1. Malam Panas Penyesalan
"Julian, jangan!" lirih seorang wanita bernama Prisa saat kekasihnya hendak mengusap pinggul mulus terbuka tanpa cela miliknya yang tak terhalang apa pun. Raut memohon terlihat sangat jelas dengan guratan penuh keraguan.
Prisa menoleh ke kanan, tepatnya ke arah lantai. Bajunya yang berserakan dan tubuhnya yang tanpa sehelai kain merasa kedinginan. Kesadarannya telah kembali setelah beberapa menit lalu hilang karena ulah kekasihnya.
"Hei, dengerin aku! Kamu takut?" Tatapan sendu itu menembus manik milik Prisa. Jemari Julian terus mengusap pinggul mulus milik wanitanya untuk waktu yang cukup lama.
"Julian, kita sudah terlalu jauh." Prisa sadar betul bahwa yang ingin mereka lakukan saat ini adalah salah. Selain bayangan kekecewaan orang tuanya, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ke depannya tentu saja membuatnya ragu untuk menyetujui ajakan kekasihnya tersebut.
"Sayang, bukannya aku sudah bilang akan bertanggung jawab kalau sesuatu terjadi nanti." Sekali lagi, Julian masih coba meyakinkan wanitanya.
"Terus, kalau tidak terjadi sesuatu apakah kamu akan pergi setelahnya?"
Julian menarik tepi bibirnya manis. "Astaga, nggaklah. Tiga tahun kita udah sama-sama, masa kamu masih nggak yakin sama aku? Sebentar lagi aku juga bakal nikahin kamu. Aku janji!”
"Tapi, ak—"
"Pris, aku janji bakal nikahin kamu. Kita bakal hidup bahagia, merawat anak kita sama-sama, dan semua itu pasti akan kita lewati berdua."
Perlahan Prisa menarik tepi bibirnya hingga melengkung sempurna. Bayangan dari kalimat yang Julian lontarkan mampu meyakinkannya untuk melakukan suatu hal lebih yang sebelumnya tak pernah dia lakukan. Sesuatu yang awalnya membuat ragu, kini Prisa malah semakin tenggelam dengan sendirinya.
Sentuhan yang Julian berikan mulai menjalar hampir ke seluruh tubuhnya hingga membuat errangan kecil lolos begitu saja dari bibir Prisa. Tangannya secara reflek menekan lengan Julian. Menahan rasa sakit yang sebelumnya tak pernah dia rasakan setelah Julian mengulum rakus bibirnya secara brutal. Tak hanya bibir, Julian juga mengecup mesra seluruh tubuh Prisa hingga meninggalkan jejak kemerahan di beberapa bagian sensitifnya. Kini, pria itu tampak sedang menuntaskan hasratnya yang tak tertahankan.
“Ahh ….” Penuntasan dari gejolak panas tak tertahankan milik Prisa menggila hebat, wanita yang tadinya menolak itu sekarang menjadi liar dan panas. Meremas pundak kokoh berkeringat milik Julian yang berada di bawah kendalinya. Prisa benar-benar sudah kehilangan kewarasannya. Kegilaan itu membuat Julian mengubah posisinya untuk memimpin permainan panas yang mereka lakukan.
"Aku mencintaimu.” Ucapan Julian terdengar sungguh-sungguh. Membuat Prisa seketika yakin dengan keputusannya. Keputusan di mana dia menyerahkan mahkota paling berharga pada seorang pria yang telah berjanji akan jadi suaminya.
***
Satu bulan setelah malam panas itu, kekhawatiran Prisa benar-benar terjadi. Hal yang sangat ditakutkan ketika orang tuanya mengetahui semuanya. Namun, dia cukup yakin kalau Julian akan mempertanggungjawabkan perbuatannya, seperti yang dia katakan waktu pria itu merenggut keperawanan Prisa.
“Aku hamil." Prisa memberikan sebuah testpack pada Julian yang dari tadi sedang memeluk tubuhnya dari belakang. Posisi favoritnya. Mereka sedang menonton televisi di apartemen Julian.
"Jangan bercanda." Julian hanya mengambil alat itu dan menaruh di samping tubuhnya. Lalu kembali memasukan kepalanya di ceruk leher Prisa. Sedikit lebih erat memeluk wanitanya. Yang dipeluk hanya diam. Memikirkan bagaimana memberitahukan semuanya jika Julian terus menganggap itu hanya sebuah lelucon.
Prisa membalikkan tubuhnya sampai berhadapan dengan Julian. Melihat manik hitam kelam milik lelakinya yang sudah menemani selama tiga tahun belakangan ini. "Ini kenyataannya, Julian. Kita akan menjadi orang tu–"
"Gugurkan!" Suara berat Julian memotong ucapan Prisa.
Prisa pun secara reflek mengangkat kepalanya dan menatap Julian penuh keterkejutan. Bukankah itu tidak seperti apa yang dijanjikan dulu? Kenapa Julian sampai tega mengatakan itu? Apa dia lupa akan janjinya?
“Apa?! Gugurin kamu bilang?” Kedua mata Prisa berubah sendu. Ada genangan air mata yang tertahan di sana. Sedikit kemudian, cairan bening itu lolos begitu saja membasahi pipi. Prisa begitu terluka, sakit, dan merasa tidak diinginkan.
"Dengarkan aku, Sayang!" Julian mengangkat tangannya. Ibu jarinya mengusap cairan sebening liquid yang membanjiri pipi Prisa. Prisa menghentakkan tangan Julian. Menolak. "Aku juga ingin kita punya anak nantinya, percayalah! Tapi … bukan sekarang, Prisa. Kamu tau 'kan aku udah ada di tingkat akhir untuk mengejar gelar S2-ku? Dan … Papa, dia pasti akan mencoretku dari daftar ahli waris kalo dia sampai tahu aku menikah sebelum aku lulus." Julian coba menjelaskan. Berharap Prisa mau mengerti.
Setidaknya Prisa tau bagaimana sikap Ayah Julian, walau dia tidak pernah berhadapan langsung dengannya. Namun, dari cerita teman, bahkan Julian sendiri, Prisa bisa menyimpulkan jika ayah Julian adalah salah satu orang berkuasa dan punya kedudukan yang tinggi dan terpandang.
"Aku nggak mau gugurin anak ini, kita bisa menyembunyikannya dari mereka, Julian." Prisa coba memberikan penawaran jika menggugurkan kandungan bukan satu-satunya jalan yang harus mereka tempuh.
"Aku sangat mencintaimu, Pris. Percayalah!” Julian mendekap tubuh ringkih Prisa yang terus menangis semakin sesenggukan. "Aku cuma nggak mau kehilanganmu hanya karena mempertahankan anak itu." Julian mencium beberapa kali pucuk kepala Prisa dengan lembut. Berharap Prisa mau menurutinya.
"Tapi, dia darah daging kita. Apa kamu tega membunuhnya?”
"Kamu bisa hamil lagi setelah kita menikah nanti. Demi apa pun, aku nggak mau kehilangan kamu, Prisa." Julian masih mengusap punggung Prisa yang sejak tadi tak berhenti menangis. Tangisan yang terdengar begitu perih.
"Sekarang pilihlah, aku apa hartamu?" Prisa melepaskan diri dari Julian. Menatap wajah Julian dengan sorot mata yang begitu menuntut. Tak ada toleransi. Baginya, ide menggugurkan kandungan adalah hal yang begitu jahat untuk dilakukan oleh siapa pun, termasuk dirinya.
"Aku enggak mungkin bisa memilih, Prisa. Coba kamu pikirkan, tanpa harta, bagaimana bisa aku membuatmu bahagia?" sergah Julian dengan suara tegas. Namun, terdengar sangat pelan.
"Aku enggak butuh hartamu, Julian. Aku butuh kamu menepati janji kamu waktu itu! Janji untuk bertanggung jawab padaku dan anak di dalam kandunganku ini!”
"Jangan egois, Prisa!” Julian menekan pundak Prisa seraya menatapnya sendu.
"Kamu yang egois, Julian! Kamu tega!” Prisa menghempaskan tangan Julian. Tak ingin disentuh oleh lelaki yang jelas-jelas telah membohonginya. Benar kata orang, jangan percaya janji manis laki-laki sekalipun itu terdengar begitu sungguh-sungguh, terlebih saat ingin menyerahkan mahkota yang paling berharga.
"Aku cuma tidak ingin nantinya Papa akan menyakitimu dan memisahkan kita, Pris. Tolong mengertilah! Papa pasti enggak akan tinggal diam. Kamu juga tau itu." Julian mengeratkan pelukannya meski Prisa coba berontak dan terus menjauhkan tangan Julian.
"Tapi aku nggak mau kehilangan dia." Prisa masih menangis. Mengusap perutnya yang masih rata.
“Baiklah, kalau kamu masih bersikeras dengan keputusanmu, mulai sekarang lupakan kita karena kita udah enggak bisa lagi sama-sama!”
Semua kenangan itu terlintas di pikiran Prisa. Kedua pipinya tampak begitu basah dengan air mata yang dibiarkan menetes. Prisa terus menatap ke bawah, dirinya kini sudah ada di atas jembatan. Ya, Prisa tidak kuat untuk menjalani hidupnya lagi. Bukan hanya kehilangan Julian, ayah dari janin yang dikandungnya, Prisa juga diusir dari rumah oleh sang ayah saat tahu kehamilannya. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, ayahnya juga meminta Prisa menggugurkan anak dalam kandungannya.
“Maafin Mama ya, Sayang. Maaf karena Mama harus memilih jalan ini. Setidaknya, tidak akan ada lagi yang akan memisahkan kita.” Prisa maju satu langkah. Bersiap melompat meski rasa gugup sempat membuatnya membatu diam. Namun, saat kedua kakinya hendak melangkah, tiba-tiba tangannya digenggam seseorang dari belakang. Prisa menoleh, menatap sosok pria itu seolah tak suka dihalangi.
“Aksa ….”
~ Bersambung....