bc

Satu Tubuh Dengan Dua Jiwa

book_age16+
5
IKUTI
1K
BACA
student
drama
twisted
nymph
highschool
another world
school
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Banyak hal yang terkadang tak dapat difikir oleh akal sehat. Di galaxy sebesar ini, manusia hanya bagai butiran debu. Bebagai macam makhluk berusaha bertahan hidup di bumi yang tua. Tapi bagaimana jadi nya jika tubuh manusia menjadi alat sebuah misi?

Alena merasa dadanya sering sesak tak wajar. Seolah ada intensitas lain yang ingin berinteraksi dengannya. Bahkan cinta pertama masa kecilnya yang hanya berwujud lewat mimpi, tiba-tiba berdiri secara nyata di depannya. Menerima kenyataan itu, rasanya ia akan benar-benar kehilangan nafas. Ia bahkan sering hilang kendali atas tubuhnya, seolah ada sosok lain yang mengendalikan. Sewaktu-waktu dia merasa tak mengenali dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang harus di lakukannya jika intensi itu terlalu besar dan benar-benar mengambil alih raganya sepenuhnya? Akankah dia harus melawan dirinya sendiri? Lalu Siapa laki-laki itu? Ada rasa cinta yang dalam dengan orang yang hanya tercipta dari hayalan. Apa dia akan membunuh perasaan itu? Atau pasrah dan mengikuti kata hatinya?

So, baca novelnya sampai habis untuk menyaksikan Alena yang berjuang keras untuk tetap sadar saat ia mulai kehilangan jati dirinya perlahan. Jangan lupa like dan komentarnya ya😊

Salam manis untuk pembaca😇

chap-preview
Pratinjau gratis
Satu Hati Dengan Dua Jiwa
Bab 1 : Sahabat masa kecil Jangan menganggap ku orang asing. Jadikan aku bagian penting dihidupmu. Aku akan menjadi benteng, bahkan obat luka mu. Kau bisa jadi apa saja, bahkan jika itu titik terlemah mu. Aku akan tetap ada. ***** Alena berjalan pelan memasuki gerbang sekolah barunya, lagi!. Sekilas ia membaca tulisan yang terukir di beton, tepat di sisi gerbang 'SMAN 57 Jakarta Selatan'. Ia berhenti sesaat. Berdiri diam memandangi bangunan luas di depannya. "Setidaknya gue bisa deket sama tu anak. Ngga perlu setahun sekali bolak-balik kesini"Batin Alena. Ini kali keduanya ia tinggal di kota metropolitan ini setelah lima tahun yang lalu. Banyak kenangan yang sempat terukir disini. Tatapan-tatapan penasaran tertuju padanya. Seakan mengintimidasi untuk meyakinkan kalau ia bukan teroris. Seperti biasa, Alena sama sekali tak menghiraukannya. Sebab kejadian seperti ini bukan yang pertama kali. F l a s h b a c k... "Nana nggak mau ikut ma, Nana bisa tinggal di apartemen. Riri bakal tinggal bareng Nana juga" rengek Alena memohon untuk tetap tinggal di Denpasar. Baginya, ini kota ternyaman yang pernah ia tinggali. "Nggak Nana, jangan keras kepala. Kamu tau kan mama nggak bisa jauh dari kamu. Kalo kamu kenapa-kenapa disini, sedangkan mama jauh gimana?" Meilinda, wanita single parent ini tak goyah dengan rengekan anak bungsu nya. "But.. Mom.... Udah berkali-kali aku pindah sekolah. Waktu masih kelas 3 SD aku harus pindah ke Jakarta. Pas mau masuk SMP aku udah punya planning satu sekolah sama sahabat ku, tapi mama harus bawa aku lagi pindah ke Singapore, home schooling disana!. And than, kelas dua nya pindah lagi ke Batam dan untung nya sampe lulus. Sekarang aku baru naik kelas 2 SMA mah! It's still a new school year. And you wanna move me again? Ooh come on mom, aku udah mulai beradaptasi disini. Ngga nyampe dua tahun lagi lulus. Please mom! I'm tired! Aku bener-bener capek" Alena masih berusaha membujuk sang mama. "Udah lah Na... Mama kayak gini juga demi kita." Kakak perempuan Alena berusaha menenangkan perdebatan itu. "Gue paham! Ini demi kita. Tapi ini udah terlalu sering! Lo ngga capek apa kayak gini terus" "Kamu harusnya ngertiin lah kondisi mama. Ini juga bukan sepenuhnya kemauan mama" "Gua paham kak! Gue ngertii.. Ngerti banget. Tapi tolonglah mah... Biarin Nana stay disini sampe lulus. Trus Nana susul mama ke Jakarta" Meilinda memijit keningnya yang mulai pusing. "No Alena! I said no, it's no! Ngga ada lagi perdebatan. Udah, sekarang kamu cepetan packing. Karna jadwal penerbangan besok jam 7 pagi dan kita nggak boleh terlambat..... " Back to real life.. Ya, karena tuntutan pekerjaan sang mama, ia tak bisa lagi berkutik. Dan sahabatnya menjadi alasan kedua yang membuatnya pasrah dengan keputusan itu. Pada akhirnya, lagi dan lagi ia harus pindah sekolah. Alena Freya Mahesa. Anak bungsu dari dua bersaudara. Ia hanya dibesarkan oleh seorang ibu dan saudara perempuan nya. Sedangkan sosok ayah, sudah lama mati dari ingatannya. Sebab hadirnya orang ketiga dan laki-laki itu lebih memilih wanita lain, sehingga menghancurkan keluarga bahagia yang selalu diimpikan Alena. "Selamat pagi anak-anak.. " Suara merdu guru sejarah menggema di ruang kelas XI IPS 2 menyapa anak didik nya yang siap menjalankan kewajiban mereka. "Pagi bu... " Sahut mereka bersahutan, disertai tatapan penasaran memandang ke arah gadis cantik yang berdiri disamping bu guru. "Baik anak-anak, kita kedatangan murid baru yang akan ikut bergabung di kelas kita... Silahkan perkenalkan dirimu" "Perkenalkan, nama saya Alena. Saya pindahan dari SMAN 1 Denpasar, saya harap kerja samanya kepada teman-teman semua. Terima kasih" Alena memperkenalkan diri seadanya, seraya menatap orang-orang di depannya yang mulai berbisik-bisik satu sama lain. "Em, itu saja? Ada yang lain? Hobi mungkin.. Atau alasan pindah kesini.. " Pancing bu Rena yang merasa perkenalan dirinya terlalu singkat. "Itu saja buk," Jawab Alena datar. Sambil tersenyum menatap tepat di ke arah bola mata guru itu. Meyakinkan untuk tidak memaksa ke arah topik yang lebih panjang. "Baik, silahkan duduk" "Buk.. Ngga ada sesi tanya jawab gitu? , kita kan pengen nanya-nanya nih" Timpal Agung, si murid biang onar. "Kita? Lo aja kalii, modus jangan bawa-bawa kita yaa" Sindir Sella, siswi yang duduk tepat di belakangnya. "Tauk tuh.. Huuuuu" Timpal Ratna di samping Sella dan diikuti sorakan dari para siswi lainnya. "Ahh bilang aja insecure kalian kan, kalah cantik" Sindir Agung, membuat siswi-siswi semakin kesal dan melempari gulungan kertas ke arahnya. "Heiii udah-udah, buka buku paket halaman 32. Kalo kamu mau nanya, Agung. Entar aja pas jam istirahat, bebas kamu mau nanya-nanya" Bu Rena mulai membuka pelajaran pagi ini, sebelum para demonstran mengeroyok Agung dan mengulitinya. Alena berjalan ke arah bangku kosong yang sebelahnya diduduki satu siswi yang tersenyum ke arahnya. "Lesu amat, semangat dong" Ujar siswi itu seraya mengepalkan tangan membentuk gerakan semangat. "Semangat," Bisik Alena mengikuti gerakan teman sebangkunya itu sambil tersenyum. Alena mulai mendengarkan penjelasan guru. Sesekali ia mengalihkan pandangan kearah buku tulis bersampul coklat di depannya. Disana tertulis 'Sabrina Amelia' atau yang biasa dia panggil Amel. Sahabat masa kecil yang selalu dirindukan nya. Bahkan walaupun ia harus pindah kota maupun negara sekalipun, sahabatnya satu ini selalu ada untuknya. Dan sekarang sosok itu berada tepat di samping nya. Banyak kisah yang sangat ingin disampaikannya belum sempat tersampaikan. Setelah ini, mungkin ia akan menyiapkan popcorn dan snack untuk acara peng gibahan mereka yang pasti akan berlangsung lama. ****** Bel istirahat berbunyi. "Nyampe Jakarta jam berapa kemaren?" Tanya Amel. Alena tak langsung menjawab. Dia lebih dulu menyelesaikan kegiatannya, menyusun buku ke dalam tas. "Emm.. Jam berapa ya, sorean lah pokoknya. Ngga nengok jam. Ampe rumah langsung tepar gue" Alena menautkan alis nya untuk mengingat lalu menunjukkan mimik muka kelelahan. "Kok ngga bilang gue kalo udah sampe? Kan gue bisa dateng," Gerutu Amel sambil melirik sebal ke arah sahabatnya itu. "Yaelah Mel, boro-boro ngabari elu. Pegang HP aja udah ngga sempet. Lagian gue kan mau suprise in elu hari ini" Jelas Alena sambil nyengir. "Yaudah lah, yang penting lu selamet aja. Yuk, kita tur keliling school. Ada banyak yang mau gue tunjukin sama lu" Sahut Amel semangat empatlima. Alena mengangguk. Mereka menyusuri koridor depan kelas. Amel mengoceh, menujukkan satu-persatu kelas yang mereka lewati. Sambil memperkenalkan Alena pada anak kelas lain. Alena yang berdiri disamping nya hanya mengikuti dengan pasrah. Sesekali tersenyum ramah dan basa-basi sesaat. "Nah, ini gedung paling besar disini" Seru Amel, ketika mereka memasuki Gedung Olah Raga. Ia berjalan mendahuli Alena untuk memungut bola basket yang menggelinding di sisi lapangan. Lalu terus lanjut menjelaskan, "Namanya GOR, Gedung Olahraga Raga. Setiap ada pengumuman penting untuk event-event gitu, pasti di kumpulinya disini. Atau kalo ada lomba-lomba, kayak basket, volly, futsal, takraw... Pokoknya segala jenis lomba di adain di sini juga. Kecuali kalo antar sekolah lain, baru pake lapangan di luar" Alena menyapu ke sekeliling dengan matanya. Diam-diam mengaggumi sekolah ini, "modal juga ni sekolah. Pasti kepseknya gak suka korupsi". "Woi, Amel!! Lempar kesini bolanya!" Fokus Alena terusik dengan teriakan laki-laki yang sepertinya memanggil sahabat nya. "Pinjem ngapa, kan ada satu lagi. Pelit amat" Sahut Amel balas berteriak. "Yang satu bocor, buruan kita mau tanding ini" Cowok ganteng berbadan atletis itu mulai mendekat ke arah mereka. Alena menatap sekilas ke arah si pemilik suara. Lelaki yang konon di nobatkan sebagai "Cowok Tertampan" di sekolahnya itu, sama sekali tidak membuatnya tertarik. Ia lebih memilih mundur ke arah tribun penonton yang tak jauh dari tempat nya berdiri dan duduk disana. Ia melihat laki-laki itu merebut bola dari pelukan Amel. Tampak mereka terlibat percakapan yang tidak dapat di dengarnya. Sesekali Amel berbalik badan diikuti tatapan mata lelaki itu ke arah nya. Seakan ia sedang menjadi topik pembicaraan. "David! Buruan, malah mejeng lu disitu" Seru anak lain nya yang akan ikut tanding dari tengah lapangan. "Iyaaa" Ujar laki-laki yang ternyata bernama David itu. Pandangan mereka bertemu sesaat. Ada arti dalam mata lelaki itu yang sulit diterjemahkan nya hingga membuat nya tak ingin berpaling. "Itu namanya David, dia cowok paling ganteng di sekolah ini." Jelas Amel membuat Alena melepas pandangannya dari punggung David yang mulai menjauh. "Hampir semua cewek-cewek satu sekolah ini naksir sama dia" "Your boyfriend?" Tanya Alena. "Lu mau gue mati digebukin betina-betina di sekolah ini?" Jawab Amel bergidik ngeri. "Dia itu sahabatnya sepupu ku. Mantan sahabat sih lebih tepatnya. Dulu waktu masih SMP si David ini sering nginep di rumah sepupu gue itu. Yaahh jadi nya lama-lama deket juga sama gue. Cuma entah ada konflik apa, sepupu gue ini cabut dari tim basket dan udah ngga temenan sama David". Alena mangut-mangut mendengarkan penjelasan Amel, "sepupu lo sekolah disini juga?" "Iya, dia masuk di tim futsal. Cuma selama seminggu ini sepupu gue sama tim nya lgi ikut lomba futsal ke luar kota. Ntr kalo dia balik gue kenalin". Alena memandang Amel sesaat, lalu beralih ke arah sekumpulan orang yang berbondong masuk dan beriringan duduk di sisi lain tribun lapangan. Akan menyaksikan pertandingan basket dari para senior. "Mulai rame banget, Mel." Gerutu Alena. "Ya gitu deh, kalo senior pada tanding! Disini penuh ciwi-ciwi yang pada heboh. Bukan liat pertandingan nya, tapi pemainnya" Balas Amel seakan mudah menebak apa yang ada di isi kepala orang-orang ini. "Yaudah yuk, lanjutin room tur nya" Alena menggapai jari tangan Amel, dan tidak terlalu tertarik dengan pertandingan yang di gandrungi oleh sebagian besar siswi-siswi di sekolah ini. "Lu nggak mau nonton dulu? Pemainnya cogan semua loh," Amel menggoda sahabat nya. "Nggak ah, gak minat. Tunjukin gue tempat favorit yang lo bilang tadi, ayoo" Alena melirik bosan ke arah lapangan, lalu bersemangat dengan tempat favorit Amel. "Emm oke deh, follow me". Amel menuntun Alena ke tempat yang diinginkannya. Menuju ke gedung paling selatan disekolah ini. "Wih gede banget perpusnya" Lirih Alena mengagumi deretan buku yang tersusun rapi di dalamnya "Eee mau kemana lo?! Perpus disini emang keren, tapi bukan disini tempat yang mau gue tunjukin ke elu" Amel menarik tangan Alena yang hendak masuk kedalam bangunan itu, lalu membawanya pergi dari sana. "Lu bisa manjat kan?" Mereka tiba di bagian belakang gedung perpustakaan. "Gass lah, calon atlet panjat tebing gue nih" Canda Alena seraya menepuk dadanya. "Gaya lu, bangke" Cibir Amel, lalu mendahului Alena memanjat pinggir tempat pembuangan sampah yang terbuat dari beton untuk menggapai tangga besi yang menggantung satu setengah meter di atas tanah. Alena mengikuti nya. "Ati-ati! Oleng dikit mandi sampah lu" Seru Amel yang sudah setengah naik tangga besi yang menempel pada dinding bangunan itu, lalu lanjut memanjat naik setelah Alena berada tepat di bawahnya. "Amaan" Sahut Alena. "Naahh, ini dia tempat nya" Seru Amel saat mereka telah berada di atap bangunan itu. "Waahhh, keren benget" Alena berjalan ke arah tembok pembatas setinggi perutnya. Ia bisa memandang semuanya dari atas sini. Hamparan sawah hijau yang berada di balik sekolah ini, seolah-olah harta karun yang tak dapat di nikmati semua orang. Wajah cantik nya tersapu angin yang menghembus kencang. Namun tak dapat melunturkan senyum bahagia di bibirnya. "Ini satu-satu nya tempat paling nyaman buat gue. Disini kita bisa lepasin semua beban yang nggak bisa kita tunjukin ke semua orang" Ujar Amel yang kali ini dengan nada serius dan mendalam. Lalu membalikkan badannya, menyandarkan tubuh ke dinding pembatas itu, seraya mengambil sesuatu dari kantong celana yang berada di balik rok abu-abunya. Alena menoleh ke arah Amel, dahinya mengernyit melihat Amel mengeluarkan sebatang rokok. "Ehh lo mau ngapain!!" Alena reflek menghentikan tangan Amel yang bersiap mematik korek api nya. Amel menoleh kearah Alena, dan tersenyum. Tangan lainnya mengambil rokok yang sudah terselip dibibirnya. "Setelah 5 tahun yang lalu lu ninggalin gue, cuma ini yang bisa gantiin tempat lu sementara, Na" Amel menujukan rokok itu ke depan Alena, matanya menatap ke arah wajah Alena yang menunjukkan raut kesal. "Oke, lo bilang pengganti sementara posisi gue kan? Sekarang gue udah balik. Posisi itu biar gue ambil alih dan lo nggak butuh barang ini lagi" Alena menatap tajam ke arah bola mata Amel, ia bisa melihat semburat luka dari balik mata itu. Sangat jelas si pemilik berusaha menutupinya. Diambilnya rokok itu dari tangan Amel dan meremas nya sampai hancur. "Tapi Na.... " "Gaada tapi Mel!! Lu tu cewek!! Lu punya rahim! Semandang enteng itu sama tubuh lo sendri?! Jangan kayak gini Mel, please.... Ada banyak hal positif yang bisa lo lakuin kalo lo ngerasa sepi" Alena meraih kedua tangan sahabat yang ada di depan nya itu. Ia memandang dalam kearah wajah yang tertunduk itu. Dia menarik nafas sejenak, "sekarang ada gue, gue gaakan biarin lo ngadepin apapun sendiri lagi. Gue bakal jadi benteng buat lo," Amel mengangkat wajahnya yang basah air mata. "Anjing, gue nangis. Aaahh cengeng banget sih gue, sialan" Amel tertawa malu. Ia buru-buru mengusap air matanya. Alena menarik napas, menghirup sedikit lebih banyak oksigen agar dadanya tidak terasa sesak. Membayangkan banyak hal yang telah dilalui sahabatnya sendirian, membuat nya sakit. "Mau gue peluk? " Alena merentangkan tangannya. "Iiiiiss apaan sih, lebay lu" Amel melengos dengan muka merah, malu. Ia tak pernah menunjukkan sisi terlemah nya kepada siapa pun. Dan sekarang ia malah menangis tepat di depan Alena. Alena tertawa renyah seraya merangkul pundak sahabat nya itu. Setidaknya ia merasa lega, wanita yang sedang di rangkulnya ini memiliki mental yang kuat. "Kadang, kita juga butuh nangis tauk. Mungkin kita bisa terlihat kuat. Tapi hati kita enggak. Hati juga bisa capek, saat tuannya pura-pura tegar. Dan satu-satunya cara dia untuk beristirahat, ya dengan cara nangis" Ia berusaha menenangkan karibnya itu. Persahabatan yang sudah berjalan hampir delapan tahun ini, cukup baginya memahami karakter dan sifat Amel. Bahkan kelemahan nya. Seorang anak yang tak diinginkan kedua orang tua kandungnya, di buang ke panti asuhan membuatnya memiliki rasa trauma tersendiri yang mengukir luka di jiwanya. Walaupun, dia beruntung karena telah diadopsi dengan orang tua angkat yang sangat menyayangi nya, bahkan telah menganggap nya sebagai anak kandung, trauma itu tetap menjadi momok bagi hidupnya. Baginya, tangisan hanya untuk orang-orang lemah. Tangisan yang membuat nya di benci dan di buang oleh orang tuanya sendiri. Setidaknya itu yang mereka tanamkan pada anak malang ini. Menjadikan tangisan sebagai musuh terbesar nya, agar ia tidak di tinggalkan lagi. "Jangan bilang ke siapa-siapa kalo gue nangis ya" Amel menatap Alena dengan tatapan memohon. Alena tersenyum, "iya gue tau. Gue tau, dari dulu lu paling benci nangis. Pura-pura kuat, pura-pura baik-baik aja, lu bahkan bisa ngelawak di depan banyak orang padahal hati lo lagi ngga baik. But, it's ok! You can be anything when you're with me" "Anything?" Amel menatap dengan penuh harapan. "Anything you want" Alena tersenyum tulus. * * * * *

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

TERNODA

read
199.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook