Wajah yang Sama

1000 Kata
Sebuah tangan menepuk bahunya membuat Genta menoleh seketika. Perempuan yang sedang berdiri dengan kerudung yang hanya disampirkan di kepalanya tersenyum manis. Cantik dan manis, namun tetap membuat Genta tak tertarik sama sekali. Genta memang sulit untuk membuka hatinya kembali untuk perempuan lain. "Aku bukan Kale!" seru Genta dengan dingin. Dia lantas menatap makam kekasihnya sebelum beranjak dari pemakaman. Dalam hatinya dia mengucapkan kata pamit, hal itu tak akan pernah terlupakan oleh Genta. Dia datang menyapa, maka saat pergi tak lupa untuk pamit. "Hey, tunggu!" teriak perempuan itu. Perempuan itu nampaknya masih tak percaya, dia mengikuti langkah pemuda yang langkahnya membuat dirinya kewalahan mengikuti karena sangat cepat. Dia sangat penasaran dengan lelaki yang wajahnya sangat mirip dengan lelaki yang beberapa waktu lalu ditemuinya. Dia masih ingin memastikan apakah lelaki itu memang bukan lelaki yang pernah dia temui. "Aku Genta, bukan Kale!" seru Genta sekali lagi berharap perempuan itu tak lagi mengikutinya. Dia sangat tidak suka saat ada yang mengikutinya. "Tapi wajahmu mirip dengan Kale," sangkal perempuan cantik itu. Dia masih tidak menyangka bahwa yang ditemuinya saat ini bukanlah lelaki yang dia kenal beberapa waktu lalu. Dia tetap mengikuti langkah Genta. Genta menghentikan langkahnya sejenak dan menatap perempuan yang masih mengikutinya. Perempuan itu mendongak menatap lelaki yang lebih tinggi darinya. Mungkin berjarak 30 cm. Dan perempuan itu hanya sebatas bahu Genta. "Itu karena kami kembar. Kalau mau menemui Kale atur jadwalnya, dia sangat sibuk dengan wanita-wanitanya. Ingat! Jangan menggangguku lagi!" ucap Genta memperingatkan. Dia kesal dengan perempuan yang mengejarnya sampai di parkiran pemakaman itu. Genta sangat tidak suka dengan orang yang sulit diberi tahu. Genta kemudian masuk ke mobilnya bersiap meninggalkan pemakaman. Sedangkan perempuan itu masih berdiri di depan mobil Genta bermaksud menghalaunya. Kedua tangannya pun direntangkan, dia menginginkan Genta supaya tak pergi dari sana. Tindakan yang sangat bahaya, beruntung Genta belum melajukan mobilnya. Tin... tin... tin... Seruan klakson semakin sering terdengar. Tak henti-hentinya Genta membunyikannya, dia hanya ingin perempuan itu lekas pergi. Perempuan itu semakin menyebalkan karena telah menyita waktunya. "Apa maumu? Aku bukan Kale, aku Genta!" teriak Genta sembari menurunkan kaca jendela mobilnya. Amarahnya benar-benar memuncak. Dia sangat bahaya jika sudah marah. "Ak- aku...." Perempuan itu terbata, dia bergidik ngeri dengan pemuda yang terlihat menyeramkan. Berbeda sekali dengan pemuda yang dia temui beberapa hari yang lalu. Tak lain adalah Kale. Dia tiba-tiba masuk ke mobil Genta membuat pemuda itu terkejut. Kurang ajar sekali. Dia lalu menundukkan wajahnya membuat Genta semakin kesal. Lelaki itu sebisa mungkin menahan emosinya, tapi tetap saja tidak bisa. "Aku baru di sini. Aku tidak tahu tempat-tempat di sini. Ehm... Bisakah kamu mengantarkanku pulang?" tanya perempuan itu ketika sudah duduk di samping kursi kemudi. Dia masih menunduk ketakutan dan meremas jarinya begitu kuat, takut sekali dengan bentakan yang dilayangkan Genta tadi. Tapi dia tetap berani untuk masuk ke mobil Genta. Meski kesal mendominasi, melihat perempuan itu ketakutan, dia pun melajukan mobilnya meninggalkan makam. Lagi pula, menolong orang bukanlah hal yang buruk. Perempuan itu juga terlihat perempuan baik. Genta sedang berusaha untuk tidak terlihat seperti orang jahat. Dan selama perjalanan, mobil terasa hening. Tak ada sepatah kata yang terucap dari keduanya. Genta pun tak tahu harus membawanya ke mana karena perempuan itu ternyata memang baru di ibu kota dan lupa mencatat alamat rumahnya. "Lalu, bagaimana aku mengantarkanmu pulang jika kamu saja tidak tahu alamatmu." Genta memukul kemudinya karena kembali kesal. Menyesal sekali telah menyetujui perempuan itu untuk diantarkan. "Ya maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu. Aku hanya ingat rumah mamaku itu ada pohon cemara di depannya. Untuk nama jalannya aku tidak tahu, aku lupa bertanya pada Papaku," jawab perempuan itu. Genta memijat pelipisnya dikarenakan merasa pening. Entah berasal dari mana perempuan yang tiba-tiba ikut dengannya itu, tapi sepertinya dia memang baru pertama kali di ibu kota. "Sebenarnya kamu berasal dari planet mana? Dan bagaimana bisa kamu pergi ke makam tadi, sedangkan dirimu saja baru di sini?" tanya Genta lagi tanpa menatap perempuan itu. "Tentu saja dari bumi!" Perempuan itu menyolot membuat Genta semakin kesal. Harusnya dia yang marah bukan malah perempuan itu. "Yes!" Perempuan itu kegirangan mendapatkan sebuah pesan singkat di ponselnya. Dia lalu memberitahu Genta. Itu adalah pesan dari Papanya yang memberitahu alamat rumahnya. Genta semakin kesal, ternyata rumah perempuan itu telah dilewati tadi. Dan kini dia harus memutar balik. Sungguh, ia tidak suka seperti ini. Hanya menghabiskan waktu saja. Entah sudah berapa lama waktu Genta terbuang, tapi yang jelas Genta yang menghargai waktu itu amarahnya semakin memuncak. Dan tak lama kemudian akhirnya mobil sampai di rumah yang seperti disebutkan perempuan tadi— ada pohon cemara di depannya. Cukup mewah, tapi masih kalah dengan rumah milik Genta. "Ehm... Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang." "Hm...." "Namaku Gempita Akari Raharjo...." Perempuan itu memperkenalkan dirinya dengan malu-malu sembari melepas seatbelt. "Aku tidak memintamu untuk memperkenalkan dirimu. Turun dari mobilku sekarang!" Genta memang seperti itu orangnya. Dia sangat dingin dan arogan. Banyak yang tidak suka dengan sikapnya, namun banyak pula yang menyukainya karena ada sifat lain yang memang patut disukai siapa pun. Ketampanannya juga salah satu hal yang disukai banyak orang. Gempita lantas semakin bergidik ngeri dengan lelaki yang dinginnya melebihi salju tatkala musik dingin di Jepang datang. Perempuan itu lantas turun dari mobil. Dia terkejut, belum sempat mengucap selamat tinggal mobil sudah melaju begitu kencang. Dia masih menatap mobil Genta sampai hilang dari pandangannya. Tak disangka jika Kale, lelaki yang dia temui beberapa waktu lalu itu memiliki kembaran. Dan tak disangka pula sifat mereka berbanding terbalik. Kale lebih hangat, menyenangkan, dan baik hati. Tentu membuat siapa pun akan terlena, tapi tidak dengan Gempita yang justru malah lebih tertarik dengan pemuda yang bernama Genta. Gempita sangat tertarik dengan orang yang dingin, dia tertarik untuk menghangatkannya. Gempita juga suka dengan orang yang dingin tapi aslinya baik hati. Sama seperti Genta. Gempita merupakan perempuan keturunan antara Jepang dan Indonesia. Dia tinggal di Jepang sejak kecil, namun dirinya cukup pandai melafalkan bahasa Indonesia dikarenakan Mamanya keturunan asli Indonesia, tepatnya Jawa. Ada banyak hal yang menjadikannya kembali ke Indonesia, salah satu di antaranya adalah kematian Mamanya yang baru saja dia ketahui belum lama ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN