SEBUAH RASA YANG MUNCUL

1037 Kata
Sudah satu minggu Abila merawat adik satu ayahnya. Perubahan pada bayi itu sangat jelas. Tubuh kecil Fadil makin berisi. Pipi bulatnya mulai tampak lembut seperti roti kukus. Nafasnya teratur. Tidurnya yang dulu selalu gelisah kini nyenyak, dalam, dan damai. Selama seminggu penuh itu, Fadlan tidak datang menjenguk. Abila tahu, ia sebenarnya tidak peduli. Atau… ia mencoba tidak peduli. Tapi ketika ia menatap Fadil, ada sesuatu yang runtuh dari dalam dirinya. Ia sebenarnya sudah membangun tembok besar, tebal, dingin, dan penuh penolakan untuk tidak menyukai bayi itu. Bayi yang lahir dari seorang wanita lain. Bayi yang menjadi simbol pengkhianatan dan luka. Namun tembok itu mulai retak tanpa ia sadari. Setiap kali Abila memberi s**u, ada saja sentuhan kecil yang tidak pernah ia rencanakan. Seperti tadi, ketika jari mungil Fadil menyentuh bibirnya tanpa sengaja. Sebuah sentuhan ringan… tapi mampu membuat seluruh hatinya bergetar. Ia benci sensasinya. Ia benci bagaimana sentuhan kecil itu menembus dinding yang berusaha ia bangun. Ia benci karena hatinya yang membeku perlahan mencair. Siang itu, setelah treatment, Abila memindahkan Fadil ke ranjangnya. Ia tidak pernah keluar kamar kecuali untuk makan. Dunia luar terasa terlalu bising, terlalu ramai, terlalu menyakitkan. Sementara di dalam kamar, hanya ada ia dan Fadil. Abila memandangi bayi itu. Mata gelapnya yang biasanya tajam dan dingin. Kini agak meredup. Ada sesuatu di sana. Kelelahan juga kesunyian. Perlahan, Abila mengangkat tangan. Jari telunjuknya menyusuri pipi bayi itu pelan, seakan takut merusak. “Kamu kesepian, ya?” bisiknya. Fadil menggerakkan bibirnya kecil-kecilan—gerakan refleks seorang bayi yang sedang mencari kenyamanan. Abila tersenyum. Senyum tipis yang bahkan ia sendiri tidak sadari muncul. “Aku juga,” lanjutnya lirih. “Aku cuma punya nenek. Dan sekarang… dia pun terbaring.” Ia menunduk, mengecup pipi Fadil dengan sangat lembut. Bayi itu terkejut, menggeliat, lalu kembali tenang di pelukannya. Angin dari jendela yang terbuka membelai tirai pelan, mengisi kamar dengan keheningan hangat. “Kalau dipikir-pikir,” gumam Abila, “nasibmu lebih sedih daripada aku.” Ia tertawa pendek, hambar. “Sampai sekarang, ayah kita bahkan nggak datang buat lihat… apakah kita masih hidup atau udah mati bareng-bareng.” Bayi itu merengek pelan. Refleks, Abila menepuk pinggulnya ritmis—tepat, stabil, seakan ia sudah melakukannya bertahun-tahun.Fadil kembali terlelap. Abila menghela napas panjang. Dadanya sedikit sesak. Tapi bukan sesak yang menyakitkan. Lebih seperti, sesuatu yang mulai menghangat dari dalam. Hubungan aneh yang tidak ia inginkan. Ikatan yang terbentuk tanpa permisi. “Apa ini yang namanya ikatan darah?” tanyanya lirih, mencibir dirinya sendiri. Tapi tangannya tetap menggenggam telapak kecil itu dan ia tidak melepaskannya. Lalu ketukan pintu terdengar, suara Anto memanggilnya. "Nona, Nyonya Raisa datang ...," Abila hanya tersenyum sinis. "Sudah satu minggu. Baru datang?" gumamnya menahan perih. Dengan langkah malas, ia turun dan membuka pintu. Anto menatapnya iba. Abila tak memperhatikannya sama sekali. Seperti sudah terbiasa diabaikan. "Abila ... sayang!" teriak Raisa kegirangan ketika melihat cucunya. Ia hendak berlari dan memeluknya. Tetapi tatapan datar dan dingin Abila, membuat keberaniannya mendadak ciut. Telah lama, bahkan sangat lama ia tak melihat cucunya, bahkan hanya untuk menanyakan kabar. Raisa benar-benar lupa hanya karena menjaga Fadlan dari pengaruh Delia. "Sayang, maafkan Oma," ungkapnya merasa bersalah. Abila tak menyahuti, Raisa menatap tubuh gadis itu. Terlihat bagian d**a yang besar melebihi ukuran badannya. Seperti seseorang yang benar-benar tengah menyusui, hatinya sedikit lega. "Sini sayang. Ada yang Oma jelaskan padamu," ajaknya lalu tanpa segan menarik tangan Abila. Mereka duduk di ruang tengah. Raisa merasa perlu menjelaskan semuanya agar sang cucu tak salah paham dan mengerti. "Bukan maksud Oma untuk mengabaikanmu selama dua puluh tahun ini," ujarnya setelah sekian lama diam. Ruangan itu begitu mewah, sentuhan emas dan perak. Cawan-cawan hias yang tertata rapi, ukiran kayu terpanjang di dinding. Lampu kristal menggantung cantik, kilau kristalnya memantul dinding ketika diterpa sinar matahari. "Tapi, setelah kepergianmu. Oma mengusir perempuan itu dari rumah ini. Oma sebisa mungkin menjauhkan dia dari ayahmu. Walau dua tahun belakangan, Oma tidak tau bagaimana Delia bisa menikah dengan ayahmu, terlebih mengandung anaknya ...," Raisa menjeda penjelasannya. Menatap reaksi Abila. "Lalu soal Adlan yang bisa bekerja di sana. Oma tidak bisa mencampuri karena semua keputusan bisnis. Ayahmu yang ambil," lanjutnya lagi. Tak ada reaksi, sangat diluar ekspektasi Raisa. Mengira Abila terpengaruh dan ingin ikut andil menangani semua masalah. Tetapi, reaksi gadis itu sangat minim, bahkan terkesan tak peduli. Raisa menelan ludah. Dalam sekali. Ia benar-benar sadar kini, Abila bukan lagi cucu kecil yang dulu sering berlindung di balik roknya. Gadis itu telah berubah menjadi seseorang yang… tidak bisa disentuh sembarangan. Terlalu banyak luka, terlalu lama dibiarkan sendiri. “Sayang,” panggil Raisa lembut, hampir berbisik. Abila menoleh, hanya sedikit. Sorot matanya kosong, tak memberikan celah untuk dimasuki siapa pun. “Aku di sini hanya selama dua tahun,” ucap Abila pelan, nyaris seperti gumaman. “Sampai bayi itu bisa mandiri …” Kalimat terpotong, suasana lain menyerap ke tubuh Abila. Lalu .... Nyut! Sakit, begitu sakit sampai membuat relung hatinya seakan dicubit. Ia bahkan sempat memegangi lututnya sebentar gerakan refleks untuk menahan rasa tidak nyaman yang muncul entah dari mana. Pernapasannya naik turun sedikit lebih cepat sebelum akhirnya ia paksa stabil. Lalu. ... bress ... air itu tiba-tiba keluar begitu deras, sampai meninggalkan jejak basah. Raisa menatapnya, matanya membelalak sempurna. "Sayang. Kamu basah!" ujarnya sambil menunjuk d**a cucunya. Abila menunduk, ia tahu jika begitu dirinya terlalu tertekan dan emosinya tak stabil. Dokter telah menjelaskannya kemarin. "Ya, karena aku menyusui," jelasnya ngawur. Raisa menggenggam tangannya, Abila hendak menepis, ia ingin tetap menjaga jarak. Lalu, tangannya terangkat, Raisa mengecupnya perlahan. Begitu lembut, penuh ketulusan dan permintaan maaf panjang. Satu titik bening jatuh dari pelupuk matanya. Abila terhenyak, ia tak suka dengan perasaannya sendiri. Raisa menatap matanya, dalam ... bahkan sangat dalam. "Sayang, tolong Oma," pintanya lirih. Abila tak mengatakan apapun, sementara tangannya masih digenggaman sang nenek. "Kamu harus merebut kembali semuanya. Semua ini adalah hak kamu!" ujar Raisa yang membuat mata Abila melebar. "Sungguh, Oma takut ayahmu membuat kesalahan fatal. Memberikan semua aset pada anak yang bukan seharusnya ...." "Itu bukan urusanku!" potong Abila tak peduli lalu menarik tangannya. Raisa tersentak, ia tau telah banyak melukai cucunya itu. Ia harus banyak bersabar dan menebus semuanya. Abila berdiri dan meninggalkannya begitu saja. "Itu jadi urusanmu, sayang," gumam Raisa pelan dan dalam otaknya. Ia menyusun rencana, mengubah semuanya seperti awal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN