Akhir bulan identik dengan gaji. Tentu tak sedikit orang yang menantikannya. Mereka bahkan sudah membuat daftar apa saja yang akan dilakukan setelah mendapat gaji. Entah itu untuk menabung, investasi, berbelanja, makan sampai puas, liburan, dan lain sebagainya. Intinya, banyak yang telah berencana mau diapakan gaji yang diterima.
Lain halnya dengan Gempita. Dia bahkan lupa jika dirinya juga akan mendapat gaji dari Genta yang mana akan menjadi gaji pertamanya. Gempita bekerja hanya untuk mengisi hari-harinya, tujuan utamanya bukan untuk mendapat uang. Baginya uang juga tidak terlalu penting. Yang penting adalah hari-harinya diisi dengan hal baik.
"Genta... Sudah saatnya pulang," seru Gempita memberitahu Genta seperti biasa. Jika tidak diingatkan, Genta akan lupa waktu. Dan lelaki itu selalu berdehem menanggapinya.
Memang sudah saatnya pulang. Gempita pun sudah siap pulang karena telah mengemas perlengkapannya juga merapikan meja tempatnya bekerja. Pekerjaannya sudah selesai. Gempita memeriksa ponselnya sejenak untuk melihat apakah ada pesan masuk atau tidak.
Dia terkejut saat mendapatkan notifikasi di ponselnya. Di mana ada rekening atas nama Genta Sanjaya Arusatya mengiriminya uang dengan nominal yang sangat besar. Dia lalu menghampiri Genta dan menanyakan uang apa yang dikirimkan itu. Ah, bodoh. Dia baru sadar. Itu pasti gajinya bulan ini. Tapi biar saja, Gempita tetap akan bertanya.
"Genta, ini terlalu banyak. Apa kamu salah mengirimkannya? Biar aku kembalikan ke rekeningmu," ucap Gempita sembari menunjukkan ponselnya yang memaparkan riwayat pengiriman.
"Tidak. Itu upahmu selama bekerja denganku. Bulan ini aku mendapatkan uang berkali-kali lipat dari biasanya karena aku mampu bekerja dengan cepat, dan itu karena bantuanmu juga," jawab Genta apa adanya tanpa menatap Gempita lagi.
Tiga digit membuat Gempita masih tak menyangka. Ini terlalu banyak. Pekerjaan yang dilakukan Gempita memang agak sulit, namun apakah pantas dia mendapat gaji sebesar itu? Kalau pun iya dia berterima kasih sekali pada Genta. Ternyata Genta sangat menghargai kerja kerasnya. Tapi dia masih tidak nyaman dengan gajinya yang tinggi. Gempita semakin bingung bagaimana menyikapinya. Mau dikembalikan pun tidak mungkin, Genta pasti akan mengembalikan lagi padanya.
"Terima kasih, Genta. Kalau begitu aku akan mentraktirmu sebagai ungkapan terima kasihku," seru Gempita dengan penuh riang. Dia memang seperti itu jika ada yang berbuat baik padanya, maka dia harus membalas kebaikannya. Gempita sangat tahu cara membalas budi.
"Uangku lebih banyak dari milikmu, aku tidak mau kamu mentraktirku." Bukan bermaksud sombong, dia memang tidak mau jika ada orang yang mentraktirnya. Genta tidak mau merepotkan orang lain atau berhutang budi.
"Kalau begitu kamu yang mentraktirku! Ayo, kita pergi Genta...."
Genta terbelalak. Dia tadinya hanya bermaksud menolak ajakan Gempita, tapi siapa sangka perempuan itu malah membuatnya terperangkap. Gempita ada benarnya juga. Karena Genta tidak mau ditraktir, maka dari itu dia yang meminta ditraktir Genta.
Dan kini mereka telah berada di pusat pedagang kaki lima yang menjajakan beragam makanan jalanan. Genta masih saja berwajah dingin. Dia benar-benar terperangkap dan tidak bisa keluar dari zonanya.
"Genta, apakah aku boleh membeli itu?" tanya Gempita menunjuk penjual cireng bumbu rujak, makanan sama yang dia temui di Bandung beberapa waktu lalu.
"Hm, belilah yang kamu mau. Aku akan duduk di sana," sahut Genta menunjuk bangku kosong di bawah pohon beringin.
Gempita menengadahkan tangannya sebelum Genta pergi. Sontak Genta pun tidak mengerti, dan pada akhirnya dia mengerti jika Gempita bermaksud meminta uang untuk membeli makanan yang dia mau. Genta merogoh kantung celananya mengambil dompet.
"Nih...." Genta memberikan dompetnya ke tangan Gempita. Dia lalu duduk di kursi yang dimaksud tadi. Beruntung dia beberapa waktu lalu menarik uang di ATM, dan uang tersebut masih tersisa. Jadi, bisa digunakan untuk membeli makanan kala itu.
Perempuan itu lantas berlari menghampiri penjual makanan yang dia inginkan. Tak hanya cireng saja yang dia beli, melainkan ada makanan khas Indonesia lain seperti sate, nasi goreng, martabak manis & asin, telur gulung, kerak telor, dan ada beberapa makanan lain yang membuat tangan Gempita kewalahan membawanya. Namun, dia tetap bisa membawanya sampai di tempat Genta.
Dia datang dengan senyum mengembang yang juga menampakkan giginya yang rata. Makanan yang baru saja dia beli diletakkan di samping Genta. Kemudian dia menyerahkan dompet kepada pemiliknya. Beberapa lembar uang di dalamnya telah digunakan untuk membayar makanan yang diinginkannya tadi.
Genta yang sedari tadi memerhatikan perempuan itu dari jauh pun menggelengkan kepalanya melihat makanan yang Gempita beli ternyata sangat banyak. Genta tak habis pikir dengan Gempita.
"Terima kasih, Genta..." ucapnya yang kemudian duduk di tepi kursi dan menyantap telur gulung yang dipadukan dengan saus racik. Ini jauh lebih nikmat dari telur gulung yang dia beli sebelum-sebelumnya.
"Ehm, apa kamu mau?" tanyanya sembari menunjukkan telur gulung yang menyisakan setengah– bekas gigitannya pula. Tentu saja Genta menggeleng. Lagipula Genta tidak suka dengan telur gulung. Lelaki itu memilih untuk menyantap sate madura yang terdiri dari sepuluh tusuk dengan bumbu yang menggiurkan. Aromanya saat dibakar tadi saja sudah tercium kuat dan nikmat, apalagi saat benar-benar disantap.
"Awas saja kalau kamu tidak menghabiskannya," ancam Genta. Dia bergidik ngeri melihat makanan yang begitu banyak itu. Apakah perut perempuan itu mampu menghabiskan semuanya? Genta tidak tahu pasti, Gempita memang suka sekali makan, namun makanan kali ini terlalu banyak hingga Genta tidak yakin perempuan itu bisa menghabiskannya.
"Kalau aku tidak menghabiskannya memangnya apa yang kamu lakukan?" tanya Gempita. Dia kini menyantap nasi goreng rawut yang disajikan di atas piring rotan.
"Mencekikmu hingga mati, lalu membuangmu ke sungai ciliwung!"
"Boleh. Martabaknya aku bawa pulang nanti untuk Papa. Aku hanya menghabiskan sedikit makanan saja. Itu hal mudah bagiku," ucap Gempita tergelak. Beruntung dia memiliki ide cemerlang. Ah, lagipula martabak telur yang dia beli memang akan ditujukan untuk Papanya.
Genta menggelengkan kepalanya. Dia masih asyik menghabiskan sate madura sebelum piringnya dikembalikan ke penjualnya.
"Genta... Nasi gorengnya kali ini enak sekali. Kamu mau mencobanya?" tawar Gempita. Dia menyodorkan satu suapan ke mulut Genta.
Lelaki itu awalnya ragu. Tapi melihat Gempita makan tadi dia jadi tergoda. Dan Genta akhirnya menerima suapan Gempita. Tentu Gempita terkejut, tidak disangka jika Genta mau menerima suapan darinya. Bekas sendoknya juga.
"Mau kerupuknya?"
Genta mengangguk. Kini mulutnya kembali bekerja mengunyah nasi goreng yang ternyata memang enak. Dia jadi ketagihan. Dan dengan bodohnya Genta mau saja disuapi Gempita sampai nasi goreng yang tadi baru disantap tiga sendok itu habis.
Gempita sangat senang karena Genta menghabiskan dengan suapan darinya. Lebih senang lagi karena ada yang membantunya menghabiskan makanannya, karena jujur saja dia sudah mulai kenyang, sementara makanan yang dia beli masih banyak. Lagi-lagi idenya sangatlah bagus bisa menyelamatkan dirinya dari amarah Genta.
"Kenapa malah jadi aku yang menghabiskannya?" seru Genta yang pada akhirnya tersadar saat nasi goreng di piring rotan yang dialasi kertas minyak itu habis tertelan olehnya. Dan baru sadar pula ternyata dirinya sedari tadi disuapi Gempita, sudah seperti anak kecil saja. Pantas tadi banyak yang melihatnya.
Gempita tergelak menanggapinya. Dia berhasil membuat Genta tertipu daya olehnya. Dia kemudian membukakan air mineral dan memberikannya kepada Genta. Dia juga tidak lupa membersihkan mulut Genta yang berminyak dengan selembar tisu yang baru saja diambilnya dari tas.
"Terima kasih telah membantuku menghabiskannya. Tugasku untuk menghabiskan makanannya semakin berkurang," cicit Gempita dengan tawa yang belum terhenti.
Genta hanya memberikan tatapan jengah seraya meminum air mineral yang diberikan Gempita tadi. Entah kenapa dia jadi nurut dengan Gempita. Tapi nasi gorengnya tadi juga enak, tidak apa.
"Genta... Cirengnya juga enak. Sama seperti yang di Bandung waktu itu," ucap Gempita dengan mulut yang masih mengunyah. Genta jadi tergoda lagi. Entah kenapa Gempita selalu membuatnya tergoda ketika makan. Apa pun makanan yang dimakan perempuan itu selalu terlihat enak.
Makanan yang masih banyak itu kembali dihabiskan sembari menatap orang-orang yang juga sedang menghabiskan waktu di tempat tersebut. Beragam, ada yang bersama keluarganya, kekasihnya, dan ada pula yang sendirian hendak memanjakan lidah dengan makanan yang dijual di sana.
"Genta... Tamara itu seperti apa? Kenapa kamu sangat mencintainya?" Pertanyaan Gempita itu membuat Genta menghentikan aktivitasnya yang hendak menyantap cireng.
Makanan yang hendak dimakan itu diletakkan kembali, dan kini dirinya kembali menyeruput air mineral untuk mengulur waktu mencari jawaban atas pertanyaan Gempita tadi.
"Dia selalu ada untukku. Selalu menjadi penyemangatku apa pun kondisinya. Dia juga sangat pandai, lemah lembut, tidak sombong, periang. Menurutku dia hampir sempurna," jawab Genta dengan tatapan tak tentu. Dia tersenyum getir karena kembali mengingat bagaimana kekasihnya dulu.
"Seperti diriku. Jatuh cintalah padaku, Genta. Biarkan aku menggantikannya." Ucapan Gempita itu membuat Genta menoleh, dan tersenyum meledek.
"Seperti kamu? Tentu tidak. Tamara tidak menyebalkan, sedangkan kamu sangatlah menyebalkan!"
Genta berkata tanpa menatap perempuan di sampingnya. Dia tidak mau jika Gempita tahu bahwa Genta hanya sedang bercanda saja. Ya, Genta bercanda. Bagi Genta, Gempita memang mirip Tamara yang selalu menjadi penyemangatnya, periang, pandai, dan lain sebagainya. Genta hanya memutar balikkan fakta karena dia takut jika Gempita tahu. Genta sangat gengsi.
Gempita nampak tengah memikirkan sesuatu. Astaga, dia baru menyadari apa perkataannya tadi. Dengan begitu dia akan terlihat murahan di mata Genta karena terang-terangan menawarkan dirinya. Ah, sial, Gempita harus mengembalikan jati dirinya.
"Ehm, Genta, aku tadi hanya bercanda. Jangan dianggap serius ya."
Lelaki itu memandang perempuan yang mulutnya belepotan dengan saus. Dia tersenyum meledek menanggapi perkataan Gempita tadi. Lagipula dia juga tahu jika Gempita tidak bercanda. Gempita hanya sama seperti dirinya tadi yang memutar balikkan fakta.
Perempuan itu bisa saja menjadi pengganti Tamara. Genta hanya masih memerlukan waktu untuk itu. Juga masih perlu waktu untuk memastikan apakah lingkungannya nanti menerima atau tidak, terutama Kale yang menyukai Gempita. Banyak hal yang harus diperhatikan.
"Bagaimana kalau aku tidak menganggap perkataanmu tadi sebuah candaan belaka?" tanya Genta. Kali ini dia serius dan menatap Gempita yang kebingungan.
"Kalau tadi memang serius kenapa? Apa tidak ada yang boleh menyukaimu?" Gempita kembali bertanya. Dia tidak mau kalah dari Genta. "Lagipula jika aku benar-benar menyukaimu, kamu juga tidak perlu repot untuk membalasnya. Aku sadar diri Genta. Maaf juga karena aku benar-benar menyukaimu. Tidak sekadar kagum karena kemampuan atau ketampananmu, melainkan benar-benar jatuh hati," imbuh Gempita.
Genta mendengarnya dengan jelas. Dia memakan satu cireng dalam sekali suapan. Kemudian kembali meneguk air mineral usai cireng tersebut tertelan.
Lelaki itu bingung bagaimana menyikapinya. Genta jadi tidak enak dengan Gempita yang ternyata memang benar-benar menyukainya. Dia membiarkannya begitu saja berharap ada hal yang mampu melupakan topik tadi.
"Sudahlah jangan dipikirkan. Ehm, makanannya telah habis ternyata. Tinggal martabaknya, aku akan membawanya pulang saja. Aku sudah kenyang, bagaimana denganmu?" tanya Gempita. Dia kembali riang, padahal tadi sendu dan sedih karena perkataannya tadi.
"Sangat kenyang," sahut Genta. Tentu saja sangat kenyang karena berhasil menghabiskan sate madura dan nasi goreng.
Lelaki itu sangat heran dengan Gempita yang entah bagaimana caranya kenapa bisa merubah suasana hatinya yang tadinya sendu kembali riang. Dalam waktu yang cepat pula. Tapi Genta tahu bahwasanya Gempita masih tetap memiliki kesedihan dalam hatinya, dia hanya terlalu pandai menutupinya.
"Bersabarlah, Gempita. Aku masih perlu memastikannya apakah aku menyukaimu lebih dari rekan kerja atau tidak. Kuharap kamu tidak berpaling dan rasamu tidak hilang," ujar Genta dalam hatinya.
Matanya terus tertuju pada perempuan yang bergerak mengembalikan piring sate dan nasi goreng. Juga membuang sampah makanan di tempat yang telah disediakan.
"Genta... Apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Gempita yang pada akhirnya kembali duduk di samping Genta sembari meneguk air mineral.
"Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak mau tinggal sebentar lagi untuk menyaksikan senja?" Genta malah kembali bertanya. Dia mendongakkan kepalanya menatap langit yang berwarna jingga kemerahan. Sangat cantik, Genta sudah lama tidak menikmatinya.
"Baiklah kalau begitu, kita bisa di sini lebih lama lagi...."
Gempita bersandar di bangkunya. Dia sama dengan Genta yang menyaksikan langit jingga kemerahan itu. Gempita seolah mencari hiburan atas hatinya yang sempat sendu. Genta ternyata benar-benar menutup hatinya rapat-rapat. Dia sepertinya juga tidak akan membukakan untuk seseorang, apalagi dirinya. Gempita tidak boleh berharap lebih karena itu hanya akan semakin menyakiti hatinya. Begitulah pemikiran Gempita.
Bruugghhh!
"Argh!" Genta memekik kesakitan mendapat pukulan tiba-tiba.
Seorang dengan hoodie warna hitam tiba-tiba datang menarik kerah kemeja Genta dan memukulinya hingga tersungkur. Sontak saja Gempita terkejut, terlebih lagi dengan Genta yang mendapat serangan mendadak hingga lelaki itu belum siap melakukan perlawanan. Dia kasihan dengan Genta.
"Hey! Hentikan apa yang kamu lakukan?!" Gempita sangat panik melihat Genta tersungkur di tanah akibat pukulan tiba-tiba itu. Dia ingin melindungi Genta, tapi tidak tahu bagaimana caranya karena Genta dikungkung lelaki yang tiba-tiba datang.
"Sialan kau!" gertak lelaki itu, dan dia kembali melayangkan pukulan ke wajah Genta hingga membuatnya memerah.
"Kamu bilang tidak akan menyukainya! Tapi apa ini? Kenapa kamu diam-diam mengajaknya kencan!"
"Genta...." Gempita hendak menghentikan, namun dia tidak bisa karena terhalang lelaki itu. Gempita sangat kesulitan menolong Genta.
Satu pukulan lagi mengenai rahang Genta. Pukulan yang sangat keras, membuat Genta yang tadinya hendak berdiri kembali tersungkur ke tanah. Sedangkan Gempita sangat panik, dia hendak melerai tapi tak bisa. Sementara orang-orang di sana pun berusaha melerai. Tapi tetap saja tidak bisa.