“Kavi kenapa belum tidur siang? Sudah jam berapa ini?” tanya Bayu. Balita yang merasa namanya dipanggil lengkap dengan nada suara yang sangat familiar di telinganya itu menengadah dan melihat jam dinding di hadapannya. Kavi menggeleng pelan. “Sekarang sudah jam setengah satu siang. Dan Kavi jam segini belum tidur siang. Nanti kalau Kavi tidur siangnya kesorean, tidurnya pasti malam. Nanti Kavi mudah sakit kalau tidurnya terlalu malam.” Kavi mengerjapkan matanya yang berwarna coklat kehitaman, persis seperti warna bola mata Lekha, ketika mendengar nada suara ayahnya. “Maci mo maen,” cicitnya ketakutan. “Tapi jam mainnya sudah harus berakhir dari tiga puluh menit yang lalu, Nak.” “Ya, Ayah. Tapi maci mo maen.” “Oke, Kavi boleh lanjut main sekarang dan nggak usah tidur siang, tapi

