Mereka semua tertidur dengan pikiran yang masih saja berkelana hebat. Sebentar-sebentar bangun dan menyaksikan sekitar apakah ada kabar baik tentang orang yang hilang bagai ditelan bumi. Kemudian tertidur kembali. Begitu beberapa kali dalam semalam suntuk. Semuanya tidak tenang ketika belum mendapat kabar baik. Keesokan harinya, Kale bangun terlebih dahulu. Orang yang terkhianati itu membuka mata setelah semalam juga tidur tidak tenang. Hatinya tetap saja berkeluh kesah dan memberontak atas kenyataan yang kurang sesuai dengan harapannya. Apa yang dirasakannya semalam belum bisa diterima begitu saja, mungkin sangat membutuhkan waktu yang lama untuk menerima keadaan yang ada. Dia bangun meregangkan tubuhnya yang kurang nyaman sebab semalaman merebahkan tubuh di sofa yang ukurannya kecil

