Sebuah Perjodohan

1178 Kata
Sebuah Perjodohan Pagi itu Vano dengan segera  bergegas untuk pulang ke rumah, karena kebetulan hari ini adalah hari minggu. Jadi dia tidak perlu berangkat ke kantor. Dengan kecepatan sedang dia mengemudi sampai akhirya dia sampai di rumah, waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi. Tetapi cuaca memang masih sangat mendung. Sepertinya akan segera turun hujan. Pria itu masuk ke kediaman kedua orangtuanya, dan ternyata. “Abang baru pulang?” tanya sang Mommy kepada putra sulungnya. “Mom?” Vano terkejut mendapati ada mommy dan mami-nya Cherysha di rumah. “Vano, Sayang,” sapa mami Lintang. Dia adalah calon mertuanya. Dan Vano hanya tersenyum manis dengan anggukan yang ramah. “Sini Sayang, Mommy dan tante Lintang sedang melihat-lihat foto kamu dan Chery, sangat menggemaskan,” kata mommy Kisya dengan senyuman manisnya. “Ah iya.” Pria itu menjawab dengan nada yang begitu rendah. Tampak jelas di wajahnya rasa sedih yang terpancar. “Lihat ini, ini saat kamu berusia satu tahun dan baby Chery berusia satu bulan, cantik bukan?” tanya sang mommy. “Iya sangat cantik, Mom,” jawabnya singkat. “Iya nih, Mommy kamu melamar Cherysa untuk kamu sama tante, tau gak sih, tante sempat shok, tetapi langsung tante terima, karena kamu pun begitu tampan waktu itu,” seru mami Lintang dengan senyuman yang begitu ramah. Jadi itulah asal muasal Geovano dan Cherysha di jodohkan. Mommy Kisya dan mami Lintang sudah berteman semenjak mereka remaja. Saat keduanya memiliki buah hati, mereka pun sepakat untuk membuat jalinan persahabatan mereka semakin erat dengan cara perjodohan. “Tante masih ingat, sewaktu kamu masih kecil, kamu menjadi bayi tertampan di lingkugan kita, duh Tante jadi gemas, dan kinin kamu sekarang sdah besar, selamat ulang tahun Geovano Alfariziq Davis,” kata mami Lintang kepada calon menatunya. “Abang selamat ulang tahun, Sayang. Mami sayang sama Abang,” kata mommy Kisya. Saat itu Vano tersenyum, padahal hatinya sedang terluka.”Terima kasih Mom, Tante,” kata abang Vano kepada dua wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar. Mommy Kisya lalu memeluk sang buah hati, dan Vano terlihat bahagia dan meyembunyikan semua luka hatinya. “Maafkan  Tante sekarang hanya datang sendiri saja ya, Nak. Hari ini Cherysha sudah berangkat ke prancis, kamu bisa pergi ke paris juga kalau kamu sedang weekend,” kata mami Lintang dengan senyuman manisnya. Mami Lintang begitu mendukung putri sulungnya untuk go internasional, karena dia sendiri pun mantan model. Jadi ketika Chery meminta ijin untuk tinggal di paris selama 3 tahun, sang mami sangat mendukung. Berbanding kebalik dengan hati Vano yang tidak mau kekasihnya itu pergi meninggalkan dia. Karena usianya sudah dua puluh empat tahun tetapi dia bahkan belum menikah. Kalau menunggu Chery pulang, Vano dan Cherysha akan menikah saat mereka berusia dua puluh tujuh tahun. “Selamat ulang tahun kak Vano,” seru seorang gadis kecil dan imut, gadis itu baru saja datang. “Emhh … kamu?” Vano sedikit mengerutkan keningnya, pasalnya wanita itu sangat mirip dengan kekasihnya Cherysha. “Nak, ini adiknya cherysha, baru pulang dari Ausi, namanya Clarysha,” kata mami Lintang dengan senyuman manis. “Clarysha?” Vano berkata dengan kening yang mengerut. Mereka sangat mirip hanya warna rambut saja yang berbeda. Cherysha mengenakan cat rambut berwarba pirang, sedang Clarysha itu rambutnya berwarna coklat terang. “Sudah sebesar ini kah, Clara?” seru mommy Kisya sambil lengsung memeluk Clarysha dengan erat. “Hallo Tante,” sapa Clarysha dengan senyum ramahnya. Clarysha begitu cantik tidak beda jauh dengan Cherysha. Namun ada perbedaan yang ketaran jelas yang menjadi benteng keduanya, yaitu cara berpakaian mereka yang jauh dari kata mirip. Cheryha seorang model sedangkan Clarysha masih kuliah dan seumur dengan Kezia adiknya Vano. “Kalian sangat mirif?” kata Vano dengan suara yang rendah. “Iya kak, itu yang orang katakana kepadaku, tetapi kami jauh berbeda kak, dan sudah jelas bahwa kak Cherysha yang lebih cantik,” kata Clarysha dengan malu-malu. Vano merasa sangat sedih, di hari ualng tahunnya malah Cherysha tidak ada, tetapi malah adiknya Cherysha yang bernama Clarysha yang menemani dia. Rasa sesak di dalam dadanya seolah membuat dia kehilangan semua suaranya. Vano tak sanggup untuk berkata-kata lagi. Rasa kecewa terhadap sang kekasih kini membuat hatinya remuk dan hancur. Dari pada kita diam di sini, ayo kita masuk ke ruang makan, ada sesuatu di sdalam sana,” ajak mommy Kisya dengan senyuman manisnya. “Wah ada apa di sana?” tanya mami Lintang. “Ada deh, ayo cepat,” seru Kisya.                    Dan mereka pun segera di ruang makan. Tiba-tiba saja seseorang meniup terompet. “Selamat ulang tahun, Abang,” seru kedua adiknya abang Vano, Georzio dan Kezia. Mereka berhambur memeluk kakak kesayangan mereka. “Ya Tuhan aku pikir kalian berdua tidak ingat dengan hari ulang tahunku,” kata abang Vano sambil memeluk kedua adik kesayangannya. “Mana mungkin Zia lupa sama, Abang,” kata Kezia dengan manja. “Iya kalau Zia abang percaya, tetapi kalau Zio—“ ucapan Geovano terhenti. “Sembarangan, Zio juga ingatlah hari ulang tahun Abang,” tukas Georzio kepada sang kakak. “Ah sangat luar biasa, terim kasih ya kalian berdua sudah ingat hari istimewa ini,” kata Vano sambil tersenyum kepada kedua adiknya. “Vano.” Suara bariton seorang pria paruh baya membuat semua yang ada di sana terdiam dan menatap kearah pintu, ternyata sang Daddy datang dengan membawakan  beberapa bungkus makanan. “Daddy,” “Selamat ulang tahun putra kesayangan Daddy, ini hadiah ulang tahun untuk kamu, Nak.” Kata Daddy Jino kepada buah hatinya. “Coklat?” Vano mengerutkan keningnya ketika melihat betapa banyak coklat yang di bawa oleh sang ayah. “ini sangat manis, jika kamu merindukan Cherysha maka makanlah coklat ini agar hati kamu sedikit tenang,” kata Daddy Jino kepada sang buah hati. Secara Daddy Jino tahu jelas bahwa putranya di tinggalkan oleh Cherysha demi meniti kariernya. Karena itu Daddy Jino tidak mau putranya berlaurut-larut dalam kesedihan. “Ya ampun ini nih Daddy-ku, orang paling tahu isi hatiku,” lirih Geovano di dasar hatinya. ‘Terima kasih Daddy,” kata abang Vano dengan suara yang rendah, dan dia tersenyum dengan begitu manis. Kehadiran keluarganya di hari ulang  tahunnya kali ini sungguh berhasil menghibur hatinya yang terluka. Rasa sakit karena sudah di tinggalkan kekasih hatinya membuat dia sempat rapuh, walau memang Cherysha pergi bukan untuk selamanya dan hanya tiga tahunn saja, tetapi tetap Vano merasa tidak suka di tinggal sendirian seperti ini oleh kekasihnya. “Karena kita semua sudah berkumpul semuanya, mari kita makan bersama, lihat Mommy sudah memasak banyak makanan untuk kita semua,” kata mommy Kisya kepada semua orang yang asa di sana. “Baiklah Daddy juga sudah sangat lapar,” kata daddy Jino dengan senymannya. “Terima kasih banyak untuk semuanya, dan makanan ini ternyata semua makanan favorit aku,” kata Geovano dengan senyum yang mekar. “Kenapa Abang harus berterima kasih segala, aku tidak butuh ucapan terima kasih, cukup Abang belikan aku mobil baru,” tukas Kezia dengan manja sambil manatap sang kakak. “Yang ulang tahun siapa, yang minta hadiah siapa?” sindir Georzio dengan nada yang datar sambil meneguk minumannya. “Eh Zio kamu ikut campur segala.” Kezia memukul kepala Zio dengan kerupuk. “eh apaan sih, aku udah keramas kak,” kata Zio sambil menatap sang kakak. “Sudah-sudah kalian berisik sekali, ada tante Lintang dan Clarysha loh di sini,” tukas mommy Kisya kepada kedua anaknya. “Tidak apa-apa Kis, malah aku senang dengan suasana hangat seperti ini,” kata mami lintang dengan senyumannya. “Ayo sekarang kita makan yuk,” ajak mami kisya. “ini buat kakak,” kata Clarysha sambil menyodorkan satu gelas jus jeruk ke hadapan sang calon kakak ipar. Sedangkan vano hanya terdiam sambil menatap mata sayup sang gadis. “Apa ini, dia bahkan tahu minuman kesukaanku, matanya mirip sekali dengan mata Cherysha?” kata abang Vano di dalam hatinya. Pria itu seolah melihat cherysha dalam diri Clarysha. Sedangkan Clarysha sendiri dengan santai menyantap hidangannya tanpa melihat lagi kearah Geovano. Gadis itu entah tahu atau tidak kalau memang pria yang di hadapan dia sedang menatapnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN