Malam pertama Shanum tak seperti bayangan pernikahan orang-orang yang sebagaimana mestinya.
Peluh yang keluar ditubuh Shanum bukan peluh yang biasanya dikeluarkan oleh orang yang tengah b******a. Melainkan karena dia lelah membersihkan rumah dua lantai yang macam kaya kapal pecah.
Dan kini pagi harinya, bukan secangkir kopi dan satu piring sarapan yang ia siapkan untuk suami yang tengah menunggu di meja makan sembari tersenyum bahagia memandangi wajahnya.
Tapi hanya sewajan nasi goreng udang kesukaannya. Yang ia masak sendiri, nantipun akan ia makan sendiri.
Sungguh bukan ini pernikahan yang Shanum inginkan, tapi takdir telah menggariskan ini semua untuk gadis berusia 22tahun itu.
Kini hanya rapalan doa dan dzikir sebagi penguatnya. Tak terasa airmatanya meleleh membasahi pipi.
Seketika dia menyeka air mata itu, saat sebuah panggilan masuk dari adik tercintanya.
"Assallamualaikum," ucap Shanum dari balik telfon, dengan suara ceria. Dia tak mau jika keluarganya tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Waallaikumsallam, kakak sudah sarapan?" tanya Shaka memastikan kalau kakaknya jangan telat makan.
"Alhamdulillah udah dek, kamu gimana? ibu dan bapak?"
"Ibu dan bapak di rumah, ini Shaka di tempat kerja," jawabnya. Ya, Shaka sudah bekerja sebagai pelatih bela diri untu anak seusia SD. Gaji yang ia dapat lumayan, tak seperti anak muda kebanyakan. Shaka tak pernah menghamburkan uangnya begitu saja. Tapi dia berikan pada ibunya, dan disisihkan untuk tabungannya.
"Gimana suami ka Shanum? apa dia menyakiti kakak? kakak jangan menutupi kalau dia melakukan sesuatu pada kakak," sebenarnya ini tujuan Shaka, menanyakan tentang Laka.
"Dia nggak ngelakuin apa-apa ko de," ucap Shanum dengan tertawa, agar adiknya itu tak khawatir. "Ini tadi abis sarapan bareng," tambah Shanum berbohong.
maafin kakak, Shaka. Kakak terpaksa berbohong.
Setelah memastikan kakaknya baik-baik saja. Shakapun menutup telfonnya.
Shanum menghela nafas panjang, tak sadar dia telah banyak berbohong kepada orang-orang yang ia sayang.
Tapi Semua ini ia lakukan demi mereka, tapi Shanum bukan anak yang gampang menyerah begitu saja.
Anak yang ia kandung ini, tak bisa memilih dari keluarga seperti apa dia dilahirkan. Tapi Shanum akan berusaha untuk membahagiakan anak dalam kandungannya ini.
--
"Ah, Num ... ah ...."
"Pe-pelan Num. Ahhhhh,"
Yuta dan Lucas saling pandang satu sama lain, ketika melihat Laka yang tengah tertidur sambil mengigau yang bikin ambigu. Padahal ini udah pagi.
"Wah ni anak mimpi enyak-enyak kayanya Yut,"
"Ambil air segalon Cas,"
"Buset, mubazir ege. Segayung aja ya?"
"Yaudah iya-iya, cepetan!"
Lucaspun menuju kamar mandi, mencari keberadaan gayung yang tak pernah ada di Apartemen itu.
"Yut, gayungnya nggak ada?"
"Yaelah sejak kapan lue beli gayung? kita aja mandi pake Shower. Ya gelas atau apa ke," gerutu Yuta kezel.
Lucaspun berlari, lalu kembali dengan satu gelas air ditangannya.
"Num, faster num ...," si Laka masih saja meracau.
"Nam-num, nam-num. Nih minum!" Yuta mengguyur satu gelas air ke wajah Laka.
Byurrrrr.
"Banjir, banjir ...," Laka berdiri, lari kesembarang arah. "Yut, Cas, banjir. Ko lue diem aja si, kaya orang-orangan sawah lue pada. Ayo naik atap b*go!"
"Lue yang b*go. Ni, banjir!" Yuta memperlihatkan gelas bekas guyuran air..
Laka mengucek matanya berulangkali, "Sial lue Yut, nyiram gue! Emang gue Novel."
"Njir, itu mah yang disiram air keras." celetuk Lucas, "lue pengen gue siram pake itu, biar nggak ah-eh, ah-eh mulu. Num faster-faster. Mimpi basah lue ya?" Lucas cengar-cengir sembari menutup mulutnya. Geli.
"Tauluh, mimpi malam pertama lue ya?" timpal Yuta, "Num siapa? kayanya nggak ada deh sejarahnya pacar lue namanya ada num-num nya?"
Anjir ngapa gue bisa mimpi begituan sama Shanum si cewe misquien itu si? malu gue kalau sampe nih dua orang tau.
"Apaan si, gue tuh lagi mimpi mau minum. Makanya gue bilang Num-num," elak Laka.
Dua orang ini tentu tak percaya dengan bualan sahabatnya itu.
"Eh bambang, sejak kapan orang mau minum ada suara 'Ahhhhhhhh-ehhhhh' " Yuta mempraktekan dengan suara sexy.
"Tambah lagi gini Yut ...," Kali ini Lucas mempraktikan bibirnya yang monyong kaya mau nyosor. "Udahlah nggak usah bohong lue, ama siapa? cantik nggak didalam mimpi?" alis Lucas naik turun.
"Udahlah, gue mau balik!" Laka berdiri menuju kamarmandi,
"Widih mentang-mentang ada sang isteri jadi betah di rumah nih?"
Byurrrrr, kini giliran Lucas yang kena siraman Laka.
"k*****t lue, dasar otak m***m!" umpat Lucas kesal.
"Kaya lue nggak aja!" Yuta melempar handuk kemuka Lucas.
---
Sesampainya di rumah, Laka yang menyusuri ruang tengah mencium aroma masakan yang sangat sedap.
"Bi Jum udah balik kali ya? kebetulan gue laper banget nih. Capek juga ya ternyata mimpi basah awokawok," celotehnya seorang diri.
Saat sampai di dapur, Laka melihat sosok berambut panjang yang sedang menghadap kompor. Tentunya bukan setan, melainkan Shanum.
wah berati si bi Jum belom balik, yang masak si cwe misquein rupanya.
"Ekhm ... ekhm ... ekhm," Laka berdehem berharap Shanum peka dan menyapanya terlebih dahulu.
Tapi tak seperti yang Laka harapkan Shanum tetap fokus membolak-balikan spatulanya di atas wajan.
Tak mau menyerah, Laka kali ini pura-pura batuk berulang kali dengan suara kencang. Tapi Shanum tetap tak bergeming.
Buset, ni orang budeg kali ya? masa iya nggak denger si gue am em am em dari tadi.
Melihat nasi goreng udang buatannya sudah matang, Shanumpun menaruhnya di atas mangkok besar. Lalu dia meletakan di meja makan.
eh buset cuma geser badan doang, nggak liat ke arah gue.
"Eh, cwe misquien ...,"
Merasa bukan namanya yang Laka sebut, Shanum tetap diam. Dia sibuk, merapikan piring.
"Lue budeg ya? apa gue tak kasat mata?" Laka berjalan mendekati Shanum.
Apa ini arwah gue ya, makanya dia nggak liat. Coba gue cubit tangan gue.
"Awwww," pekik Laka. "Eh gue masih idup ya, ko lue nggak anggap gue ada si?!"
Shanum menarik nafas kasarnya, lalu menghadap ke arah Laka. "Aku punya nama, kalau kamu lupa namaku siap, Aku ingetin lagi yah. Namaku Shanum_Shanum Sabila. Jadi kalau kamu manggil bukan namaku, sampai mulutmu berbusa aku tak akan menengok." Tegas Shanum mempringatkan.
"Ah elah, repot banget lue."
Shanum diam tak memperdulikan, "Kalau mau makan dan doyan, silahkan dimakan." ucap Shanum.
"Ah ogah, mana ada yang tau kalau dimakanan itu ada racunnya atau tidak. Bisa saja kamu berniat membunuhku, karena sakit hati." Cetus Laka, sok drama.
Shanum tersenyum simpul, yang membuat Laka keki. "Jika aku berniat membunuh orang, aku tak perlu mengotori tanganku."
Laka kaget apa yang gadis itu ucapkan. Laka fikir Shanum orang pendiam yang bisa ditindas dengan gampangnya oleh dia. Tapi Laka salah, Shanum memang orang yang kalem, lembut. Tapi jika diamnya diinjak, dia akan angkat bicara.
"Maksud Lue, Lue bakal nyewa pembunuh bayaran gitu? yeee dipikir murah apa. Mana sanggup lue?!" sahut Laka sok bener.
Lagi-lagi Shanum tersenyum simpul, "Bukankah sudah banyak kasusnya, orang membunuh seseorang tanpa dibayar. Tapi salahsatu alasannya karena kesal melihat kelakuan si korban yang tengil, apalagi ditambah perilakunya yang suka merendahkan kaum miskin. Aku yakin diluaran sana banyak orang yang tak terima, dan mencari orang itu. Jika aku memberi tau kamu orangnya. Apa kamu yakin, dia tak akan melakukan sesuatu padamu? Terlalu bodoh, jika aku menaruh racun dimakanan ini. Orangtuamu tau kita tinggal berdua, tentunya jika kamu mati aku yang akan dituduh bukan? Jadi ... aku tegaskan sekali lagi, jika aku berniat MEMBUNUHMU, aku akan menggunakan cara lain. Mungkin kamu kebanyakan nonton sinetron yah? yang sarapannya di kasih racun?" Panjang lebar Shanum mengatakan, dengan nada santai tapi mampu membuat Laka keluar keringat dinginnya.
Glek, Laka menelan saliva berulang kali.
Sadis juga ini perempuan.
Shanum berlalu ke dalam kamarnya. Lalu kembali dengan membawa sebotol obat berukuran kecil.
"Nih minum," Shanum menyodorkan obat itu pada Laka. Lakapun meraihnya.
"Apaan ini? Laserin?" wajah laka cengo penuh tanda tanya.
"Ya itu obat batuk, bukankah dari tadi kamu batuk-batuk dan berdehem berulang kali? jangan lupa diminum sehari 3x."
bocah edan, dikira gue tadi batuk beneran? masa iya dia nggak paham? emang dia mau ngerjain gue pasti.
Lakapun naik ke kamarnya, sembari memegang perutnya.
Aduh laper banget gue aseli, mana di kulkas gue liat kaga ada apa-apa.
Lah malu ye kan kalau gue udah ngehina itu makanan ada racun, tau-tau gue makan. Mending gue mati kelaparan deh, eh tapi pan dosa gue masih banyak. Udah pasti gue masuk neraka nanti ya.
"Kasiani baim ya Allah," Laka melempar tubunya diatas kasur.
-
Tak tak tak .... terdengar suara sepatu berhak tinggi, di dalam rumah ini. Shanum yang sedang makanpun, berhenti sejenak untuk mengamati suara yang ia dengar.
Dan tak lama keluarlah sosok nenek lamfir, yang bukan lain Si Jeni. Wanita paruh baya dengan balutan busana mahal dipadukan dengan tas kremes dengan warna senada itu nampak hebring.
Shanumpun segera bangkit, lalu melangkah menghampiri Jeni untuk bersalaman.
Jeni yang melipat tangannya di depan d**a tak bergeming, justru dia malah menatap kesal Shanum.
"Ngapain si kamu? Saya nggak sudi yah bersentuhan sama perempuan yang sudah merusak masa depan anak Saya." tegasnya.
"Sebenarnya siapa yang merusak dan dirusak bu? apa memang orang yang dari kalangan seperti ibu ini, selalu menyalahkan korban?" Ucap Shanum pelan berusaha tetap sopan, walaupun kelakuan Si Jeni tak pantas untuk dihormati.
Mendengar ucapan Shanum, Jenipun mendelik, "Heh!" tunjuknya tepat diwajah Shanum. "Kamu nggak berhak yah buat mengucapkan sepatah kata di depan saya!" Memang kamu fikir kamu siapa hah?!"
Mendengar suara bising dilantai bawah, Lakapun segera turun untuk melihat situasinya.
"Eh Mamah," ucapnya saat menuruni tangga, "Kenapa mah? ko teriak-teriak?"
"Ini si gadis miskin tak tahu diri, beraninya ngelawan ucapan Mamah."
"Aku nggak pernah berniat melawan siapapun, tapi saat harga diriku diinjak, apa aku harus tinggal diam?"
Hampir saja Jeni melayangkan tangan untuk menampar Shanum, tapi Laka segera menarik tangan mamahnya itu.
"Udahlah mah, ngapain si ngurusin dia. Kan mamah sendiri yang bilang, anggap aja dia nggak ada ...," Laka melirik Shanum yang terlihat menahan airmata. Sebenarnya Laka tak sejahat itu, tapi bagaimanapun dia juga masih kesal karena harus bertanggungjawab untuk sesuatu yang ia lakukan.
Dia masih menanggap Shanum perempuan murahan, yang rela hamil demi harta.
"betul juga kata kamu sayang, yaudah ini mamah bawaain kamu cake."
Pucuk dicinta ulampun tiba, batin Laka
Laka meraih paperbag yang Mamahnya kasih, "Bi Jum belum kembali?" tanya Jeni, dan Lakapun menggeleng.
"Mamah perlu ambil bibi lagi nggak? buat sementara waktu, kasian kamu." Jeni mengelus rambut Laka.
"Nggak usah lah mah, kan ada si ono." Tunjuk Laka dengan wajahnya kearah Shanum.
"Oh iya, kamu memang pintar. Tapi jangan makan, makanan yang dia buat. Nanti kamu ketularan miskin lagi."
Shanum hanya bisa beristighfar dalam hati, mencoba menyabarkan diri.
"Yaudah mamih pergi dulu yah, mau arisan nih." Lakapun hanya mengangguk, bosen sebenarnya mendengar kata-kata arisan yang mamahnya ucapkan. Teman sosialitanya terlalu banyak, mereka semua berlomba untuk mendapat predikat isteri dari pengusaha terkaya.
Setelah mamahnya pergi, Lakapun duduk di sofa.
Buset ini paperbag enteng amat ya.
Dan tentu saja enteng, dengan paparbag berukuran sedang itu, didalamnya hanya ada satu slice cake.
"Buset dah mamah ... ini si, cuma sampe lak-lakan doang!" gerutu Laka.
Shanum yang mendengarnyapun sedikit tersenyum, sebisa mungkin dia harus melupakan perkara tadi. Dia tak ingin bayi yang dikandungnya ikut bersedih.
Laka yang menyadari ucapannya didengar Shanumpun bergumam dalam hati. Sial, ini mulut congornya kaga bisa dikecilin apa ya.
Lumayan buat ngeledek cacing diperutnya. Lakapun memakan cake itu dengan sekali lahap.
Dan tak lama, suara bel rumahnya berbunyi. "Siapa si?" ucap Laka seorang diri, sembari mulutnya dipenuhi cake strawberry.
Diapun melangkah keluar, dan membukakan pintu.
"Uhukk ... uhukk ...," Laka tersedak saat melihat yang datang Lucas dan Yuta.
"Ma-mau apa lue?" tanyanya tergagap.
"Taraaaaaa, kita membawa kado buat pengantin baru." jawab Lucas sembari memperlihatkan satu kantong plastik yang di dalamnya sudah ada barang yang dibungkus dengan kertas kado. Entah apa isinya.
"Lue pada mau ngerjain gue pasti!"
"Ngerjain apa si Ka, emang lue soal ujian kudu gue kerjain," celetuk Yuta, yang emang kalau ngomong jleb, tapi suka bener.
Lucas maen nyelonong aja ke ruang tengah, disusul Yuta. Sedangkan Laka menepuk jidat, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Shanum yang tengah mencuci piring bekas makannyapun kaget saat seseorang menyapanya.
"Hi," sapa Lucas sok Akrab, dan saat Shanum berbalik memperlihatkan wajahnya, seketika Lucas melongo ampe ngiler.
"Neomo Yeopo!" ucapnya masih dalam keadaan bengong.
Yuta yang melihat sahabatnya melongo sampe ngiler langsung menepuk pundaknya. "Wey, iler lue tuh kemana-mana."
Lucaspun segera mengelap ilernya dengan tangan, tapi tetap tak berkedip menatap wajahnya. "Cantik banget Yut, Lue pan tau kan, dia tipe gue banget!"
Yuta menoyor kepala Lucas, "Tipa tipe, lue kata dia android."
"Eh pagi," Yutapl juga menyapa Shanum, dan memang benar dimata Yutapun, Shanum cantik. Cantiknya Shanum itu alami.
"Mata lue katarak Ka?" Yuta menyenggol badan Laka yang sedari tadi hanya diam membisu.
"Tau lue, lue kata dia jelek!" timpal Lucas, dengan suara keras, yang tentunya didengar Shanum.
"Congor lue kebiasaan dah," Yuta kezal.
Lucas menepuk-nepuk mulutnya, "Kamu cantik banget, cantik syekali, very much." ucapnya kemudian, Shanumpun tersenyum yang membuat Lucas makin gregetan sendiri, tak sadar mengusel pada Yuta.
"Bocah epleng!" umpat Yuta. "Eh kenalin kita sahabatnya Laka ...," Yuta menyodorkan tangan kearah Shanum.
"Gue Lucas," Lucas nyerobot yang membuat Yuta terpental.
"Buset nih raksasa ya, maen nyerudug aja."
"Namaku Sha----"
"Udah-udah, ayo kita naik ke kamar gue aja." Laka segera memotong kalimat Shanum, dia merangkul kudua sahabtnya itu.
"Ngapa si Lue Ka?" ucap Yuta, yang heran melihat kelakuan sahabatnya yang tak biasa.
"Tau lue, gue nggak bakal nikung. Tapi kalau dianya mau ya ayo." Lucas tersenyum kearah Shanum.
"Ah jangan-jangan, emang bener nih. Dia si Num-num itu kan?" Yuta yang otaknya sigap berfikirpun segera menyimpulkan.
Laka menampakan wajah seriusnya,
Ampun ... bakal malu ini gue. Apalagi kalau Shanum tau.
"Nama kamu siapa tadi?" tanya Yuta dengan tersenyum sembari membengkap mulut Laka.
"Shanum,"
Kedua sahabatnya itu langsung menampakan wajah memenya kearah Laka.
Kelar idup gue kelar. Gara-gara mimpi basah emang!