EGOIS

1072 Kata
Semakin lama, ikatan Abila dan Fadil makin dekat tanpa gadis itu sadari. Seperti ketika hujan datang, angin dingin menyusup dari jendela. Abila langsung mendekap adiknya, atau ketika malam hujan dan petir yang menggelegar. Abila akan menenangkan Fadil dengan pelukan hangat. Lalu saat ini tiba-tiba mati lampu, Abila harus keluar dari rasa takutnya sendiri. Selepas hujan badai dua hari. Listrik pun padam. Fadil menangis kencang Abila juga sangat ketakutan. "Tenang, Dek ... sshhhh ... sshhhh!" ujarnya sambil ia menenangkan diri. Sementara itu di ruang kerja, Fadlan baru saja mematikan laptopnya sebelum listrik padam. Ia langsung mencari ponsel dan menyalakan senter dari ponsel itu. Ia keluar dari ruangan, semua gelap. Petir sesekali terdengar dan masih ada suara derasnya air hujan di luar. Tanda badai belum berhenti. "Anto!" teriaknya. Jlegar! Suara petir keras hingga menelan suara teriakan Fadlan. Pria itu memilih naik ke kamarnya di lantai tiga. Sungguh ia lupa dua anaknya yang terjebak di kamar. Fadlan masuk kamar dan menyalakan generator khusus di ruangan itu. Lampu dan penghangat menyala, hanya untuk ruangan itu. Ia masuk dan menutup pintu, naik ke ranjangnya dan menarik selimut. Sungguh, ia tak ingat siapapun kecuali kenyamanannya sendiri. Sementara di kamar Abila, dua anak menangis,.jeritan Fadil begitu menyayat, sementara Abila tergugu menahan semua rasa takut. "Dek ... jangan nangis ... Kakak juga takut ... Ayah ... hiks ... Ayah ...!" Sementara di ruangan lain, Anto jatuh bangun mencari saklar mesin generator utama. Tak ada senter, ia hanya mengandalkan cahaya dari petir. Daya ponselnya habis, belum sempat diisi. Listrik padam. Duk! Aarrgghh! Kaki Anto terasa ngilu, baru saja terantuk ujung besi, ia merabanya. "Ah, ini dia mesinnya!" gumamnya sendirian. Lalu ia meraba tembok, diiringi kilatan petir dan curah hujan yang makin deras. Tangan Anto berhenti di sebuah kotak panel, dibuka dan langsung mencari saklar. "Ini dia!" serunya lalu ... "Klik". Srap, lampu seluruh rumah menyala begitu juga kamar Abila. Gadis itu menatap ruangan yang telah terang benderang. Ia bernafas lega, tapi Fadil masih menangis karena mendengar bunyi petir. Abila membuka kancing baju bagian d**a. Meletakkan pipi mungil adiknya di sana. Lalu, Fadil tenang setelah menghisap pipet yang di serupakan dengan tonjolan kecil itu. Tampak bayi itu menghisap dengan kuat dan beberapa saat Fadil terlelap. Ketika baru saja, Abila membenahi pakaiannya, suara ketukan terdengar. "Nona ... apa anda tidak apa-apa?" teriakan terdengar dari luar. Abila turun dan membuka pintu, Anto menatapnya cemas. Lalu lehernya memanjang seakan memastikan bayi itu baik-baik saja. "Fadil baik-baik saja. Tadi sempat menangis karena ketakutan," ujar Abila dengan suara bergetar. Tampak wajah Abila yang masih pucat dan ketakutan. Abila belum tau jika ayahnya sudah pulang. "Apa dia sudah pulang?" tanyanya lirih. "Tuan ...," Anto memalingkan wajah ke arah kamar tuannya. Abila ikut menatap apa yang ditatap ajudan ayahnya itu. Tapi pria itu hanya menggeleng sambil mengangkat bahu. "Saya tidak tau. Kemungkinan, Tuan terjebak badai. Itu biasa ... Nona," ujarnya tak enak hati. Abila hanya mengangguk, lalu Anto membungkuk hormat dan mengundurkan diri. Abila menutup pintu dan menyandarkan punggungnya ke sana. Matanya terpejam, erat. Sungguh bunyi petir di luar masih membuatnya takut. Lalu ia melihat pergerakan di ranjang dan tak lama Fadil menangis terkejut akibat bunyi petir tadi . "Iya sayang, Mama ... " Nyes ... suatu mencair dari lubuk hatinya ... ikatan yang paling ia benci, yang selalu ia hindari. Kini makin kuat mengikat dan mulai menyerang. Langkahnya terhenti, tangisan Fadil makin kencang. Otak dan hati berseberangan. Lalu kilatan terlihat jelas di jendela. Bunyinya begitu keras. Abila terkejut dan langsung melompat ke ranjang. Memeluk Fadil dan menyelimuti mereka. Malam itu, mereka saling menghangatkan. Hangat matahari menembus tipis tirai kamar, membawa aroma tanah basah dan kesejukan sisa badai. Kabut tipis masih bergelayut di dahan-dahan pohon, sementara burung-burung berkicau riuh seolah sedang merayakan kesempatan hidup yang baru. Abila mengerjapkan mata. Refleks pertamanya bukan meraba ponsel, bukan menegakkan diri—melainkan mencari Fadil. Begitu pandangannya menemukan tubuh kecil itu terlelap, bibir mungilnya bergerak-gerak seolah masih mengisap mimpi, d**a Abila langsung mengendur. Ada kelegaan yang muncul begitu otomatis, begitu halus, sampai ia sendiri tidak menyadarinya. Ia duduk perlahan, menyibak selimut. Ranjang masih hangat bekas semalam—bekas pelukan yang bukan ingin ia akui, tapi menjadi satu-satunya tempat aman di tengah petir dan gelapnya malam. Dengan langkah ringan yang tak pernah diajarkan siapa pun, Abila membuka tirai dan jendela. Angin pagi menerobos masuk, membawa bau hujan, dedaunan basah, dan sedikit aroma tanah yang menenangkan. Fadil menggeliat pelan, meringkuk seperti anak burung yang baru belajar percaya pada indungnya. Tanpa berpikir panjang, Abila meraih bayi itu. Tangannya bergerak dengan cekatan, seolah naluri yang sudah tertanam sejak lama—padahal ia selalu menolak keberadaan naluri itu. Ia memandikan Fadil dengan hati-hati; memastikan air tidak terlalu dingin, memastikan sabun tidak masuk mata, memastikan setiap lipatan kulit kecil itu dibersihkan. Tidak ada yang memberinya pelajaran. Tidak ada yang memaksa. Tidak ada yang membimbing langkahnya. Abila keluar kamar untuk sarapan. Abila berdiri tertegun di ambang pintu ruang makan. Sinar pagi yang lembut jatuh tepat di wajah Fadlan yang sedang menyeruput kopi dengan santai, seolah badai dua hari kemarin tak pernah terjadi—seolah tidak ada dua anak yang menangis ketakutan dalam gelap. Nyut! Sakit itu muncul begitu saja, seperti duri lama yang ditarik paksa. Fadlan merasakan tatapan itu. Ia menoleh, dan wajahnya langsung berubah. Terkejut. Ragu. Bersalah. Seakan baru ingat bahwa ia memiliki putri dan tanggung jawab yang ia tinggalkan begitu saja. “Nak…,” suaranya pelan, hampir tak terdengar. Fadlan berhati-hati ketika meletakkan cangkir di atas meja. Abila menatap meja makan, tak ada makanan yang ia bisa makan. Bahkan Fadlan lupa jika ada yang harus diberi makan. Abila memilih pergi ke dapur dan memasak sarapannya sendiri. "Nak ... suruh saja salah satu maid ...," suara Fadlan terdengar seakan tak merasa bersalah. Abila berhenti tepat di depan dapur, ia menoleh sedikit. Fadlan menelan saliva. Sekarang semua kopi yang ia telan tadi terasa pahit dan ... hambar. Abila abai, ia membuka kulkas, mengambil apapun yang ia mau ambil. Tak ada maid yang berani mendekat. Abila cukup keras melawan para pekerja rumah tangga itu. "Rosa ... bantu Nonamu!" teriak Fadlan. Seorang maid dengan pakaian ketat, hanya jalan satu langkah dengan tangan saling menggenggam ke depan. "Maaf, Tuan. Nona tidak pernah mengijinkan kami membantunya. Padahal kami sudah sering memperingatkannya. ..." "Apa?" tanya Fadlan tak mengerti. "Ayah, aku mau mereka semua dipecat!" sebuah suara tegas keluar dari mulut Abila. Untuk menebus kesalahannya, Fadlan langsung memanggil Anto. "Iya, Tuan!" Anto datang membungkuk hormat. "Pecat semua maid tanpa kecuali! Itu perintah, Nonamu!" suruh Fadlan tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN