Malam kian larut, seolah waktu sendiri ikut menundukkan kepala pada peristiwa yang baru saja terjadi. Satu per satu tamu berpamitan, meninggalkan jejak langkah yang perlahan menghilang di lantai marmer. Musik yang tadi megah kini hanya tersisa sebagai bisikan lembut di udara nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menjaga suasana tetap hidup. Di sudut ballroom yang mulai lengang, keluarga Roseti masih berdiri mengelilingi Mira. Damien menatap putrinya lama. Bukan lagi tatapan seorang ayah yang melihat gadis kecil yang dulu menggenggam jarinya saat takut pada gelap. Tatapan itu berubah lebih dalam, lebih tenang… seolah sedang merelakan sesuatu yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hidupnya. "Sekarang sudah waktunya, nak," ucapnya pelan, hampir tenggelam dalam sunyi. Mira mengangguk.
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


