9. LIONTIN TRADISI VITTALE

1387 Kata
*** "Liontin?" Mira menatap liontin itu dengan mata membulat sempurna. "Kenapa… tante memberikannya kepadaku?" bisiknya, antara penasaran dan kagum. Sofia tersenyum lembut, menatap wajah gadis itu yang tampak tegang sekaligus bersemu tak percaya. "Nak… liontin ini sudah menjadi warisan nenek moyang Matteo untuk menantu pertama dikeluarga Vittale. Sebelum kau, akulah pemiliknya," ucapnya, suaranya hangat namun sarat makna. "Apa… aku adalah pemilik selanjutnya?" tanya Mira, suaranya bergetar halus, seakan setiap kata tertahan oleh rasa kagum dan sedikit takut. Bukan karena ia ingin menentang tradisi keluarga, tetapi hatinya menyadari beban yang kini melekat pada dirinya. Liontin itu bukan sekadar perhiasan ia adalah simbol sejarah, cinta, dan tanggung jawab yang harus dijaganya dengan setia, hingga ke generasi berikutnya. "Iya, nak, kau harus menerimanya," ucap Sofia lembut."Nenek Matteo pernah mengatakan," lanjutnya, sambil menatap Mira dengan mata penuh arti, "bahwa setiap potongan kecil batu permata ini diambil dari tiga benua. Batu-batu itu bukan hanya indah tetapi mereka juga berfungsi sebagai penangkal segala hal jahat yang mungkin mengintai." Sofia tersenyum, mengangkat liontin di tangannya agar Mira melihat kilaunya. "Dan jangan khawatir, nak. Liontin ini tidak akan pernah pecah. Ia dirancang dengan begitu teliti, seolah mengikat sejarah dan harapan keluarga di dalamnya. Setiap permata, setiap lekukannya, telah dijaga agar bertahan hingga ribuan tahun ke depan." Mira menatap liontin berkilau di genggaman Sofia, dan seketika kagum berpadu tersentuh oleh sejarah dan tanggung jawab yang kini melekat padanya. Dengan gerakan hati-hati dan penuh kelembutan, Sofia menunduk lalu memasangkan liontin bermata biru langit itu ke leher Mira yang duduk tenang di depan cermin. Mira merasakan sentuhan tangan Sofia yang begitu halus, sarat perhatian dan kasih. Dalam setiap gerakan itu, ia menyadari bahwa tradisi ini bukan sekadar simbol warisan melainkan jembatan kecil yang menghubungkan hati sebuah keluarga dengan calon menantu yang kini perlahan menjadi bagian darinya. Gadis itu melihat dirinya dari pantulan kaca, memperlihatkan kilau kalung yang menyatu dengan cahaya lampu kamar, menciptakan aura anggun sekaligus sakral. Kilau permata birunya memantul lembut, seolah menyimpan nyala hangat dari masa lalu keluarga Vittale. "Sangat indah…" bisik Mira lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Matanya tak lepas dari pantulan liontin biru yang kini menghiasi lehernya, rasa kagum perlahan memenuhi dadanya dengan hangat. Sofia tersenyum melihat reaksi itu. "Kamu benar, nak. Apalagi liontin ini tak kalah indah dengan pemakainya," godanya lembut. Ucapan itu membuat pipi Mira langsung merona. Ia menunduk malu, jemarinya tanpa sadar menyentuh liontin di lehernya, sementara senyum kecil tak mampu lagi ia sembunyikan. "Tante, Apa aku boleh tahu makna liontin ini?" tanya Mira pelan. Rasa penasaran tiba-tiba mengusik hatinya. Ia tahu, sesuatu benda yang sakral pasti menyimpan makna yang dalam bukan sekadar cerita, melainkan jejak sejarah, doa, dan harapan yang dititipkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. "Tentu, kau perlu tahu maknanya. Akan kuberitahu, nak," ucap Sofia lembut namun serius. "Tradisi ini telah diturunkan selama tiga generasi dari nenek moyang Matteo. Maknanya sangat besar, nak. Liontin ini bukan sekadar perhiasan, melainkan lambang kebangsawanan yang telah lama dimiliki keluarga Vittale." Sofia tersenyum lembut. "Liontin ini adalah harapan sekaligus pembawa keberuntungan bagi pemakainya. Kamu akan diberkahi suami yang mencintaimu sepenuh hati, dikelilingi keluarga yang hangat, hidup bahagia, dan tanpa kekurangan. Maknanya indah, bukan?" Sofia menatap Mira dengan lembut, menekankan setiap kata seolah ingin memastikan calon menantunya benar-benar memahami dan merasakan kedalaman makna liontin itu. "Suami yang akan sangat mencintaiku…?" ulang Mira pelan, nyaris tak percaya pada kata-kata yang baru saja ia dengar. Sofia tersenyum lembut, tatapannya penuh pengertian. Ia tahu betul kegelisahan yang bersembunyi di balik mata gadis itu. "Iya, nak…," ucapnya pelan. "Tante tahu, mungkin sekarang masih sulit bagimu menerima keberadaan dan sikap Matteo. Semua masih terasa asing, dan hatimu butuh waktu untuk memahami." Tangannya terulur, menggenggam jemari Mira dengan hangat. "Tapi jangan terlalu membebani pikiranmu. Percayalah, seiring berjalannya waktu, kalian akan belajar saling memahami, saling menerima, dan menyadari bahwa takdir yang mempertemukan kalian bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan." Sorot mata Sofia tetap hangat, tak pernah lepas dari wajah Mira penuh keyakinan, sekaligus doa yang tak terucap. "Walaupun Matteo terlihat dingin, seolah tak punya perasaan, itu hanya di awal saja, nak," ucap Sofia lembut. Suaranya penuh kesabaran, seperti seseorang yang sudah lama memahami luka yang tak terlihat. "Tante mohon, jangan bersedih karena itu. Hati orang kadang butuh waktu untuk belajar membuka diri. Kalau saat-saat sulit itu datang, kamu tidak akan menghadapinya sendirian. Tante janji… aku dan Xander akan ada untukmu. Biarlah itu menjadi tanggung jawab kami juga." Setelah mengatakan itu, Sofia menunduk sebentar, menatap lantai. Napasnya terdengar sedikit lebih berat, seolah ada kenangan lama yang diam-diam ikut berbicara dalam hatinya. "Kami berharap kau selalu bersabar menghadapi setiap sikapnya dan tetap bertahan di sisinya, bahkan di masa-masa tersulitnya." Tangan kanan Sofia mengusap punggung Mira dengan lembut. Mira tersenyum menatapnya. Walau sejujurnya, sulit baginya untuk meyakini semua yang Sofia katakan. Terlebih, mereka sama-sama tahu bahwa ia dan Matteo tidak memiliki perasaan apa pun yang bisa mengikat hubungan mereka dengan kehangatan seperti yang diinginkan setiap orang. Mira hanya berharap sesuatu yang baik akan terjadi dalam hidupnya, meski ia sendiri tak sepenuhnya yakin akan harapan itu. Ia memilih pasrah pada takdirnya dan membiarkan segalanya berjalan sesuai rencana Sang Pencipta. di balik keheningan ini, ada kekuatan yang perlahan menumbuhkan keikhlasan di hatinya. "Nak, tolong jaga kalung ini baik-baik. Jangan sampai hilang. Dan satu hal lagi… hanya kamu yang boleh memakainya, tanpa terkecuali," ujar Sofia pelan, namun penuh penekanan, seakan setiap kata adalah titipan yang tak boleh diabaikan. Mira mengangguk pelan. "Iya, Tante," jawabnya lirih. Ujung jemarinya kembali terangkat menyentuh liontin biru yang kini terbaring hangat di kulitnya. Sentuhan itu terasa berbeda bukan sekadar menyentuh perhiasan, melainkan Ada rasa asing yang perlahan tumbuh di dadanya, campuran antara tanggung jawab, harapan, dan takdir yang mulai menampakkan jejaknya. ** Malam itu kian larut, seolah menahannya untuk tetap tinggal. Mira pun tak punya pilihan selain bermalam di sana. Tentu saja, ia terlebih dahulu meminta izin kepada ayahnya. Setelah mendapatkan izin, barulah ia merasa tenang untuk bermalam di Mansion Vittale. Kedua indera penglihatannya terasa berat, tanda rasa kantuk dan lelah telah mencapai batasnya. Namun anehnya, justru tubuhnya diliputi kegelisahan yang membuat Mira tak kunjung bisa terlelap malam ini. Gadis itu menatap langit-langit kamar, sesekali memijat pelipisnya dengan perlahan, berharap matanya luluh dan bersedia terpejam, meski pikirannya masih enggan untuk benar-benar beristirahat. Mira telah mencoba berbagai trik yang ia temukan di internet agar bisa tertidur, namun satu pun tak membuahkan hasil hingga malam kian semakin larut. Berdiam diri di atas ranjang justru membuatnya semakin lelah dan diliputi rasa bosan. Pada akhirnya, Mira memutuskan bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju balkon kamarnya, berniat menenangkan diri dengan memandang cahaya rembulan yang menggantung di langit malam. Langkah kakinya berhenti di teras kamar. Kini tubuhnya berdiri tepat di bawah sinar rembulan yang nyaris membulat sempurna. Sepasang mata indah itu terpukau oleh cahaya terang yang setia menerangi malam, menghadirkan ketenangan yang perlahan merayap ke dalam hatinya. Senyum tipis yang terukir di bibir Mira tak luput dari perhatian seorang pria yang sejak tadi memandanginya, seolah gadis itu adalah bintang paling terang di langit malam. Matteo memadamkan sisa rokoknya yang belum sepenuhnya habis, lalu meletakkannya di asbak di atas meja. Setelah itu, pandangannya kembali tertuju pada Mira, dan tak beranjak sedikit pun. Pandangan pria itu belum juga teralihkan dari wajah Mira yang masih larut menikmati cahaya rembulan. Tanpa sengaja, sepasang mata mereka bertemu, seketika menghadirkan kecanggungan di antara dua calon pasangan suami istri itu. Kedua pupil mata Mira membesar saat menyadari keberadaan Matteo yang ternyata berada di beranda kamar sebelah. Merasa ketahuan, Matteo berpura-pura mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah tak ingin memberi kesan bahwa gadis itu terlalu percaya diri karena diperhatikannya. Padahal, sejak tadi, perhatian Matteo jauh lebih tertambat pada calon istrinya dibandingkan pada indahnya cahaya rembulan yang menghiasi langit malam. Sekali lagi, tak ada interaksi yang terjalin di antara mereka. Mira, yang tak ingin memulai percakapan lebih dulu, memilih diam dan bertahan pada pendiriannya. Sementara Matteo, dengan sikap dingin dan kaku serta gengsi setinggi gunung Everest, justru membiarkan egonya menguasai keadaan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu berbalik dan masuk ke dalam kamar lebih dulu, meninggalkan Mira yang diam-diam berharap ada sedikit saja interaksi di antara mereka malam ini. "dingin sekali dia," gumam Mira pelan, suaranya nyaris tak terdengar, hanya untuk dirinya sendiri. Udara malam yang semakin dingin membuatnya tak sanggup berlama-lama di beranda. Mira pun memilih kembali masuk ke dalam kamarnya, membawa serta perasaan kesal yang perlahan bercampur dengan kelelahan. ..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN