"Aku belum mewariskan apa pun sekarang!" ucap Fadlan tegas. Ruangan itu mendadak sunyi. Adlan yang sejak awal tampil begitu percaya diri, kini menatap ayahnya dengan tatapan hampa. Cahaya kemenangan yang tadi ia pamerkan padam seketika. Raisa maju selangkah lagi, wajahnya tegang, penuh amarah yang sudah lama ia kubur. “Fadlan,” suaranya bergetar namun tegas, “kau sudah terlalu lama menutupi kebenaran. Dua puluh tahun anak itu hilang dari hidup kita. Dua puluh tahun ia bertahan sendiri tanpa nama Gutomo!” Fadlan mengangkat wajah. Tatapannya dingin, namun ada gurat lelah yang dalam. “Ini bukan waktunya, Ma,” ucapnya menahan emosi. “Dia belum siap. Dan aku… juga belum.” “Belum siap?” Raisa tertawa kecil, pahit. “Kau pikir Adlan siap? Kau biarkan dan mengira dia satu-satunya penerus,

