10. CUCU DARIMU

1824 Kata
Mira, yang terbiasa bangun pagi, melakukan hal yang sama saat menginap di Mansion vittale. Tidurnya yang kurang nyenyak semalam membuat sekujur tubuhnya terasa pegal ketika ia terbangun pagi ini. Usai mandi, Mira berniat turun dan berjalan-jalan di sekitar halaman belakang yang tampak luas dan asri. Namun, saat melewati dapur, langkahnya terhenti. Ia mendapati Sofia tengah sibuk memasak. Merasa tidak enak hati jika langsung berlalu begitu saja di hadapan calon mertuanya, Mira pun mengurungkan niatnya. Ia segera menghampiri wanita paruh baya itu, barangkali ada sesuatu yang bisa ia bantu di sana. "Tante sedang memasak apa? Bolehkah aku ikut membantu?" tanya Mira sambil berdiri di dekat Sofia. "Mira, kamu sudah bangun, Nak. Tentu saja boleh," seru Sofia dengan nada bersemangat, tampak senang melihat Mira berniat membantunya. "Namun sebelum itu, tolong ikat dulu rambutmu, ya, Nak," pinta Sofia lembut. "Oh, iya, Tante. Aku lupa mengikatnya terlebih dahulu," jawab Mira sambil tersenyum kecil, lalu bersiap merapikan rambutnya. Mira menggulung rambutnya dengan jepit sederhana. Tanpa disadari, kecantikannya justru semakin terpancar saat rambutnya terikat asal seperti itu, memberi kesan alami dan menawan. Usai merapikan rambutnya, Mira segera mencuci kedua tangannya, lalu mulai membantu Sofia dengan sigap di dapur. Sofia juga tak lupa memasangkan celemek pada gadis itu agar pakaiannya tetap bersih, terhindar dari bau dapur dan noda masakan. "Terima kasih, Tante," ucap Mira tulus. Sofia membalasnya dengan sebuah senyuman. Keduanya tampak begitu akur dan sama-sama cekatan di dapur, membuat Sofia tak perlu lagi mengajari Mira seperti anak kecil. Kerja sama itu terjalin dengan alami, seolah mereka telah lama terbiasa memasak bersama. "Sejak kapan kamu mulai suka memasak, Nak?" tanya Sofia lembut sambil mengaduk sup ayam yang mengepul hangat. "Sejak aku usia sepuluh tahun, Tante. Aku sering melihat Bibi Merlin memasak dengan penuh semangat, dan entah bagaimana aku jadi ikut menyukainya juga. Bibi selalu bilang, rasa masakan mencerminkan suasana hati orang yang memasaknya," jawab Mira pelan, suaranya sarat kenangan. Sofia kembali tertegun menatap calon menantunya itu. Bukan hanya cantik, Mira juga memiliki hati yang luas, mampu menerima dan memaknai hal-hal sederhana dengan perasaan yang begitu dalam. "Sepertinya Merlin sudah membawa banyak perubahan dalam hidupmu, Nak. Aku sangat berterima kasih padanya karena ia membantu calon menantuku tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan baik," ucap Sofia dengan tulus. Kata-kata itu membuat hati Mira menghangat dan terasa haru. Kepedulian Sofia padanya begitu nyata, layaknya seorang ibu yang menyayangi dan memperhatikan putrinya sendiri. Mira berusaha menahan air mata yang nyaris menetes dari sudut matanya. Sofia, yang peka terhadap perubahan perasaan gadis itu, segera mencuci tangannya lalu menarik Mira ke dalam pelukan hangat. "Kemari, Nak," ucapnya lembut. Tanpa berpikir panjang, Mira pun membalas pelukan itu, membiarkan kehangatan Sofia meresap ke dalam hatinya yang sejak tadi bergetar oleh rasa haru. Kedua tangan Sofia menepuk-nepuk bahu Mira dengan lembut, seolah menyalurkan seluruh kasih sayang yang telah lama ia pendam. Tujuh tahun penantian akhirnya terbayar, saat ia kini bisa memeluk gadis yang sejak lama telah ia nantikan keberadaannya sebagai menantunya. "Sudah… jangan khawatir, nak. Aku akan menjadi ibu bagimu dan merawatmu sama seperti Matteo," ucap Sofia tulus, seraya perlahan melepaskan pelukan mereka. "Iya, Tante. Terima kasih karena sudah begitu peduli dan menyayangiku," ucap Mira. Matanya mulai berkaca-kaca, diliputi rasa haru karena merasa begitu beruntung memiliki calon mertua yang hangat seperti Sofia. Tak lama kemudian, semuanya telah siap. Para pelayan pun mulai berdatangan, menyajikan hidangan satu per satu di atas meja makan. .. Setelah membantu Sofia di dapur, Mira berjalan-jalan ke halaman belakang kediaman Vittale, menikmati pagi sambil menunggu yang lain turun untuk sarapan bersama. Gadis itu terkesiap saat mendapati Thomas tengah berjemur di halaman belakang. Pria tua itu tampak begitu menikmati hangatnya mentari pagi sambil membaca surat kabar di tangannya. "Kakek…" panggil Mira ketika jaraknya masih terpaut beberapa langkah dari Thomas. Thomas sontak menoleh ke arah sumber suara yang terdengar familiar di telinganya. Benar saja, gadis dengan suara lembut itu adalah Mira. Senyuman hangat pun merekah di wajah Thomas saat melihat Mira melangkah mendekat. "Mira… sejak kapan kamu di sana, Nak?" "Aku baru saja datang dan melihat Kakek di sini. Sedang apa, Kek?" balas Mira. Walau sebenarnya ia sudah bisa menebak apa yang dilakukan kakek tua itu di sana, Mira tetap berpura-pura tidak tahu. Karena ia ingin mendengarnya langsung dari Thomas. "Aku sedang berjemur, Nak. Ini rutinitasku setiap pagi. Kata dokter, sinar matahari pagi bagus untuk tulangku yang mulai keropos," ujarnya, diakhiri tawa ringan. Mira ikut tersenyum melihat tingkah sang kakek di sampingnya itu. "Duduklah, Nak," perintah Thomas ketika menyadari Mira masih berdiri. "Hm, baiklah, kek." jawab Mira menurut, lalu duduk di kursi kosong yang ada di hadapan Thomas. "Wajahmu tampak lelah. Tidurmu semalam kurang nyenyak, nak?" tanya Thomas dengan nada khawatir, matanya menatap Mira yang bermata sembab. "Ah… memang begitu, Kakek," jawab Mira. Namun sembab di matanya bukan semata karena kurang tidur ia juga menangis, tergerak oleh kelembutan Sofia di dapur tadi. Wajah Thomas tampak kaget, lalu matanya berbinar penuh perhatian. "Apa tempat tidurmu kurang nyaman, nak? Kenyamanan memang tak selalu datang dari kemewahan. Lain kali, Kakek akan minta Sofia mengganti kasurnya dengan yang lebih empuk, supaya tidurmu nyenyak saat menginap lagi," ucapnya lembut. Mira hampir tertawa sendiri mendengar ucapan kakek tua itu. Siapa sangka, Thomas bisa begitu perhatian, sampai hal-hal kecil pun tidak luput dari pikirannya. "Jadi… kenapa Kakek memilih sendiri di sini? Padahal Kakek bisa menghabiskan waktu bersama Paman Xander atau yang lainnya," tanya Mira pelan, sedikit takut ucapannya terdengar salah. Thomas mengerutkan alisnya dengan wajah setengah kesal, setengah lucu. "Ah, aku malas bergabung dengan mereka. Mereka sering marah-marah padaku… mentang-mentang aku sudah pikun, mereka jadi seenaknya sendiri! Tapi menantuku, Sofia, berbeda. Dia selalu sabar mendengar ceritaku, bahkan menghadapi semua kelakuanku," ujarnya sambil tersenyum tipis, meski rasa kesal di wajahnya masih terlihat. "Ouh… Kalau begitu, aku juga akan seperti Tante Sofia, selalu siap mendengar setiap keluhan Kakek," ucap Mira tulus, senyumnya lembut seakan ingin membuat Thomas merasa tenang. "Sungguh? Aku memang sudah menduganya, nak. Hanya kau dan Sofia yang masih peduli pada kakek yang sudah tak berdaya ini," kata Thomas sambil menghela napas dramatis, seolah ingin Mira tersentuh sekaligus tertawa. "Sudah… sudah… sekarang Kakek, jangan bersedih lagi, ya," ucap Mira sambil menatapnya penuh pengertian. Thomas menatap balik, bibirnya tersenyum tipis, setengah geli, setengah terharu, membuat suasana menjadi hangat dan lucu sekaligus. "Andai saja di sini banyak anak kecil… pasti aku tidak kesepian seperti sekarang," ucap Thomas pelan, matanya menatap sepi ke ruangan. Mira tersenyum lembut. "Sebentar lagi, doa Kakek akan terkabulkan. Bettry sedang mengandung cucu Kakek, kan? Kita tinggal menunggu beberapa bulan lagi. Bersabarlah, Kakek… sebentar lagi cucu kecil yang lucu akan datang," jelasnya dengan penuh pengertian. "Kau memang benar, nak…" Wajah Thimas itu berubah, kini tampak lebih murung, seakan beban hatinya tak bisa disembunyikan. "Kenapa Kakek masih bersedih?" tanya Mira pelan, matanya menatap Thomas dengan penuh perhatian. "Sebelum aku tiada, aku juga ingin sempat menggendong cucu darimu dan Matteo." d**a Mira berdegup kencang, namun ia menahan gugupnya agar tetap terlihat tenang dihadapan Thomas. Duhh Thomass! Kamu emang paling bisa ya buat d**a Mira berdegup kencang kayak gitu... ga kebayang kalau aku diposisi Mira, belum juga nikah udah ngomongin anak aja. Sebuah senyuman canggung tersungging di wajahnya. "Kakek… kami masih belum menikah," ucap Mira pelan, hati-hati. "Tapi aku yakin umur Kakek panjang, dan suatu saat nanti, Kakek pasti akan menimang cucu dari kami." Thomas menatap Mira, bibirnya tersenyum tipis. Matanya yang biasanya tegas kini tampak lembut, seakan senyum Mira saja sudah cukup membuat hatinya hangat dan sedikit terharu. Mira tidak ingin membantah. Ia tahu, menghadapi orang tua bukan soal emosi, melainkan perhatian dan kelembutan. Sarapan akhirnya usai. Matteo dan Valez kini bersiap berangkat kerja. Setelan jas rapi yang membalut tubuh Matteo seolah menyingkap sisi dirinya yang selama ini tersembunyi. Aura dingin dan dominan itu terpancar jelas, memenuhi ruangan dengan wibawa yang terasa menekan. Alis tebalnya membingkai mata tajam yang menyimpan wibawa dan kuasa. Dalam setiap sorotannya tersirat tuntutan akan kepatuhan, membuat siapa pun yang bertemu pandang dengannya mendadak terpaku, seakan kehilangan kendali untuk berpaling. Ketampanannya berdiri angkuh, berpadu sempurna dengan kharisma agung sang pemimpin Fercgrey, sosok yang bukan hanya dipandang, tetapi juga dirasakan kehadirannya. Sejak tadi Diam-diam Mira terpaku menatap calon suaminya dalam balutan busana formal. Bukan sekali ini saja ia melihat Matteo mengenakan jas hitam yang begitu serasi dengannya. Namun tetap saja, dadanya terasa sesak oleh perasaan asing yang sulit ia jelaskan campuran antara kagum, gentar, dan sesuatu yang diam-diam membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Beberapa kali ia mengalihkan pandangan ke arah lain, tak ingin pria itu menyadari bahwa sejak tadi ia diam-diam memperhatikannya. Merasa dirinya belum memiliki tempat untuk mengantar pria itu seperti yang dilakukan Bettry, gadis itu akhirnya memilih pergi meninggalkan teras. Sementara itu, kehangatan pagi tetap menyelimuti keluarga Vittale. Di tengah kehangatan dan keriuhan itu, ironisnya hanya Matteo yang menyadari kepergian Mira. Pandangan pria itu mengikuti langkah Mira yang berjalan lurus, seakan hendak menuju halaman belakang. Namun ia hanya melihatnya sekilas, lalu berbalik menuju mobil yang telah menunggunya di teras luas Mansion Vittale. Berbeda dengan Valez yang masih menyempatkan diri berpamitan kepada istri dan keluarganya, Matteo memilih pergi tanpa sepatah kata pun. Sikap dingin dan acuhnya tak lagi mengejutkan seluruh anggota keluarga sudah terbiasa. Ia keras kepala dan sulit tunduk pada aturan. Jika Valez tumbuh sebagai anak yang patuh dan penuh hormat, sang kakak justru berjalan di arah sebaliknya menjaga jarak, menutup diri, dan memberontak dengan cara yang hanya ia pahami sendiri. "Lihatlah putramu itu… dia bahkan mengacuhkan kita semua yang ada di sini. Tak jauh buah jatuh dari pohonnya!" seru Thomas dengan suara bergetar menahan geram. Sikap dingin Matteo seketika mengingatkannya pada Xander, yang dahulu juga begitu sebelum menikah dengan Sofia, menantunya. Kini harapan Thomas hanya tertumpu pada Mira semoga kesabaran dan kelembutan gadis itu mampu melunakkan keras kepala cucu pertamanya dan menghadirkan perubahan yang telah lama ia dambakan. "Ma, Valez pergi dulu ya…" suara Valez terdengar lembut, tapi tetap penuh hormat saat menatap Sofia. "Iya, Nak… hati-hati. Ingat, istrimu sedang mengandung. Jangan terlalu sering lembur sampai hari persalinannya tiba, yah." balas Sofia, nada suaranya menahan rasa khawatir yang terselip hangat. "Baik, Mama aku janji," Valez membalas sambil tersenyum, menunduk sebentar sebelum melangkah ke arah istrinya. "Sayang… aku pergi dulu, ya," bisiknya sambil meraih tangan istrinya, menatap mata yang memancarkan kehangatan dan ketenangan. "Ingat, jangan terlalu banyak bergerak atau memaksakan diri. Kalau ada apa-apa, segera kabari aku, ya?" Istrinya tersenyum, menunduk sejenak, merasakan detak jantungnya berpadu dengan rasa cinta yang terpancar dari suaminya. Ia mengangguk perlahan, berjanji akan menjaga diri, dan merasakan kehangatan yang menenangkan hati. Valez menunduk, menempelkan sebuah kecupan lembut di perut istrinya, seolah menyapa calon buah hati mereka yang masih tumbuh di sana. Kecupan itu bukan sekadar isyarat cinta, tapi janji tanpa kata bahwa ia akan selalu ada, menjaga dan melindungi istri dan calon anak yang paling dicintainya. Tiga orang tua yang duduk menikmati kehangatan keluarga kecil Valez merasa hatinya dipenuhi kebahagiaan. Senyum mereka tak bisa disembunyikan, seakan tak sabar menantikan kelahiran sang cucu yang beberapa bulan lagi akan hadir untuk menambah cahaya dan tawa dalam keluarga Vittale, melengkapi kebahagiaan yang sudah terpancar di setiap sudut rumah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN