Sudah Malam

1000 Kata
Menjadi seorang arsitek handal membuatnya begitu sibuk. Banyak perusahaan yang membutuhkan dirinya. Andai saja dirinya bisa membelah diri, sudah dipastikan dia akan menerima tawaran dari perusahaan yang jumlahnya tiada terkira. Huh, tapi itu tidak mungkin. Hanya amoeba saja yang bisa melakukannya. Arsitek memang impiannya semenjak kecil. Dulu dia memang tidak tahu pasti apa itu arsitek, tapi dia yakin jika suatu saat nanti dia akan sukses dengan perkejaan bergengsi yang akan selalu dibutuhkan setiap masa. Dan benar apa yang terjadi untuk saat ini. Genta bahkan menjadi orang yang sangat sibuk. Seperti malam ini, Genta tengah disibukkan mendesain gedung pencakar langit yang akan segera direalisasikan dalam waktu dekat, dirinya juga sedang memantau berbagai proyek yang telah dia setujui sebelumnya. Melelahkan, tapi menyenangkan. Begitulah yang tertanam dalam benak Genta. Pekerjaan apa pun memang akan melelahkan, namun jika kita benar-benar menyukainya, maka rasa lelah itu terbayar sudah. "Pergilah tidur, sudah malam...." seru seseorang yang tak lain adalah Mamanya, namanya Bu Lili. Perempuan pertama yang sangat dicintai Genta. "Sebentar lagi, Mama tidur dulu saja. Selamat malam...." "Selamat malam juga, Sayang....." Sebuah kecupan diberikan Genta pada kening perempuan itu. Seperti biasa ketika malam menjemput. Perempuan itu lantas pergi dari kamar anaknya setelah memastikan Genta baik-baik saja. "Genta bukan anak kecil lagi, Mah. Jangan memanjakan Genta..." seru Genta malu-malu. Dia memang sebenarnya senang saat Mamanya datang memberikannya kecupan selamat malam, tapi tetap saja dia malu karena Mamanya juga terkadang memainkan kedua pipinya. "Kamu tetap anak kecil bagi Mama dan Papa. Sudahlah, jangan terlalu sering begadang. Lekas tidur!" sahut Bu Lili. Dia lantas meninggalkan kamar Genta, dan sepertinya akan menuju ke kamar Kale untuk memastikan anaknya yang satu lagi. Benar kiranya bahwa sebesar apa pun anak, mereka tetaplah terlihat anak kecil di mata orang tua. Genta memang bukan anak kecil lagi yang harus diawasi terus menerus, tapi orang tuanya selalu menaruh perhatian lebih pada Genta maupun saudara kembarnya, Kale. Usia telah menginjak 26 tahun, terbilang masih muda tapi telah sukses di bidang masing-masing. Bidang arsitek bagi Genta, sedangkan bisnis manajemen merupakan bidang yang digeluti Kale. Kale jauh lebih santai menggeluti pekerjaannya. Dia berusaha mengelola kedai kue dan juga kedai kopi keluarga. Memang terlihat gampang, tapi pada nyatanya sangat sulit dikarenakan tak hanya satu atau dua kedai saja melainkan banyak kedai yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Dan Kale sepertinya juga menikmati pekerjaan, tapi sifatnya yang santai terkadang membuat orang ragu dengan keahliannya. Selain terlalu santai, Kale juga sering menghabiskan waktu bersama wanita-wanitanya. Tentu saja ini jauh lebih mengkhawatirkan. Tapi sebenarnya Kale adalah orang yang sangat bertanggungjawab, sama seperti Genta. Dua lelaki itu memang dididik dengan baik oleh orang tuanya. "Genta, aku punya cewek baru," celetuk Kale menghampiri kakaknya yang masih bergelut dengan desain gedung yang belum rampung. Kebiasaan yang tidak pernah hilang adalah memasuki kamar saudara kembarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Belum aku tembak sih, tapi secepatnya. Dia keturunan Jepang, baru pindah ke sini beberapa hari yang lalu." Kale terus saja bercerita seperti biasanya, dan seperti biasanya pula Genta acuh. Dia tak bergeming meskipun diiming-imingi Kale dengan berbagai ragam perempuan. Genta muak dengan saudaranya itu yang juga membujuknya untuk mencari pengganti Tamara, kekasihnya yang telah meninggal. Genta tetap tidak bisa melupakan Tamara dan membukakan hati untuk orang lain. Sangat muskil. "Kamu mau nggak nih? Kalau mau buat kamu aja, aku masih punya banyak simpanan," seru Kale. Saat seperti itu jiwa playboy-nya kambuh dan membuat amarah Genta semakin memuncak. Helaan napas panjang terdengar. Genta menghentikan aktivitasnya, iPad dan stylush pen disimpan ke tempat semula. Dia lalu menatap adiknya yang ternyata rebahan di kasurnya. Genta menggelengkan kepalanya. Sudah masuk tidak mengetuk pintu dan meminta izin, dan sekarang seenaknya saja merebahkan tubuhnya di ranjang Genta. "Sampai kapan kamu mau menyakiti hati perempuan? Sampai kapan kamu hanya membuat mereka mainan yang akan kau jaga ketika baru lalu tinggal ketika kamu sudah muak?" Kale menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja gatal. Dia selalu saja mendapat nasihat seperti ini, tak hanya saudara kembarnya melainkan juga dari orang tuanya, opa, oma, dan masih banyak lagi. Hampir semua keluarganya khawatir dengan kelakuan Kale ini. Meskipun sebenarnya Kale sendiri juga hanya menganggapnya untuk membuat suasana hatinya membaik, tapi tetap saja itu salah karena jatuhnya tetap mempermainkan perasaan para perempuan. Tapi sebenarnya Kale bukan bermaksud mempermainkan, dia bahkan tidak memikatnya terlebih dahulu. Justru para perempuan itu yang mendekatinya, mereka bahkan tak segan menyatakan cintanya kepada Kale dan mengajak untuk berpacaran. Kale mengiyakan meskipun sebenarnya tak ada satu pun di antara mereka yang membuatnya jatuh hati. Kale hanya ingin menjadi lelaki yang unggul dengan banyak perempuan di sisinya. Sangat tidak masuk akal. "Carilah satu perempuan yang benar-benar kamu inginkan. Jangan pernah mempermainkan perempuan lagi!" ujar Genta menasihati. Tidak peduli lagi apakah Kale akan benar-benar mengikuti sarannya atau tidak, tapi yang jelas Genta sebagai saudaranya sudah berkewajiban untuk menasihati, bahkan dia hampir lelah karena setiap saat menasihati Kale. "Akan kucoba." Seperti itu ucapan Kale kepada semua orang yang berusaha menasihatinya. Dan realitanya tak seperti apa yang diucapkan, justru Kale semakin menjadi. Entah mau sampai kapan dia berhenti dengan satu perempuan saja. Bagi Kale itu seolah tidak mungkin karena baginya kehidupannya akan sendu jika tidak ada banyak perempuan di sisinya. Genta sudah mulai mengantuk. Waktu memang masih menunjukkan pukul sembilan, biasanya Genta bisa tidur lebih dari itu bahkan saat pagi hampir menjelang. Tapi untuk malam ini, dia akan tidur lebih awal karena dia harus memiliki tenaga penuh untuk besok yang mana pekerjaannya sangat banyak dan harus diselesaikan tepat waktu. "Pergilah, aku sudah mau tidur!" ucap Genta mengusir Kale. Tak menunggu Kale beranjak dari ranjangnya terlebih dahulu, Genta langsung merebahkan dirinya di samping Kale. "Genta, seprei di kamarku baru dicuci dan belum diganti Mama. Makanya Mama menyuruhku tidur di sini," ucap Kale memberitahu Genta. Layaknya seorang anak kecil, Kale meminta izin untuk tidur di kamar Genta. Genta hanya mendengus, dia memalingkan tubuhnya membelakangi Kale. Tidak lupa untuk memberi batas dengan dua gulingnya supaya Kale tidak melewati batasan dan mengganggu tidurnya. Genta sangat waspada jika tidur bersama Kale, karena saudara kembarnya itu tidak bisa tidur dengan tenang hingga membuat Genta kesulitan tidur nyenyak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN