***
Tenggorokan Mira tiba-tiba terasa kering, rasa haus menyelinap di tengah riuh pesta. Ia pun melangkah menuju meja jamuan, mencari segelas air kelapa yang terasa paling selaras dengan suasana perayaan di tepian pantai itu.
Namun langkahnya terhenti mendadak. Ia dikejutkan oleh sosok Jack yang duduk sendirian di balik bawah meja. Pria itu tampak berantakan, seolah tak lagi peduli pada kerapian dirinya. Setelan jas yang masih melekat di tubuhnya ternöda pasir putih tempat ia duduk, kontras dengan kemewahan pesta di sekelilingnya.
Di tengah keramaian penuh tawa dan cahaya, kehadiran Jack menebar keheningan yang ganjil. Mira menatapnya m4buk, meneguk minum4n k3rãs dengan gerakan lambat, pasrah.
Setiap gerakannya seakan menegaskan batas tipis antara dirinya dan kehãncuran yang ia undang sendiri. Sepasang mata biru itu tampak memerah. Tak ada kilau, tak ada kehidupan. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang pekat, seperti laut gelap tanpa dasar.
Dalam tatapan itu, Mira tak menemukan kemarahan atau perlawanan hanya keputus4sãan yang telah terlalu lama menetap.
Perlahan, sorot mata yang layu itu beralih, menangkap keberadaan Mira yang sejak tadi memperhatikannya. Namun Jack tak menunjukkan reaksi apa pun. Ia kembali menenggelamkan dirinya dalam sunyi, seolah kehadiran gadis itu tak lebih dari bayangan yang lewat.
Tak ingin berlama-lama menyaksikan pemandangan itu, Mira memilih untuk pergi. Ia melangkah menjauh, namun langkahnya mendadak terhenti. Ada rasa perih yang tiba-tiba menyesak di d4danya, campuran iba dan kep3dihan yang tak mampu ia tepis begitu saja.
"Kenapa aku mempedulikannya...? sepertinya aku harus menoleh lagi..." Lirinya
Suaranya gemetar, nyaris hilang di antara hembusan napas yang berat, sementara hatinya terasa menariknya kembali, ke arah yang ingin ia tinggalkan.
perempuan itu akhirnya menyadari, ia telah terjerat oleh rasa iba yang tak mampu ia lawan. Perasaan itu mengikat langkahnya, menahan kepergiannya, hingga ia tak lagi memiliki pilihan selain berbalik kembali menghampiri pria asing yang masih duduk sendiri di balik meja itu, tenggelam dalam sunyinya sendiri.
Jack yang masih terhanyut dalam dunia imajinasinya kembali menyadari sebuah kehadiran. Ada getaran asing di udara, cukup untuk menariknya kembali. Mata yang layu itu terangkat, lalu bertemu dengan Mira yang berdiri tepat di hadapannya.
Tak ada sepatah kata pun yang terucap. Keduanya membisu, seolah bahasa tak lagi diperlukan. Di antara mereka, hanya alunan musik pesta yang mengalir lembut namun terasa jauh menjadi satu-satunya saksi dari pertemuan sunyi yang sarat makna.
"Nona, Berhenti menatapku seperti itu," lirih Jack. Sebuah senyum tipis lolos dari bibirnya senyum yang rapuh. Kedua matanya tampak sangat layu, berat seolah menahan kantuk panjang yang tak pernah benar-benar pergi.
Mira tetap diam, tak bergeming dari tempatnya berdiri. Pria itu terlihat seperti seseorang yang tersesat dalam kegelapan dirinya sendiri, tapi Mira tak merasakan sedikit pun rasa takut. Yang ia tangkap justru sebaliknya ketidakberdayaan yang tel4nj4ng,
Sebuah jiwa yang kelelahan, nyaris menyerah pada dirinya sendiri seakan seluruh dunia telah menutup mata padanya, kecuali tatapan Mira yang tenang.
"Mengapa kau terlihat begitu bahagia melakukan sesuatu yang perlahan menghancurkan dirimu sendiri...?" Suaranya nyaris patah. D4danya sesak, seakan setiap kata yang keluar menarik hatinya sendiri.
Jack menanggapinya dengan sebuah senyuman miring senyum yang tak pernah benar-benar sampai ke matanya.
"Apa yang sebenarnya kau tahu tentang diriku, hm?" ucapnya tajam, suaranya mengandung tawa kosong yang pahit.
"Jangan buang waktumu meladeni pria asing sepertiku, Nona," lanjutnya dingin. "Pergilah. Nikmati pestanya. Hari seperti ini terlalu indah untuk disia-siakan berpesta, tertawa, menari… apa pun yang kau suka." Ucapannya diakhiri tawa kecil yang samar.
Tanpa memedulikan perempuan itu, Jack kembali meneguk minumän dari botolnya. Bagi Jack, dunia di hadapannya tak lebih dari gangguan kecil yang tak pantas menyita perhatiannya.
Perlahan, kendali Jack lenyap sepenuhnya. Matanya meredup, sementara dunia di sekelilingnya berubah menjadi kabut yang berputar. Suara-suara memudar, cahaya perlahan menghilang, hingga kesadarannya runtuh tanpa sempat ia pertahankan.
Perempuan di sisinya tersentak, napasnya tercekat. Dengan kepanikan yang tertahan, ia menoleh cepat dan memanggil beberapa orang di dekatnya. Tubuh Jack terlihat rapuh, seolah bisa ambruk kapan saja, hingga mereka bergegas menopangnya dan membawanya masuk ke dalam hotel.
Di kejauhan, tawa dan musik pesta tiba-tiba terdengar sumbang, merusak harmoni malam itu. Beberapa tamu menoleh, sementara bisik-bisik pelan mulai menyusup di antara gemerlap cahaya dan denting gelas kristal.
Kehangatan pesta itu mendadak retak oleh kegelisahan yang tak diundang. Robert sontak tertegun saat menyadari apa yang terjadi.
Wajahnya memucat ketika menatap putranya, dãdanya dipenuhi kekhawatiran yang menyesakkan.
Pemandangan itu seakan merobek kebahagiaan di hari yang seharusnya ia rayakan.
***
"Mira, katakan padaku… apa yang kau lakukan di sekitar pria itu?!" Suara Gavin meninggi, bergetar oleh amarah yang akhirnya tak lagi mampu ia tahan.
Mira tersentak mendengar bentakan Gavin. Untuk sesaat ia hanya terdiam, seolah kata-kata pria itu menahannya di tempat.
Gavin menghela napas berat, dädanya naik turun menahan gejolak emosinya.
"Dia pria asing yang bahkan tidak kamu kenal! Dia sudah kehilangan akal sehatnya. Apa kamu tidak melihat itu? Bahkan ayahnya sendiri memilih menjaga jarak darinya... lalu siapa kau, sampai merasa mampu menyelamatkan seseorang yang tenggelam dalam kemalangannya sendiri?"
Tatapannya menajam, dipenuhi ketakutan dan kecemasan yang nyaris tak lagi bisa ia kendalikan.
"Bagaimana jika dia… meluk4imu? Pernahkah kamu berpikir bagaimana hancurnya perasaan Ayah dan aku… jika sesuatu yang buruk menimpamu?"
Amarahnya bergelora, tapi bukan sekadar kemarahan.
Di balik nada tinggi dan kata-kata keras, tersimpan ketakutan terdalam seorang kakak kehilangan satu-satunya adik perempuan yang ia lindungi dengan segenap hidupnya. Napasnya tersengal, dan setiap tatapannya menegaskan betapa rapuhnya hati yang melindungi orang yang disayanginya.
Mengingat kondisi Jack yang telah m4buk, dan dikuasai minum4n k3r4s hingga nyaris kehilangan kendali atas akal sehatnya, kekhawatiran Gavin membuncah, menyingkap begitu banyak risiko dari tindakan Mira. Bayangan kemungkinan terburuk menghantui benaknya tanpa ampun.
"Jangan pernah mendekatinya lagi, Aku... bahkan Ayah tidak akan membiarkanmu melakukan hal seb0d0h dan seberb4h4ya itu untuk kedua kalinya." Ucapan Gavin penuh tekanan.
Kalimat itu jatuh sebagai peringatan mutlak, tak terbantahkan. Di balik ketegasannya, tersimpan ketakutan seorang kakak yang hanya ingin memastikan adiknya tetap aman, apa pun harganya.
Sejak tadi, Mira hanya menundukkan kepala di hadapan kakak laki-lakinya. Ia mengangguk pelan, memahami sepenuhnya makna peringatan yang ditegaskan Gavin.
Mira tahu betul bahwa kakak dan ayahnya hidup dalam kekhawatiran akan dirinya. Karena itu, amarah Gavin terasa pantas bahkan layak ia terima.
"Segera kembali ke kamarmu, Jangan pergi ke mana pun." Mira tak membantah. Ia hanya mengangguk, menyimpan segala perasaan yang berdesäkan di dãdanya, lalu pelan-pelan berbalik, meninggalkan keramaian yang kini terasa asing baginya.
"Awasi Mira, Pastikan dia tidak keluar dari kamarnya." pinta Gavin pada salah seorang pengawalnya. Pengawal itu segera mengangguk patuh, lalu melangkah mengikuti Mira hingga bayangannya menghilang di kejahuan.
Mira pergi, dan Gavin memandang ayahnya yang perlahan melangkah mendekat. Napasnya berat, jantungnya masih berdebar, tapi ia menata kembali perasaan yang bergelora, lalu menyunggingkan senyum tipis ke ayahnya seolah malam yang penuh ketegangan itu tak pernah terjadi.
"Ini sudah larut, sebaiknya Ayah beristirahat di kamar," ucap Gavin dengan nada setenang mungkin, menyembunyikan kegelisahannya.
"Seharian berada di pesta pasti membuat ayah lelah."
Tangan kanan Damien mendarat pelan di bahu putranya. Ia menatap Gavin dengan sorot mata penuh pengertian.
"Nak, Ayah tahu betul kamu sangat mengkhawatirkan adikmu Mira. Namun jangan terlalu keras padanya. Selama ini, Mira bukanlah adik yang membangkang atau suka melawanmu. Ia selalu mendengarkan setiap nasihatmu, selalu berusaha patuh. Di usianya yang masih labil, Mira lebih membutuhkan kelembutan daripada amarah. Hadapilah adikmu dengan tenang Ayah percaya, cara itu akan jauh lebih mampu menyentuh hatinya."
Tak ada emosi berlebihan di wajah Damien. Hanya keteguhan seorang ayah yang sungguh-sungguh berharap, agar cinta dan pengertian tetap menjadi bahasa utama di antara mereka.
"Baik, Ayah. Lain kali aku akan menghadapinya dengan lebih lembut," ucap Gavin mantap. Tak ada penolakan dalam suaranya, karena ia tahu apa yang disampaikan Damien sepenuhnya benar.
Mira masih rapuh, masih membutuhkan pengawasan dan perhatian mereka. Dan untuk menjaganya, amarah yang meledak-ledak bukanlah jawaban. Yang ia perlukan adalah ketenangan, kesabaran, serta keseriusan yang lahir dari rasa sayang dan tanggung jawab.
***
Mira tersentak dari lamunan panjangnya saat panas sinar matahari menyentuh kulitnya, bersih dan hangat di tengah langit biru yang luas.
Ia melangkah masuk ke kamar mandi, air menetes di tubuhnya seolah ikut membersihkan kepenatan dan beban yang menumpuk di d4danya.
Setelah rutinitasnya selesai, wajahnya kini memancarkan cahaya, lebih berbinar dan bahagia seakan matahari pagi tak hanya menyinari tubuhnya, tapi juga hatinya.
Mira menuruni tangga menuju ruang makan dengan langkah tenang. Ia sengaja datang lebih siang, memilih menghindari sarapan bersama karena pria bermata biru itu.
Dari kejauhan, suara ayahnya terdengar bersama dua tamu yang baru tiba dari Amerika. Tawa ringan dan percakapan bisnis bercampur, mengalun tenang di udara.
Tak ingin mengganggu keseruan percakapan mereka, Mira mengurungkan niat untuk menyapa. Ia hanya menoleh sekilas, lalu melangkah lurus menuju ruang makan.
Dari sofa mata biru Jack menangkap sosok itu tanpa bisa dicegah. Tatapannya mengikuti setiap langkah Mira, diam-diam, terlalu jujur untuk disembunyikan. Ia tahu betul hatinya tak pernah pandai berdusta, terutama ketika gadis itu ada di hadapannya.
Sarapan yang telah bergeser mendekati siang itu berjalan setenang doa yang tak terucap. Tanpa gangguan, tanpa percakapan yang memaksa, ia menikmati tiap detiknya hingga usai.
Saat hendak kembali ke kamarnya, perempuan itu tak punya pilihan selain melewati ruang tamu tempat tiga pria itu masih larut dalam perbincangan mereka. Langkah Mira sempat melambat, senyum tipis tersungging saat ia melirik ayahnya dan Robert.
Damien sempat membiarkan putrinya menapaki tangga, hingga ingatannya terseret kembali pada undangan dari Xander. Pesan penting itu disampaikan langsung oleh ajudan kepercayaannya pagi tadi.
***