***
Akhirnya Mira menyajikan roti panggang itu di atas piring, lalu meletakkannya perlahan di meja makan.
"Makanlah," ucapnya singkat.
Setelah itu ia berbalik membawa sepiring roti lain sambil menahan detak jantungnya. Jack menatap Mira sejenak sebelum akhirnya suaranya terdengar, sedikit ragu.
"Kau… tidak akan makan di sini?" Nadanya rendah, seolah menimbang keberanian terakhir yang tersisa dalam dirinya.
"Maksudku…" suaranya pelan, hampir seperti bisikan, "makan bersamaku."
Sebelum ia sempat berkata lebih, Mira sudah menggeleng perlahan. "Aku akan makan di kamarku," jawabnya lembut, tapi tegas. Matanya menatap lurus ke depan, tidak memberi ruang bagi Jack untuk menawar.
Jack terdiam, d4danya berdebar tak menentu. Kebingungan merayap pelan, beradu dengan keinginan yang tak pernah sempat ia ucapkan. Di satu sisi, ia ingin menghormati jarak yang Mira ciptakan, namun di sisi lain, hatinya memaksa ingin menahan gadis itu, menghabiskan waktu lebih lama, sekadar berbincang, menapaki keakraban yang dulu pernah mereka miliki.
"Apa benar kau akan menikah?" Suaranya lirih, nyaris bergetar, tapi ia memaksa diri untuk terdengar tegas.
Langkah Mira seketika terhenti. Mata mereka bertemu sekejap yang terasa menahan napas. Pertanyaan itu menembus dinding hati yang selama ini ia bangun. Dalam diam, jauh di lubuk hatinya, ia berharap tak pernah mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Jack.
Tubuhnya terasa kaku, tapi hatinya bergetar, menyadari kenyataan yang tak pernah ia ingin hadapi.
"Iya… itu benar, aku akan menikah," jawab Mira akhirnya. Suaranya tenang, tanpa ragu, meski d4danya terasa ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Jack menatapnya lama, mata mereka seakan saling menimbang, mencari celah untuk bernapas di antara jarak yang terasa menyesakkan. "Sejak kapan…?" ucap Jack, suaranya tertahan, napasnya tercekat.
Ia menunduk sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah, "Maksudku sudah berapa lama kalian bersama, sampai kamu yakin ingin menikah dengannya?"
Pertanyaan itu jatuh di udara, bukan sekadar ingin tahu, tapi jeritan sunyi yang menumpuk di d4danya kegelisahan yang ingin ia lepaskan, mencari jawaban di mata Mira. Perempuan itu menatapnya balik, tubuhnya membeku sesaat, merasakan kenyataan yang selama ini ia hindari, sedangkan detik-detik itu terasa begitu lambat, begitu menekan.
"Aku… sedang tidak ingin membicarakan hal ini, Jack..." jawab Mira pelan, matanya menunduk, bahunya sedikit menegang.
Bukan karena ia tak punya penjelasan, melainkan karena hatinya tak sanggup mengucapkannya. Lidahnya kelu, dan dadanya sesak. Ia tak ingin meluk4i Jack... atau dirinya sendiri yang sudah berusaha mengikhlaskan semuanya.
Jack mengangguk pelan, menatapnya penuh pengertian. "Baiklah… maafkan aku. Lagipula, lancang sekali aku bertanya soal kehidupan orang lain," ucapnya.
Diam mereka terasa berat, namun sunyi itu membawa pemahaman yang tak perlu kata-kata.
Perempuan itu segera kembali ke kamarnya. Rasa lapar yang sebelumnya menggerogoti kini lenyap, tergantikan oleh perut yang perih karena sesak yang tak bernama. Ia hanya ingin diam, membiarkan kesunyian membungkusnya.
Putus asa membalut setiap langkahnya. Perasaan yang mengendap itu tak mampu terucap, seolah setiap kata hanya akan memperdalam luka yang sudah ada.
Langkah Mira terhenti di beranda kamarnya, dan di sana, ingatan itu menyeruak.
Delapan tahun lalu… awal mula pertemuannya dengan Jack Decuis. Saat itu, Mira masih berusia delapan belas tahun. Jack, seorang pria yang memikul luka sendirian, begitu membutuhkan tempat untuk bersandar dan tanpa sadar, Mira pernah menjadi rumahnya. Tempat ia menemukan alasan untuk sembuh.
Kini, semua itu hanya tersisa sebagai bayangan, rapuh, tak lagi bisa digenggam, namun tetap meninggalkan jejak yang begitu dalam di hatinya.
***
Delapan tahun yang lalu...
Langkah Mira terhenti sesaat begitu kakinya menyentuh lantai aula yang terbuka menghadap laut. Gaun tipis berwarna biru pucat yang ia kenakan bergerak pelan mengikuti hembusan angin pantai, menyapu kulitnya dengan dingin yang menenangkan.
Di kejauhan, ombak bergulung perlahan, memecah sunyi dengan irama yang terasa seperti doa. Matanya menyapu sekitar deretan kursi berbalut kain putih, bunga prony dan lili tertata sederhana namun anggun, cahaya matahari senja yang jatuh keemasan, memantul di permukaan laut.
Semuanya tampak begitu sempurna. Terlalu sempurna, hingga d4danya terasa sesak tanpa alasan yang jelas. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, membawa aroma asin laut dan kebahagiaan, seakan alam pun turut merayakan bersatunya Merlin dan Robert saat itu.
Mira menarik napas pelan. Di tengah kebahagiaan yang sedang dirayakan, hatinya justru dipenuhi perasaan asing antara haru, rindu, dan sesuatu yang belum sepenuhnya ia mengerti.
Pantai California yang luas dan indah itu seolah menjadi saksi bisu, bahwa tak semua senyum yang terlukis mampu menjelaskan isi hatinya. Saat seluruh tamu masih menahan napas, menantikan kemunculan sang pengantin wanita yang akan melangkah di atas altar, pandangan Mira justru terpaku pada satu sosok di kejauhan.
Seorang pria duduk sendiri di barisan kursi paling belakang. Ia tampak tenang, terlalu tenang seolah keramaian dan kebahagiaan di sekitarnya tak pernah benar-benar menyentuhnya.
Ada jarak yang tak kasatmata di sekeliling pria itu, seakan orang-orang tanpa sadar memilih untuk tidak terlalu dekat dengannya. Keberadaannya sunyi, namun justru mencolok, seperti bayangan yang berdiri sendiri di bawah cahaya senja.
Hati Mira bergetar tanpa alasan yang pasti. Di tengah riuh penantian dan senyum para tamu, sosok pria itu menghadirkan keheningan yang entah mengapa terasa begitu berat di d4danya.
"Siapa pria itu?" bisik Mira pelan, bertanya pada seorang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh darinya salah satu keluarga dari pihak pengantin Robert.
Wanita itu menoleh, sorot matanya sejenak berubah. "Maksudmu… Jack?" tanyanya, seolah nama itu sendiri menyimpan beban. "Jack adalah putra satu-satunya Robert dari istri pertamanya," lanjutnya lirih, suaranya merendah seakan tak ingin didengar siapa pun. "Jika aku boleh berpesan, sebaiknya kamu menjaga jarak darinya."
Wanita itu menghela napas singkat.
"Aku sempat yakin dia tak akan datang ke pernikahan ayahnya. Namun entah bagaimana seperti sebuah keajaiban yang tak terduga hari ini ia ada di sini."
Kata-kata itu menggantung di udara, meninggalkan getar yang dingin di hati Mira. Seolah kehadiran pria bernama Jack itu bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang diam-diam sedang mengetuk perasaannya.
"Tapi nona… mengapa kau mengatakan hal seperti itu?" tanya Mira pelan. Ada keraguan di suaranya. "Maksudku, dari penampilannya, dia tampak seperti orang baik. Tenang… dan sedikit pendiam."
Wanita asing itu menghela napas panjang, sorot matanya mengeras. "Ah, justru pandangan seperti itulah yang sering menipu kalian, anak-anak muda," ujarnya lirih namun tegas. "Jangan pernah sepenuhnya percaya pada ketenangan yang tampak di luar. Kadang, di balik wajah tenang, tersembunyi badai yang paling berbahaya."
Ia mendekat sedikit, menurunkan suaranya. "Selama ini, anak itu telah dicap gila oleh banyak orang. Sejak kedua orang tuanya berpisah, dan ibunya memilih kehidupan baru dengan pria lain, hidupnya mulai runtuh perlahan. Sejak saat itu, Jack terseret ke pergaulan yang salah, dan mencoba hal-hal yang seharusnya tak pernah ia sentuh."
Wanita itu terdiam sejenak, matanya menatap kosong seolah menimbang setiap kata yang akan keluar. "0bat-ob4t4n t3rl4rãng…, minuman k3râs… semua itu menjadi pelariannya dari kenyataan. Hari demi hari ia tenggelam dalam kesedihan, hingga orang-orang pun menjauh, seakan luka dan keh4ncurãnnya bisa menular."
Tatapannya kembali tertuju pada Mira, kali ini lebih lembut namun sarat peringatan. "Karena itu, aku memintamu agar berhati-hatilah padanya, Nak. Tidak semua yang terlihat tenang benar-benar aman untuk di dekati."
Kata-kata wanita itu masih menggantung di udara, namun hati Mira justru menolaknya perlahan. Ada sesuatu di d4danya yang berdenyut tidak setuju bukan karena keras kepala, melainkan karena kenangan yang tak bisa ia sangkal.
Mira kembali menoleh ke arah pria di barisan belakang itu. Jack masih duduk di tempat yang sama, tenang dalam kesendiriannya. Tak ada kegilãan yang ia lihat, tak ada kegaduhan seperti yang diceritakan. Yang ia tangkap hanyalah kesunyian yang terlalu dalam, seperti seseorang yang telah terlalu lama belajar berdamai dengan lukãnya sendiri.
Jika benar ia seburuk itu, batin Mira, mengapa matanya menyimpan kesedihan yang begitu jujur? Lirihnya. Hatinya bergetar. Cerita tentang kehancuran, 0bãt-0b4t4n, dan penolakan dunia terasa asing dibandingkan sosok yang kini tertangkap oleh pandangannya.
Bagi Mira, pria itu bukanlah bahaya melainkan seseorang yang pernah kehilangan arah, dan mungkin tak pernah benar-benar menemukan tangan yang mau menariknya kembali.
Di tengah riuh pernikahan dan bisik-bisik penilaian, Mira menyadari satu hal yang membuat napasnya terasa berat terkadang, dunia terlalu cepat memberi cap, tanpa pernah ingin memahami bagaimana seseorang jatuh… dan seberapa keras ia berusaha untuk bangkit.
Tak ingin membiarkan pikirannya terjerat terlalu lama, Mira perlahan mengalihkan pandangan tepat saat Merlin mulai melangkah menyusuri altar. Setiap langkah itu terasa sakral, diiringi cahaya dan doa yang menggantung di udara.
Tanpa ia sadari, senyum haru merekah di wajahnya, beriring dengan setitik air mata yang meluncur pelan. Mira tak pernah menyangka, bibinya yang dulu ia kenal dalam cerita dan kenangan, kini berdiri di hadapannya memilih cinta, dan bersiap membangun kehidupan bersama pria yang dicintainya.
Damien, yang sejak tadi mengamati putrinya, meraih bahu Mira dan merangkulnya dengan hangat. Dalam pelukan itu juga, Mira merasa sedikit lebih kuat. "Ayah akan selalu ada di sisimu, Nak,Tak perlu menyembunyikan air matamu. Tapi jangan biarkan kesedihan tinggal terlalu lama di hatimu. Mengerti?" Ucapnya penuh keteguhan.
Mira mengangguk pelan, "Iya, Ayah… aku hanya merasa terlalu bahagia," ucap Mira pelan. Suaranya bergetar, sementara air mata telah membasahi pipinya. "Setelah melihat Bibi Merlin akhirnya menikah… rasanya seperti harus merelakannya pergi, menjauh dari kita."
Damien menatap putrinya dengan penuh pengertian, lalu mengusap bahunya perlahan. "Ayah mengerti, Nak," ucapnya lembut. "Kadang, kebahagiaan memang datang bersama perpisahan. Dan itu tidak apa-apa." Ucap Damien lembut.
Acara pernikahan Merlin dan Robert berlangsung dengan begitu meriah. Tawa dan kebahagiaan menyatu di antara para tamu yang menikmati setiap kemewahan dan keanggunan pesta yang digelar di tepian pantai itu.
Setiap momen manis terbingkai sempurna dari senyum pengantin, iringan musik lembut, hingga cahaya senja yang perlahan menutup hari, seolah laut dan langit pun turut merayakan kisah cinta mereka.
***