Mataku tidak sengaja melihat Stella yang duduk sendirian di sofa yang terletak di dekat lobby. Memang banyak tempat duduk di lobby. Aku mengusir secara halus orang yang mengekor di belakang dan sampingku. Entah kenapa aku ingin melihat dan duduk di samping Stella. Aku penasaran saja, sebenarnya dia manusia atau bukan. Normalnya anak sekecil itu hanya bisa menangis daripada memainkan piano layaknya seorang maestro. Kenapa juga masih ada kebetulan yang seperti ini, bukannya seharusnya mereka masih berada di stasiun televisi? Aku hanya bisa menghela napas dan mendekat.
Stella tahu aku pernah melihatnya bermain piano. Gadis kecil itu memandangku sama seperti dulu, tidak berkedip untuk beberapa saat. Dan ketika ia mengedipkan matanya, tampak jelas bulu matanya yang panjang dan lentik seperti Kalla, Ibunya. Padahal aku berusaha agar tidak peduli dengan masa laluku, tapi secara naluri aku ingin melihat mereka berdua. Mungkin karena aku tidak terima sewaktu Kalla membuatku bangkrut gara-gara kalah taruhan. Itu sungguh pengalaman hidup yang tidak mengenakkan.
“Hai, Stella.” Aku mengulurkan tanganku yang duduk di sampingnya, “Paman, teman mommy mu sewaktu kuliah. Di mana mommy mu?” Sekarang aku sudah tahu namanya.
Takut-takut, Stella meraih tanganku, “Mommy membeli permen stroberi. Paman teman mommy?” Stella melepaskan jabatan tangannya denganku. Dia terlihat memastikan sesuatu. Apa aku terlihat seperti sedang berbohong?
“Dulu Mommy Stella teman Paman.” Tidak mungkin aku mengatakan kalau ibumu itu mantan pacar Paman, mana mungkin anak ini mengerti. Bahkan hubungan kami tidak seperti teman, lebih tepatnya mungkin musuh. Kalau bukan musuh pun, kami akan saling menghindari. Aku tidak menghindari Kalla, untuk apa dihindari? Tapi tampak jelas sekali kalau Kalla lebih memilih bersembunyi dalam kandang buaya daripada berjumpa denganku. Menurutku Kalla Rei semakin galak apalagi saat bertemu denganku. Aku merasakannya seperti itu.
Anak Kalla memandangku terus dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Di sebelahnya ada mainan piano dua oktaf, sangat mini, namanya juga mainan anak-anak. Stella sangat menggilai piano. Aku mengamati rok Stella yang dipenuhi gambar stroberi kecil. Pakaian yang sama dengan yang kulihat di layar kaca.
“Stella suka stroberi?”
“Suka. Stella setiap hari makan stroberi.” Stella terlihat girang ketika membicarakan tentang stroberi.
“Stella tidur di sini?”
“Tidak.” Stella menggeleng, “harus naik lift dulu ke atas, ke kamar Stella.” Stella menunjukkan lift yang tadi kugunakan untuk turun. Ada beberapa lift di sana. Kesimpulannya Stella dan Kalla menginap di hotelku.
Anak ini sangat polos. Memang benar kalau dia tidak tidur di lobby. Aku tertawa bersamanya, dia manis, seperti stroberi.
“Stella suka menginap di hotel?”
“Suka.” Stella mengangguk-anggukan kepalanya. “Stella kemarin berenang.”
“Kapan Stella pulang?”
“Tidak tahu.”
“Begitu. Kalau paman akan di sini lama sekali.” Mengapa aku malah bercerita soal agendaku kepada bocah kecil ini? Bersamanya seperti melihat David, keponakanku.
“Berapa lama?”
“Bisa setahun, mungkin dua tahun.” Anak di depanku seperti tidak mengerti soal setahun dan dua tahun yang aku katakan sambil becanda tentunya. “Paman akan tinggal di sini sampai pekerjaan paman selesai.” Mungkin ini kalimat yang mudah dimengerti oleh Stella yang baru saja mengangguk.
“Kalau Stella sudah selesai bermain piano, mommy bilang Stella bisa pulang ke rumah bertemu kakek.”
“Berapa umur Stella?”
“Empat.” Stella mengacungkan kelima jarinya, lalu beberapa detik kemudian ia melipat ibu jarinya.
“Stella sudah sekolah?”
“Sudah, Paman.”
“Di mana?”
“Sekolah.” Anak ini rupanya tidak tahu nama sekolahnya.
“Di sekolah Stella melakukan apa saja?” Aku sudah seperti wartawan yang sedang memburu berita. Jujur aku pun tidak tahu bagaimana ceritanya aku bisa terus bertanya.
“Bermain bola bersama David.” Stella melihat ke arah sepatuku. “Menyanyi, Stella suka menggambar ….” Stella tampak berpikir keras menceritakan apa yang ia lakukan di sekolahnya. Kalian mungkin akan menertawakan kekonyolanku ini, tapi sudahlah. Aku juga sedang menunggu pesan dari teman-temanku. Mereka belum mengabari ingin bertemu di mana.
“Apa yang paling Stella sukai?”
Stella memainkan roknya, ia seperti menggambar dengan telunjuknya di atas rok miliknya. “Bermain piano dan … dan … pulang sekolah.” Butuh waktu lama, untuk menjawab pertanyaanku.
“Kenapa pulang sekolah? Rindu Mommy, ya?” Aku mencoba menebak.
“Stella tidak suka sekolah.”
“Kenapa tidak suka?” Aku penasaran.
“Tidak suka sekolah. Stella tidak suka bertemu orang jahat. Ingin bersama Mommy terus.”
“Gurunya jahat?” Aku menebak.
Stella menggeleng.
“Ada teman Stella yang nakal?”
Stella kali ini mengangguk, “tapi David tidak nakal.” Stella berbisik kepadaku karena suaranya lirih sekali.
“Stella anak yang pintar.” Aku memujinya, karena menurutku anak berusia empat tahun tidak akan pergi ke luar negeri untuk tampil di depan orang banyak dengan pianonya. Aku jadi teringat dengan keponakanku yang berusia tujuh tahunan, dia suka berteriak-teriak dan bercerita penuh semangat mengenai hari-harinya di sekolah kepadaku.
Handphone ku bergetar di saku, “Paman pergi dulu, Stella jangan pergi ke mana-mana sebelum Mommy Kalla datang.” Aku meninggalkan anak kecil itu setelah dia mengangguk-anggukan kepalanya dengan lucu. Aku akan menemui teman-temanku dulu.
Sebelum benar-benar pergi, aku meminta orang untuk menjaga anak itu dari jauh, sebelum ibunya kembali. Memang tidak ada kasus penculikan di hotelku, kebetulan aku mengenal ibunya, makanya aku merasa perlu menjaganya. Mereka adalah tamu di hotelku, yang aku tahu akan meninggalkan tempatku nanti malam. Aku tahu karena bertanya kepada orang-orangku.
Kalla Rei, setelah sekian lama kami dipertemukan lagi lewat kejadian-kejadian yang memang tidak disengaja. Mungkin sudah takdirnya seperti itu. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menitan, aku menemukan tempat di mana Gabriel dan Vincent berada. Mereka menyambutku seperti biasa.
“Aku tidak pesan makanan, sudah makan tadi.” Aku duduk di depan Gabriel.
“Kau batal menikah?” Aku mengalihkan pandangan ke arah Vincent.
“Aku sudah bilang kalau aku memang belum siap untuk menikah. Aku tertarik dengan wanita lain.”
“Kau tahu tidak, kalau Vincent naksir dengan pemilik wedding organizer yang membantunya. Ini menggelikan.” Gabriel tertawa.
“Benarkah? Lalu bagaimana pernikahanmu, tidak mungkin dibatalkan pastinya. Aku rasa pernikahan teman kita ini hanya di-pending untuk sementara waktu, benar tidak?” Aku sok tahu padahal tidak tahu apa-apa.
“Itu dia, sangat sulit membuat orang tuaku menyerah. Makanya aku ikut kabur bersama Gabriel kemari. Aku pusing dengan masalahku yang menurutku sepele, tapi tidak kunjung usai. Sudah berapa kali aku ke Jersoix untuk menghindari kenyataan hidupku yang rumit? Hah, aku sudah tidak bisa menghitungnya.” Vincent mengeluh.
“Sudah jangan dipikirkan. Kita bersenang-senang di sini.” Aku mencoba menghibur Vincent yang akhir-akhir ini wajahnya ditekuk seperti kertas origami.
“Aku melihat Kalla Rei diliput. Dia sudah memiliki anak.” Gabriel berbicara sambil mengiris daging di piringnya. “Kata Romeo, Kalla berubah menjadi gendut dan jelek. Tapi aku malah melihat yang sebaliknya. Aku merasa ditipu mentah-mentah oleh temanku sendiri. Kabar baiknya, dia seorang janda.” Gabriel mengulum senyum.
“Kau sadar tidak, Briel?” Vincent membuat Gabriel sepenuhnya menatap ke arah Vincent. “Anak Kalla sangat mirip dengan Romeo.”
Apa? Stella mirip denganku? Aku terperangah dengan perkataan Vincent yang menurutku tidak benar.
“Apa kau juga melihatnya?” Gabriel tampak berpikir.
“Tidak sengaja, dari tadi aku duduk di sini, dan tv di sana menayangkannya sekilas. Aku tidak mendengar suaranya dengan jelas, tapi aku melihat anak itu dan juga Kalla.”
“Kau tidak melakukan hal yang aneh kepada Kalla kan, Rom?” Gabriel menanyaiku dengan sorot mata detektifnya.
“Apa-apaan ini? Aku tidak melakukan apa-apa kepada Kalla. Kalian pasti sedang berhalusinasi.” Aku mencoba membela diri. Memang aku tidak melakukan kesalahan apa-apa.
“Anak itu memiliki mata yang sangat mirip denganmu, Rom. Bibirnya malah jiplakan yang mendekati 95% miripnya dengan milikmu. Aku tidak menyangka kalau Romeo dan Kalla bisa menghasilkan bocah seperti itu. Semoga saja sifatnya tidak sekacau kau, Rom” Vincent menatapku sambil tertawa. “Aku yakin kalau dia adalah anakmu. Aku akan memberikan separuh hartaku jika anak itu bukan anakmu.” Vincent meyakinkanku.
“Jangan lagi membuat taruhan.” Umpatku. Apa benar Stella itu anakku? Tidak mungkin.
Gabriel hanya terkekeh memandang kami berdua bergantian. Bukannya kita berempat sudah sepakat untuk tidak mempertaruhkan apa-apa lagi. Tidak mungkin kalau Stella itu anakku. Aku yakin, aku selalu memakai pengaman setiap melakukannya dengan Kalla. Ada jutaan anak yang memiliki iris berwarna biru dan bibir yang serupa denganku.
It’s impossible.