulah.
Selesai