Seminar motivasi akan dilangsungkan satu jam kemudian. Dan mereka baru saja tiba di Bandung, beruntung masih ada waktu untuk istirahat setelah perjalanan yang cukup panjang. Genta ditemani dengan Gempita menunggu di ruang yang telah disediakan. Peserta seminar cukup banyak memenuhi aula itu, semuanya sudah siap menantikan materi dari pembicara.
Gempita malah khawatir. Dia takut apabila seminar malah kacau nantinya. Jujur saja, dia masih belum memercayai Genta sepenuhnya. Genta yang dingin dan pemarah itu mana mungkin bisa bersikap baik pada audiens.
"Kamu tidak gugup?" tanya Gempita. Entah apa yang salah dengannya. Dia malah yang gugup, sedangkan Genta terlihat santai. Ah, Gempita ada-ada saja.
"Aku sudah biasa menghadiri acara seperti ini." Lelaki dengan tampang dingin itu melipat tangannya di d**a. Dia sedikit kedinginan karena AC di ruangan itu menyala, padahal cuaca cukup sejuk.
Gempita nampaknya juga kedinginan. Apalagi perempuan itu hanya memakai blouse lengan pendek yang tentu saja lebih merasakan dingin. Entah berada di mana remot AC-nya, ingin rasanya dia mematikan saat itu juga.
Perempuan itu tak menyadari jika dirinya bergeser dari posisi semula. Kini dia sangat dekat dengan Genta. Dan lelaki itu pun menggeser posisinya menjauhi Gempita. Sedangkan Gempita yang tahu pun semakin gencar menggoda, dia mengikuti Genta yang bergeser tempat duduk. Gempita selalu senang jika menggoda Genta.
"Hey! Apa yang kamu inginkan? Menjauhlah dariku!" seru Genta sembari mendorong tubuh Gempita sampai terjungkal, namun tetap berada di sofa. Lelaki itu sudah berada di tepi hingga dirinya tak bisa lagi menjauhi Gempita, oleh karenanya dia marah.
"Ish, kamu ini. Aku itu dingin, Genta... Biarkan aku dekat denganmu, atau pinjamkan aku jasmu sebentar saja..." rengek Gempita, dia juga mengerlingkan matanya supaya Genta luluh.
"Tidak akan!"
"Kalau begitu izinkan aku memelukmu biar tidak dingin lagi!" Belum mendapat persetujuan, Gempita langsung memeluk Genta.
Tentu saja Genta terkejut, Gempita semakin nekad. Perempuan itu memeluknya erat dari samping, membuatnya tak bisa berkutat. Gempita benar-benar erat hingga Genta tak mampu melepas. Dia akhirnya membiarkannya.
"Aku suka sekali memelukmu. Apa kamu suka juga saat aku peluk?" tanya Gempita mendongakkan kepalanya menatap lelaki yang tetap saja dingin. Dia cukup senang karena Genta tidak melepas pelukannya.
"Tidak."
"Tapi kalau kamu tidak suka seharusnya kamu marah denganku saat ini." Gempita masih saja mengulik Genta, dia menginginkan hal yang diinginkannya terjadi.
"Memangnya aku sedang tidak terlihat marah?" Genta menatap perempuan itu dengan tatapan jengah. Semakin marah dia jadinya.
"Tidak. Kamu justru menakutkan, apalagi jika sudah berbicara. Dasar lelaki salju!" Perempuan itu tergelak setelah berhasil memaki Genta. Dan Genta melototkan matanya, tapi tak membuatnya takut dan malah semakin mempererat pelukan.
"Kalau aku menakutkan kenapa masih kamu peluk, haaa?" Dengan kekuatannya akhirnya lelaki itu terlepas dari pelukan Gempita. Tentu saja Gempita kesal karena dilepas dengan paksa, dia masih mau memeluk Genta lebih lama lagi.
"Kan aku sudah bilang kalau aku sangat suka memelukmu, maka dari itu aku tidak takut."
"Menyebalkan!"
Gempita terkikik geli, dia kemudian memeluk Genta lagi. Tubuh Genta tak lagi menolak. Mungkin karena mencari kehangatan pula akibat AC yang tak bisa diubah suhunya. Genta tetap berdiam, dia tidak membalas pelukan Gempita hingga akhirnya acara seminar pun dimulai, Genta telah dipanggil.
Gempita duduk di barisan peserta lain menyaksikan Genta yang sudah berdiri di tengah panggung dengan microfon di tangannya. Dia kembali khawatir jika sesuatu yang buruk dilakukan Genta.
Terkejut bukan main. Genta yang dingin itu terlihat berbeda di atas panggung. Lelaki itu jadi sering tersenyum memancarkan pesonanya. Genta juga terlihat ramah dengan materi yang dia sampaikan, dan dia juga menanggapi pertanyaan dari para peserta dengan baik.
Ruangan tersebut jadi penuh keceriaan karena Genta juga tak segan-segan melontarkan lelucon meski tidak selucu komedian. Dan yang paling parah adalah senyumannya membuat para perempuan di sana terpukau.
Ternyata lelaki itu jauh lebih tampan ketika tersenyum. Gempita baru menyadarinya. Genta seakan memiliki dua kepribadian. Dia akan menjadi orang yang hangat dan ramah ketika ada acara seperti itu dan akan kembali dingin seperti biasanya setelah acara selesai. Ah, Gempita menginginkan Genta untuk tetap seperti itu— hangat dan riang.
Acara seminar telah selesai. Genta memberikan motivasi yang sangat baik dan mungkin memengaruhi para peserta seminar. Dia menceritakan bagaimana jatuh bangunnya sebelum meniti karir hingga akhirnya dia berada di puncak. Semuanya nampak salut, terlebih lagi dengan para perempuan.
Mereka tak segan-segan meminta untuk berfoto bersama dengan Genta, dan Gempita yang menjadi fotografer mendadak. Tidak masalah baginya, yang terpenting hari ini dia puas melihat Genta yang lain dari hari-hari sebelumnya.
"Hufffttt, dia kembali dingin. Ah, aku tidak sabar untuk acara selanjutnya," gumam Gempita. Dia sedih sekali karena senyum yang Genta pancarkan selama acara berlangsung surut seketika. Genta kembali ke sedia kala, tentu saja Gempita jadi sedih.
"Apa maksudmu?" sahut Genta, dia sedikit mendengar gumaman Gempita namun tak tahu apa yang dimaksud perempuan itu karena juga kurang jelas.
"Genta... Kamu sangat tampan jika tersenyum. Tersenyumlah setiap saat, tersenyumlah seperti kamu mengisi acara tadi!" ucap Gempita terus terang. Dia memang seperti itu, tidak suka jika ada yang ditutupi atau diganti dengan hal lain. Perempuan itu selalu jujur dan berkata apa adanya.
Genta pun tersenyum dengan paksa, hanya sekilas. Gempita hampir tidak melihatnya. Genta nampaknya juga senang karena dipuji Gempita. Sebelumnya belumelum ada orang lain selain keluarganya yang memuji dirinya. Ah, atau mungkin Genta tidak tahu karena dia terlalu acuh.
"Sudahlah tak apa. Aku sudah mengabadikan momen tadi. Jadi, jika aku sedang kesal denganmu aku bisa melihat sisi dirimu yang lain. Genta yang hangat dan ramah hehe...." Gempita menunjukkan beberapa foto Genta yang sempat dia abadikan tadi.
"Hapus sekarang, atau kutinggalkan kamu di sini?" Ancam Genta. Dia sebenarnya tidak menyukai dunia fotografi. Genta tidak suka berfoto-foto, dia sangat malu.
"Iya tinggalkan saja. Fotomu lebih penting dari apa pun," tantang Gempita.
"Okay!"
Genta pun segera melangkah lebih cepat menuju ke mobil dan bersiap menuju ke bandara. Gempita jadi kalang kabut, dia pun berlari mengejar Genta. Dan sepertinya Genta juga tak mau kalah, dia mempercepat langkahnya membuat Gempita kesulitan mengejar. Lucu sekali.
"Genta...."
"Kamu tadi menyuruhku untuk meninggalkanmu bukan? Aku hanya menuruti permintaanmu!" goda Genta. Dia semakin mempercepat langkahnya supaya Gempita tidak bisa mengejarnya.
Tapi ternyata Gempita memiliki bakat berlari, perempuan itu berhasil menyejajarkan langkah Genta. Sementara Genta akhirnya memelankan langkahnya karena kasihan juga melihat Gempita yang kelelahan berlari.
"Genta, apa kamu masih kenyang?" tanya Gempita sama seperti biasanya. Dia selalu memastikan apakah perut Genta baik-baik saja atau tidak.
"Masih."
"Ehm, bisakah kita keliling dan menikmati kuliner di Bandung terlebih dahulu sebelum pulang?"
"Tidak," jawab Genta ketus.
Genta tetap saja dingin. Langkahnya dipercepat, dia juga memastikan apakah jalan yang dia tempuh untuk keluar gedung itu benar atau tidak karena ini pertama kalinya dia menginjakkan diri di gedung itu.
"Genta... Ayolah...."
Gempita menarik lengan Genta. Dia merengek membuat Genta tidak bisa berjalan cepat lagi. Lelaki itu kembali kesal, tapi entah kenapa dirinya tidak mau melepaskan tangan Gempita yang bergelayut di lengannya.
"Gempita... Lepaskan tanganku. Jangan seperti ini, kamu sudah besar, apa tidak malu dilihat banyak orang?" seru Genta. Dia malah malu karena jadi pusat perhatian banyak orang yang berpapasan dengannya.
"Ajak aku keliling terlebih dahulu. Aku masih mau di sini, jangan pulang sekarang..." sahut Gempita. Dia dan Genta berhenti sejenak di pertengahan tangga menuju lapangan dekat parkiran, tempat di mana mobil Genta diparkir di sana.
"Iya, kita akan keliling sebentar sebelum pulang. Tapi...."
"Tapi apa, Genta?" Gempita sangat antusias. Dia sudah senang karena Genta akhirnya mau menuruti keinginannya.
"Tapi bohong!" Genta puas sekali mengatakannya, sementara Gempita terdiam dan menunjukkan wajah kesalnya. Genta langsung berlari menuruni anak tangga dan meninggalkan Gempita.
"Genta! Biarkan aku membunuhmu!" gertak Gempita. Dia akhirnya tersadar dan langsung berlari mengejar Genta.
Genta sampai di lapangan terlebih dahulu, dia menengok ke belakang menyaksikan Gempita yang berlari menghampirinya. Dia tersenyum kemenangan karena berhasil menipu Gempita.
"Aaaa...."
"Gempita!"
Sampai di pertengahan tangga, perempuan itu terpeleset dan jatuh hingga ke dasar tangga. Dan Genta berlari menghampirinya. Dia panik tidak karuan apalagi banyak yang langsung mengerubungi Gempita. Orang-orang yang tadinya hendak bergegas pulang pun menghampiri Gempita.
"Genta, sakit...." Gempita merengek. Lututnya berdarah karena lantai tangga tadi ada yang pecah sedikit dan menggores lutut perempuan itu. Tidak tahu seberapa dalam dan besar lukanya, tapi yang jelas lutut Gempita telah berlumur darah.
Genta bingung, dia sangat panik. Lelaki itu langsung membopong Gempita yang pasti jauh lebih panik darinya. Apalagi lututnya terluka dan berdarah.
"Gedung ini ada klinik kesehatan, di lantai dua, ruang paling ujung," seru salah satu orang memberitahu Genta, sangat tahu apa yang sedang dibutuhkan Genta saat ini selain pertolongan tenaga medis.
Dan Genta sangat berterima kasih padanya. Dia kemudian bergegas menuju lantai dua dengan Gempita yang berada di gendongannya. Cukup sulit menemukannya, tapi Genta tetap berusaha mencari klinik kesehatan.
"Sudah tidak sakit. Ayo pulang...."
Perkataan itu tentu saja membuat Genta menghentikan langkahnya sejenak. Dia menatap perempuan yang mengalungkan tangan di lehernya karena takut jatuh. Perempuan yang terlihat baik-baik saja, padahal tadi panik tak karuan.
"Pulang setelah ada yang mengobati lukamu." Genta kembali melangkahkan kakinya usai berkata demikian.
"Hanya luka kecil."
"Bisa jadi besar jika tidak lekas diobati. Kalau kamu mau ya sudah. Tapi aku hanya ingin memberitahumu bahwa luka besar bisa saja membuat kakimu membusuk dan pada akhirnya...."
"Awww----" Genta berhenti karena dia merasakan sakit lengannya dicubit Gempita.
"Jangan dilanjutkan. Jangan berkata yang buruk karena itu bisa jadi doa!"
Genta menggelengkan kepalanya memperhatikan tingkah Gempita. Namun ada benarnya juga bahwa perkataan bisa jadi doa. Genta memasuki ruangan kesehatan dan langsung membaringkan Gempita di bangsal kosong. Beruntung ada dokter yang bertugas dan sedang santai karena tidak ada pasien.
"Genta, jangan menjauh dariku," ucap Gempita ketakutan. Dia menyembunyikan wajahnya dari dokter di klinik itu. Dia sangat takut jika bertemu dengan dokter.
"Tidak perlu takut. Dokternya baik, kok." Genta berusaha melepas Gempita yang terus saja menyandar di tubuhnya.
"Genta... Aku takut dokter. Aku taku jarum suntik."
"Tidak akan ada yang menyuntikmu! Ini hanya luka ringan, tapi harus tetap dibersihkan dan diobati. Tidak akan ada jarum suntik!"
Genta tak habis pikir dengan Gempita yang entah kenapa berpikiran jarum suntik. Padahal dokter tidak akan menyuntiknya atau menggunakan jarum suntik ketika mengobati lukanya.
Sementara itu Dokter di sana langsung tertawa mendengar celotehan Gempita yang memang lucu sekali. Kemudian Dokter tersebut dengan sigap membersihkan luka Gempita dan memberikannya obat sebelum diperban.
Memang luka ringan, tidak perlu dikhawatirkan, tapi Genta tetap saja khawatir karena ini juga merupakan kesalahannya. Andai saja dia tidak meninggalkan Gempita, maka dari itu Gempita tidak akan berlari dan tetap berhati-hati dengan langkahnya hingga akhirnya tidak terjatuh.
"Ayo pergi," ucap Genta usai berterima kasih pada dokter tadi. Dia heran dengan Gempita yang tak kunjung beranjak dan malah diam saja.
"Genta..." rengek Gempita membuat Genta menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Gempita.
"Gendong...." Gempita merentangkan kedua tangannya bersiap untuk digendong Genta. Dia juga menunjukkan bahwasanya kakinya sedang terluka, jadi tidak bisa berjalan dengan baik. Padahal hanya luka ringan.
"Tidak perlu malu. Saya sudah kerap menyaksikan adegan romantis anak muda," ucap Dokter tersebut yang membuat Genta salah tingkah. Sementara Dokter itu tersenyum gemas.
Genta akhirnya menggendong Gempita, tapi di punggung karena baginya itu jauh lebih nyaman. Dan Gempita sangat senang, dia menyandarkan kepalanya di pundak Genta.
"Genta...."
"Hm...."
"Aku lapar. Aku mau makan makanan khas Bandung yang terbuat dari aci. Ehm... cimol, cilor, cireng, cilung, dan lain sebagainya."
"Jangan banyak gerak, aku kesulitan membuka pintu mobil."
Mereka berdua sampai di parkiran dan tepat di samping mobil. Dan Genta kesulitan membuka pintu mobil karena Gempita banyak gerak. Dia akhirnya menurunkan perempuan itu karena dia rasa Gempita juga bisa masuk sendiri ke mobil.
Gempita masuk terlebih dahulu, diikuti Genta yang siap mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat seminar.
"Genta... Ayo beli makanan yang kusebutkan tadi."
"Cerewet sekali! Baiklah-baiklah, kita beli semua yang kamu inginkan." Genta akhirnya mengalah. Ini juga sebagai permintaan maafnya sebab dia benar-benar merasa bersalah karena Gempita jadi jatuh dan terluka meskipun hanya luka ringan.
"Yeyy! Terima kasih, Genta!" Gempita bersorak. Dia teramat senang dan akhirnya mencubit pipi Genta karena gemas.
Genta hanya menghela napas. Dia sudah terbiasa dengan Gempita yang jika gemas atau senang pasti langsung memeluk, jika tidak pasti mencubit pipinya. Genta selalu menjadi sasaran perempuan itu.
"Aku jadi semakin menyukaimu, Genta. Kamu dingin, tapi sebenarnya hatimu sangatlah hangat. Kamu baik orangnya," puji Gempita dengan senyum yang sangat lebar.
"Apa maksudmu menyukaiku?" tanya Genta. Dia sebenarnya tahu maksudnya karena beberapa waktu lalu dia mendengar perkataan Gempita. Ya, menyukai lebih dalam. Bukan sekadar rekan kerja.
"Menyukaimu karena bosku!" sahut Gempita.
Perempuan itu ternyata berusaha menyangkal. Padahal Genta sendiri sudah tahu apa maksudnya. Genta hanya diam, dia tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Mungkin apa yang dikatakan Gempita dulu yang mana akan mengubur perasaannya itu sedang diusahakan. Benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Tapi Genta selalu berpikir positif. Menghilangkan perasaan akan sulit, Genta yakin Gempita kesulitan menghilangkan perasaan padanya.