II

1656 Kata
"Gubo, Mingming, Daxue, Qingyu, Jinjin cepatlah ke meja makan!!!" Mendengar teriakan Jían mereka berenam segera berlari secepat mungkin untuk sampai ke meja makan. "Wahh banyak sekali makanannya tuan. Apakah kau masak sendirian?" "Iyalah siapa lagi" "Cepatlah duduk dan mulai makan" Setelah mendengar perkataannya, mereka mulai makan. "Wahh Jían ini sangwat ennyak. Tak kuswangka kau pandai memwasak." Kata Jinjin sambil mengunyah. "Ais lihatlah mulutmu belepotan sekali." Kata Jían sambil mengusap saus yang ada di bibir Jinjin dengan tangannya. Tanpa peduli tatapan kaget mereka. Jían tetap mengusap saus yang ada di bibir Jinjin. "Apakah kau tidak makan? Apakah kau sakit?" Tanya Cheng sambil memegang dahi Jían. "Aku tidak apa apa. Melihat kalian makan dengan lahap sudah membuatku kenyang dan senang" kata Jían sambil tersenyum manis kearah mereka berenam. 'Astaga Mengapa dia bisa semanis ini' dalam hati. "Tapi kau harus tetap makan!" Kata Deaxue sambil memasukan beberapa daging kemulut Jían. "Umph... iya iya dasar bawel" Disela sela waktu makan. Jían teringat bahwa ia harus merubah tampilan gubuk nya. "Gubo apakah kamu tahu cara mengubah tampilan sebuah ruangan?" "Tahu tuan. Cukup dengan membayangkan seperti apa ruangan yang tuan inginkan dan mulai mengeluarkan kekuatan roh anda serta menetaskan darah anda ke ruangan yang ingin anda ubah." "Ooh... begitu rupanya. Terimakasih Gubo" "Iya sama sama tuan." Setelah menghabiskan beberapa jam untuk makan. Jían tersadar bahwa Lan dan Lea akan pulang. "Ah hampir lupa mereka berdua kan pulang hari ini. Gubo, Cheng, Mingming, Deaxue, Qingyu, Jinjin aku pulang dulu ya. Lan dan Lea akan segera kembali kerumah. Sampai jumpa lagi" Ketika Jían hendak pergi tiba tiba ada tangan yanh menahannya. ITU CHENG! "Maafkan atas perilaku tadi." Katanya sambil memalingkan mukanya. "Bwahahaha... iya aku maafkan jangan diulangi lagi ya." Kata Jían dan langsung memeluk tubuh tinggi Cheng. "Apakah hanya Cheng yang dipeluk?" Tanya Gubo yang diikuti oleh keempat makhluk imut lainnya. "Bwahhaha... kalian manja sekali. Jangan menatapku seperti itu uh. Sini aku peluk" Kata jian sampil merentangkan tangannya. Segera saja mereka berlari menuju Jían dan memeluknya. "Uuhh... pengap sekali cepat lepaskan aku tidak bisa bernafas." "Cepatlah kembali" kata Daxue acuh tak acuh. "Ahaha.. iya iya aku akan segera kembali kalian jangan saling bertengkar yak" kata Jían sambil mengelus kepala Daxue. Wusshh ~ Jían langsung menghilang dari pandangan mereka. Meninggalkan Daxue yang hatinya berbunga bunga. Tepat seperti perkiraan Jían ketika ia kembali ke kamar ia langsung mendengar suara Lan. "Jían kami pulang ~ kau ada dimana?" "Kyaaa... akhirnya kalian pulang aku rindu kalian." "Ahaha iya nih. Kita dapat daging banyak." Kata Lea. Ketika Jían melihat lebih dekat kearah Lea ia melihat bekas luka ditangannya. "Lenganmu kenapa? Ini harus segera diobati. Ikut aku ke kamar" "Ah ini hanya luka kecil. Kemarin aku tergigit serigala saat sedang bertarung. Lagi pula kita tidak punya obat." "Luka kecil katamu! Lenganmu itu sobek Lea kalau tidak segera diobati maka itu akan membusuk dan lenganmu harus diamputasi. Jangan khawatir aku punya obatnya." Kata Jían menakut nakutinya. Lea tak sempat menjawab, ia langsung ditarik Jían menuju kamarnya dan Lan menguti di belakangnya. Jían segera menyebutkan beberapa peralatan medis dan obat. Seketika Lan dan Lea terkejut karena tiba tiba muncul berbagai obat di depan mata mereka. "Darimana kau dapat semua ini!" Kata mereka berdua bersamaan. "Nanti aku jelaskan. Sekarang fokus mengobati lukamu dulu Lea. Ini akan sedikit perih, tahanlah." Jían mulai membersihkan tanah yang menempel di kulit Lea. Setelah bersih ia mengoleskan beberapa salep dan membalutnya dengan beberapa tanaman herbal. Terakhir membalut lagi dengan perban. "Biarkan selama 3 hari, dan jangan sampai kena air" Jían "Terimakasih Jían kau yang terbaik." Kata Lea. "Sekarang jelaskan bagaimana kau bisa mendapatkan semua peralatan medis ini." Kata Lan tiba tiba. "Dari ruang angkasa" "Ha..h aku tak salah dengar rua..ang angkasa! Ruang angkasa sudah menghilang dari dunia ini bagaimana bisa?!" "Aku juga tidak tahu. Yang pasti sekarang aku bukan Jían yang terkenal bodoh. Tapi Jían yang agung." Jían, sambil mengeluarkan aura dinginnya beserta kekuatan roh nya. "Kau.. kau bisa berkultivasi?! Yaampun itu.. sudah tingkat 3 aku sangat senang mendengarnya." Balas Lan. "Kalian berdua berada di tingkat berapa?" "Kita berdua berada di tingkat 1" kata mereka serempak. "Ooh, kalau begitu besok kita akan mulai berkultivasi tapi sebelum itu kita akab berkumpul di luar. Aku akan menunjukan sesuatu padamu." "Baiklah, kami siap." "Kalau begitu sekarang istirahatlah." "Tentu Jían, tapi aku harus mencuci pakain dahulu di sungai." Kata Lan "Kau istirahatlah biarkan aku yang mencuci baju dan mengawetkan daging." "Tapi..." "Tidak ada penolakan. Lagi pula aku sekalian berjalan jalan. Kau tenang saja dan beristirahat." Setelah Jían membereskan alat medis nya, ia segera menuju ke tumpukan baju kotor dan segera pergi ke sungai. "Haah... akhirnya sampai juga. Pakaian ini terlalu banyak aku tidak bisa menyelesaikan sendiri. Ah! Bagaimana kalau aku memanggil mereka berlima. Benar benar ide yang bagus." Jían segera memanggil mereka melalui pikirannya. 'Cheng, Mingming, Daxue, Qingyu, Jinjin cepatlah keluar dan bantu aku.' Dalam sekejap mereka berlima sudah berada di depan Jían dengan wajah paniknya. "Ada apa Jían apakah kau terluka?! " teriak mereka bersamaan dan segera menuju ke Jían untuk mengecek keadaannya. "Aku tak apa. Aku memanggil kalian untuk membantuku untuk mencuci pakaian hehe." "Ck hanya mencuci pakaianpun harus memanggil kami." Balas Daxue "Lihatah setumpuk pakaian yang hampir menjadi sebuah gunung. Kalau kau tak mau juga tidak apa apa. Aku juga ingin membuat beberapa kenangan bersama kalian." Kata Jían dengan nada sedihnya. "Jían tenang saja Jinjin pasti akan membantumu" "Mingming/Qingyu juga akan membantumu." Kata mereka bersamaan. Jían merasa senang dan langsung menarik tangan mereka bertiga menuju sungai, cheng pun mulai mengikuti mereka. Meninggalkan Daxue. Disisi lain ~ Trang Trang Trang "Cepat katakan dimana pedang itu berada!" "Sudah ku katakan aku tak mempunyainya!" "Kau! Masih berani berbohong!" Jleb "Ahkkk... kenapa.. kenapa.. kalian sudah kuanggap sebagai keluarga. Hanya karena sebuah pedang kalian membunuhku." Perlahan ia berjalan mundur dan terpojok. Dibelakangnya terdapat sungai berarus deras dan pingsan. "Cih keluarga." "Cepat buang dia supaya mayatnya tak ditemukan." Byur Dia hanyut terbawa aru deras sungai tersebut. Mereka mengira dia telah meninggal padahal hanya pingsan. ???? "Mingming! Jangan membuatku basah." "Aku lapar Jían... ayo kita memancing dan membakar ikan." Kata Qingyu sambil memasang cute face. "Sabarlah, jika kau tidak bercanda terus maka pekerjaan ini akan cepat selesai dan kau bisa segera makan." Mereka berlima langsung bergerak cepat setelah mendengar kata makanan. 'Dengar makan ya semangat dasar' Tiba tiba saat Jían akan keluar dari sungai ia mendengar suara Bruk di balik batu. Jían segera pergi ke balik batu tersebut. Betapa terkejutnya Jían ketika ia melihat seorang pria yang pucat bersimbah darah. Jían langsung memegang pergelangan tangannya untuk mengecek. Untunglah pria itu masih hidup. "Daxue! Daxue! Bantu aku, cepat kemari!" Daxue segera menghampiri Jían dan melihat tubuh seorang pria. "Cepat bawa pria ini kebawah pohon itu, cepat!" Setelah dibawa oleh Daxue, pria itu langsung dibaringkan di rerumputan. Segera saja Jían menyobek bajunya. Breett ~ "Apa yang kau lakukan Jían dia itu laki laki!" Kata Cheng sambil memelototkan matanya. "Aku harus mengobati lukanya bodoh. Kau diam saja,peegilah memancing dengan yang lainnya." Kata Jían dan langsung mengeluarkan peralatan medisnya. "Tidak aku akan disini." Kata Daxue dan langsung duduk sambil memperhatikan Jían. "Iya iya terserah kau." Jían mulai membersihkan lukanya dengan kapas, setelah itu ia mengoleskan beberapa salep supaya tidak merasa perih setelahnya, terakhir Jían membungkus lukanya dengan perban. "Cheng tolong jaga dia sebentar aku akan berganti pakaian." "Ya ya ya." Jían segera menuju ke ruang angkas untuk berganti pakaian. "Tuannn aku sendirian disini huuu..." kata Gubo. "Maafkan aku ya Gubo tapi aku tak bisa mengajakmu keluar. Kau harus menjaga ruang angkasa." "Uh... kalau begitu bawakan aku ikan bakar juga." "Ahahahahaha.... iya iya akan kubawakan. Sekarang aku sedang terburu buru jadi sampai jumpa lagi." Jían segera pergi ke ruang pakaian. Didalamnya ada banyak pakaian dengan kualitas kain yang tinggi, ruangan itu penuh dengan pakaian wanita dan pria. Beserta perhiasannya. "Wahh... ini banyak sekali aku harus pakai yang mana. Ah hanfu itu terlihat sederhana aku suka. Emmm bagaima kalau aku pakai ini dan sepatu hak tinggi ku sepertinya akan cocok." Jian segera berganti pakaian. Ia menggunakan hanfu sederhan roknya berwarna baby blue yang dihiasi beberapa bunga dan bajunya berwarna putih. Rambutnya diikat dengan pita. Itu terlihat sangat imut!. "Sekarang tinggal memilih pakaian untuknya. Emmm mungkin warna hitam akan cocok untuknya." Setelah selesai memilih ia berlari lagi menuju ruang lamanya untuk mencari sepatu. Setelah ketemu ia segera memakainya, tak lupa Jían mengaca terlebih dahulu untuk merapikan penampilannya. Jían berlari lagi menuju ruang obatnya dan mengambil beberapa pil serta air roh surgawi. Setelah itu ia langsung pergi. "Jían dima sih ikannya akan segera matang." Kata Jinjin tak sabar "Dia sedang ganti baju." "Ah Jinjin maafkan aku. Tadi aku terlalu lama untuk memilih pakaian hehe. Apakah ini bagus?." Tanya Jían sambil berputar putar, menjadikan hanfunya berkibar dengan indah. "Kau sangat cantik Jían!." Teriak Qingyu "Cepatlah duduk dan makan mereka sudah menunggumu . Aku akan memakaikannya baju." Kata Daxue yang langsung mengambil pakaian yang ada di tangan Jían. "Terimakasih xuexue. Setelah selasai datanglah kemari dan makan". Sambil mengelus kepalanya. Yang dielus hanya diam. 'Xuexue?! hanya dia yang boleh memanggilku seperti itu.' Mereka segera menikmati ikan bakar sambil tertawa dan bercanda. Ketika mereka sedang bercanda. Tiba tiba ada erangan dari belakang. "Euhggg... aku ada dimana? Mengapa aku masih hidup?" "Kau sudah bangun. Bangunlah secara perlahan dan makan pil ini." Kata Jían dan langsung memasukan pil ke dalam mulutnya dengan air roh surgawi. "Apakah nona yang menyelamatkanku?" Tanya dia sambil memandangi wajah Jían. "Iya aku yang menyelamatkanmu" "Terimakasih nona terimakasih kalau nona tak ada aku pasti sudah mati. Hamba ini akan melakukan semua permintaan nona untuk membayar perbuatan nona" "Ah tidak usah aku tak perlu balasan darimu aku tulus menyelamatkanmu" "Tidak nona, hamba merasa tak enak." "Euhh... yasudah. Akan kupikirkan sebentar. Kau makanlah dahulu." "Terimakasih nona terimakasih." "Iya iya iya." 'Apa yang harus kuminta darinya? Ah bagaimana kalau dia menjadi pengawal pribadiku dan mata mataku itu sangat bagus. Lagi pula kultivasinya berada ditingkat ke 3 ' Jían segera menghampirinya dan berkata. "Kau jadilah pengawal pribadiku." Seketika hening tak ada suara
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN