Chyou mulai mengelap noda darah di tubuh furen dengan lembut, dan Jían mulai menjahit luka di perut ibunya. Setelah selesai Jían mengambil jarum emasnya dari ruang angkasa dan mulai menusuknya ke seluruh tubuh furen.
"Chyou kau bisa mundur sekarang, gege juga. Aku butuh ketenangan untuk melakukan ini, kalian bisa menunggu di luar. Jangan memancing perhatian para pelayan."
-
Sedangkan di sudut rumah yang gelap , seorang wanita sedang berlutut di lantai. Sedikit mencuri pandangan, wajah tampan lelaki di depannya, sikap malu malunya seketika muncul.
Bayangan di depannya menunduk, menatapnya dengan pandangan merendahkan. Rasa jijik muncul di matanya. Jika bukan karena saya membutuhkannya,saya tidak akan pernah berkomunikasi dengan p*****r sepertinya. Sigh~
"Ada apa kau memanggilku? Apa kau sudah menemukannya?"
"Menguasai! Nona ketiga Jían sudah kembali. Saya... saya belum berhasil menemukannya. Tapi bawahan saya mendapat informasi kalau itu berada di reruntuhan yang dikabarkan akan muncul sebentar lagi!"
"Apa hubungan saya dengan dia? Saya tidak peduli. Bagaimanapun cepat temukan barang itu dan berikan kepada saya! Apa kau mengerti?!"
"Sa.. saya... mengerti tuan. Tetapi tadi di kediaman Jían terjadi sesuatu yang luar biasa. Jika bukan karena kekuatan tuan terhormat mungkin saya tidak bisa melihatnya. Itu adalah teknik menyembunyikan diri yang tuan beri tahu kepadaku."
"Apa kau bilang! Di.. dia bisa melakukan apa! Mungkin kau salah lihat. Aku sudah dengar kalau dia itu bodoh, bagaimana bisa dia tiba-tiba menjadi jenius?"
"Sa.. saya juga tidak mengerti tuan. Tapi saya benar benar bisa merasakan gelombang kekuatan yang sama seperti yang dimiliki mu menguasai! Kalau tidak salah itu bernama Vasible. "
Bagai guntur menyambar di siang bolong, mata tuannya melebar hampir mengeluarkan isinya.
"Menguasai apakah kau baik baik saja?"
Bagaimana bisa aku baik baik saja setelah mendengarnya?! Dia lahir di kerajaan Zhou bagaimana bisa menggunakan tongkat sihir. Apakah ramalan itu benar adanya?
Tidak tidak! Jangan sampai ramalan itu terjadi kalau tidak tuanku.. tuanku yang agung akan mati. Aku harus menghabisinya sebelum terlambat!
"Kau, aku perintahkan bunuh Jían segera. Singkirkan masalah benda itu dahulu. Prioritaskan Jían terlebih dahulu. Aku ingatkan sekali lagi, kau jangan meremehkan kekuatannya. Dia mungkin belum menunjukan semua kekuatannya. Kau perlu berhati hati."
"Baik tuanku aku mengerti."
-
Pucat diwajahnya perlahan menghilang , digantikan dengan ekspresi kesakitan. Ia mengingau lembut nama anaknya.
"Jun.. Jun.. selamatkan Jían. Jun.. Jun."
Furen sudah selesai diobati, luka lukanya sudah sembuh. Tapi ia masih dalam pengaruh obat bius.
"Chyou, tolong panggilkan gege kesini. Sebelumnya bersihkan tanganmu terlebih dahulu. Dan minum pil ini."
"Nona muda apa ini. Saya tidak memerlukan pil, ini pasti sangat mahal. Nona tidak perlu memberi pada pelayan rendahan ini."
"Eemmm. Kau sudah membantu ibu ketika aku dan gege tak ada disampingnya aku sangat berterimakasih padamu. Dan juga aku tahu kalau selama ini kau diracuni juga kan? Jadi aliran darahmu tersumbat, serta kau tidak bisa berkultivasi." Jían menggelengkan kepalanya.
"Nona muda bagaimana bisa. Pelayan rendahan ini sangat berterimakasih." Chyou menunduk air matanya mulai keluar.
"Tak perlu menangis Chyou. Sekarang kau panggil gege kemari."
Tak lama kemudian setelah Chyou keluar, pintu kamar terbuka. Seorang lelaki muda berjalan dengan langkah lebar menuju Ibu nya.
"Ibu ibu Jun ada disini, ibu..."
Furen mulai membuka matanya, setelah membuka matanya ia melihat putra dan putrinya ada dihadapannya Furen langsung bangun dan memeluk kedua anaknya.
"Ibu ada apa? Apakah ibu mimpi buruk?"
"Itu buruk, sangat buruk. Jían bolehkah ibu tinggal bersamamu di kediaman bulan sementara ini. Ibu merasa akan ada sesuatu yang buruk menghampirimu."
'Hmmm sesuatu yang buruk akan menghampiri ku? Apakah aku harus memasang formasi di dalam kediaman? Mungkin itu bisa mencegah seseorang memasuki kediamanku.'
"Jun kau juga, bisakah kau sementara ini tinggal di kediaman Jían bersama ibu?"
"Tentu ibu, apa salahnya tinggal bersama. Ya kan Jían, kau setuju? Jían? Mei-mei kau baik baik saja?"
"Ah iya gege, aku bisa merawat ibu dengan baik selama jangka waktu tersebut. Gege juga tidak bisa keluar selama kurang lebih satu minggu dari kediamanku, kecuali ada hal yang mendesak. Apa kau mengerti gege?!"
"Mmmm iya aku mengerti, kalau begitu aku akan pergi sekarang untuk menyelesaikan masalahku dan membereskan barang barangku terlebih dahulu."
"Kalau begitu Jían juga akan kembali ke kediaman dahulu. Ibu dan gege datanglah sekitar jam 8 malam."
Supaya tidak membuat curiga mata mata di kediaman furen, ia beralasan karena ingin bersama putrinya karena sudah lama tidak bertemu. Untuk makanan sehari hari furen tetap diantar di kediaman Jían.
Setelah beberes Furen dan Chyou pergi menuju ke kediaman Jían. Di depan pagar Jían sudah menunggu, ia berdiri disana bersama gegenya.
"Jían maafkan ibu sudah membuatmu menunggu, pasti kau kedinginan ayo ayo masuk."
"Cih, anak lelakimu ada disini bu apa kau tidak mengkhawatirkan ku juga?aku kedinginan bu" balas Jun sambil memeluk dirinya sendiri seolah olah dia kedinginan.
"Apa kau mendengar suara An'er? Ibu mendengar sesuatu tapi tidak ada seseorang disini selain kita."
"Hmmpppp (๑'^'๑)/ "
Jían menemukan bahwa ini sangat lucu. Gegenya yang dingin terhadap orang lain ternyata sangat imut. Dengan wajahnya yang sangar tapi berperilaku manja seperti ini, mungkin orang orang akan pingsan setelah melihatnya.
"Sudah cukup bercandanya, ibu perlu beristirahat lebih banyak. Sekarang ayo kita masuk."
Begitu mereka masuk mereka bertiga terkejut karena indahnya halaman kediaman Jían. Itu luar biasa cantik, dengan bunga-bunga yang menyala pada malam hari.
"Jían jenis bunga apa ini? Mengapa mereka bisa memancarkan cahaya? Ibu belum pernah melihat yang seperti ini."
"Ini.. saya tidak dapat menjelaskannya kepada ibu. Kalau ibu suka saya dapat memberikan beberapa bunga kepada ibu."
"Emmm... tidak perlu."
"Kalau begitu taruh lah barang barang kalian dahulu di kamar, setelah itu kita akan makan malam bersama. Para pelayan akan menunjukan jalannya."
Setelah furen dan Jun pergi meninggalkan kamarnya Jían segera menuju ke dapur untuk memasak.
Sampai di dapur para pelayan terkejut dengan kehadiran nona nya disini. Mereka langsung meninggalkan pekerjaannya dan membungkuk memberi hormat kepada Jían.
Salah satu pelayan didekat Jían berbicara dengan gugup.
"No..nona maafkan kami karena makanan malam belum siap. Semoga nona memaafkan kami."
Jían tersenyum tipis saat melihat mereka tunduk padanya.
"Kau terlalu banyak berfikir, aku disini akan memasak. Kalian bangun dan bantu aku menyiapkannya."
"Nona muda akan memasak? Itu itu tidak perlu. No-" pelayan itu belum selesai berbicara pada Jían namun Lan sudah memotong kalimatnya.
"Ikuti saja perintah nona muda. Kalian tidak boleh membantahnya." Kata Lan dengan dingin.
Setelah itu para pelayan mulai bekerja lagi bersama Jían. Mereka mengikuti semua perintah dari Jían, sementara para pelayan sibuk memotong bahan bahan, Jían sedang berada di depan penggorengan sepanjang tadi.
Masakan sudah jadi dan aroma sedap makanan menyebar ke setiap inci dapur. Perut para pelayan pun mulai berbunyi ketika mencium aroma yang lezat itu.
"Kalian bantu aku membawa ini ke ruang makan. Ah iya aku juga menyiapkan beberapa untuk kalian, makanan yang di atas meja itu untuk kalian. Jangan lupa memakannya." Kata Jían sambil tersenyum lembut.
"Terimakasih nona muda!" Teriak mereka serempak
Di ruang makan Furen dan Jun sudah menunggu sedari tadi. Penasaran kemana perginya Jían.
"Apakah kau tau Jían ada dimana?" Tanya furen kepada salah satu pelayan yang sedang menyiapkan peralatan makan.
"Nona muda sedang memasak untuk Furen dan tuan muda."
Memasak? Furen dan Jun kaget. Sejak kapan Jían bisa memasak? Setau mereka Jían sangat takut dengan api. Karena itulah Jían tidak pernah memasak.
"Jun cepat jemput Jían kemari. Ibu khawatir akan terjadi sesuatu."
Tepat ketika Jun hendak berdiri, pintu ruang makan terbuka. Jían segera masuk bersama para pelayan dibelakangnya yang membawa berbagai macam makanan.
Jían sudah duduk dengan senyuman lebar tercetak diwajahnya. Furen lega dengan keadaan Jían saat ini, tapi Jun tidak. Dia tau adiknya dengan baik, tetapi mengapa dia tiba tiba berubah?.
"Gege ada apa? Mengapa mukamu serius begitu. Ayo kita mulai makan."
Jun tersadar karena suara Jían, dengan cepat ia mengambil sumpitnya dan meletakkan lauk di mulutnya.
"Jían ini enak sekali, setau ibu dan gege takut dengan api bagaimana bisa kau memasak."
"Ooh itu ketika di pengasingan aku belajar dengan Lan dan Lea."
Yaampunn bagaiman bisa dewi itu takut dengan api, memalukan sekali hhh...
"Ooh begitu baguslah ibu tidak perlu mengkhawatirkan mu lagi. Setelah makan ayo kita mengobrol santai."
"Baik."
Dan setelah selesai makan, mereka duduk di teras depan sambil menikmati hangatnya teh dan indahnya bunga di halaman.
M̶a̶u̶n̶y̶a̶ ̶k̶e̶h̶a̶n̶g̶a̶t̶a̶n̶ ̶h̶a̶t̶i̶m̶u̶:')
"Tentang luka luka di tubuh ibu itu disebabkan oleh pembunuh bayaran yang datang belum lama ini di kediaman ibu. Tidak ada satupun penjaga di luar kediaman yang sadar akan kehadirannya. Ibu ingin menyembuhkan luka ibu tapi sadar akan mata mata dikediaman, ibu tidak berani menimbulkan kekacauan."
"Bahkan makanan sehari hari yang ibu konsumsi mengandung racun, ibu tetap tidak memberi tahu kepada orang lain. Tapi ketika dokter istana datang ibu memberitahunya kalau ibu keracunan, namun dokter istana menyangkal kalau ibu keracunan. Ibu curiga kalau ini sudah direncanakan oleh seseorang."
Beberapa minggu yang lalu di malam yang tenang, tentunya semua orang sudah terlelap pada jam itu. Namun di salah satu ruangan seseorang masih terjaga. Dengan keringat dingin bercucuran di dahinya ia bersembunyi di sudut ruangan.
Seseorang datang! Sebuah bayangan hitam mendekat ke ranjang, dan tiba tiba ia mengeluarkan pedangnya lalu menghunuskan nya ke ranjang. Tapi tidak ada siapa siapa di sana.
"Hmmm, mengapa dia tak ada disini. Misi ku gagal aku harus segera pergi."
Dengan cepat pembunuh bayaran tersebut pergi. Furen yang ada di sudut ruangan merasa lega dan melangkah menuju ranjang untuk beristirahat lagi.
Siapa tahu sebelum furen sampai ke ranjangnya di belakang badannya tiba tiba ada suara perempuan yang mengagetkannya.
"Halo furen ming, terimakasih sudah menyerahkan diri padaku. Apakah ada kata kata terakhir yang ingin kau ucapkan?"
"Siapa kau! Siapa yang mengirim kau kesini! Menjauh!" Furen segera mengeluarkan pedangnya dari kantong yïnyäng.
"Padahal aku memberimu kesempatan untuk berbicara tentang wasiat mu. Karena kau menolak maka jangan salahkan aku."
Segera saja energi Qi didalam tubuhnya meledak, menghasilkan tekanan yang mengerikan. Ini tingkat ke tujuh! Furen berkeringat dingin, gugup di bawah tekanan perempuan tersebut.