Es Kelapa/ Es Kepala

2070 Kata
Matahari sedang bersinar terik. Cuaca sangat panas sekali. Meski begitu tak menyurutkan para pekerja yang sedang berjuang menafkahi keluarga mereka. Tak pernah sedikit pun mereka mengeluh meski keringat tak henti-hentinya mengucur. Bagi mereka, keluarga sangatlah penting, tanpa adanya mereka pula belum tentu keluarga tersebut bisa bertahan. Jadi, semangat bagi para pekerja memang tak boleh luntur. Begitu pula dengan semangat pemuda yang sedang memantau pembangunan proyeknya yang baru berjalan sekitar dua bulan. Dia nampak senang tatkala melihat gedung yang dia rancang mulai terbentuk. Kebahagiaan seorang perancang gedung alias arsitek memang seperti itu. Mereka akan bahagia ketika apa yang dirancang terealisasikan dengan baik. Semua berjalan semestinya, para pekerja pun bekerja sepenuh hati hingga tak disangka pembangunan gedung kali ini jauh lebih cepat dari sebelumnya. Si perancang sangat senang dengan hal ini, dia juga tidak sabar untuk melihat ketika sudah benar-benar selesai. Pemuda yang tak lain adalah Genta itu duduk sejenak melepas penat setelah berkeliling di bawah teriknya matahari. Dia melepas helm proyek dan mengipaskan ke wajahnya berusaha menghilangkan panas. Entah sudah berapa lama dia tidak memantau proyek secara langsung. Sudah cukup lama dia hanya berdiam diri di rumah meskipun juga memantau proyek-proyeknya. Pemantauan proyek secara langsung memang jauh lebih menyenangkan. "Selamat siang, Pak Genta. Maaf, saya tadi tidak bisa menemani Anda berkeliling," ucap Mandor menghampiri Genta. Membungkukkan badan sebagai tanda hormatnya, Genta pun membungkukkan badannya juga. "Tidak masalah, Pak." Mereka lalu berjabat tangan seperti biasa ketika bertemu. Genta memang sering memantaunya, jika tidak sibuk bisa dua minggu sekali. Tapi sudah cukup lama dia tidak memantau langsung. Baru beberapa kali ini saja dia kembali seperti semula. Sebelumnya dia enggan untuk berlama-lama di luar. Genta lebih senang mengurung dirinya di ruang kerja atau kamarnya. Baginya dunia luar tak lagi semenyenangkan dulu. Sekarang sangat berbeda, dan hal itulah yang menjadikan Genta juga menutup dirinya dalam waktu yang cukup lama. Kedua insan yang berperan penting dalam pembangunan gedung baru itu saling mengobrol. Tentu mengobrolkan pekerjaan. Pak Mandor juga tak sedikit berkeluh kesah kepada Genta dan menceritakan apa saja hambatan yang dilalui. Mereka berbincang cukup lama hingga akhirnya Genta berpamitan terlebih dahulu karena tugasnya sudah selesai. Sudah saatnya mengakhiri aktivitasnya di luar ruangan. "Mah, mau es kelapa tidak? Ini Genta mau beli, kalau Mama mau biar sekalian Genta belikan," tanya Genta melalui telepon. Dia kini telah berada di dalam mobil menuju ke rumahnya, namun sebelum itu dia ingin membeli es kelapa terlebih dahulu. "Iya, beli untuk orang rumah juga. Terima kasih, Genta...." sahut Mamanya di balik telepon. Dia selalu seperti itu. Jika menginginkan sesuatu, pasti juga menawarkannya pada keluarganya. Sama seperti kali ini dia menginginkan es kelapa yang sangat nikmat di kala mentari bersinar terik, dia tidak lupa menawarkan pada Mamanya yang juga sangat menyukai es kelapa. Genta memang berasal dari keluarga yang kaya, tapi tak sedikit pun sombong ataupun menunjukkan kuasanya. Mama dan Papanya selalu mengajarkan supaya tetap merakyat dan hidup sederhana meski dikelilingi harta yang melimpah. Lagi pula harta tersebut juga hanya akan bertahan di dunia, selebihnya tidak akan terbawa ke akhirat nanti. Bagi mereka harta juga tak seberapa harganya, yang paling berharga adalah keluarga. Begitu yang diajarkan orang tuanya. Dan mungkin orang tua lainnya. Mobilnya diparkir di pinggir jalan, dan kini dia sudah mengantri membeli es kelapa yang sering dia beli. Es kelapa yang dijual di dekat taman kota itu memang sering didatangi pengunjung. Selain tempatnya bersih, penjualnya ramah, es kelapa di sana juga murni– bukan campuran dari berbagai bahan lain seperti yang dilakukan pedagang es kelapa lainnya. Maka dari itu wajar jika banyak yang beli sampai penjualnya kewalahan melayani. "Kokonattsu o futatsu," seru seseorang sembari mengacungkan dua jarinya. (Kelapanya dua) Tentu saja membuat penjual es kelapa itu kebingungan. Perempuan yang datang dan berkata dengan bahasa asing itu juga membuat pengunjung lain bertanya-tanya karena tidak paham dengan apa yang diucapkan perempuan tersebut. Mereka menoleh ke sana ke mari untuk mencari jawaban, tapi tetap saja, yang ada hanyalah kebingungan. "Tidak ada kokona– ah apa itu. Pokoknya tidak ada, adanya es kelapa Mang Ikin," sahut penjual kebingungan. Sedangkan Genta yang duduk menunggu pesanannya terkikik geli dan langsung menghampiri penjual yang sedang berdebat dengan pembeli. "Ah, iya itu maksud saya. Saya lupa nama Indonesia-nya." Wajar saja jika dia lupa, dia terlalu lama menetap di Jepang. Meskipun ayahnya sering mengajaknya berbicara bahasa Indonesia di kehidupan sehari-harinya, dia tidak terlalu fasih dan masih ada beberapa kata yang tidak dimengerti satu di antaranya es kelapa. "Dia bilang beli es kelapanya dua, Mang," sahut Genta membuat penjual mengangguk dalam kebingungan. Dia tidak sengaja mendengar ucapan perempuan yang membelakangi dirinya. "Genta!" teriak perempuan itu. Sangat histeris membuat Genta dan yang lain tersentak karena benar-benar terkejut. Perempuan yang beberapa hari lalu bertemu dengan Genta. Perempuan berambut hitam lurus itu nampak senang berjumpa lagi dengan Genta. Sedangkan Genta, malah khawatir jika dibuat kesal lagi dengan Gempita. Genta masih tidak menyangka bahwa perempuan itu adalah Gempita. Ah, jika dia tahu, maka dia akan berjaga-jaga dari awal. Pemuda itu tetap duduk di tempat semula, memalingkan wajahnya dari perempuan yang histeris tadi. Dan benar saja, Gempita kembali membuatnya kesal. Dia duduk di kursi kosong samping Genta dan tersenyum-senyum sendiri membuat Genta bergidik ngeri. Genta kembali memalingkan wajahnya supaya tidak ditatap Gempita. Gempita sangat senang akhirnya dipertemukan dengan Genta lagi. Dia memang baru dua kali ini bertemu dengan Genta, tapi dia tak lagi salah mengira bahwa lelaki itu adalah Kale. Gempita bisa memahami Genta dan Kale sekarang karena meski wajah mereka sama, tapi sebenarnya tetap memiliki perbedaan jika ditelisik secara jeli. "Nihon go ga hanasemasu ka?" tanya Gempita karena heran dengan Genta yang tadi mengerti apa yang diucapkannya kepada penjual es kelapa itu. (Kamu bisa bahasa Jepang?) Hanya anggukan yang Genta berikan. Dia enggan sekali berbicara, apalagi dengan perempuan yang sebatas tahu namanya. Ya, Genta mengingat nama Gempita. Dia juga mengingat jika perempuan itu sangat menyebalkan. Tidak ada hal lain yang perlu diingat lagi selain itu. "Sedang apa kamu di sini?" tanyanya lagi. Terlihat sekali jika Gempita itu orangnya cerewet dan periang. Dia tak terlihat sedih sama sekali meskipun sedari tadi Genta mengacuhkan dirinya. "Tentu saja membeli es kelapa." Genta tetap saja ketus meskipun lawan bicaranya sangat ramah padanya. Juga terlihat periang, sangat berbanding terbalik dengan dirinya sendiri. "Ah iya. Tentu saja kamu membeli es kepala," timpal Gempita dengan sedikit mengeja di akhir kalimatnya karena kata itu sulit dicerna olehnya. Dan alhasil, dia salah mengucapkan membuat pengunjung lain yang mendengarnya termasuk Genta terkikik. Namun, Genta segera memasang wajah dinginnya. Dia sangat gengsi karena menertawakan es kepala. "Es kelapa, bukan es kepala!" ketus Genta. Dia sebisa mungkin menyembunyikan tawanya. Dia sempat tertawa karena terbuai dengan tawaan salah satu pengunjung. "Serem amat es kepala!" seru pengunjung menertawakan Gempita. Bahkan dia terbahak-bahak seraya memegang perutnya. "Aa, ternyata aku salah mengucapkan, ya? Es kepala oke...." Es kepala terus saja memenuhi kepala Gempita. Entah kenapa sedari dulu dia tidak bisa mengucapkannya dengan baik. Selalu saja salah. Dan Genta hanya mengiyakan, kesal juga dengan orang yang sudah diberitahu tapi tetap saja salah. "Es kepala...." Gempita masih saja berusaha mengucapkannya dengan benar, tapi dia tetap salah. Es kepala tidak bisa hilang dari pikirannya. Di sini Genta tahu jika Gempita memang bukan orang asli Indonesia. Terbukti saat caranya tadi memesan es kelapa, dia menggunakan bahasa Jepang. Genta melirik sejenak ke arah Gempita yang masih berusaha mengucapkan es kelapa dengan benar, tapi tetap saja tidak bisa. Genta hanya bisa menggelengkan kepalanya. Percuma juga memberi pengertian pada Gempita yang sepertinya memang kesulitan mengucapkan es kelapa dengan baik dan benar. "Ini es kepalanya, Nak Genta," ucap penjual memberikan empat cup es kelapa yang sudah dikemas sedemikian rupa. Tidak lupa dengan sedotan untuk menikmati airnya dan sendok plastik untuk menikmati daging kelapanya. "Eh, es kelapa maksudnya. Aduh, jadi ikutan si neng cantik ini...." Penjual kelapa meralat omongannya saat menyadari omongannya tadi salah. Dia menggelengkan kepalanya karena heran dengan kesalahannya tadi. Padahal sebelumnya dia tidak pernah salah ketika mengucapkannya. Sementara Genta juga menggeleng tak percaya. Virus Es Kepala Gempita sudah menyebar dan mengenai penjual juga. Sangat disayangkan, dan bahaya sekali jika si penjual terus menyebut es kepala. Yang ada para pembelinya kabur karena takut jika yang dijual itu kepala sungguhan. "Nah, kalau yang ini es kepala buat Neng Cantik." Penjual kemudian memberikan dua cup es kelapa untuk Gempita. Dengan senang hati perempuan itu menerimanya. Dia lekas mengambil uang dari sakunya, begitu juga dengan Genta. "Ehm, apa dengan uang ini cukup?" tanya Gempita memperlihatkan uang dua puluh ribu pada penjual. Dia tidak tahu berapa harganya, tapi dia akan bertanya dengan uang rupiah yang dimilikinya. "Cukup kok, Neng. Malah pas, saya tidak repot mencarikan kembalian," sahut penjual kelapa dan mengambil uang dari tangan Gempita. "Arigatou gozaimasu...." Gempita menanti Genta menyelesaikan pembayarannya. Lelaki itu tidak membawa uang pas, oleh karenanya menunggu uang kembalian terlebih dahulu. Padahal cuma lima ribu, tapi tetap ditunggu. Genta kemudian pergi setelah mendapat kembalian dan Gempita melangkah mengikutinya. Tentu saja hal ini membuat Genta heran. "Ehm... Genta...." seru Gempita malu-malu. Dia menunduk dan takut mengatakan sesuatu pada lelaki itu. "Apalagi?" "Uangku habis...." "Lalu?" "Lalu bagaimana? Dasar lelaki tidak peka. Tentu saja kamu harus mengantarkanku pulang lagi." "Tidak akan!" gertak Genta. Dia berusaha menahan emosinya karena di sana masih banyak orang. Malu sekali jika terlihat jahat dengan perempuan. Genta tidak akan mengantarkan Gempita pulang lagi. Dia tidak mau darah tinggi menghadapi kelakuan perempuan yang sejak pertama kali bertemu membuatnya kesal. Genta hendak pergi dari sana, namun langkahnya terhenti saat Gempita menarik ujung kemejanya. Dia menarik napas panjang sebelum memarahi perempuan itu. Genta pun segera menepis tangan Gempita, dia berkacak pinggang dan bersiap memarahinya. "Dengar, ya, aku bukan sopir kamu. Aku tidak akan mengantarkanmu pulang atau pergi ke mana pun!" Genta berbicara dengan nada kasar dan tinggi. Dia lekas menatap sekelilingnya untuk menatap apakah ada yang menggubrisnya atau tidak. Beruntung tidak ada yang mengamatinya, jadi dia bisa bebas memarahi Gempita. Perempuan itu tidak takut sama sekali. Dia sedang membuka dompet dari tasnya yang memang sudah tidak ada uang rupiah lagi, yang ada hanya uang yen dan kartu ATM saja. Sungguh memprihatinkan. Harusnya dia tadi tidak perlu membeli es kelapa. Tapi dia benar-benar tergoda. "Aku tidak ada uang rupiah lagi. Apa di sini kalau naik ojek bisa memakai yen? Aku ada banyak kalau yen...." Gempita berkata sembari menyodorkan ratusan yen kepada Genta. Dia benar-benar tidak ada uang rupiah lagi. Lelaki berkemeja warna maroon itu menepuk keningnya dengan kasar karena berusaha mengurangi amarahnya. Dia harus menahan emosinya yang sebenarnya sebentar lagi akan meledak. "Yen hanya berlaku di Jepang. Ini Indonesia, pembayarannya hanya dengan rupiah. Kenapa tidak menukarkan uangmu dulu ke bank?" Genta berusaha sabar menghadapi perempuan yang masih menundukkan wajahnya dan meremas dompet berisikan uang yen. "Sudah habis. Beberapa hari ini ada banyak pengemis, aku kasihan dan akhirnya aku berikan uang pada mereka. Sekarang aku kehabisan." Perempuan itu terlalu baik. Tapi bagi Genta juga kelewatan karena saking baiknya sampai lupa memikirkan dirinya sendiri. Berlaku baik memang tidak ada salahnya, tapi setidaknya juga harus memperhatikan diri sendiri. "Hubungi keluargamu, minta bantuan pada mereka. Jangan meminta bantuan padaku, anggap saja aku bukan orang baik!" Begitu yang Genta sarankan pada perempuan yang benar-benar membuatnya emosi. Gempita kembali membuka tasnya. Kini dia mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Genta. Dan Genta pun menerimanya dengan penuh keheranan. Entah apa maksud perempuan itu memberikan ponsel yang casingnya berwarna cokelat muda padanya. "Baterai ponselnya habis. Kalau kamu tidak mau mengantarkanku pulang, maka tukar saja uangku ke rupiah," ujar Gempita. Dia kini menatap Genta yang sepertinya semakin kesal saat mencoba mengaktifkan ponselnya yang memang kehabisan baterai. "Aku tidak ada uang cash. Aku tidak pernah membawa banyak uang cash. Sudah habis untuk membayar es kelapanya tadi," jawab Genta sedikit malu. Uang cash-nya tinggal lima ribu— kembalian dari es kelapa tadi, mana cukup untuk ongkos pulang perempuan itu. Dia jadi bingung saat ini. Di sana memang banyak orang, tapi tentu tidak ada yang mau menukar uang rupiah mereka menjadi uang yen karena tidak akan berlaku di Indonesia. Hanya akan menyulitkan saja karena mereka nantinya juga harus menukarnya di bank. Hendak mengambilkan uang dulu di ATM pun tidak ada yang dekat jaraknya dari sana. Yang jelas dia malah kesulitan memikirkan cara untuk Gempita. Dia tidak mau mengantarkan Gempita pulang karena itu hanya menghabiskan waktu saja, sementara dirinya masih ada banyak pekerjaan yang menunggu. Begitu juga Mamanya di rumah yang menantikan es kelapa. Genta tidak mau membuat Mamanya menunggu lama lagi. Sementara Gempita hanya bisa diam menatap Genta sedari tadi. Dia berharap ada hal baik yang bisa dilakukan Genta padanya. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana selanjutnya. Gempita masih menunggu saran dari lelaki di hadapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN