Perempuan itu celingukan. Ke kanan kiri, ke depan ke belakang. Dia benar-benar kebingungan dengan tempat yang baru dipijaknya belum tepat satu bulan ini. Namun, dia tidak terlalu takut dengan tempat tersebut karena cukup ramai. Terlebih lagi di kedai kopi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia selalu merasa aman ketika berada di dekat orang banyak.
Perempuan cantik nan lugu itu sedang berusaha menghubungi Ayahnya untuk minta dijemput, namun tak kunjung ada jawaban juga. Hendak pulang sendiri, dia tidak tahu arah dan tidak tahu pula bagaimana cara untuk pulang. Perempuan yang bernama Gempita itu tersesat. Dia benar-benar lupa arah mana menuju ke rumahnya. Maklum, dia belum lama di tempat itu. Alamat rumahnya saja sulit dihafalkannya.
"Sedang mencari sesuatu?" tanya lelaki yang baru saja keluar dari kedai kopi. Cukup lama dia memperhatikan perempuan yang sedari tadi berdiri di bawah pohon mangga dengan wajah yang benar-benar bingung. Maka dari itu dia datang menghampiri, selagi kasihan dan ingin membantu, dia tertarik dengan perempuan itu dikarenakan cantik dan lugu. Intinya, sangat menggoda Kale.
Perempuan dengan sweater oversize berwarna beige dan berbalut celana pendek warna hitam itu menunjuk dirinya untuk memastikan apakah lelaki yang menghampirinya itu berbicara dengan dirinya, dia takut salah sangka. Dan setelah mendapat anggukan pun dia akhirnya berbicara, ternyata lelaki tadi memang mengajaknya berbicara.
"Tidak. Aku tidak kehilangan sesuatu. Aku hanya tersesat. Aku lupa jalan pulang," ucap Gempita dengan malu-malu. Pasti dia akan ditertawakan oleh lelaki di hadapannya. Dan ketika menyaksikan wajah lelaki yang mengernyitkan dahinya dan kebingungan itu, Gempita jadi menunduk. Dia akan bersiap ditertawakan.
Tentu saja lelaki yang menghampiri itu mengernyit. Dia heran kenapa bisa ada orang yang tidak tahu arah pulang. Dia lantas bertanya pada perempuan itu, "Kamu baru di sini, ya?"
Dan Gempita mengangguk. Gempita bersyukur tidak ditertawakan. Lelaki yang bertanya tadi pun tersenyum membuat Gempita jadi salah tingkah karena semakin terlihat tampan. Tapi dia tetap harus berjaga-jaga karena ingat pesan papanya untuk tidak mudah percaya dengan orang lain karena mereka belum tentu baik hatinya. Ya, wajah yang terlihat baik-baik bisa saja hatinya sebaliknya.
"Mau mampir ke kedai kopiku? Aku akan membuatkanmu es latte, lumayan bisa menyegarkan di panas terik begini."
Perempuan itu menolak dengan menggelengkan kepalanya. Saat ini dia benar-benar takut dengan lelaki di hadapannya. Dia takut jika ajakan minum kopi itu hanya bualan dan ingin menjebak atau menculiknya. Ah, dia terlalu sering menonton drama dan membaca novel hingga akhirnya pikirannya tercuci dengan pikiran negatif itu. Memang ada-ada saja pikirannya.
"Aku orang baik. Akan aku bantu kamu pulang. Kamu bisa menunggu di kedai kopiku sembari mengingat alamat rumahmu," seru lelaki itu dengan lembut dan tersenyum pula. Sepertinya tidak mau membuat perempuan yang diajaknya itu takut. Dia sebisa mungkin menarik perhatian perempuan tersebut.
"Ah, iya, namaku Kale." Lelaki yang ternyata bernama Kale itu mengulurkan tangannya bermaksud mengajak berkenalan. Itu salah satu cara yang ditempuh supaya perempuan di hadapannya tidak takut.
Gempita awalnya ragu. Dia tidak ingin membalas perkenalan lelaki itu. Namun akhirnya dia memperkenalkan dirinya juga.
"Namaku Gempita. Aku baru di sini. Selama ini aku tinggal di Jepang, tapi aku juga asli keturunan Indonesia. Makanya aku bisa berbahasa Indonesia," ucap Gempita memperkenalkan dirinya. Meski demikian, dia tidak membalas uluran tangan Kale. Enggan sekali.
Dan Kale pun memaklumi perempuan yang enggan menjabat tangannya itu. Dia yakin bahwa Gempita takut padanya. Namun, dia tidak ambil pusing lagi. Kale segera berjalan menuju ke kedai kopi lagi dengan Gempita yang akhirnya mau ikut dengannya, perempuan itu berjalan di belakang Kale. Jaraknya cukup jauh, perempuan itu nampaknya berjaga-jaga takut jika sesuatu terjadi.
"Duduklah sembari mengingat alamat rumahmu. Aku akan membuatkan kopi untukmu, tunggu sebentar," ujar Kale. Dia menarik kursi untuk Gempita duduk dan langsung menuju ke bar menyiapkan kopi yang dia janjikan tadi.
Gempita duduk dengan matanya yang masih berpencar mengamati segala sudut di kedai kopi itu. Minimalis dan elegan. Sangat menarik dan menenangkan. Bertema hitam dan putih yang suasananya memang cocok untuk menyendiri. Dia menyukai tempat yang seperti itu. Baru saja duduk pun Gempita sudah merasa sangat nyaman. Pasti akan betah jika berjam-jam lamanya di sana.
Banyak yang datang dan nampak betah dengan kopi dan makanan pendamping. Semuanya nampak tenang mengerjakan aktivitas mereka masing-masing yang kemungkinan ada yang bekerja atau mengerjakan tugas. Muda maupun tua berbaur menjadi satu di bangku masing-masing. Sendiri atau berkelompok, orang yang datang beragam. Yang menyamakan adalah suasana hati mereka. Ya, mereka terlihat tenang, mungkin karena pengaruh dari kopi di kedai itu atau suasananya.
Tak lama kemudian Kale datang dengan nampan berisikan segelas cappucino latte dengan es batu yang sangat banyak beserta satu slice kue cokelat yang menggiurkan lidah. Kemudian disajikan di hadapan Gempita yang sudah menunggu. Dia lantas duduk di bangku kosong menghadap Gempita.
"Minumlah, ini akan menyegarkan tubuhmu. Aku juga membawakan kue cokelat untukmu. Tidak tahu apa kamu akan menyukainya atau tidak. Jika tidak suka, aku bisa menukarnya dengan varian lain. Di sini ada banyak varian, katakan saja apa yang kamu suka."
Kale berbicara panjang lebar yang membuat Gempita kebingungan. Perempuan itu tidak memahami semua perkataan Kale karena dikatakan dengan cepat tanpa jeda. Kale sepertinya terlalu antusias hingga tidak memperhatikan kalimatnya.
"Terima kasih...."
Hanya itu yang bisa Gempita ucapkan, dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi perkataan Kale yang panjang lebar tadi. Dia segera menyeruput es cappucino latte yang ternyata sangat nikmat. Tidak terlalu manis, dan sangat menyegarkan di kala terik mentari menyengat ini. Gempita menyukai es cappucino latte itu, dia sampai menyisakan setengah gelas saja karena didasari pula tenggorokannya yang haus. Ternyata tidak hanya tempatnya yang membuat tenang, tapi juga kopinya.
"Aku harus membayar berapa untuk ini?" tanya Gempita sembari membuka tasnya dan bersiap mengambil uang untuk membayar es cappucino latte dan kue cokelat yang belum disentuhnya. Dia harus membayar karena itu tentu tidak gratis.
"Tidak! Tidak! Gratis untukmu. Anggap saja sebagai hadiah pertemanan juga," sahut Kale dengan cepat. Dia menahan Gempita yang membuka tasnya.
Gempita tentu saja terdiam. Dia kembali menutup tasnya dan mengamati lelaki yang ternyata sangatlah baik padanya yang mana awalnya dia pikir jahat. Lain kali dia tidak boleh asal menafsirkan lagi.
"Kamu mau berteman denganku, Kale?" Gempita memastikan. Dia masih tidak percaya bahwa ada orang Indonesia yang bersedia berteman dengannya. Tanpa diminta pula
Kale memberi anggukan dan senyum lebar seraya berkata, "Siapa yang tidak mau berteman dengan perempuan cantik, lucu, dan baik sepertimu."
"Tapi kan kamu belum mengenalku secara dalam. Kita baru saja berkenalan," sangkal Gempita. Dia heran dengan Kale yang sudah bisa menafsirkan sikapnya, padahal baru saja kenal. Gempita malah jadi takut jika nantinya mengecewakan Kale apabila tidak sesuai dengan persepsi lelaki itu.
"Aku bisa membacanya dari raut wajahmu kalau kamu itu orang baik." Kale menjawabnya membuat Gempita sedikit tersipu. Suara Kale terdengar menggetarkan jiwa.
Keheningan kemudian menerpa. Kale salah tingkah karena berhadapan dengan Gempita. Sementara Gempita sebenarnya juga masih kaku dengan orang yang akhirnya mau berteman dengan dirinya. Teman pertamanya di Indonesia.
"Ah, iya. Bagaimana dengan alamat rumahmu? Apa sudah ingat? Kalau sudah katakan padaku, aku akan mengantarkanmu ke sana," ucap Kale kembali membuka obrolan. Dia hampir lupa masalah utama yang dialami Gempita.
"Aku sudah share lokasi pada Papaku. Sebentar lagi akan datang menjemputku. Kamu tidak perlu mengantarkanku," jawab Gempita sembari menikmati kue cokelat di hadapannya yang sangat manis. Dia kurang suka dengan kue yang manis tersebut, namun tetap berusaha menikmatinya. Dia akan menghargai pemberian teman barunya.
Tak berselang lama, Papa Gempita pun muncul. Gempita segera pergi meninggalkan kedai kopi. Kale mengamatinya sampai hilang dari pandangannya. Tidak masalah jika sebentar saja bersama Gempita, dia bisa mengulangnya hari-hari setelah ini karena mereka berdua telah bertukar nomor ponsel.
Kedekatan Kale dengan Gempita rupanya berawal saat perempuan itu tersesat di dekat kedai kopi. Dan pada saat itu Kale mengajak Gempita untuk singgah sebentar sebelum akhirnya mengantarkannya pulang. Hal yang sederhana itu nampaknya justru membekas baik di hati Gempita maupun Kale. Mereka menjadi teman dekat saat ini. Gempita sangat senang bisa mendapat teman seperti Kale.
Seperti perempuan pada umumnya, Gempita nampak tertarik dengan Kale selain parasnya yang rupawan, Kale sangat baik. Tapi belum tahu apakah benar-benar baik atau tidak.
Bukan hal sulit bagi Kale untuk mendekati perempuan yang baru saja dia kenal. Terbukti saat ini dirinya sudah bersama Gempita di kedai kopi. Secangkir cappucino latte pun disajikan untuk Gempita, Kale sendiri yang membuatnya. Sama seperti pertama kali mereka bertemu.
"Totemo Oishii..." seru Gempita dengan mata yang berbinar dikarenakan merasakan kopi yang sangat nikmat. Dia jatuh cinta dengan racikan kopi tersebut.
"Apa artinya?" tanya Kale menggaruk tengkuknya. Dia tahu itu adalah bahasa Jepang tapi tidak tahu artinya, padahal dia sering mendengar saudara kembarnya, Genta, berbicara demikian. Genta melanjutkan studi S2 di Jepang maka dari itu dia fasih berbahasa Jepang. Sementara Kale memilih untuk berkuliah di Korea.
"Enak sekali." Perempuan itu menjawab dengan mengacungkan jempolnya.
Kale tersenyum. Ini memang bukan pertama kalinya mendapat pujian atas rasa kopi warisan itu. Tapi entah kenapa dia sangat senang ketika mendengarnya dari perempuan yang membuatnya sangat berbeda. Kale ingin terus berada di samping perempuan itu, dia ingin serius dengannya. Ya, perasaan ini muncul sejak pertama kali mereka dipertemukan.
Dua insan itu mengobrol dan saling bertanya berusaha mengulik informasi satu sama lain. Mulai dari apa kesibukan mereka, pendidikan, dan lain sebagainya. Kale dan Gempita memang baru bertemu beberapa kali, namun sudah nampak akrab sekali.
"Ehm, oh ya. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan orang yang sangat mirip denganmu. Ternyata aku salah, dia katanya saudara kembarmu. Memangnya benar ya kamu itu kembar?" tanya Gempita antusias, dan diberi anggukan kepala oleh Kale. Tentu saja anggukan Kale itu membuat Gempita terkejut dan tidak percaya. Lelaki di hadapannya ternyata memang kembar.
"Iya, aku kembar. Memangnya kamu bertemu di mana?" Kale melayangkan pertanyaan kepada Gempita. Dia penasaran apa yang terjadi setelah mereka bertemu. Kale sedikit cemas karena takut Genta berbuat sesuatu pada Gempita setelah tahu bagaimana sikap Genta selama ini. Ya, sangat mengkhawatirkan jika sudah bertemu perempuan— pasti akan mengacaukan segalanya. Genta juga tidak bisa diganggu.
"Kami bertemu di makam. Saat itu aku mengunjungi makam Mamaku. Aku sempat tak percaya jika itu adalah Genta. Tapi setelah aku tahu sedikit sifatnya, aku percaya jika itu Genta, bukan kamu. Oh ya, dia baik loh mau mengantarkanku pulang."
Uhuukk...
Kale tersedak kopinya sendiri ketika mendengarkan cerita Gempita. Tak disangka jika Genta seperti itu. Cukup lama Genta menghindari perempuan, tapi sejak bertemu dengan Gempita dia malah sebaliknya. Ini merupakan kabar baik bagi Kale, dia cukup senang dan berharap Genta segera kembali membuka hatinya untuk perempuan.
Tapi, ada perasaan sedih pula bagi Kale. Dia takut jika Genta akan menyukai Gempita sama seperti dirinya. Ah, tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Gempita akan menjadi milik Kale. Dia akan berusaha mencarikan perempuan lain untuk Genta jika memang benar lelaki itu telah membuka kembali hati yang telah lama kosong.
"Kamu tidak membohongiku, kan? Masa Genta mengantarkanmu pulang?" tanya Kale memastikan. Dia masih tidak percaya dengan Genta yang mengantarkan Gempita. Seolah hal yang mustahil, hingga akhirnya sulit dipercayai.
Gempita memberi anggukan. Dia menyeruput cappucino latte sebelum kembali bercerita pada Kale.
"Dia benar-benar mengantarkanku pulang. Awalnya dia memang menolak, tapi aku terus memaksanya. Akhirnya dia mau. Sepertinya aku membuat dia kesal karena menyita waktunya," ujar Gempita sendu. Dia teringat dengan wajah Genta sebelum pergi yang mana ada raut kekesalan yang muncul. Gempita merasa bersalah karena Genta pasti marah telah disita waktunya untuk berkeliling mencari rumah Gempita dan mengantarkannya pulang.
"Dia orangnya pemarah. Tidak bisa diganggu juga. Genta paling kesal kalau ada yang menyita waktunya untuk hal tidak penting," cerita Kale mengenai saudara kembarnya.
Perempuan itu kembali sedih. Dia menunduk sembari memotong kue red velvet di hadapannya yang masih menyisakan setengah slice. Jadi tidak selera lagi mengingat Genta. Dia ingin sekali meminta maaf karena dulu telah menyita waktunya.
"Kale... Bisa antarkan aku menemui Genta?"
"Untuk apa?"
"Untuk meminta maaf karena dulu menyita waktunya. Aku tidak mau dia kesal lagi padaku."
Gempita ingin meminta maaf pada orang yang telah disulitkannya beberapa waktu lalu. Terlebih lagi ketika dia tahu bahwa orang tersebut ternyata pemarah. Dia sungguh merasa bersalah.
"Tidak perlu menemuinya. Dia orang sibuk. Biar aku saja yang menyampaikan permintaan maafmu padanya," sahut Kale dengan cepat. Dia harus pandai mencari alasan supaya Gempita tidak bertemu Genta. Kale hanya takut jika Genta kembali jatuh cinta dan orang itu adalah Gempita. Kale tidak mau Gempita menjadi milik orang lain, apalagi saudara kembarnya sendiri.
"Terima kasih. Kalau dia menerima permintaan maafku jangan lupa bilang padaku ya? Aku benar-benar tidak enak padanya."
Kale memberi anggukan dengan senyum pula. Dia semakin yakin bahwa Gempita adalah orang yang sangat baik yang tidak akan dilepaskannya sama seperti perempuan-perempuan yang selama ini menggeluti dirinya. Kale benar-benar tertarik dengan perempuan berdarah Jepang Indonesia itu. Gempita telah memikat Kale.