Bagian 5

744 Kata
“Fajarian Semesta, dia manajer keuangan di perusahaan yang saya kelola.” Baru keluar dari kamar, Medina dibuat menoleh setelah tanpa permisi ucapan tersebut dilontarkan Bayanaka dari sofa ruang tengah. Sampai di unit apartemen beberapa menit lalu, Medina diminta untuk lekas berganti pakaian sehingga tanpa banyak menunda, dia pun bergegas menuju kamar tamu. Dress yang dipakainya kotor, Medina mengganti baju dengan piyama dan karena ketika masuk, Bayanaka belum pergi, dirinya keluat untuk mengucapkan terima kasih, tanpa tahu jika ketika dirinya di kamar, Bayanaka mencari informasi. “Maksudnya, Mas?” tanya Medina sedikit bingung—membuat Bayanaka yang duduk membelakangi, menoleh untuk kemudian buka suara. “Tadi kamu bertanya tentang kenal atau tidaknya saya pada suami kamu, kan?” tanya Bayanaka. “Sekarang saya jawab, saya kenal, karena ternyata dia manajer keuangan di perusahaan yang saya kelola.” “Jadi maksudnya Mas Naka satu kantor sama Mas Fajar?” tanya Medina sambil mendekat dengan raut wajah kaget yang begitu kentara. “Iya,” ucap Bayanaka. “Dan suami kamu adalah bawahan saya. Tadi pas kamu sebut namanya, saya merasa tidak asing. Jadi saya cari tahu dan ternyata saya sering bertemu dengan dia, hanya saja jarang berkomunikasi.” “Dunia sempit ya?” tanya Medina dengan senyuman samar. Mendekat ke arah sofa, perlahan dia duduk sebelum kemudian berkata, “Diantara semua perusahaan, ternyata Mas Fajar kerja di tempat yang sama dengan Mas Naka. Agak ironis.” “Dunia saja sempit, apalagi Surabaya?” tanya Naka dengan senyuman tipis. Tak tahu harus menimpali apa, Medina tersenyum samar sambil mengusap perutnya hingga tak berselang lama dia penasaran akan sesuatu. “Mas, apa boleh tanya?” “Silakan, mau tanya apa?” “Apa Mas tahu perihal gaji Mas Fajar?” tanya Medina. “Setahu saya, dia selalu bilang kalau gajinya ada di kisaran lima belas juta sebulan. Apa itu benar?” “Suami kamu sebut angka itu sebagai gajinya?” “Iya,” kata Medina. “Apa memang segitu gajinya di kantor? Barangkali Mas Naka tahu.” “Saya tahu karena kebetulan saya pimpinan di perusahaan tempat suami kamu bekerja, dan kalau kamu bertanya tentang gaji Fajar, kamu selama ini dibohongi,” kata Bayanaka—membuat Medina kembali dilanda rasa kaget. “Untuk posisi itu, gaji awal memang di kisaran segitu, tapi suami kamu sudah cukup lama. Jadi setiap bulan gajinya ada di angka tiga puluh, Medina, bahkan bisa sampai di angka empat puluh kalau bonusnya sedang besar.” Bukan lagi raut wajah kaget, kali ini yang Medina tunjukan justru senyuman. Namun, tentu saja di balik senyuman tersebut tersimpan rasa sakit baru karena ternyata bukan hanya sekadar pasangan, Fajar merahasiakan banyak hal darinya. Padahal, selama menjadi istri, Medina sudah berusaha semaksimal mungkin dalam mengolah keuangan dan semacamnya. Namun, ternyata Fajar tak sepercaya itu padanya—membuat rasa sakit yang beberapa jam lalu tercipta, kini semakin menganga lebar. “Kenapa senyum?” tanya Bayanaka—peka terhadap raut wajah Medina. “Lagi meratapi diri sendiri yang bodoh aja, Mas,” ucap Medina. “Selama ini aku pikir aku udah tahu semuanya tentang Mas Fajar, tapi ternyata salah karena aku bahkan enggak tahu apa-apa tentang dia. Jangankan tahu hal penting, perihal gaji aja Mas Fajar enggak jujur. Padahal, selama jadi istri, aku enggak pernah menggunakan uangnya untuk hal-hal enggak penting.” “Berarti dunia pernikahan kamu enggak seindah itu ya?” “Indah, Mas, cuman di balik keindahan itu banyak bangkai yang disimpan sama suami aku sampai akhirnya hari ini semua bangkai itu kebongkar,” ucap Medina dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca. “Saya padahal enggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Selain Mas Fajar, saya enggak punya tempat pulang.” Tak tahu harus menimpali apa, Bayanaka hanya bisa meringis sambil menahan iba. Memperhatikan Medina yang kembali menangis, sebuah ide muncul di benaknya dan tanpa hanyak menunda, Bayanaka berkata, “Karena saya berhutang budi, kamu boleh minta apa pun dari saya.” “Maksud Mas Naka?” tanya Medina. “Ya kamu boleh minta apa pun dari saya,” kata Bayanaka. “Satu permintaan, tapi pasti saya kabulkan. Misalnya kamu pengen saya hancurin karir suami kamu? Kalau iya, saya bisa lakuin itu.” “Enggak, Mas, saya enggak mau minta Mas buat hancurin Mas Fajar,” ucap Medina. “Biarin aja dia di pekerjaannya sekarang. Cuman kalau memang Mas benar-benar mau mengabulkan permintaan saya, saya mau minta sesuatu.” “Satu hal?” “Iya, satu hal,” kata Medina—membuat Bayanaka bertanya, “Mau minta apa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN