"Semuanya sudah jelas, Tuhan tidak akan membiarkanmu sakit terlalu dalam. Dia juga ingin kamu bahagia..."
- Uknown -
*****
JAKET boomber berwarna hitam itu terlihat menggantung di sebuah dahan pohon dekat panggung. Pemiliknya sedang mengawas para panitia yang bekerja, hanya tinggal sedikit lagi maka semua selesai.
"Dev, lo kaga latihan buat tampil besok?" Tanya Justin menatap Devan yang fokus membaca susunan acara untuk besok.
"Tampil?" Devan mengerutkan keningnya, Devan tidak tau bahwa dia ikut andil dalam memeriahkan acara besok.
"Lah lo kaga dikasih tau sama si Daffa, dia kan MC besok." ucap Justin.
"Kaga."
Jawaban singkat Devan membuat Justin melotot tak percaya. Besok acaranya akan dimulai tapi Devan belum mengetahui apapun mengenai penampilannya.
"Lo besok nyanyi Dev, astaga kenapa kaga ada yang ngasih tau lo. Lo ama Azel bakalan duet buat besok." jelas Justin membuat Devan terkejut.
Dengan tanpa kata Devan segera pergi dari hadapan Justin dengan membawa gulungan kertas susunan acara, Justin yang melihat hanya menatap datar.
"Gue ditinggal lagi, cari Stella ae lah."
Justin melangkahkan kakinya menuju ke depan panggung, disana terlihat Stella dan Clara yang sibuk mengecek dekorasi panggung.
"Heh bocil." celetuk Justin membuat Stella yang fokus harus menoleh.
"Apa sih lo bule, ganggu ae." geram Clara menatap sinis Justin.
"Njirr gue kan cuman nyapa doang." ucap Justin.
"Nyapa pala lo, sono lo urus tuh tempat penjualan tiket." usir Stella.
"Kan udah tadi gue cek bareng lo, gue liatin lo aja dah." ucap Justin tersenyum menatap Stella.
Stella yang melihat hanya memutar bola matanya dan tidak memperdulikan kehadiran Justin di dekatnya.
****
"Kenapa lo ga ngasih tau gue?"
"Allahu Akbar!" Azel mengelus dadanya yang baru saja berdetak kencang karena terkejut.
Azel membalikan badannya dan melihat sosok tinggi yang menatapnya tajam, Azel menatap malas Devan yang sekarang terlihat menyebalkan di matanya.
"Apalagi sih, bisa kaga lo ga ngagetin gue? dasar Ketos kampret." ucap Azel mulai mencebikan bibirnya.
"Besok kita tampil."
Azel yang awalnya menatap malas langsung melotokan matanya kearah Devan. Laki-laki di depannya ini sangat suka membuat lelucon.
"Anjirr lo lagi ngelawak hah?" Tawa Azel terdengar membuat Devan makin menatapnya kesal.
"Liat."
Devan menyerahkan kertas susunan acara kearah Azel. Azel menghentikan tawanya dan menerima kertas itu lalu membacanya perlahan.
"Apa?!?!?! kenapa kaga ada yang ngasih tau gue." pekik Azel membuat Devan menutup telinganya.
"Lo pasti ngerencanain ini kan? ngasih tau gue sekarang biar gue heboh sendiri besok. Lo nyebelin banget sih, Dev." Azel mulai menjambak rambut laki-laki di depannya dengan kasar.
"Arghhhh...lepas woy." Devan mencoba melepaskan tangan gadis di depannya ini dari rambutnya.
"Gue kesel, jangan sampe gue tonjok lo lagi Devan!!!"
Semua mulai melihat kearah Azel dan Devan. Kedua insan itu memang tidak pernah bisa akur.
"Heh lo berdua! Ngapa main jambak-jambakan disini sih." Sherren mendekat kearah keduanya lalu menarik Azel agar melepaskan jambakannya.
Devan dapat merasakan rambutnya akan lepas setelah Azel melepaskan tangannya. Jambakan Azel membuat kepalanya sedikit pusing.
"Lo apa-apaan sih hah?!" bentak Devan menatap tajam Azel.
"Lo tuh yang apa-apaan! lo tau kan gue belum ada persiapan apapun buat besok. Kenapa baru kasih tau gue sekarang?" ucap Azel sekenanya membuat Sherren menepuk jidatnya.
"Lo berdua kenapa sih kaga bisa akur hah? kesel gue liatnya. Sekarang apa lagi permasalahannya?" Tanya Sherren.
"Kita mau tampil!"
Sherren menatap kaget kearah keduanya, ketika dua orang di depannya menjawab secara bersamaan, membuat Sherren sedikit tertawa.
"Ya terus kalo lo berdua mau tampil, masalahnya apa?" Tanya Sherren.
"Kita ga ada latihan Sher, lo tau kan gue ga bakat nyanyi. Siapa sih yang bikin susunan acara kek gini, mana ga ada konfirmasi ke gue dulu." gerutu Azel mulai kesal, wajahnya memerah menahan amarah.
"Yaudah sekarang mendingan lo berdua latihan, lo juga Dev." ucap Sherren.
Devan segera menarik tangan Azel menjauh dari lapangan, Devan risih melihat semua orang menatap mereka. Sejak Azel menjadi pasangannya dalam Osis, keduanya selalu menjadi pusat perhatian.
"Kita mau kemana?" Tanya Azel masih mengerucutkan bibirnya.
"Pelaminan." jawab Devan sembarang.
"Apa?! Lo mau ajak gue nikah, anjirr Devan jangan bikin kesel." gerutu Azel mencubit pelan tangan Devan.
"Bisa ga sih ga nyakitin gue?"
"Aduh baper deh, gue kan ga nyakitin lo sayang." kekeh Azel membuat Devan menoyor kepalanya.
"Lo bacot gue cium." ancam Devan.
"Anceman apaan kek gitu, ga berbobot amat. Lo tuh sebagai ketos har---"
Cup
Sebuah kecupan ringan mendarat di pipi kanan Azel membuat gadis itu terdiam. Pipi nya memerah, dengan cepat Azel menatap Devan dengan ganas.
Laki-laki itu terlihat beberapa langkah di depannya, berjalan santai dengan tatapan matanya fokus ke depan .
"Devan!!!!!!!!!!!"
Devan menyunggingkan senyumnya, sangat menyenangkan menganggu gadis yang berada di belakangnya.
"Heh! Pipi gue ga suci lagi." gerutu Azel menarik almamater OSIS milik Devan.
"Lo ngeremehin." jawab Devan datar lalu menarik tangan Azel agar tidak menyentuh almamaternya lagi.
"Gue kaga ngeremehin anjir, gimana sih lo." Azel menghentakan kakinya dan menatap sengit kearah Devan.
Devan mencoba menahan tawanya saat melihat tingkah gadis di depannya. Azel yang ingin kembali memarahi Devan harus berhenti saat ponselnya bergetar. Devan menautkan alisnya bingung melihat Azel menatap datar layar ponselnya.
"Kenapa?" Tanya Devan.
"Lupain, sekarang kita harus latihan. Waktunya udah mepet anjir." Azel menarik tangan Devan secara paksa.
Azel berusaha menahan emosinya, moodnya kembali buruk saat melihat panggilan di ponselnya tadi. Kakak kandungnya kembali menghubunginya setelah sekian lama mereka tidak berkomunikasi.
Azel sudah berusaha untuk melupakan keluarga kandung yang menelantarkannya itu tapi saat Azel mulai melupakan semuanya, perlahan mereka kembali mengikuti Azel membuat Azel merasa tersiksa.
"Woy, lo denger gue ga!" Suara nyaring Devan mengagetkan Azel yang sejak tadi sudah melamun.
Mereka sudah tiba di ruang musik sekolah. Niatnya mereka akan latihan bersama sebelum acara besok, setidaknya ada latihan sedikit.
"Sorry lo tadi ngomong apa?" Tanya Azel.
"Ck!" Devan hanya berdecak kesal, mengabaikan pertanyaan Azel dan lebih memilih mencari gitar Akustik yang akan dia gunakan nantinya.
"Pilih lagu."
Azel yang mendengar segera mencari lagu untuk mereka, lagu yang mengikuti suasana hatinya. Menggambarkan tentang sesuatu yang bermakna.
Azel ingin menampilkan yang terbaik untuk penampilan pertamanya.
Selesai