Mengantarkan Pulang

2070 Kata
Gempita masih bingung. Tapi dalam benaknya telah terpikir satu cara supaya bisa pulang. Ya, hanya Genta yang bisa membantunya. Entah apa yang sedang merasuki perempuan itu. Genta kembali dibuat heran. Tadi terlihat ketakutan dan sedikit menggemaskan, tapi sekarang malah menjengkelkan dan berani sekali membentaknya. Terlebih lagi, Gempita langsung masuk ke mobilnya tanpa menunggu izin dari sang pemilik. Genta mengangahkan mulutnya melihat kelakuan perempuan yang entah dari mana asalnya. "Ayo! Tunggu apalagi?!" gertak Gempita membuat Genta kembali mengangahkan mulut. Perempuan itu benar-benar tidak tahu malu. Sudah menumpang, tapi berani menyuruh si pemilik mobil. Genta benar-benar tidak habis pikir. Kenapa Tuhan bisa menciptakan perempuan seperti itu di dunia ini. Lelaki itu mendengus kesal. Dia membuka pintu mobil dan menarik Gempita supaya keluar dari sana. Cukup sulit mengeluarkan perempuan itu dari mobilnya, tapi akhirnya dia berhasil juga meski caranya agak kasar dan mungkin menyakiti perempuan itu terbukti karena dia langsung mengusap tangannya yang digenggam erat tadi. "Jangan pernah menggangguku lagi atau aku akan berbuat semakin jahat padamu!" Begitu ancaman yang diberikan Genta supaya Gempita takut dan tidak berani berbuat macam-macam. Genta mendorong Gempita hingga akhirnya keluar dari mobil. Perempuan itu jadi takut sekali, dia bergegas memikirkan cara karena tidak mau ditinggal Genta. Hanya Genta yang bisa mengantarkannya pulang. Dia tidak mengenal siapa pun lagi selain Genta. Dan sejurus kemudian, Gempita mengeluarkan aksinya. Dia menangis sejadi-jadinya membuat para pembeli es kelapa berhamburan menghampirinya dan bertanya apa yang menyebabkan menangis. "Huaaahhaaaa... Tolong saya...." Gempita menjerit. Genta yang berada di dalam mobil mampu mendengarnya dengan jelas. Pertanda bahwa Gempita memang suaranya keras. "Kenapa, Mbak? Kenapa?" tanya pembeli dengan panik. Mereka pun berusaha menenangkan Gempita yang masih meraung dan menangis sejadi-jadinya. Ikut panik dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Saya dicampakkan oleh lelaki itu..." teriak Gempita, meraung-raung sembari mengarahkan tangannya menunjuk Genta yang kebingungan di dalam mobilnya. Genta sendiri terkejut dengan kelakuan Gempita yang kian membuatnya kesal. Dia memijat pelipisnya karena pening menyaksikan perempuan yang menangis. Dia paling tidak suka melihat orang menangis di hadapannya. Lelaki itu langsung membuka kaca mobilnya. Dengan cekatan pula, Genta membungkam mulut Gempita supaya tak berteriak lagi. Malu benar dia dibuatnya. Apalagi penjual serta pembeli es kelapa yang masih berada di sana menatapnya. "Huaaaa...." Gempita kembali menangis ketika tangan Genta terlepas dari mulutnya. Padahal Genta hanya melepas karena ingin membersihkan air liur yang membasahi tangannya. Jijik. "Jangan kasar, Mas. Masa sama perempuan secantik Mbaknya dikasarin!" seru Ibu-ibu berdaster pendek dengan kerudung hitam. Dia menghakimi Genta karena baginya Genta yang bersalah atas kejadian ini. Tentu Ibu itu akan mendukung Gempita karena sesama perempuan. "Tidak ada apa-apa, kok, Bu. Tidak perlu khawatir lagi. Hehe... Maaf mengganggu...." "Huaaaa...." Gempita kembali menangis. Apa yang dia inginkan belum juga dipenuhi Genta. Dia akan berhenti jika Genta berbuat baik padanya. "Masuk cepat!" Dan alhasil, Genta kembali menyuruh perempuan itu untuk masuk lagi ke mobilnya. Dia tidak mau dihujat oleh pengunjung yang mayoritas memihak Gempita. Genta pun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi karena kesal usai Gempita masuk ke mobilnya. Sedangkan Gempita merasa senang, akhirnya drama ini dimenangkan olehnya, dia menyudahi tangisnya. "Terima kasih, ya, Genta...." Gempita masih melayangkan senyum kemenangan dan bangganya. Sementara Genta tidak peduli lagi dengannya. Dia fokus mengemudikan mobil meski suasana hatinya semakin memburuk. Benar-benar buruk ketika bertemu dengan Gempita. "Aktingku bagus juga ya hihi...." Berakting membuat dirinya semakin merasakan dahaga. Ternyata dia berbakat pula di dunia lakon. Ah, dia malah pengen jadi artis. Perempuan itu terus saja terkikik sembari menikmati air dan daging buah kelapa muda untuk mengusir hausnya. Daging buah kelapa itu sangat lembut dan memanjakan lidah. Air kelapanya pun manis dan segar. Cocok sekali memang untuk diminum ketika matahari sedang terik-teriknya. Sangat nikmat dan menyegarkan. AC di mobil sampai kalah segarnya dari es kelapa tersebut. "Enak sekali kepalanya!" seru Gempita memuji es kelapa. "Kepala gundulmu! Jelas-jelas itu kelapa!" dengus Genta yang tak digubris Gempita karena terlalu asyik menyantap es kelapa muda itu, dia sangat menyukainya. Genta jadi semakin kesal dengan perempuan yang tidak bisa mengucap kelapa dengan benar. Beberapa saat kemudian mobil terhenti, dan aktivitas Gempita terhenti pula– satu cup es kelapa muda telah habis. Gempita terheran-heran saat menatap lingkungan sekitarnya, asing sekali. "Ini bukan rumahku. Kenapa kamu membawaku kemari?" tanya Gempita terheran karena mendapati dia berhenti bukan di rumahnya. Dan rupanya Genta telah turun dari mobil dan masuk ke rumah tersebut. Gempita panik sekali, dia bergegas keluar dan berusaha mengikuti Genta yang sudah cukup jauh darinya. Lelaki itu ternyata sengaja kembali ke rumahnya terlebih dahulu karena Mamanya telah menantikan es kelapa mudanya. Kasihan jika harus menunggu lagi setelah mengantarkan Gempita. Genta tidak akan membiarkan Mamanya menunggu lebih lama lagi. "Mah... Ini es kepalanya. Aduh! Maksudnya es kelapa," seru Genta meletakkan empat cup es kelapa itu di hadapan mamanya yang sedang asyik menonton drama Korea. Mamanya pun girang, dia menoleh ke arah Genta. "Iya, terima kasih. Eh, siapa itu..." seru Mamanya bertanya ketika mendapati seseorang di belakang Genta. Dia sangat antusias dan langsung berdiri menghampiri Gempita yang sangat menarik perhatiannya. Sementara Genta baru sadar kalau ternyata Gempita mengikutinya sedari tadi. Dia pun menepuk keningnya. Tidak seharusnya perempuan itu mengikutinya sampai ke dalam karena pasti menimbulkan tanda tanya besar dari Mamanya. Gempita ternyata mengikuti Genta hingga ke dalam rumah karena dia takut sendirian di tempat asing. Dia berdiri seraya melambaikan tangannya kepada perempuan yang dia yakini sebagai mamanya Genta. "Kenapa mengikuti aku, sih! Pergi sana!" gertak Genta, dan Gempita hanya menggeleng karena dia tidak mau pergi sendiri, dia harus pergi bersama Genta. "Apaan, sih! Kenapa menyuruhnya pulang? Dia kan baru saja datang! Jangan ketus juga jadi orang, tidak baik!" Bu Lili menyikut perut Genta karena cukup kesal dengan anaknya itu yang selalu saja ketus dengan perempuan. Dia selalu menasihati supaya bersikap lembut. Tapi tetap sulit, Genta tetap dingin. Dan Genta terdiam. Sementara Gempita tertawa senang, akhirnya ada yang memihaknya. Dia pun juga menertawakan Genta yang ternyata takut dengan mamanya, terbukti karena langsung diam saat diberi nasihat tadi. Lucu sekali, Gempita jadi ingin mengabadikannya, tapi sayang ponselnya habis daya. "Konnichiwa..." ucap Gempita sembari menundukkan badannya, dia menyapa perempuan yang diyakini sebagai Mamanya Genta. "Konnichiwa... O namae wa? Totemo kirei desu," ucap Bu Lili menghampiri Gempita. (Selamat siang. Siapa namamu? Kamu sangat lucu.) "Nama saya Gempita, saya bisa bahasa Indonesia kok, Tante." Gempita tidak menyangka bahwa Bu Lili bisa berbahasa Jepang pula. Nampaknya Gempita membuat Bu Lili senang dengan kehadirannya. Terbukti karena dirinya langsung memberikan Gempita pelukan dengan erat. Mereka kemudian berbincang melupakan Genta yang sedari tadi di sana. Sungguh tidak bisa dipercaya jika mereka berdua bisa langsung akrab. "Asem!" desis Genta yang tetap saja tidak membuat Gempita atau Bu Lili menghiraukannya. Perempuan jika sudah mengobrol memang tidak ingat apa pun lagi. Genta akhirnya memilih untuk pergi dari sana karena percuma juga kehadirannya tidak dianggap. Dia juga tidak mau mendengar obrolan yang sangat tidak penting. Bu Lili memang cukup lama tinggal di Jepang, wajar jika obrolannya dengan Gempita yang sedikit menyinggung Jepang nyambung. Mereka mengobrol cukup lama membuat Genta melanjutkan pekerjaannya. Sebenarnya Genta memang ingin untuk melanjutkan pekerjaannya, namun kantuk lebih dahulu datang hingga memilih untuk memejamkan matanya. Entah kenapa jika ada pemantauan proyek, tubuhnya merasa lelah berkali-kali lipat dari biasanya. "Ehm, Tante...." "Iya, Sayang?" "Sudah sore hehe... Bolehkah Gempita pulang? Nanti takut dicariin Papa." Perempuan paruh baya itu lantas menepuk kening. Dia terlalu asyik mengajak Gempita mengobrol sampai tak sadar jika di luar sana langit sudah bewarna jingga dan sebentar lagi akan tergantikan dengan kegelapan. Gempita sendiri juga hampir lupa pulang karena keasyikan mengobrol dengan Bu Lili yang satu frekuensi dengannya— cerewet. "Ah, iya, terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu. Tante panggilkan Genta sebentar, ya...." Bu Lili lantas hendak memanggil Genta supaya mengantarkan Gempita pulang, namun langkah kakinya terhenti tatkala Kale pulang. "Halo, Mama yang paling Kale sayangi. Kale yang menggemaskan ini sudah pulang...." Seperti itulah Kale ketika pulang. Kali ini dikejutkan dengan perempuan yang duduk di kursi ruang tamunya. Perempuan yang sangat dikenalnya, dia langsung berjalan menghampiri. Histeris sekali jadinya. "Kok kamu di sini? Kangen, ya, sama aku?" tanya Kale dan langsung duduk di samping Gempita. "Tidak. Aku tadi diajak Genta kemari," jawab Gempita yang membuat Kale meringis karena malu dengan perkataannya tadi yang ternyata tidak benar. "Ah syukur kamu udah pulang, antarkan Gempita sekarang. Kasihan dia kalau pulang malam," seru Bu Lili menyuruh Kale yang baru saja duduk mengantarkan Gempita. Bu Lili baru tahu kalau Gempita juga mengenal Kale, terbukti dari obrolan mereka tadi. "Ini, antar dengan mobil Genta saja. Hati-hati mengemudikannya," imbuh Bu Lili memberikan kunci mobil Genta yang tadi ditinggal di meja. Tentu saja pemuda itu bersemangat membuat Bu Lili terheran karena biasanya Kale pasti akan menggerutu— baru saja duduk tapi sudah diminta pergi lagi. Dan kali ini tentu saja berbeda, dia akan mengantarkan perempuan cantik, tentu dirinya tidak akan menolaknya. Kale segera berpamitan, begitu pula dengan Gempita. Di tengah perjalanan, Gempita nampaknya menikmati keindahan kota di kala senja menyapa. Dia tak berpaling dari jendela kacanya. Begitu indah dan memanjakan mata. Dia memang menyukai suasana senja. Dirinya seolah lupa pula bahwa sebenarnya ada hal yang menyesakkan, yaitu kemacetan lalu lintas. Sore hari memang identik dengan kemacetan. Namun semuanya seperti tergantikan dengan keindahan langit senja. "Kamu menyukai senja?" tanya Kale membuka obrolan. Dia juga mengantisipasi kebosanannya menunggu celah untuk melaju. Andai saja tadi membawa motor untuk mengantarkan Gempita, pasti akan lebih cepat sampai. Kale tidak menyukai kemacetan. Tapi sepertinya semua orang juga begitu. "Bisa dibilang begitu. Tapi, bukankah semua orang juga menyukainya?" sahut Gempita menatap Kale yang sedang fokus mengemudikan mobil— mencari celah untuk melanjutkan perjalanan. "Kalau menurutku tergantung." Gempita menatap Kale dan seolah meminta jawaban lebih atas ucapannya tadi. Senja sangat indah, siapa yang tak akan menyukainya? Gempita selalu heran dengan orang yang entah kenapa tidak menyukai senja. Padahal senja sangatlah indah. "Tergantung diri kita. Jika kita sedang berduka pasti seindah apa pun langit sore akan tetap terasa kelabu, dan lain halnya saat kita dalam suasana suka. Bukankah begitu?" Kale jadi teringat dengan saudara kembarnya, Genta. Dulu Genta juga sangat menyukai senja, bahkan tiap harinya dia tidak boleh melewatkannya. Namun semenjak kehilangan kekasihnya, senja baginya tidak seindah dulu. Semuanya terasa kelam dan kelabu sama seperti hatinya kini. Genta tidak lagi bisa menikmati senja seperti dulu, Genta selalu murung. Hal itu membuat Kale dan keluarga yang lain sedih sekali. "Tapi menurutku senja itu juga obat. Keindahannya akan membuat suasana hati siapa pun akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku kalau lagi sedih, terus lihat langit senja, pasti suasana hatiku langsung membaik," jelas Gempita berasumsi. Kale mengangguk. Asumsi Gempita ada benarnya juga. Senja itu memang indah dan mampu dijadikan obat bagi hati yang sedang dirundung duka. Mungkin salah satu tujuan Tuhan menciptakan senja yang indah memang seperti itu. Gempita kembali menatap langit senja yang sebentar lagi akan pergi karena tergantikan dengan kegelapan malam. Matahari akan beristirahat, digantikan dengan bulan dan bintang. "Ehm, Kale...." Gempita kembali menoleh ke arah Kale karena teringat sesuatu. "Iya, Gempita?" "Es kepalaku tertinggal satu di rumahmu," ucap Gempita memberitahu. Dia baru tersadar jika es kelapa yang seharusnya untuk sang ayah malah tertinggal di meja. Padahal dia ingin membuat ayahnya senang karena es kelapanya nikmat sekali. Ah, dia pelupa. Pemuda itu terdiam sejenak memikirkan apa itu es kepala. Lalu, dia teringat jika di meja ruang tamu tadi ada es kelapa. Ah, ternyata Gempita tidak mampu mengucapkan kelapa dengan benar. "Es kelapa maksudmu?" tanya Kale memastikan. Gempita memberi anggukan. Dia tersenyum malu karena ternyata dia masih saja salah mengucapkan es kelapa. "Mau diambil?" "Ehm, tidak perlu. Nanti malah kelamaan." Dia mengikhlaskan es kelapanya meskipun tak enak juga dengan sang ayah yang tadi menunggu. "Besok beli lagi saja. Sudah terlalu jauh untuk kembali, nanti malah larut malam kamu sampai di rumahnya," ujar Kale memberi saran kepada Gempita yang menganggukinya. Lucu sekali perempuan itu. Beruntung saat mengobrol tadi Gempita sempat mengisi daya ponselnya dengan charger milik Bu Lili. Meski hanya sedikit saja itu sudah cukup membantu menunjukkan arah rumah Gempita yang sebelumnya telah ditandai di google map. Hal itu sangat memudahkan Kale mengantarkannya. Kale memang belum mengetahui alamatnya. Genta malah yang sudah tahu alamat Gempita. "Kale, boleh minta tolong ucapkan rasa terima kasih pada Genta? Ah, sekalian permohonan maaf karena tadi telah membuatnya kesal?" ujar Gempita. Dia kembali teringat dengan Genta yang pasti masih kesal dengan dirinya. Kale hanya mengangguk. Ini sudah kedua kalinya dirinya menjadi perantara antara Genta dengan Gempita. Kale tidak tahu apakah yang kedua ini akan disampaikannya pada Genta, sebelumnya saja Kale tidak menyampaikan pesan dari Gempita. Entah apa yang terjadi sebenarnya, tapi yang jelas Kale kurang suka. Dia tidak mau jika Gempita jatuh ke tangan Genta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN