Tidak Terganti

2070 Kata
Sedangkan, di sisi lain, Genta baru saja bangun dari tidurnya. Entah sudah berapa jam dia tertidur. Dia baru sadar jika hari sudah gelap, dan dirinya mempunyai tanggung jawab— mengantarkan perempuan yang ikut dengannya tadi. Genta sebenarnya tidak mau mengantarkannya. Tapi bagaimanapun juga ini sudah menjadi tanggungjawab yang memang harus dipenuhi. Dengan malasnya dia menuruni anak tangga menuju ke ruang tengah yang mana Gempita kemungkinan masih berada di sana bersama Mamanya. Namun baru menuruni setengah tangga, dia tidak melihat keberadaan Gempita. Hanya ada Mamanya sedang menyambut Papanya yang ternyata baru saja pulang. "Perempuan tadi di mana? Sudah pulang?" tanya Genta saat sudah dekat dengan Mama dan Papanya. Dia kemudian duduk memisahkan orang tuanya yang tadi berdampingan. Selalu seperti itu. "Gempita sudah pulang, diantar Kale, Sayang." Seruan Mamanya itu diiyakan. Lumayan juga tidak perlu membuang tenaga ataupun waktu karena harus mengantarkan Gempita. Ah, beruntung sekali Genta. "Siapa Gempita?" tanya Pak Binar, Papa Genta. Dia mengernyit karena asing sekali dengan nama yang disebutkan anak dan istrinya tadi. Yang dia tahu nama tadi bukanlah salah satu nama teman atau rekan kerja Genta. "Calon menantu kita," jawab Bu Lili dengan santainya. Bu Lili memang ceplas-ceplos orangnya. Dia tersenyum senang usai mengatakannya. "Benar, Genta? Gempita itu kekasihmu?" tanya Pak Binar memastikan. Dia sangat terkejut dan tentu tidak percaya. "Bukan!" jawab Genta dingin. Dia jadi kesal karena ucapan Mamanya tadi. "Ah, iyakan saja apa masalahnya, sih, Genta? Bukankah nanti juga akan menjadi menantu Mama dan Papa?" seru Bu Lili. Dia menahan Genta yang tadinya mau beranjak dari sana karena topik yang dibicarakan menyebalkan baginya, sementara Bu Lili masih ingin melanjutkan topik obrolan tadi. "Kalau iya, Papa, Mama, Kale, dan keluarga yang lain akan sangat senang, Genta. Kenalkan pada Papa juga. Ajak dia kemari lagi," ujar Pak Binar. Matanya berkaca-kaca karena dia sangat terharu. Telah lama dia menantikan anaknya pulih dari kesedihan dan menemukan kebahagiaan bersama perempuan lainnya. "Apa, sih, Pah? Jangan berpikiran macam-macam, Pah! Gempita bukan siapa-siapa," ucap Genta. Dia memang senang bercanda. Genta merangkul Pak Binar dengan kuat, seolah ingin memberikannya pelajaran karena telah membuatnya kesal. Tapi dia tetap bisa mengontrol dirinya karena di sampingnya itu Papanya. "Mama juga! Jangan berpikiran macam-macam, jangan menggoda Genta!" Kali ini Genta merangkul Mamanya yang duduk di samping kirinya. Dia sangat gemas dengan kedua orang tuanya itu. Genta memberikan kecupan di pipi masing-masing dari mereka. Genta tidak bisa marah besar pada orang tuanya meski apa yang diobrolkan tadi kurang berkenan di hatinya. "Tapi, Genta. Mama sangat mendukung kalau kamu beneran sama Gempita," ujar Bu Lili usai Genta memberikan ciuman seperti biasanya. Dia benar-benar ingin Gempita menjadi menantunya. "Iya! Papa juga mendukungmu. Lekaslah menikah dan berikan Papa serta Mama cucu yang banyak. Kami sangat menginginkan cucu di rumah ini," timpal Pak Binar. Dia sedikit kesulitan karena rangkulan Genta sangat kuat, dia tidak bisa lepas. "Sudahlah, Pah, Mah. Genta tidak mau kalian terus menggoda Genta. Biarkan semuanya berjalan sesuai dengan takdir. Jika jodoh Genta memang pergi terlebih dahulu, bukankah itu tidak masalah? Genta bisa menunggunya sampai waktu Genta di dunia ini habis juga," ucap Genta yang membuat Pak Binar dan Bu Lili sangat sedih. Genta pun berucap sendu. Dia melepas rangkulannya pada Bu Lili dan Pak Binar. Wajar jika mereka sedih. Mereka tahu pasti Genta masih merasa kehilangan. Lelaki itu masih mencintai kekasihnya hingga tidak mau menggantikan dengan perempuan lain. Harusnya Genta tidak boleh berpikiran seperti itu, hidupnya terus berlanjut, Genta harus memiliki pengganti kekasihnya supaya hidupnya bahagia. "Genta, hidupmu masih berlanjut. Kamu tidak mungkin terus sendirian. Kamu memerlukan teman hidup! Jangan terus menerus memikirkan kekasihmu yang telah tiada itu! "Aduh... Genta lelah sekali. Genta ke kamar dulu, ya, Pah, Mah...." Genta bergegas meninggalkan Papa dan Mamanya yang sepertinya kecewa karena dirinya memutuskan obrolan begitu saja. Tapi Genta tidak peduli lagi jika bahasannya seperti tadi. Sangat tidak penting dan justru membuatnya sedih. "Genta, Papa dan Mama belum selesai berbicara!" teriak Bu Lili. Namun, Genta tidak peduli. Genta tetap melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya tanpa berpaling. "Sudahlah, biarkan dulu. Mungkin kita harus memberikan dia waktu lebih lama lagi," ujar Pak Binar berusaha menenangkan istrinya. "Sampai kapan? Sampai dia benar-benar dipanggil Tuhan?" Bu Lili hampir menangis mengatakannya. Dia benar-benar ingin Genta kembali seperti dulu. Dia ingin Genta mendapatkan kebahagiaan lagi. Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya selalu terpuruk dengan kesedihan. "Apa kita perlu mencarikan dia perempuan? Apa kita harus memaksanya seperti di novel-novel pasaran itu?" "Jangan!" Pak Binar menolak keras. Dia kemudian berkata, "Basi ceritanya! Genta tidak boleh seperti itu. Biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri. Kita hanya perlu mendoakannya." Bu Lili mengembuskan napas panjang. Lelah sekali menghadapi Genta yang keras kepala. Tapi dia tetap berharap supaya Genta berubah pikiran hingga akhirnya mencari pengganti kekasihnya yang telah tiada. Genta tidak boleh senantiasa larut dengan kesedihannya. Seperti malam biasanya, setelah bersih-bersih, Genta pasti bersantai di balkon kamarnya ditemani secangkir kopi dan tentu dengan iPad serta stylush pen-nya. Bersantai bagi Genta memang seperti itu, tetap ada waktu yang digunakan untuk bekerja. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktunya. "Genta!" Kembarannya tiba-tiba saja datang dengan secangkir kopi pula. Dia duduk di kursi kosong sebelah Genta. Menyeruput kopinya sedikit sebelum diletakkan di atas meja. Kebiasaannya ketika malam juga seperti itu— mengganggu Genta atau mengajaknya mengobrol. Terkadang Kale juga menyelesaikan pekerjaannya. "Bagaimana kamu bisa mengenal Gempita?" "Dan bagaimana dia bisa kemari tadi? Pasti bersamamu, kan?" "Hey, Genta. Gempita itu perempuan yang aku ceritakan padamu dulu. Kamu tidak menyukainya, kan?" Kale begitu tak sabaran menantikan jawaban dari saudara kembarnya. Dia melayangkan begitu banyak pertanyaan dalam waktu sekejap hingga tak ada celah lagi bagi Genta untuk menjawab satu per satu. Seperti biasa, Genta selalu saja malas jika diajak mengobrol saudaranya yang cerewet itu. Menurutnya Kale seharusnya tak bertanya seperti tadi, karena dia yakin Kale sudah mengetahui jawabannya melalui raut wajahnya. Sementara Kale masih antusias mendengarkan. Dia menatap Genta yang sedari tadi selalu menatap iPad yang memaparkan rancangan gedung yang masih dalam proses. Sangat kesal dengan Genta yang selalu saja bersikap dingin padanya. "Hey! Jawab pertanyaanku!" gertak Kale. Dia merasa semakin kesal dikarenakan cukup lama menunggu jawaban Genta tapi yang ada Genta malah semakin asyik dengan iPad-nya. Alhasil, Kale pun merebut iPad tersebut dengan paksa dan tak lupa mematikannya. Genta langsung menggebrak meja. Sangat tidak suka jika ada yang mengusiknya di kala dirinya sedang asyik-asyiknya. "Apaan, sih? Jangan kaya anak kecil deh!" Dan saat Genta sudah mulai terlihat marah, Kale mengembalikan iPad-nya. Genta memang bukan pemarah orangnya, tapi sekalinya marah dia bisa berbahaya sudah seperti singa yang hendak memangsa. Kale gemetar sendiri kalau melihat Genta marah. Benar-benar mengerikan. "Tenang saja. Aku tidak akan menyukai Gempita. Dan aku tidak akan menyukai siapa pun," jawab Genta kemudian. Dia berharap Kale tak lagi mengusiknya, lebih berharap lagi pergi meninggalkannya setelah mendapat jawaban langsung darinya. "Apa yang ada di otakmu itu? Kenapa bisa berpikiran seperti itu?" teriak Kale. Dia teramat kecewa dengan Genta yang selalu saja seperti itu. Kale tidak mau Genta seperti itu terus, dia mau Genta kembali seperti dulu. Genta yang hangat dan penuh dengan kebahagiaan. Genta yang saat ini sangatlah memprihatinkan. Sementara Genta menghirup napas sejenak. Dia pun kembali menikmati kopinya yang sudah hampir dingin karena terkena angin malam. Dia berusaha meredamkan emosinya yang hampir memuncak karena saudara kembarnya yang menyebalkan itu. "Hatiku sudah mati ikut terkubur bersama jasad Tamara." Suasana mendadak sendu. Kale turut larut dalam kesedihannya Genta. Dia memang tak merasakan jika kekasih yang kita cintai telah pergi ke alam baru, tapi dia bisa tahu jika itu sangatlah menyedihkan. Kale tahu betapa sedihnya Genta. Hal itu bukan berarti Genta tidak bisa menikmati kebahagiaan lagi. Bahkan Genta berhak bahagia setelah kepergian kekasihnya. "Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti menemukan pengganti Tamara. Mungkin raga dan sifatnya belum tentu sama, tapi Tuhan pasti telah menyiapkan yang terbaik untukmu," tutur Kale. "Entahlah. Sulit sekali menemukan perempuan seperti Tamara, dan mungkin aku tak akan pernah menemukannya lagi." Harusnya dia tidak bilang seperti itu karena dia tak pernah mencoba mencarinya. Selama ini dirinya hanya diam di tempat membiarkan hari-harinya terlalui begitu saja. Tak pernah sedikit pun keluar dari zona nyamannya dan mencari sesosok pengganti Tamara. Bahkan hingga kini hatinya masih tertutup rapat. Hatinya hanya milik Tamara, begitu dia mengartikan. "Mau kukenalkan dengan seseorang? Siapa tahu kamu bisa melupakan Tamara?" tawar Kale. Dia sedikit ragu mengatakannya. Namun, tidak ada pilihan lagi, dia harus membantu saudara kembarnya. Teman perempuan Kale sangatlah banyak dan beragam. Dia hanya perlu menyeleksi perempuan mana yang kemungkinan cocok dengan saudara kembarnya. Genta melirik ke arah Kale dengan senyum meledek usai mendengar perkataan bodoh tadi. Dia kemudian mengunyah keripik singkong yang dibawa sebelumnya. Dia jadi lupa dengan pekerjaannya karena obrolan yang melebar ke mana-mana. "Mau kamu kenalkan dengan para perempuan pelacurmu?" "Bukan! Perempuan yang dekat denganku tidak semuanya p*****r. Semuanya baik, kamu tidak perlu khawatir," sahut Kale menyangkal perkataan Genta. "p*****r atau bukan, aku tetap tidak mau. Jangan pernah ikut campur dengan urusanku. Biarkan aku berbuat semauku. Tamara tidak terganti oleh siapa pun." Genta kembali membuka iPad yang tadi dimatikan Kale. Dia menegaskan kalimat terakhirnya supaya obrolan segera terhenti jika memang Kale paham maksudnya. "Tapi, Genta...." Genta dengan sigap menyuapi mulut kale dengan banyak keripik singkong hingga Kale kesulitan mengunyah dan tidak lagi melanjutkan perkataannya. Genta tidak mau mendengar apa pun lagi dari mulut Kale jika topiknya masih seperti tadi. "Ah, s**t!" Kale kepedasan karena keripik singkong tersebut penuh dengan bubuk cabe. Mulut dan wajahnya memerah, dia kebingungan karena tidak air putih di sana. Hanya ada kopinya yang tentu masih panas. Ah, tapi ada kopi milik Genta. "Biarkan aku meminum kopimu, Genta. Punyaku masih panas," ucap Kale meminta izin sebelum meneguk kopi Genta yang sudah dingin. Kale kembali merasa dijahili Genta. Rupanya kopi tersebut sangatlah pahit, Genta sepertinya tidak memasukkan gula. "Sial! Siapa yang membuat kopi ini? Kamu sendiri?" Kale menggelengkan kepalanya usai menyeruput sedikit kopi hitam milik Genta. Dia kemudian langsung meneguk kopinya sendiri— kopi s**u— meskipun masih panas. "Jangan meledekku. Kamu tahu sendiri bukan jika aku tidak pandai meracik kopi. Apalagi masih dalam bentuk biji, aku tidak pandai meramu," jawab Genta malu-malu. Dia sedari dulu memang kurang pandai meracik kopi meskipun di rumah juga tersedia alat peraciknya. Namun tangannya tetap tidak lihai menakar-nakar, dia hanya lihai merancang gedung. Sementara Kale malah sebaliknya. Lelaki itu sangat lihai meracik kopi, dan pada akhirnya dia bisa meneruskan bisnis keluarga yang berupa kedai kopi. "Harusnya kamu menungguku pulang, biar aku yang membuatkanmu kopi." "Kukira kamu tidak pulang. Makanya aku membuat sendiri." Kale menggelengkan kepalanya. Genta memang begitu, dia selalu membuat kopi sendiri jika tidak ada Kale atau Mamanya. Mungkin Mamanya tadi sedang sibuk atau sedang ada masalah dengan Genta hingga tidak mau memintanya untuk membuatkan kopi. Entahlah, Kale tidak peduli. Dia segera pergi dari sana mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa pahit dan pedas di mulutnya. Sementara Genta sudah tidak semangat lagi menyelesaikan pekerjaannya. Suasana hatinya kacau karena obrolan dengan para keluarganya. Dia jadi kepikiran. Genta menahan air matanya yang hampir menetes. Dia selalu sedih jika para keluarga memintanya untuk mencari pengganti Tamara. Sedangkan baginya, Tamara tidak tergantikan oleh siapa pun. Sangat sulit bagi Genta untuk keluar dari keterpurukannya. "Genta, apa ponselku masih di sana?" tanya Kale. Dia kembali lagi dengan wajahnya yang masih merah karena pedas dari keripik singkong tadi dikarenakan ponselnya sepertinya tertinggal di sana. Genta kemudian menatap meja di hadapannya yang memang tidak ada ponsel milik Kale. Hanya ada ponsel dan iPad Genta saja di sana. Dan Kale jadi kebingungan, dia kira tadi tertinggal di sana, tapi ternyata tidak. Pelupa merupakan salah satu sifatnya. "Aih, aku letakkan di mana tadi? Di bawah juga tidak ada. Ah, atau mungkin masih di mobilmu tadi," ucap Kale, memberikan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Genta tidak peduli. Dia memalingkan wajahnya dari Kale karena tidak mau kalau Kale tahu bahwa dirinya hampir menangis. Genta kemudian pergi terlebih dahulu dengan membawa ponsel dan iPadnya tanpa membereskan bekas cangkir kopi dan makanan pendampingnya tadi. "Genta? Kamu sedih karena perkataanku tadi?" tanya Kale mengehentikan langkah Genta. "Tidak. Aku lelah sekali hari ini, aku ingin segera tidur. Selamat malam," jawab Genta. Dia melanjutkan langkahnya lagi. Sementara Kale masih berdiam di tempatnya menatap punggung Genta. Dia jadi sendu melihat Genta. Kale tahu betul bahwa Genta sedang sedih. Dia selalu merasa bersalah ketika memberi nasihat Genta. Tapi sebenarnya apa yang dilakukan Kale ataupun keluarga lainnya sudah benar. Bagaimanapun juga keluarga harus mendukung Genta supaya bisa keluar dari keterpurukan. Genta harus bahagia, dia tidak boleh sedih lagi. Sudah cukup. Keluarganya tidak mau melihatnya terpuruk sedih. Mereka juga ingin melihat Genta bahagia seperti dulu— ketika dia masih bersama kekasihnya yang kini telah tiada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN