Sad Wedding

1153 Kata
Pernikahanpun Akhirnya dilaksanakan secara sederhana dikediaman Shanum. Para tetangga sebagian bertanya-tanya. Yang mereka tau, calon suami Shanum adalah sepertinya orang kaya, tapi kenapa pernikahannya sangat tidak sesuai kenyataan. Tapi sebagian tetangga juga tau, karena dimusim pandemi yang sedang berlangsung di Indonesia. Ya, padahal alasannya tentu karena Laka tak mau ribet, dia hanya mau mengucapkan akad dan selesai urusannya. Dan mengenai keluarga dari pihak lelaki, Joko dan Yanti tentunya kecewa karena mereka tak hadir, tapi dia sadar derajat mereka berbeda. Yang penting bagi mereka, putrinya tak dibuang begitu saja oleh keluarga Surya. Padahal Joko dan Yanti tidak tau saja yang sebenarnya. "gue balik ya," ucap Laka pada Rizky setelah dia Sah berstatus sebagai suami Shanum. "Nanti dulu," bisik Rizky. Yanti dan Joko yang mendengar percakapan menantu barunya itupun sadar, kalau Laka pasti tak betah di rumah kecilnya ini. "Bu, pak, saya pergi dulu ya. Ada pekerjaan yang harus saya kerjakan." ucap Laka berbohong. Kerjaan apaan coba, ngerjain perempuan yang ada mah. Batin Rizky. Joko dan Yantipun menyuruh Shanum untuk ikut dengan Laka, dan sesuai perjanjian yag ditulis dikontrak, selama mengandung Shanum harus tinggal dengan Laka. Dan Laka tak mengetahui tentang hal itu. "Lah, ko dia bawa tas gede begitu buat apaan?" bisik Laka pada Rizky saat melihat Shanum menenteng tas berisi pakaiannya. "Nanti aja saya jelaskan," Yanti dan jokopun menangis melepaskan putrinya meninggalkan rumah. Tapi bagaimanapun prinsip keluarga ini, seorang isteri harus ikut kemanapun suaminya pergi. "Lue jaga baik-baik kakak gue, kalau nggak ...!" ancam Shaka sembari mengepalkan tangannya. Shaka memang punya ilmu beladiri yang lumayan jago. Dan kali ini bukan dia sok jago mengancam Laka, hanya saja dia tidak ingin kakaknya tersakiti. "Santai bro," ucap Laka sembari mengedipkan mata, tentunya ucapan Shaka bagai angin lalu untuk Laka. -- "Kerumah Papah dulu," tegas Laka, dia masih tak terima dengan penjelasan Laka, yang mengharuskan Shanum tinggal dengannya. "Bukannya tugas gue cuma ngucap ijab qobul terus selesai, ngapa gue harus tinggal serumah sama dia!" Harga diri Shanum seakan diinjak-injak. Dia merasa terombang-ambing. Shanum juga tak mau, jika dia harus tinggal dengan Laka. Tapi perjanjian yang Surya tulis, memaksanya harus mau tinggal dengan laki-laki playboy cap kapak ini. "Kalau boleh memilih, aku juga nggak mau tinggal sama kamu Laka!" tegas Shanum. "tapi karena kontrak yang papahmu buat ...!" "Ya, semuanya gara-gara Lue, gue jadi direbetin gini juga gara-gara Lue! Lue tuh---" "Laka cukup!" ucap Rizky tegas. Sedari tadi Shanum telah menahan airmata, tapi akhirnya butiran air itupun membasahi pipinya. Laka yang duduk disampingnya tentu melihat, dan dia hanya melirik sekilas. Dia kasihan, tapi juga kesal. Merasa kebebasannya terganggu. "Pokoknya ke rumah papah dulu!" tambah Laka. --- Sesampainya dikediaman Surya, Laka langsung menemui Surya di ruangannya. Jeni yang pertama kalinya melihat Shanum, menatapnya dengan tatapan tak suka. "Heh! gara-gara kamu, kedua anak saya jadi kena batunya. Dasar gadis miskin tak tahu diri!" Ternyata ini adalah awal kesengsaran yang akan Shanum hadapi. Mempunyai mertua yang jahat, dan suami yang tak jelas. Ini adalah sad Wedding yang sesungguhnya. "Pah, apa tak cukup Laka menikahi gadis itu?! kenapa Laka juga harus serumah dengannya!" Laka mengucapkan dengan berapi-api di depan Surya. Surya sebenarnya melakukan ini karena janjinya pada Taka untuk menjamin hidup Shanum. Surya juga tak mau, jika Shanum tinggal diluar pengawasannya, dia akan membocorkan semuanya. "Kamu jangan banyak bicara, turuti saja mauku." jawab Surya datar, lalu keluar ruangan. Kini dihadapannya, sudah ada gadis yang tengah mengandung cucu pertamanya itu. Surya melihat Shanum acuh. "Kamu Shanum?!" tanyanya tegas. Shanum mengangguk dengan mata memerah menahan tangisan yang seakan ingin segera ia tumpahkan. "ini yang kamu inginkan?" tambahnya lagi dengan senyum simpul. "Maksud Bapak apa?" tanya Shanum, sembari mengadahkan wajahnya kearah Surya. "Sudahlah orang miskin kaya kamu itu emang tidak tau diri!" umpat Surya lalu meninggalkan Shanum. Kini Shanum sudah tak tahan, ingin sekali dia lari dari sini. Tapi kontrak yang ia tandatangani tak bisa dibatalkan, dia juga sudah terlanjur berbohong pada keluarganya. Shanum hanya bisa pasrah, "Sudah, kamu nggak usah terlalu memikirkan. Kasihan bayi yang ada dikandunganmu," Rizky kini bagai kakak bagi Shanum, dia yang selalu menenangkannya. Laka, menatap Shanum sebal. "Mah?" kini dia meminta pembelaan pada Mamahnya. "Sudah nak, kamu hanya perlu tinggal dengannya. Kamu tak perlu menganggap dia ada, bila perlu anggap dia sebagai pembantu saja!" "Bu, maaf sebelumnya." lagi-lagi Rizky angkat bicara, "Pak Taka, yang meminta hidup Shanum terjamin, jadi jangan perlakukan Shanum seperti apa yang ibu sebutkan tadi." Deg, mendengar nama Taka disebut. Hati Shanum mencelos. Apa Taka masih memikirkan nasibnya? apa Taka masih peduli dengannya? Tapi kenapa, sampai detik ini tak ada kabar darinya? pertanyaannya itu muncul dibenak Shanum. "Yaudalah, buruan pulang. Gue cape!" gumam Laka, lalu melangkah menuju mobil. "Awas, kalau kamu menyusahkan anakku!" ancam Jeni. Shanum tetap menjadi gadis yang baik, dia menyodorkan tangan kearah Jeni untuk bersalaman. Tapi tentunya Jeni menolak, bahkan melengos dan langsung pergi meninggalkan Shanum di ruang depan. - Setengah jam berlalu sampailah mereka di rumah yang ditempati Laka. Brekkkk .... Laka membuka pintu mobil dan menutup dengan kencang. Lalu dia jalan ngeloyor masuk ke dalam rumah. Rizky dan Shanumpun ikut turun. Dengan cekatan Rizky membawakan tas besar milik Shanum. "Kalau kamu ada apa-apa segera hubungi saya yah Num," ucap Rizky saat sampai di depan pintu. "Pokoknya kalau si Laka itu nyakitin kamu, segera hubungi saya dan saya akan segera datang sebagai superhero menggantikan Taka." Shanum tersenyum, "Apa itu pesan dari Taka?" "Maafin Taka Num, tapi dia punya alasan tersendiri untuk melakukan ini." "Jadi anak yang kukandung tak cukup kuat menjadi alasannya? hingga dia lari dari tanggungjawab,begitu? bahkan dia tak mengirim pesan apapun semenjak dia tau aku hamil." Rizky diam, bingung harus jawab apa. lagi-lagi gue yang terpojokan oleh hubungan mereka. Pusing lama-lama. Rrrrrrr "Terimakasih untuk kebaikannya, tapi kamu ataupun Taka tak perlu khawatir bagaimana hidupku. Aku akan mengurusnya sendiri." Shanum masuk kedalam rumah. Rizkypun kembali menuju mobil, dan pulang setelah seharian mengurus t***k bengek. -- Shanum menyapu ke sekeliling ruangan yang ada di rumah ini. Rumah berlantai dua dengan kolam renang disamping taman membuatnya nampak begitu indah. Shanum melangkah menuju ruang tengah, tak disangka yang Shanum liat bekas bungkus makanan berserakan dimana-mana. Ya, itu ulah Laka si pemalas. Sudah dua hari bi Jum yang biasanya tinggal di sini sebagai asisten rumahtangga pulang kampung. Oleh sebab itu rumah tak terkontrol, padahal baru dua hari ditinggal. "Puas kamu?!" ucap Laka yang barusan turun tangga. "Gimana? ini yang kamu harapkan? bisa menikah dengan salahsatu anak dari pengusaha kaya? bisa menepati rumah yang tak seperti rumahmu yang kaya kandang itu? hahaha gila-gila, rela menyerahkan diri, hanya demi---" dan Plakkkkk Sebuah tamparan mendarat dipipi Laka. "Aku rak serendah itu!" jaga ucapanmu, jika kamu belum mengenal bagaimana aku dan keluargaku jangan pernah kau mengucapkan apapun!" Airmata Shanum mengalir deras. Laka mendekati Shanum sembari memegangi pipinya, Gadis berusia 22tahun itupun mundur selangkah demi selangkah, hingga akhirnya mentok ditembok. "Mau apa kamu?! ucap Shanum lantang, saat tak ada lagi jarak diantara dia dan Laka. Laka tersenyum simpul, saat Shanum menutup matanya dengan menggunakan kedua tangannya. "Heh gadis misquen, emang gue setan! ampe lue nutupin muka begitu?" Shanumpun menurunkan tangannya, lalu mendorong tubuh Laka. Airmata Shanum masih saja mengalir, dia benar-benar merasa direndahkan. "Gue bingung sama perempuan, dia yang nampar. Dia yang nangesss, aneh." "Udahlah gue mau cabut," ucap Laka, sembari mengenakan jaket kulitnya. Shanum hanya terdiam di tempat, "Oh iya, beresin rumah jangan lupa. Kamu tinggal di sini nggak gratis." Shanum masih diam, "Heh, lue nggak budeg kan?" Laka mengibaskan tangannya tepat didepan wajah Shanum. Gadis itu hanya melirik dan netra mereka berdua akhirnya bertemu, entah walaupun bukan saudara kandung, tapi tatapan mata Laka sama dengan Taka. Hingga Shanum tak berkedip untuk kesekian detik. Laka yang menyadaripun, memiringkan wajahnya menatap gadis itu. "Wey!" teriaknya yang membuat Shanum berjingkat. "terpesona lue sama gue?" ucapnya PD sembari menyeka rambutnya kebelakang, berasa model papan seluncur. "Maaf, tak ada malam pertama untuk malam ini," bisik playboy cap kapak itu didekat telinga Shanum yang membuatnya begidikan. Tak ada perjanjian, saling menyentuh diatas kontrak. Tidak mungkin Shanum menyukai Laki-laki tengil yang sifatnya berbanding terbalik dengan Laki-laki yang ia cintai, Gentaka Atmaja. Bisa saja malah Laka yang akan bertekuk lutut dan jatuhcinta pada gadis berparas cantik yang mempunyai sifat lembut. Kita liat saja nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN