IV

1465 Kata
Pedang yang dipilih Jían adalah ulfberht sworld. Salah satu pedang terbaik dari yang terbaik di ruang s*****a. Pedang suci yang dibuat langsung oleh surga. Kekuatan pedang itu setara dengan satu kali sambaran petir. Setelah dua bulan berlalu Selama dua bulan Jían giat berlatih s*****a ia sekarang bisa menggunakan semua jenis s*****a, tentu saja dengan bantuan kelima makhluk kontraknya. Bahkan kemampuan medisnya kian meningkat,serta kemampuan dalam memperbaiki berbagai macam pil. Selain itu tingkat kultivasi Jían sekarang sudah berada di tingkat 5 awal. Keterampipan berpedang Lan dan Lea juga semakin meningkat. Jían juga memberi dua pedang untuk Lan dan Lea. Sekarang tingkat kultivasi mereka berada di tingkat 3 awal. Malam ini sangat terang, bulan tidak lagi bersembunyi dibalik awan tetapi menunjukan diri sepenuhnya, menunjukan bahwa ia adalah yang agung. Jían memutuskan untuk keluar menikmati pemandangan yang indah dengan kedua temannya. "Dua bulan ini berlalu dengan cepat, sebentar lagi kita akan kembali ke ibu kota." "Iya nih. Aku takut nona kesatu dan kedua akan membuat masalah ketika kita sudah kembali ke ibu kota." "Kalian berdua kan sudah berlatih dengan giat, mengapa harus takut dengan mereka?" "Anuu begini Jían... nona kesatu kan sudah bertunangan dengan putra mahkota jadi nona kesatu akan menggunakan putra mahkota jika terjadi sesuatu, sedangkan nona kedua akan berbicara yang tidak tidak tentang anda kepada tuan." "Hah... tidak usah pedulikan mereka. Mereka hanya sampah yang mengandalkan kekuasaan dan kecantikan. Ngomong ngomong mereka berdua berada di tingkat berapa?" Kata Jían sambil menghela nafas. "Setau saya nona pertama dan kedua berada di tingkat dua mungkin sekarang sudah naik." Saat sedang berbincang bincang tentang keluarga jendral, tiba tiba sekelebat bayangan muncul di depan Jían. Ia yang waspada langsung mengambil pedangnya. "Siapa kau?! Tunjukan dirimu." Bayangan hitam itu perlahan mendekat ke arah Jían dan mengeluarkan desahan kesakitan. "Ugh.. tolong.. tolong bantu aku. Aku sedang dikejar pembunuh bayaran. Tol... ah." Gadis itu jatuh ketanah dan pingsan. Itu adalah seorang gadis muda yang mengenakan pakaian hitam bersimbah darah. Dibelakangnya ada laki laki yang akan menghunuskan pedangnya kearah perut gadis itu. "Lan cepat ambil gadis itu dan bawa ke gubuk." Jían langsung berlari kearahnya dan bertarung dengan pembunuh bayaran itu. Pertarungan itu sangat sengit karena keduanya berada di tingkat yang sama. Mereka bertarung "Kemampuanmu lumayan juga gadis muda, kau minggir dan serahkan gadis itu padaku." "Apa tujuanmu membunuh gadis itu. Jika kau tak menjawab dalam hitungan ke tiga nyawamu akan melayang." Kata Jían mengeluarkan aura membunuhnya. Pembunuh itu bergidik ngeri merasakan atmosfir yang ada di sekelilingnya. Satu kata untuk menggambarkannya 'neraka'. Tapi ia langsung kembali ke posisi tenang walaupun ada rasa takut dihatinya. "Satu... "Kau pikir aku takut! Dasar gadis naif terima ini! air attack one!" Wushh ~ Debu berkumpul disektar pembunuh bayaran dan membentuk ratusan jarum yang siap menyerang Jían kapanpun. Jían tenang melihat pembunuh bayaran itu. Ia bepikir bagaimana pembunuh bayaran itu bisa menghabiskan semua energinya hanya untuk menggunakan serangan air attack one yang bisa menghabiskan banyak tenaga bagi orang yang tidak handal dalam mengendalikannya. Pembunuh bayaran tersebut juga tampaknya tak bisa mengendalikan serangannya, itu terlihat dari raut wajahnya yang kian mengerut dan mengeluarkan banyak keringat. Benar bwnar bodoh. "Dua... satu lagi jika kau tidak menyebutkan tujuanmu akan kubunuh kau-" Wusshh~ Segera saja penbunuh bayaran itu melepaskan ratusan jarum di udara dan mengarahkannya ke tempat Jían. Semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat tetapi yang diserang hanya berdiri dengan tenang, sambil mengamati dengan mata dinginnya. Ketika jarum-jarum itu semakin dekat Jían mengayunkan pedangnya dan apa yang terjadi selanjutnya membuat melongo pembunuh bayaran. Bagaimana bisa serangan yang sudah ia siapkan dengan menggunakan banyak energi hilang begitu saja. Dan dia masih baik baik saja tanpa satupun luka di tubuhnya. "Ba.. ba... bagaimana bisa kau tidak terluka." Kata pembunuh bayaran tergagap-gagap. Ia tak sengaja melirik kearah pedang yang dipegang Jían dan segera saja matanya membulat. "Ulfberht Sword! Itu benar benar Ulfberht Sword yang hilang bagaimana bisa kau memilikinya-" Ketika pembunuh itu sedang fokus dengan pedangnya Jían segera bergerak secepat kilat dan menghilang dari pandangan pembunuh bayaran. Ia bergerak kesana kemari dengan cepat guna membingungkan si pembunuh. Dengan lengahnya pembunuh bayaran itu Jían segera menuju ke belakang dan mengucapkan beberapa kata. "Karena kau tidak berbicara tentang tujuanmu dan memilih kematian maka terimalah ini." Ia berbisik di telinga si pembunuh bayaran dan segera menusuknya tepat di jantungnya. Jleb ~ "Aahhhkkkk! Huekk.. Huekk....." pembunuh bayaran itu memuntahkan banyak darah karena ditusuk oleh Jían. Jían menatapnya dengan pandangan dingin dan jijik. Sebelum pembunuh itu mati ia mengucapkan beberapa kata. "Ka-u mons-ter Tie weishi ak-an mem-bunuh-mu.. ahkkk." Sekali lagi Jían menusuknya tepat dijantung. Setelah itu Jían mengucapkan beberapa mantra dan mengarahkannya ke mayat pembunuh bayaran. Disana tiba-tiba api muncul melahap mayatnya menyisakan abu yang mulai terbang tak tentu arah. Jían segera menghubungkan pikirannya dengan Gong Yi ' Gong Yi kau mendengarku? Aku butuh bantuanmu. Selidiki organisasi pembunuh bayaran di ibu kota bernama Tie Weishi.' Kata Jían. Sehabis menyelesaikan masalah ia segera menuju gubuk untuk melihat kondisi gadis itu. Tanpa Jían sadari sebenarnya sedari tadi ada yang memperhatikannya didalam kegelapan. 'Gadisku benar benar luar biasa. Aku akan segera menemuimu Shian.' Ia tersenyum dan segera menghilang kedalam gelapnya malam. "Bagaimana keaadaan gadi itu apa dia baik baik saja?" "Dia kehilangan banyak darah karena lukanya. Tapi tenang saja ia sudah kuminumkan pil penambah darah dan aku juga sudah mengobati lukanya." "Terimakasih Lan. Aku sangat terbantu. Hahh...bagaimana gadis ini bisa sampai disini. Ini kawasan yang berbahaya apa yang ia lakukan" "Mungkin saja dia ingin menuju hutan racun untuk memetik beberapa tumbuhan. Kebanyakan orang yang pergi ke sini bertujuan untuk pergi ke hutan racun." Tempat pengasingan Jían berada di dekat hutan racun yang ganas. Sebenarnya hutan itu indah hanya saja banyak tanaman beracun dan hewan yang berbahaya didalamnya. Jían, Lan, dan Lea sudah sering pergi ke hutan itu untuk bermain dengan hewan hewan disana jadi mereka sudah mengerti seluk beluk hutan racun serta semua hewan yang ada di hutan menjadi jinak dan berteman dengan mereka. "Sekarang sudah hampir tengah malam kalian beristirahatlah aku akan menjaganya." Setelah Lan dan Lea keluar dari kamar Jían memandangi gadis yang sedang tertidur lelap itu. Kulitnya seputih porselen hidung mancung bibir mungil. Benar benar wajah yang menggoda untuk kaum adam. Walaupun mempunyai wajah yang imut tapi ia memiliki badan yang ramping membuatnya terlihat dewasa, Jían juga bepikir bahwa gadis ini berasal dari kalangan bangsawan karena ia mengenakan perhiasan yang mehong. Sudah berjam jam Jían menjaganya, ia mulai bosan dan akhirnya memutuskan untuk pergi berkultivasi. Jían tak sadar kalau langit sudah terang saking asyiknya berkultivasi. Ia mulai terganggu dengan suara yang disebelahnya dan mengakhiri acara kultivasinya. "Emhh... aduh sakit eughhh.. kenapa aku berada di kamar.. ah aku ingat." Ia membuka matanya dan akan mengambil posisi duduk. Segera dia mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Ia dikejar pembunuh bayaran dan perutnya terluka, ia berlari kesana kemari melarikan diri dari pembunuh bayaran. "Kau berbaring dahulu lukamu masih belum sembuh sempurna. Apa kau lapar?" Tanya Jían sambil mebaringkat tubuhnya lagi. "Apa kau yang menyelamatkan aku?!" Kata gadis itu yang langsung menyambar lengan Jían. "Iya aku yang menyelamatkanmu. Sekarang istirahatlah dulu. Aku akan membuatkanmu bubur." Kata Jían melepaskan genggaman tangannya dan langsung melangkah keluar menuju dapur. Gadis itu hanya bisa diam menurut dan berbaring lagi. Setelah melihat Jían ia bepikir bahwa dia adalah malaikat karena kecantikannya. Setelah beberapa saat Jían selesai memasak. Ia masuk ke kamar sambil membawa semangkuk bubur untuk dimakan. "Ini makanlah, sembari makan bisakah kau ceritakan apa yang terjadi? Mengapa kau bisa sampai disini dan bisa dikejar pembunuh bayaran?" Kata Jían. "Yaa.. sebelumnya namaku adalah Xiaoćhun aku berasal dari kerajaan Zhou. Keluargaku adalah bangsawan di ibu kota itu. Ayah adalah jenderal agung tapi dua tahun yang lalu ayah terkena racun saat sedang berada di perbatasan dan sekarang ia lumpuh parahnya lagi sekarang ayah tidak bisa merasakan apapun. Itu membuatnya putus asa dan kehilangan rasa percaya dirinya . Aku kemari karena ingin pergi ke hutan racun untuk mengambil Lotus putih. Kata tabib itu adalah satu satunya obat supaya ayah bisa sembuh, jadi aku nekat pergi demi ayah. Tapi siapa sangka ditengah jalan aku dikejar oleh pembunuh bayaran. Aku tidak terlalu mengerti tujuan apa pembunuh itu tapi aku yakin ia mengejarku supaya aku tak mendapkan Lotus Putih. Mungkin ia tak ingin ayah disembuhkan." Jelas Xiaoćhun. "Jadi setelah sembuh apakah kau akan pergi ke hutan racun itu?" Tanya Jían. "Tentu saja aku akan pergi! Itu semua demi ayah." "Hah.. kalau begitu aku akan menemanimu ke hutan racun itu." Kata Jían menghela nafas. "Benarkah?! Kau benar benar akan menemaniku?! Uwaaa terimakasih... ngomong-ngomong namamu siapa?" "Oh iya maaf aku lupa belum mengenalkan diri. Aku nona ketiga keluarga Jendral Chen. Namaku Jían Féng salam kenal Xiaoćhun." Mendengar nama itu Xiaoćhun tidak bisa tidak terkejut. Bagaimana bisa putri yang dikenal buruk rupa bisa menjadi cantik seperti ini! "Ap.. apaaa! Kau Jían. Putri ke tiga Jendral Chen?! Ba.. bagaimana bisa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN